Wah! Kanan juga cerita BEST!!!

<

AYasophiaKini namanya Museum Aya Sofia. Sebelum menjadi museum, bangunan ini dulunya adalah masjid. Dan sebelum menjadi masjid, ia adalah gereja yang bernama Haghia Sopia.

Usia bangunan ini sudah sangat tua, sekitar lima abad. Bangunan ini merupakan kebanggaan masyarakat Muslim di Istanbul, Turki. Keindahan arsitekturnya begitu mengagumkan para pengunjung. Karenanya, jika berkunjung ke Istanbul, belum lengkap tanpa melihat kemegahan Aya Sofia.

Tampak dari luar, pengunjung disuguhkan ukuran kubah yang begitu besar dan tinggi. Ukuran tengahnya 30 meter, tinggi dan fundamennya 54 meter. Ketika memasuki area bangunan, pengunjung dibuai oleh keindahan interior yang dihiasi mosaik dan fresko. Tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni. Sementara dindingnya dihiasi beraneka ragam ukiran.

Selain keindahan interior, daya tarik bangunan ini juga didapat dari nilai sejarahnya. Di sinilah simbol pertarungan antara Islam dan non-Islam, termasuk di dalamnya nilai-nilai sekuler pascaruntuhnya Kekhalifahan Turki Usmani.

Gereja
Sebelum diubah menjadi masjid, Aya Sofia adalah sebuah gereja bernama Hagia Sophia yang dibangun pada masa Kaisar Justinianus (penguasa Bizantium), tahun 558 M. Arsitek Gereja Hagia Sophia ini adalah Anthemios dari Tralles dan Isidorus dari Miletus.

Berkat tangan Anthemios dan Isidorus, bangunan Hagia Sophia muncul sebagai simbol puncak ketinggian arsitektur Bizantium. Kedua arsitek ini membangun Gereja Hagia Sophia dengan konsep baru. Hal ini dilakukan setelah orang-orang Bizantium mengenal bentuk kubah dalam arsitektur Islam, terutama dari kawasan Suriah dan Persia. Keuntungan praktis bentuk kubah yang dikembangkan dalam arsitektur Islam ini, terbuat dari batu bata yang lebih ringan daripada langit-langit kubah orang-orang Nasrani di Roma, yang terbuat dari beton tebal dan berat, serta mahal biayanya.

Oleh keduanya, konsep kubah dalam arsitektur Islam ini dikombinasikan dengan bentuk bangunan gereja yang memanjang. Dari situ kemudian muncullah bentuk kubah yang berbeda secara struktur, antara kubah Romawi dan kubah Bizantium. Pada arsitektur Romawi, kubah dibangun di atas denah yang sudah harus berbentuk lingkaran, dan struktur kubahnya ada di dalam tembok menjulang tinggi, sehingga kubah itu sendiri hampir tidak kelihatan. Sedangkan kubah dalam arsitektur Bizantium dibangun di atas pendentive–struktur berbentuk segitiga melengkung yang menahan kubah dari keempat sisi denah persegi–yang memungkinkan bangunan kubah tersebut terlihat secara jelas.

Bangunan gereja ini sempat hancur beberapa kali karena gempa, kemudian dibangun lagi. Pada 7 Mei 558 M, di masa Kaisar Justinianus, kubah sebelah timur runtuh terkena gempa. Pada 26 Oktober 986 M, pada masa pemerintahan Kaisar Basil II (958-1025), kembali terkena gempa. Akhirnya, renovasi besar-besaran dilakukan agar tak terkena gempa di awal abad ke-14.

Pengembangan Turki Usmani
Pada 27 Mei 1453, Konstantinopel takluk oleh tentara Islam di bawah pimpinan Muhammad II bin Murad II atau yang terkenal dengan nama Al-Fatih yang artinya sang penakluk. Saat berhasil menaklukkan kota besar Nasrani itu, Al-Fatih turun dari kudanya dan melakukan sujud syukur.

Ia pergi menuju Gereja Hagia Sophia. Saat itu juga, bangunan gereja Hagia Sophia diubah fungsinya menjadi masjid yang diberi nama Aya Sofia. Pada hari Jumatnya, atau tiga hari setelah penaklukan, Aya Sofia langsung digunakan untuk shalat Jumat berjamaah.

Sepanjang kekhalifahan Turki Usmani, beberapa renovasi dan perubahan dilakukan terhadap bangunan bekas gereja Hagia Sophia tersebut agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan masjid.

Dalam sejarah arsitektur Islam, orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil dalam pengembangan arsitektur Islam ke negara-negara lainnya. Sementara dalam masalah keagamaan, orang-orang Turki terkenal sangat bijak, sebab mereka tidak memaksakan penduduk daerah taklukannya untuk masuk Islam, meskipun mereka berani berperang untuk membela Islam.

Karena orang-orang Turki yang beragama Islam cukup arif, maka ketika Gereja Hagia Sophia dialihfungsikan menjadi masjid pada 1453, bentuk arsitekturnya tidak dibongkar. Kubah Hagia Sophia yang menjulang ke atas dari masa Bizantium ini tetap dibiarkan, tetapi penampilan bentuk luar bangunannya kemudian dilengkapi dengan empat buah menara. Empat menara ini, antara lain, dibangun pada masa Al-Fatih, yakni sebuah menara di bagian selatan. Pada masa Sultan Salim II, dibangun lagi sebuah menara di bagian timur laut. Dan pada masa Sultan Murad III, dibangun dua buah menara.

Pada masa Sultan Murad III, pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid yang masih bercirikan gereja. Termasuk, mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan menutupi hiasan-hiasan asli yang semula ada di dalam Gereja Hagia Sophia dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain yang dianggap tidak perlu, juga dihilangkan.
Begitu pula patung-patung yang ada dan lukisan-lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat. Lantas selama hampir 500 tahun bangunan bekas Gereja Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid.

Akibat adanya kontak budaya antara orang-orang Turki yang beragama Islam dengan budaya Nasrani Eropa, akhirnya arsitektur masjid yang semula mengenal atap rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap meruncing. Setelah mengenal bentuk atap meruncing inilah merupakan titik awal dari pengembangan bangunan masjid yang bersifat megah, berkesan perkasa dan vertikal. Hal ini pula yang menyebabkan timbulnya gaya baru dalam penampilan masjid, yaitu pengembangan lengkungan-lengkungan pada pintu-pintu masuk, untuk memperoleh kesan ruang yang lebih luas dan tinggi.

Museum
Perubahan drastis terjadi di masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk di tahun 1937. Penguasa Turki dari kelompok Muslim nasionalis ini melarang penggunaan bangunan Masjid Aya Sofia untuk shalat, dan mengganti fungsi masjid menjadi museum. Mulailah proyek pembongkaran Masjid Aya Sofia. Beberapa desain dan corak bangunan yang bercirikan Islam diubah lagi menjadi gereja.

Sejak difungsikan sebagai museum, para pengunjung bisa menyaksikan budaya Kristen dan Islam bercampur menghiasi dinding dan pilar pada bangunan Aya Sofia. Bagian di langit-langit ruangan di lantai dua yang bercat kaligrafi dikelupas hingga mozaik berupa lukisan-lukisan sakral Kristen peninggalan masa Gereja Hagia Sophia kembali terlihat.

Sementara peninggalan Masjid Aya Sofia yang menghiasi dinding dan pilar di ruangan lainnya tetap dipertahankan.

Sejak saat itu, Masjid Aya Sofia dijadikan salah satu objek wisata terkenal di Istanbul oleh pemerintah Turki. Nilai sejarahnya tertutupi gaya arsitektur Bizantium yang indah memesona.

Menjadi Inspirasi dalam Perkembangan Arsitektur Islam

Arsitektur Islam dapat dikatakan identik dengan arsitektur masjid. Sebab, ciri-ciri arsitektur Islam dapat terlihat jelas dalam perkembangan arsitektur masjid. Salah satu masjid yang gaya arsitekturnya banyak ditiru oleh para arsitek Muslim dalam membangun masjid di berbagai wilayah kekuasaan Islam adalah Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki.

Desain dan corak bangunan Aya Sofia sangat kuat mengilhami arsitek terkenal Turki Sinan (1489-1588) dalam membangun masjid. Sinan merupakan arsitek resmi kekhalifahan Turki Usmani dan posisinya sejajar dengan menteri.

Kubah besar Masjid Aya Sofia diadopsi oleh Sinan–yang kemudian diikuti oleh arsitek muslim lainnya–untuk diterapkan dalam pembangunan masjid.

Salah satu karya terbesar Sinan yang mengadopsi gaya arsitektur Aya Sofia adalah Masjid Agung Sulaiman di Istanbul yang dibangun selama 7 tahun (1550-1557). Seperti halnya Aya Sofia, masjid yang kini menjadi salah satu objek wisata dunia itu memiliki interior yang megah, ratusan jendela yang menawan, marmer mewah, serta dekorasi indah.

Dalam sejarah arsitektur Islam, orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil dalam pengembangan arsitektur Islam hingga ke negara lainnya. Misalnya Dinasti Seljuk yang menampilkan tiga ciri arsitektur Islam, khususnya arsitektur masjid.

Pertama, Dinasti Seljuk tetap mengembangkan konsep mesjid asli Arab, dengan lapangan terbuka di bagian tengahnya. Kedua, konsep masjid madrasah dan berkubah juga dikembangkan. Ketiga, mengembangkan konsep baru setelah berkenalan dengan kebudayaan Barat, terutama pada masa Dinasti Umayyah.

Ketika orang-orang Turki memperluas kekuasaannya atas dasar kepentingan ekonomi dan militer pada abad ke-11, mereka akhirnya bisa menguasai Bizantium.

Saat kebudayaan Islam bersentuhan dengan kebudayaan Eropa di Kerajaan Romawi Timur (Bizantium/Konstantinopel) pada abad ke-11, arsitektur Islam juga menimba teknik dan bentuk arsitektur Eropa, yang tumbuh dari arsitektur Yunani dan Romawi. Sebaliknya, teknik dan bentuk arsitektur Islam yang dibawa oleh bangsa Turki juga disadap oleh bangsa Romawi untuk dikembangkan di Kerajaan Romawi Timur.

Akibat adanya kontak budaya antara orang-orang Muslim Turki dan budaya Nasrani di Eropa Timur inilah, arsitektur Islam yang semula hanya mengenal atap bangunan rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap meruncing ke atas. Selain itu, sejak bersentuhan dengan kebudayaan Kerajaan Romawi Timur ini juga, arsitektur Islam mulai mengenal arsitektur yang bersifat megah, berkesan perkasa, dan vertikalisme.(suaramedia.com)

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

AYasophiaKini namanya Museum Aya Sofia. Sebelum menjadi museum, bangunan ini dulunya adalah masjid. Dan sebelum menjadi masjid, ia adalah gereja yang bernama Haghia Sopia.

Usia bangunan ini sudah sangat tua, sekitar lima abad. Bangunan ini merupakan kebanggaan masyarakat Muslim di Istanbul, Turki. Keindahan arsitekturnya begitu mengagumkan para pengunjung. Karenanya, jika berkunjung ke Istanbul, belum lengkap tanpa melihat kemegahan Aya Sofia.

Tampak dari luar, pengunjung disuguhkan ukuran kubah yang begitu besar dan tinggi. Ukuran tengahnya 30 meter, tinggi dan fundamennya 54 meter. Ketika memasuki area bangunan, pengunjung dibuai oleh keindahan interior yang dihiasi mosaik dan fresko. Tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni. Sementara dindingnya dihiasi beraneka ragam ukiran.

Selain keindahan interior, daya tarik bangunan ini juga didapat dari nilai sejarahnya. Di sinilah simbol pertarungan antara Islam dan non-Islam, termasuk di dalamnya nilai-nilai sekuler pascaruntuhnya Kekhalifahan Turki Usmani.

Gereja
Sebelum diubah menjadi masjid, Aya Sofia adalah sebuah gereja bernama Hagia Sophia yang dibangun pada masa Kaisar Justinianus (penguasa Bizantium), tahun 558 M. Arsitek Gereja Hagia Sophia ini adalah Anthemios dari Tralles dan Isidorus dari Miletus.

Berkat tangan Anthemios dan Isidorus, bangunan Hagia Sophia muncul sebagai simbol puncak ketinggian arsitektur Bizantium. Kedua arsitek ini membangun Gereja Hagia Sophia dengan konsep baru. Hal ini dilakukan setelah orang-orang Bizantium mengenal bentuk kubah dalam arsitektur Islam, terutama dari kawasan Suriah dan Persia. Keuntungan praktis bentuk kubah yang dikembangkan dalam arsitektur Islam ini, terbuat dari batu bata yang lebih ringan daripada langit-langit kubah orang-orang Nasrani di Roma, yang terbuat dari beton tebal dan berat, serta mahal biayanya.

Oleh keduanya, konsep kubah dalam arsitektur Islam ini dikombinasikan dengan bentuk bangunan gereja yang memanjang. Dari situ kemudian muncullah bentuk kubah yang berbeda secara struktur, antara kubah Romawi dan kubah Bizantium. Pada arsitektur Romawi, kubah dibangun di atas denah yang sudah harus berbentuk lingkaran, dan struktur kubahnya ada di dalam tembok menjulang tinggi, sehingga kubah itu sendiri hampir tidak kelihatan. Sedangkan kubah dalam arsitektur Bizantium dibangun di atas pendentive–struktur berbentuk segitiga melengkung yang menahan kubah dari keempat sisi denah persegi–yang memungkinkan bangunan kubah tersebut terlihat secara jelas.

Bangunan gereja ini sempat hancur beberapa kali karena gempa, kemudian dibangun lagi. Pada 7 Mei 558 M, di masa Kaisar Justinianus, kubah sebelah timur runtuh terkena gempa. Pada 26 Oktober 986 M, pada masa pemerintahan Kaisar Basil II (958-1025), kembali terkena gempa. Akhirnya, renovasi besar-besaran dilakukan agar tak terkena gempa di awal abad ke-14.

Pengembangan Turki Usmani
Pada 27 Mei 1453, Konstantinopel takluk oleh tentara Islam di bawah pimpinan Muhammad II bin Murad II atau yang terkenal dengan nama Al-Fatih yang artinya sang penakluk. Saat berhasil menaklukkan kota besar Nasrani itu, Al-Fatih turun dari kudanya dan melakukan sujud syukur.

Ia pergi menuju Gereja Hagia Sophia. Saat itu juga, bangunan gereja Hagia Sophia diubah fungsinya menjadi masjid yang diberi nama Aya Sofia. Pada hari Jumatnya, atau tiga hari setelah penaklukan, Aya Sofia langsung digunakan untuk shalat Jumat berjamaah.

Sepanjang kekhalifahan Turki Usmani, beberapa renovasi dan perubahan dilakukan terhadap bangunan bekas gereja Hagia Sophia tersebut agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan masjid.

Dalam sejarah arsitektur Islam, orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil dalam pengembangan arsitektur Islam ke negara-negara lainnya. Sementara dalam masalah keagamaan, orang-orang Turki terkenal sangat bijak, sebab mereka tidak memaksakan penduduk daerah taklukannya untuk masuk Islam, meskipun mereka berani berperang untuk membela Islam.

Karena orang-orang Turki yang beragama Islam cukup arif, maka ketika Gereja Hagia Sophia dialihfungsikan menjadi masjid pada 1453, bentuk arsitekturnya tidak dibongkar. Kubah Hagia Sophia yang menjulang ke atas dari masa Bizantium ini tetap dibiarkan, tetapi penampilan bentuk luar bangunannya kemudian dilengkapi dengan empat buah menara. Empat menara ini, antara lain, dibangun pada masa Al-Fatih, yakni sebuah menara di bagian selatan. Pada masa Sultan Salim II, dibangun lagi sebuah menara di bagian timur laut. Dan pada masa Sultan Murad III, dibangun dua buah menara.

Pada masa Sultan Murad III, pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid yang masih bercirikan gereja. Termasuk, mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan menutupi hiasan-hiasan asli yang semula ada di dalam Gereja Hagia Sophia dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain yang dianggap tidak perlu, juga dihilangkan.
Begitu pula patung-patung yang ada dan lukisan-lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat. Lantas selama hampir 500 tahun bangunan bekas Gereja Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid.

Akibat adanya kontak budaya antara orang-orang Turki yang beragama Islam dengan budaya Nasrani Eropa, akhirnya arsitektur masjid yang semula mengenal atap rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap meruncing. Setelah mengenal bentuk atap meruncing inilah merupakan titik awal dari pengembangan bangunan masjid yang bersifat megah, berkesan perkasa dan vertikal. Hal ini pula yang menyebabkan timbulnya gaya baru dalam penampilan masjid, yaitu pengembangan lengkungan-lengkungan pada pintu-pintu masuk, untuk memperoleh kesan ruang yang lebih luas dan tinggi.

Museum
Perubahan drastis terjadi di masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk di tahun 1937. Penguasa Turki dari kelompok Muslim nasionalis ini melarang penggunaan bangunan Masjid Aya Sofia untuk shalat, dan mengganti fungsi masjid menjadi museum. Mulailah proyek pembongkaran Masjid Aya Sofia. Beberapa desain dan corak bangunan yang bercirikan Islam diubah lagi menjadi gereja.

Sejak difungsikan sebagai museum, para pengunjung bisa menyaksikan budaya Kristen dan Islam bercampur menghiasi dinding dan pilar pada bangunan Aya Sofia. Bagian di langit-langit ruangan di lantai dua yang bercat kaligrafi dikelupas hingga mozaik berupa lukisan-lukisan sakral Kristen peninggalan masa Gereja Hagia Sophia kembali terlihat.

Sementara peninggalan Masjid Aya Sofia yang menghiasi dinding dan pilar di ruangan lainnya tetap dipertahankan.

Sejak saat itu, Masjid Aya Sofia dijadikan salah satu objek wisata terkenal di Istanbul oleh pemerintah Turki. Nilai sejarahnya tertutupi gaya arsitektur Bizantium yang indah memesona.

Menjadi Inspirasi dalam Perkembangan Arsitektur Islam

Arsitektur Islam dapat dikatakan identik dengan arsitektur masjid. Sebab, ciri-ciri arsitektur Islam dapat terlihat jelas dalam perkembangan arsitektur masjid. Salah satu masjid yang gaya arsitekturnya banyak ditiru oleh para arsitek Muslim dalam membangun masjid di berbagai wilayah kekuasaan Islam adalah Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki.

Desain dan corak bangunan Aya Sofia sangat kuat mengilhami arsitek terkenal Turki Sinan (1489-1588) dalam membangun masjid. Sinan merupakan arsitek resmi kekhalifahan Turki Usmani dan posisinya sejajar dengan menteri.

Kubah besar Masjid Aya Sofia diadopsi oleh Sinan–yang kemudian diikuti oleh arsitek muslim lainnya–untuk diterapkan dalam pembangunan masjid.

Salah satu karya terbesar Sinan yang mengadopsi gaya arsitektur Aya Sofia adalah Masjid Agung Sulaiman di Istanbul yang dibangun selama 7 tahun (1550-1557). Seperti halnya Aya Sofia, masjid yang kini menjadi salah satu objek wisata dunia itu memiliki interior yang megah, ratusan jendela yang menawan, marmer mewah, serta dekorasi indah.

Dalam sejarah arsitektur Islam, orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil dalam pengembangan arsitektur Islam hingga ke negara lainnya. Misalnya Dinasti Seljuk yang menampilkan tiga ciri arsitektur Islam, khususnya arsitektur masjid.

Pertama, Dinasti Seljuk tetap mengembangkan konsep mesjid asli Arab, dengan lapangan terbuka di bagian tengahnya. Kedua, konsep masjid madrasah dan berkubah juga dikembangkan. Ketiga, mengembangkan konsep baru setelah berkenalan dengan kebudayaan Barat, terutama pada masa Dinasti Umayyah.

Ketika orang-orang Turki memperluas kekuasaannya atas dasar kepentingan ekonomi dan militer pada abad ke-11, mereka akhirnya bisa menguasai Bizantium.

Saat kebudayaan Islam bersentuhan dengan kebudayaan Eropa di Kerajaan Romawi Timur (Bizantium/Konstantinopel) pada abad ke-11, arsitektur Islam juga menimba teknik dan bentuk arsitektur Eropa, yang tumbuh dari arsitektur Yunani dan Romawi. Sebaliknya, teknik dan bentuk arsitektur Islam yang dibawa oleh bangsa Turki juga disadap oleh bangsa Romawi untuk dikembangkan di Kerajaan Romawi Timur.

Akibat adanya kontak budaya antara orang-orang Muslim Turki dan budaya Nasrani di Eropa Timur inilah, arsitektur Islam yang semula hanya mengenal atap bangunan rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap meruncing ke atas. Selain itu, sejak bersentuhan dengan kebudayaan Kerajaan Romawi Timur ini juga, arsitektur Islam mulai mengenal arsitektur yang bersifat megah, berkesan perkasa, dan vertikalisme.(suaramedia.com)

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

loveIslamBerikut ini adalah sebuah cerita fiksi, yang mengisahkan dari sisi pandang yang sangat jarang dilihat. Dari sisi teknologi. Dibanding ummat lain, ummat Islam tidak kalah banyak dalam jumlah, tidak kalah banyak dalam sholat atau sembahyang, tidak kalah banyak dalam berdoa, tidak kalah dalam berzikir, tetapi ummat islam sangat kalah dalam bidang penguasaan teknologi.

Abdullah Bin Abdurrahman berdiri tegap diujung benteng batu setinggi tigapuluh meter yang mengitari Istana. Dari puncak benteng itu ia dapat memandang hingga kedermaga pelabuhan yang kini mulai diselimuti asap kapal-kapal yang terbakar. Disamping kanannya, disudut dinding yang berbentuk melingkar, berkibar bendera merah besar bergambar bintang – bulan sabit dan bertuliskan kalimat syahadat yang ditulis dalam bentuk kaligrafi indah berbentuk pedang, disulam menggunakan benang emas. Baju besi, pelidung paha dari kulit kuda dan apron penutup dada dari rantai yang dijalin berbentuk rompi serta helm dari baja berkilau tahan karat membuat tubuhnya yang tinggi kerempeng karena rajin berpuasa menjadi tampak besar tegap perkasa. Jubah lusuh didalam baju besinya basah oleh keringat, sedangkan sorban penutup kepala yang terkadang digunakan untuk sajadah ketika sholat kini dipakai sebabagai selendang menutupi lehernya, ujungnya yang sedikit robek-robek karena sering tersangkut ujung pedang ikut berkibar-kibar tertiup angin sore yang berhembus kencang diketinggian puncak benteng. Matanya yang tajam namun teduh kelihatan merah dan berair karena terkena asap minyak yang dibakar dari senjata pelontar bola api. Disampingnya ada dua orang prajurit memegang bendera kecil berbentuk segi tiga dan diberi gagang, sebagai tanda sandi perintah penyerangan atau penggunaan senjata. Bendera kuning untuk memerintahkan regu pemanah baris ke satu dan ke dua, bendera hijau untuk regu pemanah krisbow, warna merah untuk senjata pelontar bola api.
Satu setengah meter dari tempatnya berdiri, lima orang prajurit sedang sibuk memanah dengan menggunakan panah besar yang disebut krisbow. Terdengar bunyi berderit dari kayu dan pelat baja berbentuk busur yang sedang ditarik meregang itu, lalu seiring kibaran bendera tanda harus melepas anak panah, alat itu menimbulkan bunyi desingan indah manakala anak panah melesat keluar dari larasnya. Diirngin doa dan pekikan takbirt penuh semangat.
Disamping regu pemanah krisbow itu, disepanjang puncak benteng tersebut berjejer pula para prajurit-prajuritnya yang gagah berani. Diatas permukaan puncak benteng yang lebarnya kurang dari tiga meter tersebut berdesak-desakan para prajurit pemanah. Mereka terdiri dari dua lapis pasukan. Mereka melepaskan panah-panah, saling bergantian tanpa henti. Sementara itu bebererapa prajurit yang bertugas membawa anak panah berlari mondar-mandir untuk mensuplai anak panah, membawa minyak bahan bakar yang akan digunakan untuk anak panah api, membawa kantung kulit berisi batu berlapis kain kasar yang berbentuk-bola dan juga kantung-kantung air untuk minum dan pendingin lantai yang menyala karena terkena tetesan minyak panas.
Disetiap duapuluh prajurit, terdapat alat pelontar bola api berbentuk ketapel besar. Ketapel besar itu dapat melontarkan bola api sebesar kepala sejauh duaratus lima puluh meter. Pada peperangan sebelumnya, alat pelontar api ini adalah senjata andalan pasukan yang dikomandoi Abdullah. Kapal dan perahu-perahu dan juga prajurit-prajurit musuh banyak yang hangus terbakar bila terkena bola api tersebut.
Sementara dibelakang mereka, Ditanah lapang didalam area benteng, ada pula pelontar bola api yang lebih besar, yang dapat melontarkan bola api jauh melintasi dinding benteng, tetapi alat itu belum sempurna, roda penggulung regangan tali masih sering rusak karena penguncinya sering patah dan tali penarik balok pelontar utamanya juga sering putus terkena percikan api.
Perang sudah berjalan dua miggu, dan akan memasuki minggu ketiga. Bersama rekan-rekannya Abdullah dapat menahan serangan musuh dan masih dapat mempertahankan benteng tersebut. Ia dan seleruh prajuritnya tak merasa lelah.
Tiba-tiba Abdullah terkesiap! Benteng yang menjadi tempat pertahanannya sesekali terasa bergetar bersamaan dengan suara menggelegar yang disusul dengan nyala api dan kepulan asap yang membumbung tinggi. Diujung puncak benteng, seratus meter dari tempatnya berdiri, dibekas sumber suara ledadkan tadi, ia melihat puluhan prajurit yang panik, ia mendengar jeritan prajurit-prajurit yang berteriak karena terluka, terbakar atau yang sedang melayang jatuh menghujam dasar kaki benteng yang berbatu. Dan syahid.
“Ahmeeeeeeed……!” Ia berteriak sambil menempelkan telapak tangan kirinya nya kesamping mulut hingga membentuk corong agar terikannya yang lantang bisa terdengar dan tidak kalah ditelan bisingya desingan anak panah dan bunyi gemertak senjata pelontar.
Yang dipanggil adalah seorang prajurit bernama Ahmed yang sedang berlari terbungkuk-bungkuk karena merunduk diantara pasukan pemanah. Prajurit itu mempercepat larinya. Ahmed seorang prajurit yang bertugas menyampaikan berita perkembangan terbaru disetiap sudut benteng. Sepanjang hari ia berlari, memberi informasi tebaru kepada setiap pimpinan pasukan diatas benteng.
“Ahmed! Apa yang terdengar menggelagar dan disertai asap hitam dan nyala api itu, sehingga benteng kita yang kokoh ini terasa bergetar, bahkan aku lihat ada lubang besar dibekas ledakan itu?”.Tanya Abdulah tak sabar kepada prajurit pembawa informasi itu, bahkan ketika sang prajurit itu belum lagi sampai didepannya.
Ahmed kali ini merasakan kata-kata yang lain dari biasanya. Kata-kata Abdullah yang biasanya tenang dan sejuk kini terasa bernada gusar. “Komandan!” katanya seraya mendekat, nafasnya terengah-engah” Benteng kita telah digempur oleh musuh dengan menggunakan senjata jenis terbaru. Senjata itu bernama meriam atau canoon ! Senjata jenis ini menggunakan bubuk mesiu dan sebuah laras terbuat dari logam yang dicor. Pelurunya terbuat dari logam yang didalamnya diisi dengan bubuk mesiu dan dicampur dengn serpihan-serpihan logam. Cara kerja senjata itu pertama-tama bagian belakang laras pelontarnya diisi dengan bubuk mesiu dan diberi sumbu melalu lubang kecil, lalu peluru yang berbentuk bola dimasukkan kedalam larasnya melalui lubang depan. Kemudian sumbu dibagian pangkal laras meriam itu disulut api, maka terjadi ledakan. Ledakan itu memanaskan udara didalam laras, sehingga udara mengembang dan terjadi tekanan yang sangat tinggi didalam laras, tekanan udara yang sangat tinggi itu mendorong peluru. Peluru seberat tigasetengah kilogram itu dapat meluncur dengan kecepatan tinggi dan dapt mencapai jarak sejauh empatratuslimapuluh meter. Bahkan dengan sudut parabolik jangkauannya bisa lebih jauh lagi, bisa mencapai sejauh tigasetengah kali dari alat pelontar bola api kita. Jadi mereka dapat menembakan peluru itu dari jauh. Sedangkan senjata kita tidak dapat menjangkau posisis mereka. Dan kehebatan senjata itu, ketika ditembakkan dan mengenai dinding, maka bola besi yang disebut peluru itu dapat meledak dengan kekuatan yang dahsyat, ledakannya dapat menghancurkan bebatuan yang menjadi dinding benteng. Dan juga serpihan logamnya dapat menembus baju besi prajurit kita. Sekali tembak mereka dapat membunuh duapuluhlima orang prajurit kita! Armada laut kita yang bertugas mengamankan pelabuhan sudah hancur! Satu tembakan peluru mereka dapat menenggelamkan perahu layar kita yang berisi seratus duapuluh orang prajurit! Menurutku, bila musuh dapat bergerak maju dan mengarahkan gempurannya ke pintu gerbang istana, kita akan segera kalah!”.
Abdullah, sang pimpinan prajurat nan perkasa ini tertunduk, ia menggelengkan kepalanya sambil berucap “MasyaAllah”. Lalu dia memandang Ahmed, matanya mengernyit tajam tanda sia sedang bersuaha mengingat sesuatu, lalu dia berkata:
“Ahmed, apa nama senjata itu tadi?”
“Meriam atau canoon !”
“Meriam? Aku ingat! Bukankah tiga bulan yang lalu, sebelum musuh ini menyerang kota, pada pertemuan dengan Sultan, kita telah pernah membahasnya! Waktu itu ada seorang pemuda ahli senjata menawarkan sebuah rancangan senjata jenis terbaru kepada Sultan. Senjata itu adalah pengembangan dari senjata yang digunakan oleh tentara Cina. Pemuda itu sangat yakin bahwa senjata hasil rancangannya tersebut sangat hebat dan sangat yakin pula bahwa Sultan akan menerimanya. Dan atas rancangannya tersebut ia meminta kepada Sultan agar memberinya bayaran yang besar dan kedudukan yang terhormat dikerajaan. Tetapi sultan menolak, dan kaupun tahu sendiri bahwa Sultan kita yang sekarang ini tidak begitu cerdas dan kurang peduli dengan penemuam para ilmuwan. Sedangkan para penasihat Sultanpun tidak dapat membujuk atau memberi argumen yang baik agar sultan menerima tawaran pemuda itu”
“Ya, karena penolakan sang Sultan, pemuda ahli senjata itu sangat kecewa lalu ia pergi dan menawarkan rancangannya tersebut kepada pihak musuh, bahkan rancangannya telah lebih disempurnakan. Kini pemuda tersebut mendapat jabatan yang bagus dipihak musuh serta menjadi penasihat startegi perang mereka”. Jelas Ahmed kepada Abdullah.
“Ahmed, aku ingin bertanya padamu, karena menurut pendapatku dan juga sahabat-sahabatku sesama pimpinan pasukan bahwa kamu adalah orang yang cerdas dan sangat berbakat! Suatu saat kamu bisa menjadi mentri dikerajaan. Kami semua yakin itu. Pertanyaanku, apa pendapatmu sehingga Sultan menolak pemuda yang mengajukan rancangan senjata yang ampuh itu?”
Mata Ahmed berseri, ia bahagia mendapat pujian dari Abdullah sang Pimpinan pasukan yang terkenal jujur dan gagah berani itu.”Menurutku, dengan menolak tawaran dari ahli senjata itu Sultan telah berbuat kesalahan yang fatal. Menurut pengamatanku Belakangan ini Sultan terlalu sibuk dengan memanjakan para anak-anaknya dan juga terlalu asyik dengan harem-haremnya. Dan hal yang tidak kalah penting adalah Sultan telah mengangkat para penasehat yang teralu menitik beratkan kepada masalah Agama dan Ibadah”.
Abdullah sang pemimpin pasukan benteng barat itu sangat terkejut, alisnya berkerut tanda keheranannya akan ungkapan Ahmed yang dinilainya agak tidak sopan. Ia tidak menyangka mendapat jawaban seperti itu. Ingin rasanya ia mencengkram leher prajurit itu! Jika saja dia masih seperti sepeluh tahun yang lalu yang dikenal keras tegas dan gampang marah, pasti hal itu telah dilakukannya. Ia kini telah berubah menjadi kepala prajurit yang bijaksana. Ia tak habis pikir, mengapa Ahmed berkata seperti itu. Ia dapat menerima alasan jika Sultan terlalu sibuk dengan anak-anak dan harem-harem kesayangannya, tetapi menyalahkan Sultan karena mengangkat penasehat yang para ahli ibadah adalah suatu pendapat yang kurang ajar. Ia menyesal telah memuji Ahmed tadi. “Ahmed, apa maksudmu bahwa Sultan juga salah karena telah mengangkat penasehat yang justru para ahli Ibadah? Aku tidak mengerti maksudmu? Hati-hati, fikiranmu bisa membuatmu menjadi orang yang sombong dan tersesat! Apakah kamu tidak ingat, beberapa waktu lalu sultan memecat seorang ilmuwan dan juga membakar ratusan buku-buku karya imiah ilmuwan tersebut? Kamu bisa dihukum gantung bila berkata seperti itu didepan Sultan. Jika ini bukan dalam perang, aku pasti telah menampar mulutmu yang lancang itu. Kau bisa menjadi Zidiq! Beristighfarlah Ahmed!”
“Maafkan aku!” kata Ahmed tanpa merasa takut atau bersalah. Ia sangat yakin dengan pendapatnya. “Maksudku adalah, semenjak Sultan lebih banyak memiliki penasihat para ahli syariah dan ahli ibadah, kebijakan Sultan jadi tidak berimbang lagi. Beliau telah mengesampingkan pentingnya Ilmu pengetahuan dan penelitian serta pengembangan teknologi. Padahal dimasa-masa mendatang bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bangsa yang akan menguasai dunia, tidak peduli apakah dia muslim atau bukan. Bukankah kota Cordoba ini menjadi sangat maju karena Sultan-sultan terdahulu sangat peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi? Apakah kau tidak menyadari bahwa Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya selain ahli ibadah tetapi juga ahli strategi yang sangat baik. Beliau bahkan menyuruh tawanan perangnya untuk mengajari baca tulis kepada para kaum muslim di Madinah. Ketahuilah bahwa Baca tulis adalah pintu pertama menuju abad Ilmu pengetahuan dan Teknologi, Nabi juga tidak menganjurkan kepada kita untuk beribadah tanpa henti, misalnya berzikir sampai ribuan kali sepanjang malam. Pendapatku, Jika berzikir seperti itu, bukankah Allah SWT telah menciptakan malaikat! Ibadah kita haruslah berimbang, kita seharusnya memakmuran bumi ini dengan kreasi kita, kita ummat Islam harus cerdas, kreatif dan inovatif, tentu saja harus sesuai dan tetap berpegang teguh dengan petunjuk Al-Quran dan Hadits. Bila kita dapat memadukan semua itu barulah kita bisa disebut sebagai ummat yang membawa rahmatan lil alamin, jika tidak kita hanya akan menjadi manusia-manusia yang bodoh dan menyusahkan negara”.
Abdullah sang pimpinan prajurit benteng barat termenung, ia beristighfar. Kejernihan hatinya membuatnya cepat menyadari apa yang dimaksud Ahmed. Tapi didalam lubuk hatinya ia masih menyimpan satu pertanyaan. Ia tak sanggup menahannya, naluri keprajuritannya telah terprogram untuk selalu bergerak secara otomatis untuk selalu setia membela Sultan. Lalu ia berkata lagi kepada Ahmed sang prajurit informasi “Tapi Ahmed, aku berfikir bahwa Sultan juga punya alasan yang mulia untuk menolak rancangan senjata yang punya daya hancur mengerikan itu. Sultan punya sifat kasih sayang yang tinggi terhadap sesama manusia. Ia mungkin berpendapat bahwa senjata itu tidak adil, dan akan mengakibatkan kehancuran dan korban yang besar dipihak musuh” begitu argumen sang pimpinan pasukan benteng barat itu.
“Ya! Itu suatu sifat yang sangat terpuji! Tetapi bukankah musuh tidak akan pernah berhenti mengganggu kita hingga hari kiamat? Lihatlah akibat dari ketidak pedulian pemimpin kita terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi!” tangan Ahmed menunjuk kearah barat laut, tempat dimana asap membumbung dari pelabuhan. “Aku kagum dengan keberanianmu dimedan tempur, aku iri dengan sifat ketaatanmu pada Allah SWT, sifat juhudmu adalah panutan bagi setiap prajurit! Tetapi aku juga kecewa padamu! Seharusnya diantara rasa kelezatanmu beribadah, kaupun harusnya menyeimbangkannya dengan hal yang kreatif! Kau bisa merancang senjata-senjata yang lebih baik! Apakah kau tidak sadar bahwa peralatan tempurmu sudah ketinggalan jaman? Tahukah kau apa akibatnya? Lihatlah kedermaga sebelah sana, sekarang pasukan kita digaris depan telah hancur lebur, hari ini saja, kita telah kehilangan limabelasribu prajurit. Sahabatmu yang bernama Mirkad-si orang Tunisia yang memimpin armada laut itu, telah syahid kemarin sore, tubuh sahabtmu itu hancur terkena peluru meriam! Dan sahabatmu Jafar yang berbadan tinggi besar dari kota Basrah yang memimpin kavileri panah dan tombak beserta seluruh prajuritnya yang bertugas menjaga gerbang kota juga telah syahid pagi ini, tubuhnya hancur dan baju besinya terbelah, kepalanya yang masih utuh sekarang digantung didinding gerbang kota”.
“Innalillahiwainnailaihirojiuun, Allahumaghfirlahu, Warhamhu, wa-afihi wa-fuanhu..”. Selesai membacakan doa, Abdullah mengusap wajahnya. Ia memandang Ahmed. “Kau benar Ahmed, kau pantas menjadi Mentri atau penasehat Sultan. Selepas perang ini aku akan meminta kepada Panglima kita untuk mengirimmu keIstambul, kau bisa meningkatkan karirmu disana, Pimpinan Ummat ini membutuhkan orang sepertimu untuk menjadi penasihat agar mereka dapat membuat kebijaksanaan yang dapat membawa ummat Islam berjaya dimasa-masa mendatang. Berjaya disegala bidang, bukan berjaya diatas mimbar atau menyendiri dipojok-pojok mesjid dan musholah!”.
Percakapan mereka ditengah hiruk pikuknya senjata terhenti dengan sebuah ledakan besar didekat pintu gerbang, kira-kira sembilan puluh meter dari tempat mereka berdiri. Mereka melihat puluhan prajurit muslim berguguran. Terbayang kekecewaan yang sangat dalam pada wajah mereka. Lalu Abdullah memeluk Ahmed, “Terimakasih Ahmed! Kau memang cerdas, selama ini aku sering berselisih pendapat denganmu dan sering berkata keras kepadamu, bahkan terkadang aku menyangsikan keimananmu, tetapi ketahuilah Ahmed, kamu sesungguhnya sudah kuanggap seperti adik kandungku!. Sekarang teruskan tugasmu, cepat Informasikan kepada pimpinan pasukan dibenteng sebelah timur “. Abdullah mempersilahkan Ahmed meneruskan tugasnya. Lalu prajurit pemberi informasi itu bergegas menuju pimpinan pasukan berikutnya. Kali ini ada perasaan aneh dalam hatinya. Ia merasa lega telah mengatakan unek-uneknya! Unek-unek yang harusnya ditumpahkan didepan Sultan!
******
Matahari tenggelam diiringi kumandang azan bersahut-sahutan, dimasa damai biasanya setiap sore ketika akan tenggelam, bila dilihat dari atas benteng, matahari bersinar indah membawa warna keemasan, siluet bayang-bayang benteng membawa kesan kokoh terhadap benteng yang mengelilingi istana Sultan itu, para penduduk kota begitu yakin bahwa Islam akan berjaya dinegri yang dulunya cuma dipenuhi bukit berbatu ini dan kini menjadi Indah karena dibangun oleh kaum Muslim yang datang membawa kemakmuran. Tetapi sore ini warna matahari itu terlihat kemerahan dan terlihat redup karena tertutup asap kelam dari kapal-kapal yang terbakar, membawa kesan kepada Istana itu suasana yang menyeramkan. Sepanjang hari ini pasukan Muslim yang gugur berjumlah lebih dari tigaribu tujuhratus limapuluh orang ! Jumlah yang sangat banyak!
Hari ketujuhbelas semenjak gempuran musuh menggunakan meriam.
Abdullah sang pimpinan pasukan dibenteng sebelah barat tak sabar menunggu berita perkembangan terbaru dari Ahmed. Tetapi Ahmed belum terlihat. Ahmed adalah prajurit pembawa informasi berdarah Lebanon yang bertubuh atletis, wajahnya tampan, dibawah alisnya yang lebat terlihat matanya menyorot lembut sekaligus tajam menandakan bahwa ia seorang pemuda yang cerdas, diantara dagu dan pipinya yang berbulu, kulitnya terlihat putih kemerahan ciri khas orang Lebanon. Ia menguasai beberapa bahasa. Ia hafal Al-quran dan Ribuan hadits shahih, Bahasa Arabnya sangat faseh dengan gramatika yang baik karena sering berhubungan dengn para petinggi diIstana Sultan, ia juga menguasai bahasa Ibrani, Persia, Andalusia, Italia, Prancis dan bahasa Inggris dengan baik, karena keahliannya itulah ia mendapat tugas prajurit pembawa informasi. Keahliannya berbahasa diawali ketika ia membantu para iluwan di Universitas Cordoba dalam menterjemahkan atau menyalin manuskrif-manuskrif yang ditulis untuk kemudian disimpan di perpustakaan. Belakangan ini ia sudah mulai menguasai bahasa Rusia yang ia pelajari dari para prajurit yang berasal dari daerah Samarkand. Ia dapat berbicara kepada para pimpinan pasukan muslim yang berasal dari banyak wilayah.
Menjelang siang, Ahmed belum juga muncul! Suara dentuman meriam semakin menggema! Kini Abdullah dapat dengan jelas melihat bendera putih berlambang salib besar yang diapit oleh gambar dua buah singa emas yang berdiri seperti mencakar. Pertanda pasukan musuh semakin mendekat. Abdullah meraskan pertanda kejatuhan Istana semakin dekat.
Selepas Juhur, seorang prajurit berlari tergesa-gesa menghadap Abdullah, seorang prajurit berdadan agak kurus dan berkulit agak hitam kecoklatan, dengan bahasa arab beraksen Maroko, pemuda itu berkata kepada Abdullah dengan nada terengah-engah..
“Komandan, aku membawa kabar untukmu, bahwa Ahmed, prajurit pembawa informasi telah syahid pagi tadi. Kakinya kanannya putus dan dadanya tertembus terkena serpihan ledakan meriam, jika saja bukan karena bajunya yang punya ciri khas tentu kita tidak akan dapt mengenali mayatnya, karena wajahnya hancur!”
“Innalillahiwainnailaihirojiuun, Allahumagfilahu, warhamhu, waafihiwafuanhu..”. Abdullah berdoa sambil memandang kelangit lalu tertunduk. Ia menangis. Baru kali ini ia menangis untuk seseorang. Terakhir kali ia menitikkan airmata dan menangis ketika ibunya meninggal duabelas tahun yang lalu ketika menderita sakit akibat usia lanjut dan terlalu lelah sepulang dari menunaikan ibadah haji. Abdullah teringat kembali percakapannya dengan Amed, janjinya untuk mengirim Ahmed ke Istambul gagal sudah. Ia kembali berdoa, menengadah kelangit seolah Ia dapat melihat Ahmed yang bergelar “syuhada” sedang terbang bersama malaikat menuju syurga.! Ia jadi iri!. Ya Rabb, kenapa kau panggil dia! Desisnya dalam hati. Ia tertunduk, dalam hatinya kini ada keyakinan aneh, kini ia baru mengerti kata-kata Ahmed. Keunggulan teknologi dan Ilmu pengetahuan ternyata sama pentingnya dengan Ibadah ritual.
Hari keduapuluh satu semenjak musuh menggunakan meriam. Musuh semakin mendekat.
Letak kota Cordoba yang sangat strategis karena dapat diakses dari tiga penjuru laut sekaligus menjadikannya rawan karena dapat diserang dari ketiga penjuru itu. Kota akan dapat ditaklukan dengan mudah manakala musuh telah berhasil menghancurkan pasukan-pasukan angkatan laut dipelabuhan. Kini pasukan muslimin semakin banyak yang berguguran. Dinding benteng sebelah timur mulai kewalahan. Teriakan takbir mengiringi kematian semakin sering terdengar. Setiap kali terdengar dentuman, terlihat lubang besar didinding benteng, dan batu-batu dinding benteng berjatuhan menimbulkan suara bergemuruh, debunya yang putih becampur asap hitam membumbung melewati puncak benteng. Alat pelontar bola api mulai berkurang karena rusak dihantam peluru meriam, disekitarnya bergelimpangan prajurit yang tewas ataupun terluka parah. Lubang-lubang diatas dinding benteng berbentuk jendela segi empat sebagai tempat perlindungan ketika melepaskan anak panah mulai banyak yang menganga.menjadikan prajurit disana menjadi sasaran empuk serangan anak panah musuh.
Tangga-tangga kayu kini mulai menjulang bersandar didinding-dinding benteng. Prajurit-prajurit musuh mulai menaiki tangga tersebut. Dentingan pedang dan pekikan semakin riuh dipuncak benteng. Prajurit-prajurit berperisai bergambar salib semakin merangsek. Parjurit-prajurit bersorban mulai berjatuhan. Bahkan yang telah mati terkena panahpun masih ditusuk-tusuk dengan pedang.

Tiba-tiba sebuah dentuman besar jatuh beberap meter didekat Abdullah. Ia limbung. Rusuk kirinya terasa nyeri, sebuah serpihan besi tajam menembus baju besinya, persis diantara sambungan dibawah ketiak. Tangannya jadi kaku. Iapun merasa kakinya kesemutan. Sebuah anak panah api tertancap dipaha kanannya. Lalu ia jatuh pingsan.

Ketika Matahari mulai tergelincir kebarat, pintu gerbang berhasil dijebol musuh. Prajurit-prajurit pembawa bendera bergambar salib dan singa mulai merangsek! Hari itu Benteng terakhir kota Cordoba Andalusia jatuh ketangan pasukan tentara salib. Lalu tejadi pembantaian yang mengerikan! Jeritan kesakitan dan pekikan takbir membumbung besama debu dan darah dilantai depan gerbang.
*************
Dua hari setelah penaklukan.

Abdullah siuman dari pingsannya, kemarin ia dijemur dan dikumpulkan dihalaman istana, karena ia termasuk pimpinan salah satu divisi benteng bagian barat kota, maka ia dikumpulkan bersama pimpinan-pimpinan pasukan yang lain. Sedangkan parurit-prajurit dalam divisinya yang masih selamat telah disiksa dan dibunuh kemarin siang. Dia menyaksikan pembantaian prajurit-prajurit kesayangannya yang telah belasan tahun ikut bersamanya. Kemarin dia hanya disiksa lalu ia pingsan. Kini ia mendapati tubuhnya yang kurus sedang tergantung. Kedua tangannya terikat, Ia dan beberapa orang pimpinan pasukan disalib disebuah tiang diruang bawah tanah Istana sultan. Dadanya yang kerempeng disulut besi panas hingga terkelupas dan tulang iganya kelihatan. Punggungnya meneteskan darah dari gari-garis luka bekas dicambuk, Ia pingsan ketika lukanya disiram air asam yang terasa sangat pedih bila terkena luka. Ia juga sempat melihat anak-anak dan wanita anggota keluarga Sultan dan para mentrinya disiksa dan dibunuh. Sangat kejam!. Ia memejamkan matanya ketika melihat salah seorang anak mentri yang dia kenal sedang ditusuk dengan pedang hingga menembus punggung. Ditengah rasa sakit karena luka dan sakit hatinya melihat kekejaman yang terjadi didepan matanya, Ia hanya bisa bergumam, “Allahuakbar…..,Subhanallah,….ya Hafidz, Ya Rahman….”. tetapi setiap kali ia mengucapkan kalimat itu, orang yang menyiksaannya bertambah semangat! Abdullah tersenyum karena sebentar lagi ia dapat bertemu Ahmed, Ia bahagia karena ia juga berharap dapat menjadi syuhada. Ia ingin bertemu dan berkumpul segera dengan pemimpin para syuhada Sayyidina Hamzah, paman Nabi. Zikirnya terhenti ketika pedang berwarna putih kemilau menembus jantungnya.

Puncak segala kehancuran.
Sementara itu, beberapa puluh meter dari ruang gudang makanan yang kini berubah menjadi penyiksaan bawah tanah. Dilantai atas, disebuah ruangan yang sangat besar dan sangat indah yang disetiap sisi dan sudut-sudutnya dikelilingi dengan rak-rak yang menjulang tinggi, pimpinan pasukan musuh bersama beberapa penasihat ahli strategi sedang berbincang-bincang.
“Kita akan bakar tempat ini berikut isinya!” suara pimpinan itu dengan lantang, sikap berdirinya sangat congkak, tangan kakannya menghunus pedang dan tangan kirinya memegang helm perang yang dikepitkan kepinggang.

” Jangan Jenderal!. Tempat ini adalah pusat perpustakaan terbesar kaum muslimin setelah perpustakaan di Baghdad dan Kairo!. Harap Tuan Ketahui, tidak seperti perpustakaan Bagdad dan Kairo yang kebanyakan hanya menyimpan buku-buku tentang Syariat dan Ibadah dalam agama Islam, Perpustakaan Cordoba adalah satu-satunya perpustakaan tempat dimana karya-karya para ahli dan ilmuwan muslim menyimpan karyanya disini. Para Ilmuwan atau yang biasa mereka sebut ulama-ulama itu datang dari berbagai negri muslim, bahkan ada yang datang dari negri samarkand. Mereka mengkaji segala macam ilmu disini, dari ilmu kedokteran, geografi, fisika, kimia, optik, matematika, pelayaran, ekonomi dan perdagangan bahkan ilmu konstuksi bangunan dan juga Astronomi”. Lalu sang penasehat itu berjalan dan mengambil sebuah buku tebal berwarna coklat. ” Lihat ini! Ini adalah buku kedokteran karya ilmuwan Islam! Lihat! Dibuku ini ditulis bagaimana caranya mengoperasi mata! Gila! Mereka telah bisa melakukan transplantasi mata! Dan lihat gambar-gambar ini, ini adalah gambar jantung dan pembuluh-pembuluh darah, ini juga ada gambar alat-alat dan pisau untuk melakukan operasi bedah. Aha..! Dia menulis bahwa untuk mencegah luka menjadi membusuk karena kuman, luka harus di cuci dengan al-kohol. Dia juga menulis bagaimana cara membuat alkohol dari permentasi buah-buahan yang disuling”. Sang penasehat itu membolak-balik kitab tebal itu dengan hati-hati, jemarinya bergetar seolah ia baru menemukan sebongkah emas, matanya memandang tak berkedip karena takjub.
Sang Jenderal mulai tertarik, lalu mengambil sebuah buku. “Hmmm, nampaknya ini buku yang ditulis oleh ulama dari Mesir. Lihat ini…,orang-orang Azam itu ternyata sudah membuat gambar bagaimana cara membangun bendungan dan membangun irigasi, lihat ini cara bagaimana memompa air dengan menggunakan kincir yang digerakan oleh tenaga air”. Ia kemudian memandang kesekeliling ruangan yang sangat besar dan berornamen indah itu. Rak-rak buku itu diatur dengan sangat rapi dan dengan menggunakan system penyimpanan yang sangat menakjubkan. Buku-buku tersebut telah disusun berdasarkan bidang Ilmu pengetahuan, dan berdasarkan abjad. Sungguh hebat system pencatatan dan administrasi diperpustakaan itu membuat setiap orang dapat dengan sangat mudah untuk mendapatkan jenis buku apa yang ia cari. – sang Jenderal tidak tahu bahwa penemuan system pencatatan yang rapi tersebut adalah hasil karya sekertaris Nabi bernama Said, ketika sekertaris itu ditugaskan oleh Khalifah Abubakar As-Sidik RA dan Khalifah Umar RA untuk menyusun kumpulan Alquran-. Sang Jenderal berkeliling ruangan, dimeja panjang dekt jendela yang menghadap taman air mancur, Ia juga melihat ratusan alat peraga, ada jam pasir, ada alat berbentuk piring yang dibelakang pringannya terdapat piringan-piringan bergerigi besar dan kecil dari metal yang terhubung dengan kawat melingkar dan sebuah bandul- ternyata itu adalah alat pengukur waktu-atau jam bandul, ada alat seperti tempat lilin berbentuk bunga yang dapat bergerak yang ternyata merupakan peraga atau alat simulasi dari system orbit planet. Dimeja panjang itupun terdapat sebuah alat berbentuk bulat yang diameternya bertingkat-tingkat, bagian depannya ditutup dengan bahan dari batu transparant seperti kaca dengan permukan yang melembung seperti bola mata. Alat itu adalah teropong untuk mengamati bintang dan planet-planet. Disebelahnya ada alat serupa tetapi lebih pendek, itu adalah microskop pertama didunia. Didekat alat itu ada lempengan dari tembaga dengan ukiran-ukiran angka-angka-yang ternyata itu adalah kalender.
Dari Ratusan Rak-rak besar yang berisi ribuan buku, ada satu rak besar yang didalmnya hanya terdapat buku-buku yang membahas tentang syariah, tasawuf, sufi, ibadah, dan buku-buku yang bahasan-bahasannya melulu mengenai ibadah.
“Bagimana dengan ini?”tanya sang jenderal seraya menunjuk kearah rak tersebut yang berisi buku-buku tidak terlalu banyak. ” Menurutku ini tidak berguna, dan aku juga tidak tertarik! lagipula membaca buku-buku ini bisa merusak iman Kristen kita. Mungkin lebih baik kita bakar saja dan kita dijadikan api unggun untuk menghangatkan para prajurit kita yang sedang pesta ditengah-tengah lapangan didepan istana! “.
“Jangan Jenderal!” sergah sang penasehat yang berkebangsaan Italia-Inggris- dan masih punya hubungan darah Yahudi- karena kakek buyutnya adalah orang Yahudi. Sang penasehat itu bernama Leonardo Alfred Ben-Nini “Saya usulkan, buku-buku yang bertema ilmu pengetahuan dan buku-buku hasil penelitian dan pemikiran para ilmuwan muslim yang cerdas ini kita bawa semua, lalu kita bisa mendirikan pusat kajian dan pendidikan diEropa, para anak muda-anak muda cerdas dinegri kita dapat belajar dan mengembangkan penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh para ilmuwan muslim ini, kita terjemahkan kedalam bahasa kita dan kita buat salinannya. Lalu buku-buku itu kita kirimkan kegubernur-gubernur kita agar mereka membangun pusat pendidikan dikota-kota mereka. Negri kita akan menjadi sangat maju nantinya.” Seorang pengawal yang berrambut ikal pirang berkebangsaan Jerman tersenyum setuju.
Dan terhadap seluruh kitab-kita ibadah ini kita biarkan dan kita tinggalkan disini, untuk nanti kita berikan kepada para pemimpin-pemimpin agama mereka. Nanti mereka dan juga generasi umat islam berikutnya akan mengira bahwa agama Islam adalah agama yang hanya terdiri dari melulu tentang cara-cara ibadah. Mereka akan menjauhi ilmu pengetahuan dan teknologi ,karena mempelajarinya menurut mereka adalah bidah. Kemudian mereka akan membandingkan buku-buku ini dengan buku-buku yang ada di Baghdad dan di Kairo, kemudian mereka akan berselisih dan bertengkar dengan sesama mereka karena mereka merasa bahwa kelompok merekalah yang paling benar. Mereka tidak akan pernah dapat bersatu, mereka akan lemah dan bebal. Kelak mereka dapat kita jadikan budak atau buruh-buruh diperkebunan atau diperusahaan-perusahaan kita, mereka akan sibuk mencari nafkah, sibuk bekerja sehingga lupa kepada Tuhan mereka, atau mereka hanya akan mementingkan ibadah saja, mereka akan miskin, dan kita dapat mengatur mereka walaupun jumlah mereka sangat banyak dan menyebar diseluruh dunia. Diantara mereka nanti akan ada kelompok-kelompok yang sangat fanatik, nah dengan melalu agen spionase kita mereka kita kasih senjata peledak, mereka akan meledakkannya dinegri mereka sendiri, mereka akan mengira bahwa mereka telah mati syahid padahal mereka membunuh sesama mereka juga. Jadi kita tidak perlu repot-repot lagi memerangi mereka. Dimulai dari ruangan perpustakaan ini, mulai hari ini kita telah menguasai mereka dan anak cucu mereka. Hahahaha”. Leonardo terkekeh bangga,.
“Kau sungguh hebat Leonardo! Kota Roma, London, Paris dan Berlin, dan seluruh orang Eropa berhutang jasa padamu! Dipesta kemenangan nanti, aku akan memberi hadiah padamu dan akan menyampaikan idemu ini ke Raja Inggris. Semoga raja akan meberimu sebidang tanah dan sebuah kastil lengkap dengan pegawainya. Dan…kau boleh melamar keponakanku yang cantik! Hahaha..” yang berada diruangan itu tertawa. Sang jendral tersenyum bangga seraya menepuk pundak Leonardo sebagai tanda takjub akan ide dan kejeniusan sang penasehatnya. “Kau boleh melakukan apa saja terhadap buku-buku ini. Dan aku akan menyiapkan orang-orang untuk membantumu. Kapanpun kauperlukan, kapal pengangkut akan kusiapkan untukmu”.
Dengan mengepalkan tangan kanannya lalu menarik lengannya kearah dada, Leonardo Alfred Ben-Nini membuat gerakan seolah ingin menyikut lambungnya sendiri, lalu ia berkata.”Yessssss!” sebuah tanda kemenangan besar ala bapaknya. Tanda kemenangan ala orang Inggris.
Beberapa minggu kemudian Dengan diangkut sembilanbelas kapal layar besar, Leonardo Alfred berlayar menuju Roma dan pelabuhan Inggris dengan membawa harta rampasan perang, didalam rombongan itu ada delapan kapal layar besar yang membawa buku-buku jarahan dari perpustakaan Cordoba. Buku yang belum sempat dibaca oleh kaum muslimin. Itu adalah rampasan perang paling berharga dalam sejarah perang yang dilakukan manusia. Ironisnya kaum muslim tedak merasa kehilangan!.
Beberapa tahun kemudian Eropa menjadi kawasan yang sangat maju pesat dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu-ilmu dan juga aplikasinya diterapkan dalam bidang persenjataan, arsitektur, peralatan pertanian, alat angkut, perkapalan, astronomi, kedokteran. Abad penggunaan mesin mulai memakmurkan Eropa, Walaupun beberapa dekade kemudian terjadi perselisihan antara kelompok ilmuwan yang diketuai olah Galileo, tetapi karya-karya yang bersifat engineering tetap diakui oleh pihak Gereja. Ilmu dan teknologi pelayaran memungkinkan mereka menjelajah negri-negri yang jauh.
Kota Cordoba akhirnya musnah, dan hanya merupakan sebuah cagar budaya! Turis yang datang kesana sering berdecak kagum akan keindahan kota tersebut. Orang muslim yang datang kesana terpana sekaligus sedih! Tak percaya mengapa Tuhan membiarkan kota ini terlepas dari kaum muslim. Mengapa Tuhan membiarkan pembantaian kaum muslim disini hingga tak satupun yang tersisa.
*ceita ini hanya fiksi, tetapi kisah kehancuran kota Cordoba adalah nyata, penjarahan buku-buku oleh pasukan Eropa adalah nyata, dan kisah penolakan Sultan terhadap rancangan senjata Meriam juga nyata.
Story by: Swara Hadiwirosa.
“Dengan keimanan yang kuat, didukung ummat yang serdas dan kreatif, mencintai dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, Dengan izin Allah swt, kejayaan Islam dapat kita raih kembali” (sang teknokrat).

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

loveIslamBerikut ini adalah sebuah cerita fiksi, yang mengisahkan dari sisi pandang yang sangat jarang dilihat. Dari sisi teknologi. Dibanding ummat lain, ummat Islam tidak kalah banyak dalam jumlah, tidak kalah banyak dalam sholat atau sembahyang, tidak kalah banyak dalam berdoa, tidak kalah dalam berzikir, tetapi ummat islam sangat kalah dalam bidang penguasaan teknologi.

Abdullah Bin Abdurrahman berdiri tegap diujung benteng batu setinggi tigapuluh meter yang mengitari Istana. Dari puncak benteng itu ia dapat memandang hingga kedermaga pelabuhan yang kini mulai diselimuti asap kapal-kapal yang terbakar. Disamping kanannya, disudut dinding yang berbentuk melingkar, berkibar bendera merah besar bergambar bintang – bulan sabit dan bertuliskan kalimat syahadat yang ditulis dalam bentuk kaligrafi indah berbentuk pedang, disulam menggunakan benang emas. Baju besi, pelidung paha dari kulit kuda dan apron penutup dada dari rantai yang dijalin berbentuk rompi serta helm dari baja berkilau tahan karat membuat tubuhnya yang tinggi kerempeng karena rajin berpuasa menjadi tampak besar tegap perkasa. Jubah lusuh didalam baju besinya basah oleh keringat, sedangkan sorban penutup kepala yang terkadang digunakan untuk sajadah ketika sholat kini dipakai sebabagai selendang menutupi lehernya, ujungnya yang sedikit robek-robek karena sering tersangkut ujung pedang ikut berkibar-kibar tertiup angin sore yang berhembus kencang diketinggian puncak benteng. Matanya yang tajam namun teduh kelihatan merah dan berair karena terkena asap minyak yang dibakar dari senjata pelontar bola api. Disampingnya ada dua orang prajurit memegang bendera kecil berbentuk segi tiga dan diberi gagang, sebagai tanda sandi perintah penyerangan atau penggunaan senjata. Bendera kuning untuk memerintahkan regu pemanah baris ke satu dan ke dua, bendera hijau untuk regu pemanah krisbow, warna merah untuk senjata pelontar bola api.
Satu setengah meter dari tempatnya berdiri, lima orang prajurit sedang sibuk memanah dengan menggunakan panah besar yang disebut krisbow. Terdengar bunyi berderit dari kayu dan pelat baja berbentuk busur yang sedang ditarik meregang itu, lalu seiring kibaran bendera tanda harus melepas anak panah, alat itu menimbulkan bunyi desingan indah manakala anak panah melesat keluar dari larasnya. Diirngin doa dan pekikan takbirt penuh semangat.
Disamping regu pemanah krisbow itu, disepanjang puncak benteng tersebut berjejer pula para prajurit-prajuritnya yang gagah berani. Diatas permukaan puncak benteng yang lebarnya kurang dari tiga meter tersebut berdesak-desakan para prajurit pemanah. Mereka terdiri dari dua lapis pasukan. Mereka melepaskan panah-panah, saling bergantian tanpa henti. Sementara itu bebererapa prajurit yang bertugas membawa anak panah berlari mondar-mandir untuk mensuplai anak panah, membawa minyak bahan bakar yang akan digunakan untuk anak panah api, membawa kantung kulit berisi batu berlapis kain kasar yang berbentuk-bola dan juga kantung-kantung air untuk minum dan pendingin lantai yang menyala karena terkena tetesan minyak panas.
Disetiap duapuluh prajurit, terdapat alat pelontar bola api berbentuk ketapel besar. Ketapel besar itu dapat melontarkan bola api sebesar kepala sejauh duaratus lima puluh meter. Pada peperangan sebelumnya, alat pelontar api ini adalah senjata andalan pasukan yang dikomandoi Abdullah. Kapal dan perahu-perahu dan juga prajurit-prajurit musuh banyak yang hangus terbakar bila terkena bola api tersebut.
Sementara dibelakang mereka, Ditanah lapang didalam area benteng, ada pula pelontar bola api yang lebih besar, yang dapat melontarkan bola api jauh melintasi dinding benteng, tetapi alat itu belum sempurna, roda penggulung regangan tali masih sering rusak karena penguncinya sering patah dan tali penarik balok pelontar utamanya juga sering putus terkena percikan api.
Perang sudah berjalan dua miggu, dan akan memasuki minggu ketiga. Bersama rekan-rekannya Abdullah dapat menahan serangan musuh dan masih dapat mempertahankan benteng tersebut. Ia dan seleruh prajuritnya tak merasa lelah.
Tiba-tiba Abdullah terkesiap! Benteng yang menjadi tempat pertahanannya sesekali terasa bergetar bersamaan dengan suara menggelegar yang disusul dengan nyala api dan kepulan asap yang membumbung tinggi. Diujung puncak benteng, seratus meter dari tempatnya berdiri, dibekas sumber suara ledadkan tadi, ia melihat puluhan prajurit yang panik, ia mendengar jeritan prajurit-prajurit yang berteriak karena terluka, terbakar atau yang sedang melayang jatuh menghujam dasar kaki benteng yang berbatu. Dan syahid.
“Ahmeeeeeeed……!” Ia berteriak sambil menempelkan telapak tangan kirinya nya kesamping mulut hingga membentuk corong agar terikannya yang lantang bisa terdengar dan tidak kalah ditelan bisingya desingan anak panah dan bunyi gemertak senjata pelontar.
Yang dipanggil adalah seorang prajurit bernama Ahmed yang sedang berlari terbungkuk-bungkuk karena merunduk diantara pasukan pemanah. Prajurit itu mempercepat larinya. Ahmed seorang prajurit yang bertugas menyampaikan berita perkembangan terbaru disetiap sudut benteng. Sepanjang hari ia berlari, memberi informasi tebaru kepada setiap pimpinan pasukan diatas benteng.
“Ahmed! Apa yang terdengar menggelagar dan disertai asap hitam dan nyala api itu, sehingga benteng kita yang kokoh ini terasa bergetar, bahkan aku lihat ada lubang besar dibekas ledakan itu?”.Tanya Abdulah tak sabar kepada prajurit pembawa informasi itu, bahkan ketika sang prajurit itu belum lagi sampai didepannya.
Ahmed kali ini merasakan kata-kata yang lain dari biasanya. Kata-kata Abdullah yang biasanya tenang dan sejuk kini terasa bernada gusar. “Komandan!” katanya seraya mendekat, nafasnya terengah-engah” Benteng kita telah digempur oleh musuh dengan menggunakan senjata jenis terbaru. Senjata itu bernama meriam atau canoon ! Senjata jenis ini menggunakan bubuk mesiu dan sebuah laras terbuat dari logam yang dicor. Pelurunya terbuat dari logam yang didalamnya diisi dengan bubuk mesiu dan dicampur dengn serpihan-serpihan logam. Cara kerja senjata itu pertama-tama bagian belakang laras pelontarnya diisi dengan bubuk mesiu dan diberi sumbu melalu lubang kecil, lalu peluru yang berbentuk bola dimasukkan kedalam larasnya melalui lubang depan. Kemudian sumbu dibagian pangkal laras meriam itu disulut api, maka terjadi ledakan. Ledakan itu memanaskan udara didalam laras, sehingga udara mengembang dan terjadi tekanan yang sangat tinggi didalam laras, tekanan udara yang sangat tinggi itu mendorong peluru. Peluru seberat tigasetengah kilogram itu dapat meluncur dengan kecepatan tinggi dan dapt mencapai jarak sejauh empatratuslimapuluh meter. Bahkan dengan sudut parabolik jangkauannya bisa lebih jauh lagi, bisa mencapai sejauh tigasetengah kali dari alat pelontar bola api kita. Jadi mereka dapat menembakan peluru itu dari jauh. Sedangkan senjata kita tidak dapat menjangkau posisis mereka. Dan kehebatan senjata itu, ketika ditembakkan dan mengenai dinding, maka bola besi yang disebut peluru itu dapat meledak dengan kekuatan yang dahsyat, ledakannya dapat menghancurkan bebatuan yang menjadi dinding benteng. Dan juga serpihan logamnya dapat menembus baju besi prajurit kita. Sekali tembak mereka dapat membunuh duapuluhlima orang prajurit kita! Armada laut kita yang bertugas mengamankan pelabuhan sudah hancur! Satu tembakan peluru mereka dapat menenggelamkan perahu layar kita yang berisi seratus duapuluh orang prajurit! Menurutku, bila musuh dapat bergerak maju dan mengarahkan gempurannya ke pintu gerbang istana, kita akan segera kalah!”.
Abdullah, sang pimpinan prajurat nan perkasa ini tertunduk, ia menggelengkan kepalanya sambil berucap “MasyaAllah”. Lalu dia memandang Ahmed, matanya mengernyit tajam tanda sia sedang bersuaha mengingat sesuatu, lalu dia berkata:
“Ahmed, apa nama senjata itu tadi?”
“Meriam atau canoon !”
“Meriam? Aku ingat! Bukankah tiga bulan yang lalu, sebelum musuh ini menyerang kota, pada pertemuan dengan Sultan, kita telah pernah membahasnya! Waktu itu ada seorang pemuda ahli senjata menawarkan sebuah rancangan senjata jenis terbaru kepada Sultan. Senjata itu adalah pengembangan dari senjata yang digunakan oleh tentara Cina. Pemuda itu sangat yakin bahwa senjata hasil rancangannya tersebut sangat hebat dan sangat yakin pula bahwa Sultan akan menerimanya. Dan atas rancangannya tersebut ia meminta kepada Sultan agar memberinya bayaran yang besar dan kedudukan yang terhormat dikerajaan. Tetapi sultan menolak, dan kaupun tahu sendiri bahwa Sultan kita yang sekarang ini tidak begitu cerdas dan kurang peduli dengan penemuam para ilmuwan. Sedangkan para penasihat Sultanpun tidak dapat membujuk atau memberi argumen yang baik agar sultan menerima tawaran pemuda itu”
“Ya, karena penolakan sang Sultan, pemuda ahli senjata itu sangat kecewa lalu ia pergi dan menawarkan rancangannya tersebut kepada pihak musuh, bahkan rancangannya telah lebih disempurnakan. Kini pemuda tersebut mendapat jabatan yang bagus dipihak musuh serta menjadi penasihat startegi perang mereka”. Jelas Ahmed kepada Abdullah.
“Ahmed, aku ingin bertanya padamu, karena menurut pendapatku dan juga sahabat-sahabatku sesama pimpinan pasukan bahwa kamu adalah orang yang cerdas dan sangat berbakat! Suatu saat kamu bisa menjadi mentri dikerajaan. Kami semua yakin itu. Pertanyaanku, apa pendapatmu sehingga Sultan menolak pemuda yang mengajukan rancangan senjata yang ampuh itu?”
Mata Ahmed berseri, ia bahagia mendapat pujian dari Abdullah sang Pimpinan pasukan yang terkenal jujur dan gagah berani itu.”Menurutku, dengan menolak tawaran dari ahli senjata itu Sultan telah berbuat kesalahan yang fatal. Menurut pengamatanku Belakangan ini Sultan terlalu sibuk dengan memanjakan para anak-anaknya dan juga terlalu asyik dengan harem-haremnya. Dan hal yang tidak kalah penting adalah Sultan telah mengangkat para penasehat yang teralu menitik beratkan kepada masalah Agama dan Ibadah”.
Abdullah sang pemimpin pasukan benteng barat itu sangat terkejut, alisnya berkerut tanda keheranannya akan ungkapan Ahmed yang dinilainya agak tidak sopan. Ia tidak menyangka mendapat jawaban seperti itu. Ingin rasanya ia mencengkram leher prajurit itu! Jika saja dia masih seperti sepeluh tahun yang lalu yang dikenal keras tegas dan gampang marah, pasti hal itu telah dilakukannya. Ia kini telah berubah menjadi kepala prajurit yang bijaksana. Ia tak habis pikir, mengapa Ahmed berkata seperti itu. Ia dapat menerima alasan jika Sultan terlalu sibuk dengan anak-anak dan harem-harem kesayangannya, tetapi menyalahkan Sultan karena mengangkat penasehat yang para ahli ibadah adalah suatu pendapat yang kurang ajar. Ia menyesal telah memuji Ahmed tadi. “Ahmed, apa maksudmu bahwa Sultan juga salah karena telah mengangkat penasehat yang justru para ahli Ibadah? Aku tidak mengerti maksudmu? Hati-hati, fikiranmu bisa membuatmu menjadi orang yang sombong dan tersesat! Apakah kamu tidak ingat, beberapa waktu lalu sultan memecat seorang ilmuwan dan juga membakar ratusan buku-buku karya imiah ilmuwan tersebut? Kamu bisa dihukum gantung bila berkata seperti itu didepan Sultan. Jika ini bukan dalam perang, aku pasti telah menampar mulutmu yang lancang itu. Kau bisa menjadi Zidiq! Beristighfarlah Ahmed!”
“Maafkan aku!” kata Ahmed tanpa merasa takut atau bersalah. Ia sangat yakin dengan pendapatnya. “Maksudku adalah, semenjak Sultan lebih banyak memiliki penasihat para ahli syariah dan ahli ibadah, kebijakan Sultan jadi tidak berimbang lagi. Beliau telah mengesampingkan pentingnya Ilmu pengetahuan dan penelitian serta pengembangan teknologi. Padahal dimasa-masa mendatang bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bangsa yang akan menguasai dunia, tidak peduli apakah dia muslim atau bukan. Bukankah kota Cordoba ini menjadi sangat maju karena Sultan-sultan terdahulu sangat peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi? Apakah kau tidak menyadari bahwa Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya selain ahli ibadah tetapi juga ahli strategi yang sangat baik. Beliau bahkan menyuruh tawanan perangnya untuk mengajari baca tulis kepada para kaum muslim di Madinah. Ketahuilah bahwa Baca tulis adalah pintu pertama menuju abad Ilmu pengetahuan dan Teknologi, Nabi juga tidak menganjurkan kepada kita untuk beribadah tanpa henti, misalnya berzikir sampai ribuan kali sepanjang malam. Pendapatku, Jika berzikir seperti itu, bukankah Allah SWT telah menciptakan malaikat! Ibadah kita haruslah berimbang, kita seharusnya memakmuran bumi ini dengan kreasi kita, kita ummat Islam harus cerdas, kreatif dan inovatif, tentu saja harus sesuai dan tetap berpegang teguh dengan petunjuk Al-Quran dan Hadits. Bila kita dapat memadukan semua itu barulah kita bisa disebut sebagai ummat yang membawa rahmatan lil alamin, jika tidak kita hanya akan menjadi manusia-manusia yang bodoh dan menyusahkan negara”.
Abdullah sang pimpinan prajurit benteng barat termenung, ia beristighfar. Kejernihan hatinya membuatnya cepat menyadari apa yang dimaksud Ahmed. Tapi didalam lubuk hatinya ia masih menyimpan satu pertanyaan. Ia tak sanggup menahannya, naluri keprajuritannya telah terprogram untuk selalu bergerak secara otomatis untuk selalu setia membela Sultan. Lalu ia berkata lagi kepada Ahmed sang prajurit informasi “Tapi Ahmed, aku berfikir bahwa Sultan juga punya alasan yang mulia untuk menolak rancangan senjata yang punya daya hancur mengerikan itu. Sultan punya sifat kasih sayang yang tinggi terhadap sesama manusia. Ia mungkin berpendapat bahwa senjata itu tidak adil, dan akan mengakibatkan kehancuran dan korban yang besar dipihak musuh” begitu argumen sang pimpinan pasukan benteng barat itu.
“Ya! Itu suatu sifat yang sangat terpuji! Tetapi bukankah musuh tidak akan pernah berhenti mengganggu kita hingga hari kiamat? Lihatlah akibat dari ketidak pedulian pemimpin kita terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi!” tangan Ahmed menunjuk kearah barat laut, tempat dimana asap membumbung dari pelabuhan. “Aku kagum dengan keberanianmu dimedan tempur, aku iri dengan sifat ketaatanmu pada Allah SWT, sifat juhudmu adalah panutan bagi setiap prajurit! Tetapi aku juga kecewa padamu! Seharusnya diantara rasa kelezatanmu beribadah, kaupun harusnya menyeimbangkannya dengan hal yang kreatif! Kau bisa merancang senjata-senjata yang lebih baik! Apakah kau tidak sadar bahwa peralatan tempurmu sudah ketinggalan jaman? Tahukah kau apa akibatnya? Lihatlah kedermaga sebelah sana, sekarang pasukan kita digaris depan telah hancur lebur, hari ini saja, kita telah kehilangan limabelasribu prajurit. Sahabatmu yang bernama Mirkad-si orang Tunisia yang memimpin armada laut itu, telah syahid kemarin sore, tubuh sahabtmu itu hancur terkena peluru meriam! Dan sahabatmu Jafar yang berbadan tinggi besar dari kota Basrah yang memimpin kavileri panah dan tombak beserta seluruh prajuritnya yang bertugas menjaga gerbang kota juga telah syahid pagi ini, tubuhnya hancur dan baju besinya terbelah, kepalanya yang masih utuh sekarang digantung didinding gerbang kota”.
“Innalillahiwainnailaihirojiuun, Allahumaghfirlahu, Warhamhu, wa-afihi wa-fuanhu..”. Selesai membacakan doa, Abdullah mengusap wajahnya. Ia memandang Ahmed. “Kau benar Ahmed, kau pantas menjadi Mentri atau penasehat Sultan. Selepas perang ini aku akan meminta kepada Panglima kita untuk mengirimmu keIstambul, kau bisa meningkatkan karirmu disana, Pimpinan Ummat ini membutuhkan orang sepertimu untuk menjadi penasihat agar mereka dapat membuat kebijaksanaan yang dapat membawa ummat Islam berjaya dimasa-masa mendatang. Berjaya disegala bidang, bukan berjaya diatas mimbar atau menyendiri dipojok-pojok mesjid dan musholah!”.
Percakapan mereka ditengah hiruk pikuknya senjata terhenti dengan sebuah ledakan besar didekat pintu gerbang, kira-kira sembilan puluh meter dari tempat mereka berdiri. Mereka melihat puluhan prajurit muslim berguguran. Terbayang kekecewaan yang sangat dalam pada wajah mereka. Lalu Abdullah memeluk Ahmed, “Terimakasih Ahmed! Kau memang cerdas, selama ini aku sering berselisih pendapat denganmu dan sering berkata keras kepadamu, bahkan terkadang aku menyangsikan keimananmu, tetapi ketahuilah Ahmed, kamu sesungguhnya sudah kuanggap seperti adik kandungku!. Sekarang teruskan tugasmu, cepat Informasikan kepada pimpinan pasukan dibenteng sebelah timur “. Abdullah mempersilahkan Ahmed meneruskan tugasnya. Lalu prajurit pemberi informasi itu bergegas menuju pimpinan pasukan berikutnya. Kali ini ada perasaan aneh dalam hatinya. Ia merasa lega telah mengatakan unek-uneknya! Unek-unek yang harusnya ditumpahkan didepan Sultan!
******
Matahari tenggelam diiringi kumandang azan bersahut-sahutan, dimasa damai biasanya setiap sore ketika akan tenggelam, bila dilihat dari atas benteng, matahari bersinar indah membawa warna keemasan, siluet bayang-bayang benteng membawa kesan kokoh terhadap benteng yang mengelilingi istana Sultan itu, para penduduk kota begitu yakin bahwa Islam akan berjaya dinegri yang dulunya cuma dipenuhi bukit berbatu ini dan kini menjadi Indah karena dibangun oleh kaum Muslim yang datang membawa kemakmuran. Tetapi sore ini warna matahari itu terlihat kemerahan dan terlihat redup karena tertutup asap kelam dari kapal-kapal yang terbakar, membawa kesan kepada Istana itu suasana yang menyeramkan. Sepanjang hari ini pasukan Muslim yang gugur berjumlah lebih dari tigaribu tujuhratus limapuluh orang ! Jumlah yang sangat banyak!
Hari ketujuhbelas semenjak gempuran musuh menggunakan meriam.
Abdullah sang pimpinan pasukan dibenteng sebelah barat tak sabar menunggu berita perkembangan terbaru dari Ahmed. Tetapi Ahmed belum terlihat. Ahmed adalah prajurit pembawa informasi berdarah Lebanon yang bertubuh atletis, wajahnya tampan, dibawah alisnya yang lebat terlihat matanya menyorot lembut sekaligus tajam menandakan bahwa ia seorang pemuda yang cerdas, diantara dagu dan pipinya yang berbulu, kulitnya terlihat putih kemerahan ciri khas orang Lebanon. Ia menguasai beberapa bahasa. Ia hafal Al-quran dan Ribuan hadits shahih, Bahasa Arabnya sangat faseh dengan gramatika yang baik karena sering berhubungan dengn para petinggi diIstana Sultan, ia juga menguasai bahasa Ibrani, Persia, Andalusia, Italia, Prancis dan bahasa Inggris dengan baik, karena keahliannya itulah ia mendapat tugas prajurit pembawa informasi. Keahliannya berbahasa diawali ketika ia membantu para iluwan di Universitas Cordoba dalam menterjemahkan atau menyalin manuskrif-manuskrif yang ditulis untuk kemudian disimpan di perpustakaan. Belakangan ini ia sudah mulai menguasai bahasa Rusia yang ia pelajari dari para prajurit yang berasal dari daerah Samarkand. Ia dapat berbicara kepada para pimpinan pasukan muslim yang berasal dari banyak wilayah.
Menjelang siang, Ahmed belum juga muncul! Suara dentuman meriam semakin menggema! Kini Abdullah dapat dengan jelas melihat bendera putih berlambang salib besar yang diapit oleh gambar dua buah singa emas yang berdiri seperti mencakar. Pertanda pasukan musuh semakin mendekat. Abdullah meraskan pertanda kejatuhan Istana semakin dekat.
Selepas Juhur, seorang prajurit berlari tergesa-gesa menghadap Abdullah, seorang prajurit berdadan agak kurus dan berkulit agak hitam kecoklatan, dengan bahasa arab beraksen Maroko, pemuda itu berkata kepada Abdullah dengan nada terengah-engah..
“Komandan, aku membawa kabar untukmu, bahwa Ahmed, prajurit pembawa informasi telah syahid pagi tadi. Kakinya kanannya putus dan dadanya tertembus terkena serpihan ledakan meriam, jika saja bukan karena bajunya yang punya ciri khas tentu kita tidak akan dapt mengenali mayatnya, karena wajahnya hancur!”
“Innalillahiwainnailaihirojiuun, Allahumagfilahu, warhamhu, waafihiwafuanhu..”. Abdullah berdoa sambil memandang kelangit lalu tertunduk. Ia menangis. Baru kali ini ia menangis untuk seseorang. Terakhir kali ia menitikkan airmata dan menangis ketika ibunya meninggal duabelas tahun yang lalu ketika menderita sakit akibat usia lanjut dan terlalu lelah sepulang dari menunaikan ibadah haji. Abdullah teringat kembali percakapannya dengan Amed, janjinya untuk mengirim Ahmed ke Istambul gagal sudah. Ia kembali berdoa, menengadah kelangit seolah Ia dapat melihat Ahmed yang bergelar “syuhada” sedang terbang bersama malaikat menuju syurga.! Ia jadi iri!. Ya Rabb, kenapa kau panggil dia! Desisnya dalam hati. Ia tertunduk, dalam hatinya kini ada keyakinan aneh, kini ia baru mengerti kata-kata Ahmed. Keunggulan teknologi dan Ilmu pengetahuan ternyata sama pentingnya dengan Ibadah ritual.
Hari keduapuluh satu semenjak musuh menggunakan meriam. Musuh semakin mendekat.
Letak kota Cordoba yang sangat strategis karena dapat diakses dari tiga penjuru laut sekaligus menjadikannya rawan karena dapat diserang dari ketiga penjuru itu. Kota akan dapat ditaklukan dengan mudah manakala musuh telah berhasil menghancurkan pasukan-pasukan angkatan laut dipelabuhan. Kini pasukan muslimin semakin banyak yang berguguran. Dinding benteng sebelah timur mulai kewalahan. Teriakan takbir mengiringi kematian semakin sering terdengar. Setiap kali terdengar dentuman, terlihat lubang besar didinding benteng, dan batu-batu dinding benteng berjatuhan menimbulkan suara bergemuruh, debunya yang putih becampur asap hitam membumbung melewati puncak benteng. Alat pelontar bola api mulai berkurang karena rusak dihantam peluru meriam, disekitarnya bergelimpangan prajurit yang tewas ataupun terluka parah. Lubang-lubang diatas dinding benteng berbentuk jendela segi empat sebagai tempat perlindungan ketika melepaskan anak panah mulai banyak yang menganga.menjadikan prajurit disana menjadi sasaran empuk serangan anak panah musuh.
Tangga-tangga kayu kini mulai menjulang bersandar didinding-dinding benteng. Prajurit-prajurit musuh mulai menaiki tangga tersebut. Dentingan pedang dan pekikan semakin riuh dipuncak benteng. Prajurit-prajurit berperisai bergambar salib semakin merangsek. Parjurit-prajurit bersorban mulai berjatuhan. Bahkan yang telah mati terkena panahpun masih ditusuk-tusuk dengan pedang.

Tiba-tiba sebuah dentuman besar jatuh beberap meter didekat Abdullah. Ia limbung. Rusuk kirinya terasa nyeri, sebuah serpihan besi tajam menembus baju besinya, persis diantara sambungan dibawah ketiak. Tangannya jadi kaku. Iapun merasa kakinya kesemutan. Sebuah anak panah api tertancap dipaha kanannya. Lalu ia jatuh pingsan.

Ketika Matahari mulai tergelincir kebarat, pintu gerbang berhasil dijebol musuh. Prajurit-prajurit pembawa bendera bergambar salib dan singa mulai merangsek! Hari itu Benteng terakhir kota Cordoba Andalusia jatuh ketangan pasukan tentara salib. Lalu tejadi pembantaian yang mengerikan! Jeritan kesakitan dan pekikan takbir membumbung besama debu dan darah dilantai depan gerbang.
*************
Dua hari setelah penaklukan.

Abdullah siuman dari pingsannya, kemarin ia dijemur dan dikumpulkan dihalaman istana, karena ia termasuk pimpinan salah satu divisi benteng bagian barat kota, maka ia dikumpulkan bersama pimpinan-pimpinan pasukan yang lain. Sedangkan parurit-prajurit dalam divisinya yang masih selamat telah disiksa dan dibunuh kemarin siang. Dia menyaksikan pembantaian prajurit-prajurit kesayangannya yang telah belasan tahun ikut bersamanya. Kemarin dia hanya disiksa lalu ia pingsan. Kini ia mendapati tubuhnya yang kurus sedang tergantung. Kedua tangannya terikat, Ia dan beberapa orang pimpinan pasukan disalib disebuah tiang diruang bawah tanah Istana sultan. Dadanya yang kerempeng disulut besi panas hingga terkelupas dan tulang iganya kelihatan. Punggungnya meneteskan darah dari gari-garis luka bekas dicambuk, Ia pingsan ketika lukanya disiram air asam yang terasa sangat pedih bila terkena luka. Ia juga sempat melihat anak-anak dan wanita anggota keluarga Sultan dan para mentrinya disiksa dan dibunuh. Sangat kejam!. Ia memejamkan matanya ketika melihat salah seorang anak mentri yang dia kenal sedang ditusuk dengan pedang hingga menembus punggung. Ditengah rasa sakit karena luka dan sakit hatinya melihat kekejaman yang terjadi didepan matanya, Ia hanya bisa bergumam, “Allahuakbar…..,Subhanallah,….ya Hafidz, Ya Rahman….”. tetapi setiap kali ia mengucapkan kalimat itu, orang yang menyiksaannya bertambah semangat! Abdullah tersenyum karena sebentar lagi ia dapat bertemu Ahmed, Ia bahagia karena ia juga berharap dapat menjadi syuhada. Ia ingin bertemu dan berkumpul segera dengan pemimpin para syuhada Sayyidina Hamzah, paman Nabi. Zikirnya terhenti ketika pedang berwarna putih kemilau menembus jantungnya.

Puncak segala kehancuran.
Sementara itu, beberapa puluh meter dari ruang gudang makanan yang kini berubah menjadi penyiksaan bawah tanah. Dilantai atas, disebuah ruangan yang sangat besar dan sangat indah yang disetiap sisi dan sudut-sudutnya dikelilingi dengan rak-rak yang menjulang tinggi, pimpinan pasukan musuh bersama beberapa penasihat ahli strategi sedang berbincang-bincang.
“Kita akan bakar tempat ini berikut isinya!” suara pimpinan itu dengan lantang, sikap berdirinya sangat congkak, tangan kakannya menghunus pedang dan tangan kirinya memegang helm perang yang dikepitkan kepinggang.

” Jangan Jenderal!. Tempat ini adalah pusat perpustakaan terbesar kaum muslimin setelah perpustakaan di Baghdad dan Kairo!. Harap Tuan Ketahui, tidak seperti perpustakaan Bagdad dan Kairo yang kebanyakan hanya menyimpan buku-buku tentang Syariat dan Ibadah dalam agama Islam, Perpustakaan Cordoba adalah satu-satunya perpustakaan tempat dimana karya-karya para ahli dan ilmuwan muslim menyimpan karyanya disini. Para Ilmuwan atau yang biasa mereka sebut ulama-ulama itu datang dari berbagai negri muslim, bahkan ada yang datang dari negri samarkand. Mereka mengkaji segala macam ilmu disini, dari ilmu kedokteran, geografi, fisika, kimia, optik, matematika, pelayaran, ekonomi dan perdagangan bahkan ilmu konstuksi bangunan dan juga Astronomi”. Lalu sang penasehat itu berjalan dan mengambil sebuah buku tebal berwarna coklat. ” Lihat ini! Ini adalah buku kedokteran karya ilmuwan Islam! Lihat! Dibuku ini ditulis bagaimana caranya mengoperasi mata! Gila! Mereka telah bisa melakukan transplantasi mata! Dan lihat gambar-gambar ini, ini adalah gambar jantung dan pembuluh-pembuluh darah, ini juga ada gambar alat-alat dan pisau untuk melakukan operasi bedah. Aha..! Dia menulis bahwa untuk mencegah luka menjadi membusuk karena kuman, luka harus di cuci dengan al-kohol. Dia juga menulis bagaimana cara membuat alkohol dari permentasi buah-buahan yang disuling”. Sang penasehat itu membolak-balik kitab tebal itu dengan hati-hati, jemarinya bergetar seolah ia baru menemukan sebongkah emas, matanya memandang tak berkedip karena takjub.
Sang Jenderal mulai tertarik, lalu mengambil sebuah buku. “Hmmm, nampaknya ini buku yang ditulis oleh ulama dari Mesir. Lihat ini…,orang-orang Azam itu ternyata sudah membuat gambar bagaimana cara membangun bendungan dan membangun irigasi, lihat ini cara bagaimana memompa air dengan menggunakan kincir yang digerakan oleh tenaga air”. Ia kemudian memandang kesekeliling ruangan yang sangat besar dan berornamen indah itu. Rak-rak buku itu diatur dengan sangat rapi dan dengan menggunakan system penyimpanan yang sangat menakjubkan. Buku-buku tersebut telah disusun berdasarkan bidang Ilmu pengetahuan, dan berdasarkan abjad. Sungguh hebat system pencatatan dan administrasi diperpustakaan itu membuat setiap orang dapat dengan sangat mudah untuk mendapatkan jenis buku apa yang ia cari. – sang Jenderal tidak tahu bahwa penemuan system pencatatan yang rapi tersebut adalah hasil karya sekertaris Nabi bernama Said, ketika sekertaris itu ditugaskan oleh Khalifah Abubakar As-Sidik RA dan Khalifah Umar RA untuk menyusun kumpulan Alquran-. Sang Jenderal berkeliling ruangan, dimeja panjang dekt jendela yang menghadap taman air mancur, Ia juga melihat ratusan alat peraga, ada jam pasir, ada alat berbentuk piring yang dibelakang pringannya terdapat piringan-piringan bergerigi besar dan kecil dari metal yang terhubung dengan kawat melingkar dan sebuah bandul- ternyata itu adalah alat pengukur waktu-atau jam bandul, ada alat seperti tempat lilin berbentuk bunga yang dapat bergerak yang ternyata merupakan peraga atau alat simulasi dari system orbit planet. Dimeja panjang itupun terdapat sebuah alat berbentuk bulat yang diameternya bertingkat-tingkat, bagian depannya ditutup dengan bahan dari batu transparant seperti kaca dengan permukan yang melembung seperti bola mata. Alat itu adalah teropong untuk mengamati bintang dan planet-planet. Disebelahnya ada alat serupa tetapi lebih pendek, itu adalah microskop pertama didunia. Didekat alat itu ada lempengan dari tembaga dengan ukiran-ukiran angka-angka-yang ternyata itu adalah kalender.
Dari Ratusan Rak-rak besar yang berisi ribuan buku, ada satu rak besar yang didalmnya hanya terdapat buku-buku yang membahas tentang syariah, tasawuf, sufi, ibadah, dan buku-buku yang bahasan-bahasannya melulu mengenai ibadah.
“Bagimana dengan ini?”tanya sang jenderal seraya menunjuk kearah rak tersebut yang berisi buku-buku tidak terlalu banyak. ” Menurutku ini tidak berguna, dan aku juga tidak tertarik! lagipula membaca buku-buku ini bisa merusak iman Kristen kita. Mungkin lebih baik kita bakar saja dan kita dijadikan api unggun untuk menghangatkan para prajurit kita yang sedang pesta ditengah-tengah lapangan didepan istana! “.
“Jangan Jenderal!” sergah sang penasehat yang berkebangsaan Italia-Inggris- dan masih punya hubungan darah Yahudi- karena kakek buyutnya adalah orang Yahudi. Sang penasehat itu bernama Leonardo Alfred Ben-Nini “Saya usulkan, buku-buku yang bertema ilmu pengetahuan dan buku-buku hasil penelitian dan pemikiran para ilmuwan muslim yang cerdas ini kita bawa semua, lalu kita bisa mendirikan pusat kajian dan pendidikan diEropa, para anak muda-anak muda cerdas dinegri kita dapat belajar dan mengembangkan penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh para ilmuwan muslim ini, kita terjemahkan kedalam bahasa kita dan kita buat salinannya. Lalu buku-buku itu kita kirimkan kegubernur-gubernur kita agar mereka membangun pusat pendidikan dikota-kota mereka. Negri kita akan menjadi sangat maju nantinya.” Seorang pengawal yang berrambut ikal pirang berkebangsaan Jerman tersenyum setuju.
Dan terhadap seluruh kitab-kita ibadah ini kita biarkan dan kita tinggalkan disini, untuk nanti kita berikan kepada para pemimpin-pemimpin agama mereka. Nanti mereka dan juga generasi umat islam berikutnya akan mengira bahwa agama Islam adalah agama yang hanya terdiri dari melulu tentang cara-cara ibadah. Mereka akan menjauhi ilmu pengetahuan dan teknologi ,karena mempelajarinya menurut mereka adalah bidah. Kemudian mereka akan membandingkan buku-buku ini dengan buku-buku yang ada di Baghdad dan di Kairo, kemudian mereka akan berselisih dan bertengkar dengan sesama mereka karena mereka merasa bahwa kelompok merekalah yang paling benar. Mereka tidak akan pernah dapat bersatu, mereka akan lemah dan bebal. Kelak mereka dapat kita jadikan budak atau buruh-buruh diperkebunan atau diperusahaan-perusahaan kita, mereka akan sibuk mencari nafkah, sibuk bekerja sehingga lupa kepada Tuhan mereka, atau mereka hanya akan mementingkan ibadah saja, mereka akan miskin, dan kita dapat mengatur mereka walaupun jumlah mereka sangat banyak dan menyebar diseluruh dunia. Diantara mereka nanti akan ada kelompok-kelompok yang sangat fanatik, nah dengan melalu agen spionase kita mereka kita kasih senjata peledak, mereka akan meledakkannya dinegri mereka sendiri, mereka akan mengira bahwa mereka telah mati syahid padahal mereka membunuh sesama mereka juga. Jadi kita tidak perlu repot-repot lagi memerangi mereka. Dimulai dari ruangan perpustakaan ini, mulai hari ini kita telah menguasai mereka dan anak cucu mereka. Hahahaha”. Leonardo terkekeh bangga,.
“Kau sungguh hebat Leonardo! Kota Roma, London, Paris dan Berlin, dan seluruh orang Eropa berhutang jasa padamu! Dipesta kemenangan nanti, aku akan memberi hadiah padamu dan akan menyampaikan idemu ini ke Raja Inggris. Semoga raja akan meberimu sebidang tanah dan sebuah kastil lengkap dengan pegawainya. Dan…kau boleh melamar keponakanku yang cantik! Hahaha..” yang berada diruangan itu tertawa. Sang jendral tersenyum bangga seraya menepuk pundak Leonardo sebagai tanda takjub akan ide dan kejeniusan sang penasehatnya. “Kau boleh melakukan apa saja terhadap buku-buku ini. Dan aku akan menyiapkan orang-orang untuk membantumu. Kapanpun kauperlukan, kapal pengangkut akan kusiapkan untukmu”.
Dengan mengepalkan tangan kanannya lalu menarik lengannya kearah dada, Leonardo Alfred Ben-Nini membuat gerakan seolah ingin menyikut lambungnya sendiri, lalu ia berkata.”Yessssss!” sebuah tanda kemenangan besar ala bapaknya. Tanda kemenangan ala orang Inggris.
Beberapa minggu kemudian Dengan diangkut sembilanbelas kapal layar besar, Leonardo Alfred berlayar menuju Roma dan pelabuhan Inggris dengan membawa harta rampasan perang, didalam rombongan itu ada delapan kapal layar besar yang membawa buku-buku jarahan dari perpustakaan Cordoba. Buku yang belum sempat dibaca oleh kaum muslimin. Itu adalah rampasan perang paling berharga dalam sejarah perang yang dilakukan manusia. Ironisnya kaum muslim tedak merasa kehilangan!.
Beberapa tahun kemudian Eropa menjadi kawasan yang sangat maju pesat dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu-ilmu dan juga aplikasinya diterapkan dalam bidang persenjataan, arsitektur, peralatan pertanian, alat angkut, perkapalan, astronomi, kedokteran. Abad penggunaan mesin mulai memakmurkan Eropa, Walaupun beberapa dekade kemudian terjadi perselisihan antara kelompok ilmuwan yang diketuai olah Galileo, tetapi karya-karya yang bersifat engineering tetap diakui oleh pihak Gereja. Ilmu dan teknologi pelayaran memungkinkan mereka menjelajah negri-negri yang jauh.
Kota Cordoba akhirnya musnah, dan hanya merupakan sebuah cagar budaya! Turis yang datang kesana sering berdecak kagum akan keindahan kota tersebut. Orang muslim yang datang kesana terpana sekaligus sedih! Tak percaya mengapa Tuhan membiarkan kota ini terlepas dari kaum muslim. Mengapa Tuhan membiarkan pembantaian kaum muslim disini hingga tak satupun yang tersisa.
*ceita ini hanya fiksi, tetapi kisah kehancuran kota Cordoba adalah nyata, penjarahan buku-buku oleh pasukan Eropa adalah nyata, dan kisah penolakan Sultan terhadap rancangan senjata Meriam juga nyata.
Story by: Swara Hadiwirosa.
“Dengan keimanan yang kuat, didukung ummat yang serdas dan kreatif, mencintai dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, Dengan izin Allah swt, kejayaan Islam dapat kita raih kembali” (sang teknokrat).

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

 

BERITA dari Indonesia…

GEMPAR dan canggung membaca judul artikel ‘Yuri Gagarin Pahlawan Indonesia dari Rusia..’ Apa tidaknya, memang betul. 

Ianya terjadi terjadi gelaran pahlawan itu disandang Yuri, kerana Indonesia mengakuinya. Yuri telah diberi bintang oleh Soekarno, presiden Indonesia pada saat itu. Namanya Yuri Gagarin, dialah manusia pertama masa itu berumur 27 tahun, yang berjaya menembus ruang angkasa dalam penerbangan dengan ketinggian 250 km pada 12 April 1961. 

Ketika Bung Karno melakukan kunjungan ke Moskow pada tahun 1964, dia sempat bertemu Yuri Gagarin dan menganugerah Bintang Jasa Mahaputera kepada Yuri Gagarin atas prestasinya tersebut. Jadi tidak salah kalau dikatakan Indonesia ada pahlawan dari Rusia seperti di atas. 

Sebuah buku lama berbahasa Indonesia ejaan lama, dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia yang menulis tentang penerbangan Yuri Gagarin tersebut. Juga beberapa pidato ucapan selamat dari Presiden Soekarno, beberapa menteri dan bahkan ucapan selamat dari DN Aidit, ketua CC PKI saat itu. 

Melalui buku itu,ada fakta, di mana Bung Karno benar-benar memberikan bintang Mahaputera kepada Yuri Gagarin. Tetapi..

“Entah kenapa ketika diperiksa arsip di website setneg.go.id, saya tidak menemukan nama Yuri Gagarin sebagai salah satu penerima bintang jasa tersebut” kata seorang penulis Indonesia.

Ayah Yuri Gagarin adalah seorang tukang kayu dan ibunya adalah seorang petani biasa, tetapi itu tidak menghalanginya untuk menjadi seorang pilot uji pesawat tempur. Melalui persaingan yang ketat dari 3000 kandidat, dia terpilih menjadi salah seorang calon kosmonot dan sejak tahun 1959 mengikuti pelatihan kosmonot di daerah pinggiran kota Moskow.

Siapa menyangka sebenarnya Yuri Gagarin bukanlah satu-satunya pilihan yang berkesempatan dicatat sejarah sebagai kosmonot pertama dunia. Ternyata ada 2 calon kosmonot potensial yang saat itu disiapkan Rusia, iaitu German Titov dan Yuri Gagarin. Nah, ada masalah untuk memilih siapa yang nanti akan menjadi kosmonot pertama itu. 

Titov dikenal sebagai seorang yang brilian dan jenius sementara Gagarin memiliki kepribadian yang simpatik walau mungkin kalah dalam urusan kejeniusan. Gagarin dipandang memiliki karakter yang terbuka dan menyenangkan sementara Titov lebih bergaya sebagai seorang profesor atau guru.

Sebuah proses pengambilan keputusan yang sulit sehingga 4 hari sebelum penerbangan barulah pilihan dijatuhkan iaitu Yuri Gagarin, sementara Tito sebagai cadangan. Dalam sudut pandang pencitraan, pemerintah Rusia atau Soviet Union berpandangan bahawa Yuri Gagarin lebih potensial mewakili rakyat Soviet untuk pergi ke angkasa kerana keperibadiannya yang hangat, sikapnya yang terbuka dan kecerdasannya yang di atas kebanyakan orang. 

Di atas pundaknya, citra Soviet Union dalam perlombaan ke ruang angkasa ini akan dibangun. 12 April 1961 (50 tahun yang lalu). Sejarah mencatat, pagi itu dalam ketegangan dibalik senyumannya yang khas, Yuri Gagarin akhirnya memasuki kapsul Vostok 1 berupa bola aluminium dengan volume sempit seukuran 1.6 m3 di puncak sebuah roket dengan tinggi 30 meter yang beberapa detik kemudian akan terpisah dengan meninggalkan bahagian sepanjang 159 meter saja.

Jam 09.07 roket lepas landasan dari sebuah pangkalan rahsia Tiouratam di Kazakhstan (kelak pangkalan ini dinamakan Baikonor, diambil dari nama sebuah kota kecil berjarak 400 km dari situ). Ruang kendali di darat sesaat diliputi ketegangan dan kecemasan. Ketegangan mencair ketika Yuri Gagarin melalui radio mengkhabarkan,”Saya baik-baik saja.” 

Berikutnya Vostok bergerak dengan kecepatan 28.000 km/h mengelilingi bumi dalam satu revolusi dan kemudian bergerak kembali ke darat. Pada ketinggian 7.000 m Gagarin melepaskan kapsulnya dan parasut pun mengembang untuk mengurangi kecepatan pendaratan kapsul ke tanah ke level yang aman. Episode berikutnya menjadi rahsia sejarah sampai di tahun 1990 terungkap kebenarannya. 

Kalau dulu dalam suasana perang dingin dengan AS, Soviet Union mengumumkan penerbangan bersejarah itu, “sebuah kemenangan tanpa sedikitpun kesalahan” sekarang terungkap bahawa Gagarin telah mendarat melenceng sejauh 300 km dari titik pendaratan yang sudah ditentukan.

Itu pun Yuri Gagarin masih perlu  meloncat (eject) keluar dari kapsul sehingga dalam pendaratan ada 2 parasut yang mengembang, parasut yang satu membawa Yuri Gagarin dan parasut yang lainnya mendaratkan kapsul. Jadi Gagarin perlu menghubungi pangkalan untuk melaporkan titik pendaratannya berikutnya, dijemput oleh helikopter yang sudah disiapkan oleh pangkalannya.

Yuri Gagarin sempat melekat di hati rakyat Indonesia pada zaman Bung Karno berkuasa. Dia sempat berkunjung ke Indonesia dan dialu-alukan bak pahlawan dari negeri sendiri. Harap maklum, penerbangan Gagarin ke ruang angkasa membuat AS kalah, start dari Soviet dalam perlombaaan ruang angkasa mereka. Jadi jangan hairan kalau sejak itu banyak bayi yang dinamai oleh orang tua mereka dengan nama “Yuri” atau “Gagarin”, nama yang sebenarnya cukup asing di telinga kita.

Kejadian bersejarah ini juga menginspirasi Indonesia untuk terlibat dalam pengembangan teknologi roket. Berbanggalah, Indonesia adalah negara Asia-Afrika kedua (setelah Jepun) yang mampu meluncurkan roket ke angkasa. Nama roketnya adalah Kartika-1 dan berhasil diluncurkan pada tanggal 14 Agos 1964, hanya 19 tahun setelah Indonesia merdeka. Kalau kemudian teknologi peroketan kita tersendat di zaman Presiden Soeharto, anda tahulah sendiri mengapa terjadi begitu.

Ada orang Indonesia yang hampir saja mampu mengikuti jejak Yuri Gagarin untuk pergi ke ruang angkasa. Bulan Oktober 1985, Dr. Pratiwi Sudarmono terpilih oleh NASA untuk menjadi salah satu astronotnya, tentu saja dengan proses penyaringan yang sangat berat. Sayang, tidak lama kemudian pesawat ulang-alik Chalenger meledak dalam sebuah kecelakaan sehingga mengubur impian Indonesia untuk boleh mengirimkan Dr. Pratiwi ke ruang angkasa. 

Mungkin Indonesia akan menuju ke situ lagi, kini!!(IH)

Go to Source
Author: Ibnu Hasyim

  • Comments Off

Laman Blog ini:

Perkongsian bahan PENGALAMAN , MOTIVASI DAN CARA HIDUP dari sumber-sumber web lain.

  • zacky: call me [...]
  • Rico: My site is all about budget travel: tips, news and articles. I hope you like it as much as I liked [...]
  • GenjikOndUrO: CeLaka ZeOnis !! Hmm . . X berhati perUt lngsng ! [...]
  • tufail b mohd nasir: Hantaran tok owng negeri sembilan berape ek lau adew kwn2 ley bg thu ktew nk minx tlg nie [...]
  • sumathy: i rasa takut cabut gigi,i have masalah gigi rosak.i rasa macam fobia if nak cabut gigi [...]

Mesti lihat (tekan je gambar) !

.
.
.

.
.


Gambar caicng babi macam muka babi
.

Rumah berbentuk mangkuk tandas
.

Sawah padi sangat unik
.

Kereta dan motorsikal dalam 1
.

Jepun obses seks
.

Lama tapi moden
.

Sebab lelaki berbohong adalah?
.

Pages


.
.
.

like ?



Tekan gambar !

Promosi

.

.

.
.
.
<


..

.

<