Wah! Kanan juga cerita BEST!!!

<

menikahKriteria suami yang shaleh adalah suami yang selalu berusaha melaksanakan seluruh kewajiban secara baik dan bertanggung jawab. Apabila Anda bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban berikut, Insya Allah Anda akan menjadi suami yang shaleh. Adapun kewajiban-kewajiban tersebut adalah :

 

Memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, dan papan sesuai kemampuan

Sebagaimana firman Allah swt :

“Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (isteri) dengan cara yang baik.” (Q.S. Al-Baqarah: 233)

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (Q.S. Ath-Thalaaq 65: 6)

 

 

Memberikan nafkah batin

Salah satu kebutuhan manusia adalah terpenuhinya hasrat biologis. Hubungan biologis akan menjadi perekat pernikahan apabila dilakukan atas dasar saling membutuhkan dan dilakukan dengan cinta. Allah swt. menetapkan bahwa suami berkewajiban memenuhi nafkah batin isteri.

 

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Q.S. Al Baqarah: 223)

Ayat ini sifatnya perumpamaan, Allah swt. mengumpamakan istri bagaikan kebun tempat bercocok tanam sementara suami diumpamakan sebagai orang yang akan menanam benih, maka datangilah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki. Ayat ini menegaskan bahwa dalam melakukan hubungan intim, gaya apapun boleh dilakukan asal keduanya (suami-isteri) merasa nyaman. Yang dilarang hanya satu, yaitu tidak boleh melakukan hubungan intim lewat dubur sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ahmad dan Ash Habus-Sunan dari Abu Hurairah.

“Terlaknatlah laki-laki yang mendatangi perempuan pada duburnya.”

 

Memberi Bimbingan pada Keluarga

Suami mempunyai status sebagai pemimpin dalam keluarga, karenanya ia berkewajiban memberi nafkah lahir, batin, dan memberi bimbingan agama kepada istri dan anaknya.

“Kaum laki-laki (suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) atas sebagian yang lain (istri), dan karena mereka (suami) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Q.S. An-Nisaa 4: 34)

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Q.S.Thaahaa: 132)

 

Memperlakukan istri secara baik dan menjaga perasaannya

Rasulullah saw. menilai bahwa suami yang terbaik baik adalah yang paling baik pada istrinya.

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrimu.” (H.R. Tirmidzi)

“…dan bergaullah dengan mereka secara baik…” (Q.S. An-Nisaa :19)

“Hendaklah kamu (suami) memberi makan istri apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian kepadanya bila engkau berpakaian, dan jangan engkau pukul mukanya, dan jangan engkau jelekkan dia, dan jangan engkau jauhi melainkan di dalam rumah.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, dan yang lainnya)

Apabila empat kewajiban ini Anda kerjakan dengan sebaik-baiknya, insya Allah Anda akan menjadi suami yang ideal bagi istri dan menjadi ayah yang jadi kebanggaan anak-anaknya. Semoga! Wallahu A’lam.

 

 

oleh : Aam Amirudin

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

menikahKriteria suami yang shaleh adalah suami yang selalu berusaha melaksanakan seluruh kewajiban secara baik dan bertanggung jawab. Apabila Anda bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban berikut, Insya Allah Anda akan menjadi suami yang shaleh. Adapun kewajiban-kewajiban tersebut adalah :

 

Memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, dan papan sesuai kemampuan

Sebagaimana firman Allah swt :

“Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (isteri) dengan cara yang baik.” (Q.S. Al-Baqarah: 233)

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (Q.S. Ath-Thalaaq 65: 6)

 

 

Memberikan nafkah batin

Salah satu kebutuhan manusia adalah terpenuhinya hasrat biologis. Hubungan biologis akan menjadi perekat pernikahan apabila dilakukan atas dasar saling membutuhkan dan dilakukan dengan cinta. Allah swt. menetapkan bahwa suami berkewajiban memenuhi nafkah batin isteri.

 

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Q.S. Al Baqarah: 223)

Ayat ini sifatnya perumpamaan, Allah swt. mengumpamakan istri bagaikan kebun tempat bercocok tanam sementara suami diumpamakan sebagai orang yang akan menanam benih, maka datangilah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki. Ayat ini menegaskan bahwa dalam melakukan hubungan intim, gaya apapun boleh dilakukan asal keduanya (suami-isteri) merasa nyaman. Yang dilarang hanya satu, yaitu tidak boleh melakukan hubungan intim lewat dubur sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ahmad dan Ash Habus-Sunan dari Abu Hurairah.

“Terlaknatlah laki-laki yang mendatangi perempuan pada duburnya.”

 

Memberi Bimbingan pada Keluarga

Suami mempunyai status sebagai pemimpin dalam keluarga, karenanya ia berkewajiban memberi nafkah lahir, batin, dan memberi bimbingan agama kepada istri dan anaknya.

“Kaum laki-laki (suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) atas sebagian yang lain (istri), dan karena mereka (suami) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Q.S. An-Nisaa 4: 34)

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Q.S.Thaahaa: 132)

 

Memperlakukan istri secara baik dan menjaga perasaannya

Rasulullah saw. menilai bahwa suami yang terbaik baik adalah yang paling baik pada istrinya.

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrimu.” (H.R. Tirmidzi)

“…dan bergaullah dengan mereka secara baik…” (Q.S. An-Nisaa :19)

“Hendaklah kamu (suami) memberi makan istri apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian kepadanya bila engkau berpakaian, dan jangan engkau pukul mukanya, dan jangan engkau jelekkan dia, dan jangan engkau jauhi melainkan di dalam rumah.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, dan yang lainnya)

Apabila empat kewajiban ini Anda kerjakan dengan sebaik-baiknya, insya Allah Anda akan menjadi suami yang ideal bagi istri dan menjadi ayah yang jadi kebanggaan anak-anaknya. Semoga! Wallahu A’lam.

 

 

oleh : Aam Amirudin

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

menikahKriteria suami yang shaleh adalah suami yang selalu berusaha melaksanakan seluruh kewajiban secara baik dan bertanggung jawab. Apabila Anda bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban berikut, Insya Allah Anda akan menjadi suami yang shaleh. Adapun kewajiban-kewajiban tersebut adalah :

 

Memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, dan papan sesuai kemampuan

Sebagaimana firman Allah swt :

“Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (isteri) dengan cara yang baik.” (Q.S. Al-Baqarah: 233)

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (Q.S. Ath-Thalaaq 65: 6)

 

 

Memberikan nafkah batin

Salah satu kebutuhan manusia adalah terpenuhinya hasrat biologis. Hubungan biologis akan menjadi perekat pernikahan apabila dilakukan atas dasar saling membutuhkan dan dilakukan dengan cinta. Allah swt. menetapkan bahwa suami berkewajiban memenuhi nafkah batin isteri.

 

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Q.S. Al Baqarah: 223)

Ayat ini sifatnya perumpamaan, Allah swt. mengumpamakan istri bagaikan kebun tempat bercocok tanam sementara suami diumpamakan sebagai orang yang akan menanam benih, maka datangilah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki. Ayat ini menegaskan bahwa dalam melakukan hubungan intim, gaya apapun boleh dilakukan asal keduanya (suami-isteri) merasa nyaman. Yang dilarang hanya satu, yaitu tidak boleh melakukan hubungan intim lewat dubur sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ahmad dan Ash Habus-Sunan dari Abu Hurairah.

“Terlaknatlah laki-laki yang mendatangi perempuan pada duburnya.”

 

Memberi Bimbingan pada Keluarga

Suami mempunyai status sebagai pemimpin dalam keluarga, karenanya ia berkewajiban memberi nafkah lahir, batin, dan memberi bimbingan agama kepada istri dan anaknya.

“Kaum laki-laki (suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) atas sebagian yang lain (istri), dan karena mereka (suami) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Q.S. An-Nisaa 4: 34)

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Q.S.Thaahaa: 132)

 

Memperlakukan istri secara baik dan menjaga perasaannya

Rasulullah saw. menilai bahwa suami yang terbaik baik adalah yang paling baik pada istrinya.

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrimu.” (H.R. Tirmidzi)

“…dan bergaullah dengan mereka secara baik…” (Q.S. An-Nisaa :19)

“Hendaklah kamu (suami) memberi makan istri apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian kepadanya bila engkau berpakaian, dan jangan engkau pukul mukanya, dan jangan engkau jelekkan dia, dan jangan engkau jauhi melainkan di dalam rumah.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, dan yang lainnya)

Apabila empat kewajiban ini Anda kerjakan dengan sebaik-baiknya, insya Allah Anda akan menjadi suami yang ideal bagi istri dan menjadi ayah yang jadi kebanggaan anak-anaknya. Semoga! Wallahu A’lam.

 

 

oleh : Aam Amirudin

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

kaligrafi3Syariat Islam telah mengatur hak suami terhadap istri dengan menaatinya. Istri harus menaati suami dalam segala hal yang tidak berbau maksiat, berusaha memenuhi segala kebutuhannya sehingga membuat suami ridha kepadanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits pernah bersabda, “Jika seorang istri melakukan shalat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, memelihara kemaluannya dan menaati suaminya, niscaya dia akan memasuki surga Tuhannya.” (HR. Ahmad).

Bahkan dalam hadits lain disebutkan,“Jika aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, tentu aku akan menyuruh seorang istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Khalik (Sang Pencipta).” (HR. Ahmad).

Oleh karena itu, seorang istri harus menuruti perintah suaminya. Jika suami memanggilnya, maka dia harus menjawab panggilannya. Jika suami melarang sesuatu maka dia harus menjauhinya. Jika suami menasihatinya maka dia harus menerima dengan lapang dada. Jika suami melarang tamu yang datang, baik kerabat dekat maupun jauh, baik dari kalangan mahram ataupun tidak, untuk masuk rumah selama dia bepergian, maka istri wajib mematuhinya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ketahuilah bahwa kalian mempunyai hak atas istri kalian dan istri kalian juga mempunyai hak atas kalian. Adapun hak kalian atas istri kalian adalah tidak mengizinkan orang yang kalian benci untuk memasuki rumah kalian.” (HR. At-Tirmidzi)

Istri Yang Taat

Istri yang taat adalah istri yang mengetahui kewajibannya dalam agama untuk mematuhi suaminya dan menyadari sepenuh hati betapa pentingnya mematuhi suami. Istri harus selalu menaati suaminya pada hal-hal yang berguna dan bermanfaat, hingga menciptakan rasa aman dan kasih sayang dalam keluarga agar perahu kehidupan mereka berlayar dengan baik dan jauh dari ombak yang membuatnya bergocang begitu hebat. Sebaliknya, Islam telah memberikan hak seorang wanita secara penuh atas suaminya, di mana Islam memerintahkannya untuk menghormati istrinya, memenuhi hak-haknya dan menciptakan kehidupan yang layak baginya sehingga istrinya patuh dan cinta kepadanya.

Kewajiban menataati suami yang telah ditetapkan agama Islam kepada istri tidak lain karena tanggung jawab suami yang begitu besar, sebab suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan dia bertanggungjawab atas apa yang menjadi tanggungannya. Di samping itu, karena suami sangat ditekankan untuk mempunyai pandangan yang jauh ke depan dan berwawasan luas, sehingga suami dapat mengetahui hal-hal yang tidak diketahui istri berdasarkan pengalaman dan keahliannya di bidang tertentu.

Istri yang bijaksana adalah istri yang mematuhi suaminya, melaksanakan perintahnya, serta mendengar dan menghormati pendapat dan nasihatnya dengan penuh perhatian. Jika dia melihat bahwa di dalam pendapat suaminya terdapat kesalahan maka dia berusaha untuk membuka dialog dengan suaminya, lalu menyebutkan kesalahannya dengan lembut dan rendah hati. Sikap tenang dan lembut bak sihir yang dapat melunakkan hati seseorang.

Ketaatan kepada suami mungkin memberatkan seorang istri. Seberapa banyak istri mempersiapkan dirinya untuk mematuhi suaminya dan bersikap ikhlas dalam menjalankannya maka sebanyak itulah pahala yang akan didapatkannya, karena seperti yang dikatakan oleh para ulama salaf, “Balasan itu berbanding lurus dengan amal yang dilakukan seseorang.” Tidak diragukan bahwa istri bisa memetik banyak pahala selain taat kepada suami seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya, namun pahala yang didapatkannya tidak sempurna jika tidak mendapatkan pahala dalam menaati suaminya, menyenangkan hatinya dan tidak melakukan sesuatu yang tidak disukainya.

Anda mungkin menemukan benih-benih kesombongan mulai merasuki istri anda, maka ketika itu hendaklah anda berlapang dada kemudian menasihatinya dengan sepenuh hati. Layaknya sebuah perusahaan, pernikahan juga akan mengalami ancaman serius berupa perselisihan dan sengketa antara individu yang ada di dalamnya. Suami adalah pelindung keluarga berdasarkan perintah Allah kepadanya, maka dialah yang bertanggungjawab dalam hal ini. Sebab, keluarga adalah pemerintahan terkecil, dan suamilah rajanya, sehingga dia wajib dipatuhi. Allah Ta’ala telah berfirman, “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.” (QS. An-Nisaa` [4] : 31)

Batas-batas ketaatan
Kewajiban istri untuk menaati suaminya bukan bukan ketaatan tanpa batasan, melainkan ketaatan seorang istri yang shalih untuk suami yang baik dan shalih, suami yang dipercayai kepribadiannya dan keikhlasannya serta diyakini kebaikan dalam tindakannya. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Tidak ada ketaatan dalam hal berbuat maksiat akan tetapi ketaatan adalah pada hal-hal yang baik.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud). Ketaatan istri ini harus dibarengi oleh sikap suami yang suka berkonsultasi dan meminta masukan dari istrinya sehingga memperkuat ikatan batin dalam keluarga. Konsultasi antara suami dan istri pada semua hal yang berhubungan dengan urusan keluarga merupakan sebuah keharusan, bahkan hal-hal yang harus dilakukan suami untuk banyak orang. Tidak ada penasehat yang handal melebihi istri yang tulus dan mempunyai banyak ide cemerlang untuk suaminya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam suka berkonsultasi dengan istri-istrinya dan mengambil pendapat mereka dalam beberapa hal penting.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berskonsultasi kepada istrinya, Ummu Salamah pada kondisi yang sangat penting di kala para shahabat enggan menyembelih unta dan mencukur rambutnya. Ketika itu Ummu Salamah meminta Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk melakukannya terlebih dahulu dan tidak berbicara kepada siapapun. Demi melihat hal itu, para shahabat pun melakukannya. Sungguh pendapat Ummu Salamah sangat brilliant!

Akhirnya, kita dapat memahami bahwa Islam telah mengatur hak-hak suami-istri. Jika masing-masing pasangan melaksanakannnya dengan cara terbaik tentu kehidupan rumah tangga akan bahagia, namun jika hak tersebut disalahgunakan dan tidak dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka hal itu dapat menggagalkan sebuah ikatan perkawinan. Intinya adalah mengikuti Al-Qur`an dan hadits dalam menjalankan bahtera pernikahan sehingga tercipta keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Amiin.

(muslimahzone)

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

Assalamualaikum,

saya ingin bertanya soalan, Adakah isteri saya wajib mentaati saya atau ibunya?

Situasinya bergini:-

Ketika sebelum berkahwin, ibu kepada isteri saya melayan isteri saya sangat menyayat hati, ibunya sering tengking-tengking, maki serta mendoakan keburukan isteri saya sebelum kami berkahwin. Ibunya sering meminta nafkah dari anaknya supaya anaknya menjelaskan nafkah yang ditetapkan sebanyak RM600 – RM1000 sebulan dimana nafkah ini kata ibunya untuk anaknya membayar balik duit selama mana ibunya membesarkan isteri saya. Ibunya pernah berkali-kali menghalau isteri saya selepas kahwin supaya jangan mengganggu dia. Tambahan pula ibunya pernah berkata sekiranya isteri saya mendapat anak, dia tidak mahu menjaganya malah ibunya sering berkata bahawa isteri saya banyak menyusahkan hidup ibunya. Pada hakikatnya isteri saya sebelum berkahwin berbakti pada keluarga dengan membantu melakukan kerja rumah dan meringan beban keluarga. Oleh yang demikian isteri saya takut untuk pulang kerumah dan menelefon kerna sekiranya isteri saya pulang, beliau akan dimarahi dan dimaki oleh ibunya dan sekiranya beliau menelefon ibunya, percakapan ibunya menengking dan mendoakan keburukan anaknya.

Seterusnya isteri saya dan saya merancang untuk berkahwin, dalam proses pengurusan perkahwinan kami, pelbagai ujian yang saya dan isteri saya tempuhi, sehinggakan hantaran yang diberikan terlalu tinggi sampaikan ibunya tidak mengurangkan wang hantaran walaupon sedikit. oleh yang demikian saya cuba sedaya upaya untuk mencari wang hantaran sebanyak mana yang telah ditetapkan. Sepanjang proses pengurusan perkahwinan kami ibu kepada isteri saya tidak membenarkan kami untuk membuat sebarang keputusan berkenaan perkahwinan kami seperti pemilihan baju pengantin dan lain-lain. maksudnya semua perlu menuruti kehendak ibunya sahaja, sekira harganya mahal, mahal lah saya perlu keluarkan duit. untuk kenduri di sebelah rumah pengantin perempuan, boleh dikatakan keseluruhan kenduri tersebut adalah wang dari saya. Niat saya ikhlas.

Sehinggalah pada 29/10/2011 saya diijab kabulkan dengan isteri saya. pada hari kenduri tersebut, ibu isteri saya tidak menegur saya, tidak memperkenalkan saya kepada adik-beradiknya, tapi hanya memperkenalkan anaknya sahaja. sepanjang kenduri dirumah isteri saya, ibu kepada isteri saya tidak melayan keluarga saya dengan baik, malah membuat muka pada keluarga saya. sepanjang saya duduk dirumah mertua saya pada 29/10/2011, saya amat terasa dengan sikap ibu mertua saya yang tidak mengendahkan saya sebagai menantunya. Apa yang dia mintakan adalah wang bulanan sebanyak RM1000 sebulan yang wajib dibayar sebagai bayaran balik selama mana ibu isteri saya menganggung isteri saya sebelum perkahwinan.

kemudian pada 30/10/2011 saya bersama isteri saya pergi honeymoon selama seminggu, sepanjang percutian kami ibu isteri saya sering menganggu saya dan isteri saya dengan kerap menelefon isteri saya sehinggakan masa kami untuk tidur pon ditelefon. sedangkan sebelum perkahwinan tidak pernah menelefon untuk bertanyakan khabar isteri saya. tetapi ibunya tidak pernah bertanyakan khabar saya atau bertanyakan apa-apa sahaja mengenai saya. oleh yang demikian saya berkata pada isteri saya supaya jangan lah menelefon ibunya buat seketika sahaja kerana beri lah ruang kepada kami untuk bersama pada minggu honeymoon. kemudian isteri saya menjelaskan pada ibunya yang berilah ruang kepada kami suami isteri untuk bersama pada minggu honeymooon tu.. selepas itu ibunya terus memaki dan menengking isteri saya berkata “AWAT LAKI HANG YANG LAHIRKAN HANG SAMPAIKAN HANG LUPAKAN AKU???. YANG HANG KENA TAAT PADA SUAMI HANG????? Ibu isteri saya kata “HANG KENA INGAT AKU LAHIRKAN HANG BUKAN LAKI HANG SAMPAI KENA TAAT PADA LAKI HANG, HANG KENA INGAT SYURGA DIBAWAH TAPAK KAKI AKU (IBU)…. BIAQ HANG SUSAH NAK BERANAK TERKANGKANG, BARU HANG TAU, HANG TAK KENANG BUDI, DOK IKUT CAKAP JANTAN….”

Oleh yang demikian saya dan isteri saya terkejut dengan apa yang diperkatakan oleh ibunya pada kami, semenjak dari itu kami sntiasa dimaki, ditengking oleh ibu isteri saya.. kami jadi takut untuk menelefon atau mengangkat telefon apabila ibu kepada isteri saya telefon..kami pergi berbulan madu baru 2 hari, dikatakan kami ni derhaka, lupa ibu bapa.. ibu kepada isteri saya tidak boleh menerima hakikat bahawa isteri saya sudah berkahwin… semenjak dari itu hubungan ibu isteri saya renggang yang teramat dengan kami.. ibunya sering tanya bila nak balik padahal baru ja balik 2 hari yang lalu kerumahnya. kami cakap la nanti la kami pulang memandangkan saya masih belajar, kerja dan peperiksaan telah dekat. tetapi ibunya tidak boleh menerima semua itu..

Kemudiannya pada 7/11/2011 yang lalu adalah hari ke-2 raya haji adalah kenduri sebelah rumah saya iaitu pengantin lelaki, ibu mertua saya datang kekenduri rumah saya dan tidak mengendahkan ibu & bapa saya serta tidak melayan seluruh keluarga saya dengan baik. malah ketika makan beradap ibu kepada isteri saya menengking kami dihadapan orang ramai yang hadir sehinggakan menimbulkan perasaan malu dan marah oleh seluruh keluarga kami… hasil dari perbuatan ibu mertua saya hubungan kekeluargaan rosak.

Ibu mertua saya tidak suka, tidak boleh menerima kenyataan  dan tetap dengan pendirian dia bahawa anak perempuannya wajib mentaati ibunya bukan suaminya. wajib berbincang apa sahaja dengan ibunya tetapi bukan dengan suaminya. sekiranya anak perempuannya melebihkan suaminya, ibunya akan marah, maki, menengking dan mendoakan keburukan kami…

mohon perbincangan yang bernas berdasarkan Al-Quran & sunnah memandangkan saya baru ja mendirikan rumah tangga dan tidak mahu ia roboh.

JAWAPAN boleh dibaca di forum (tekan link ini)

  • Comments Off
  • Pasang niat dan berdoa untuk menjadi suami terbaik. Tanpa berniat dan berdoa anda tidak mungkin jadi suami yang cemerlang. Ramai suami terlupa.
  • Bersyukur kerana mempunyai pasangan hidup. Yakinlah bahawa isteri anda adalah pasangan terbaik yang Tuhan tentukan untuk anda. Ketentuan Tuhan adalah yang terbaik.
  • Suami mithali menjadi kebanggaan isteri. Pastikan anda membentuk sifat positif dan istimewa.
    Cuba tanya diri apakah sifat atau amalan yang boleh dibanggakan oleh isteri anda.
  • Setiap hari pulang dengan senyum dan bersemangat. Apabila suami tersenyum, isteri dan anak-anak akan bahagia dan rahmat Tuhan akan turun. Senyumlah apabila sampai ke rumah.
  • Pastikan anda ada masa untuk berbual dengan isteri setiap hari. Semua isteri bahagia apabila dapat berbual dengan suami. Berapa minit yang anda luangkan untuk berbual dengan isteri setiap hari ?
  • Telefon isteri ataupun hantar SMS sekadar untuk menyatakan yang anda sayang ataupun rindu pada isteri. Isteri anda akan berasa seronok dan bahagia apabila mendapat panggilan ataupun mesej tersebut.
  • Hiburkan hati isteri anda dengan bercerita, buat lawak atau gurauan yang mesra. Setiap gurauan mengubat hati isteri dan mengeratkan hubungan suami isteri.
  • Pastikan anda bergurau senda dengan isteri di dalam kenderaan semasa dalam perjalanan ke tempat kerja ataupun ke mana sahaja. Ramai suami membazir masa dengan membisu semasa di dalam kenderaan.
  • Amalkan makan bersama setiap hari. Berbual mesra dan nasihat menasihati semasa makan. Amalan ini akan menarik hidayat Tuhan dan mengeratkan hubungan. Elakkan berbual perkara yang melalaikan semasa makan.
  • Ajak isteri mandi bersama sekali sekala. Bergurau senda semasa mandi bersama adalah sunah yang dapat mengeratkan hubungan suami isteri.
  • Bantu isteri melakukan kerja rumah. Ini adalah sunah yang dapat meringankan beban isteri, mengeratkan kasih sayang dan menbahagiakan pasangan anda.
  • Amalkan mesyuarat keluarga sekerap yang mungkin. Amalan bermesyuaratmenarik hidayat Tuhan,mengeratkan hubungan dan menyelesaikan banyak masalah.
  • Pastikan penampilan anda anggun, kemas, bersih, wangi, sihat dan ceria. Ramai suami inginkan isteri yang mengancam, tetapi mengabaikan penampilan diri sendiri. Mana adil ?
  • Didik isteri dengan memberi nasihat dan perigatan secara hikmah. Jadikan tindakan dan amalan anda sebagai contoh teladan yang cemerlang. Elakkan cakap tak serupa bikin.
  • Berikan nafkah kepada isteri mengikut keperluan keluarga dan kemampuan suami. Ramai suami mengabaikan nafkah kerana isteri bekerja. Ramai suami yang kedekut dan berkira. Ini menyebabkan isteri derita dan rumahtangga terancam.
  • Jadikan penawar hati kepada isteri. Ambil berat keperluan dan kemahuan dan peka kepada emosi dan situasi isteri. Isteri yang bahagia membentuk keluarga sejahtera
  • Sentiasa taat kepada semua perintah Tuhan dan memastikan keluarga juga patuh kepada Tuhan.
  • Suami mithali sentiasa menyimpan rahsia isteri. Ramai suami secara sengaja ataupun tidak sengaja menceritakan keburukan isteri kepada orang lain. Ini wajib dihentikan.
  • Muliakan keluarga isteri seperti keluarga sendiri.
    Ada suami yang membeza-bezakan antara keluarganya dan keluarga isteri.
    Ada suami yang memusuhi keluarga isteri. Anda bagaimana ?
  • Bentuk sifat cemburu yang positif. Cemburu tanda beriman, sayang dan endah. Suami yang tidak cemburu adalah dayus. Isteri amat suka apabila suaminya ada sifat cemburu. Dia rasa dihargai.
  • Jadilah suami yang pemaaf. Syurga isteri di bawah tapak kaki suami.Maafkanlah isteri setiap malam sebelum tidur supaya rumah tangga bahagia dan isteri mudah masuk syurga.
  • Tegur kesilapan isteri dengan hikmah dan kasih sayang. Isteri merajuk bukan sebab ditegur, tetapi cara ditegur yang kasar. Apabila suami kasar, isteri jadi takut, bingung, hiba dan memberontak.
  • Gunakan Nabi Muhammad sebagai model. Hidupkan amalan sunah dalam rumahtangga. Sebut nama rasul apabila mendidik dan menasihati keluarga bagi mendapat hikmah.
  • Mendahulukan keperluan isteri daripada orang lain. Ini adalah tertib memberi khidmat. Ramai suami yang melebihkan orang lain daripada isterinya. Elakan kesilapan ini.
  • Suruh isteri dirikan sembahyang dan ibadah lain. Apabila berjauhan, telefon ataupun SMS bagi mengingatkan sembahyang. Wasiatkan isteri untuk sembahyang fardu dan sunat. Buat pesanan ini sehingga suami meninggal dunia.
  • Cintai isteri sepenuh hati. Cintai tanpa syarat, bertambah mengikut usia, penuh kemaafan, memberi tenaga,tidak pernah sensara serta berteraskan iman dan takwa.
  • Sentiasa berubah secara positif. Sebelum
    cuba ubah isteri dan keluarga, ubah diri dulu. Apabila suami berubah, keluarga akan turut berubah. Apabila suami cemerlang, isteri akan gemilang.
  • Pamer keprihatian yang tinggi terhadap keluarga. Ramai suami tidak ambil kisah dengan keluarga mereka.Cuba tanya apa lagi khidmat tambahan yang patut berikan kepada keluarga.
  • Pamer kematangan yang tinggi. Orang yang matang tenang, sabar, waras, bijaksana, dapat membuat keputusan dan cekap menyelesaikan masalah.
  • Memuliakan semua perempuan bukan sekadar isterinya. Ramai lelaki
    cuba hormat wanita tertentu sahaja. Ramai isteri yang kecewa terhadap suami yang menghina atau tidak hormat sebarang wanita termasuk pembantu rumah.
  • Bentuk beberapa sifat wanita yang terpilih dalam diri suami. Nabi Muhammad amat pemalu, pemaaf, peka, endah dan mudah menangis. Sifat wanita yang ada pada lelaki menaikkan martabat lelaki dan lebih disayangi wanita.
  • Mahir dalam menguruskan keluarga. Peka dengan masalah dan karenah ahli keluarga, cekap mencari punca masalah, mencari alternatif penyelesaian dan memilih penyelesaian yang optimum.
  • Membaiki diri secara berterusan. Tingkatkan iman dan takwa, cuci hati dengan sembahyang taubat, istighfar,memaafkan dan minta maaf, berkawan dengan orang yang baik, pendapatan yang berkat dan baiki amalan dan tindakan.
  • Jadi contoh atau model terbaik untuk keluarga. Doa dan usaha supaya setiapperbuatan anda dapat dicontohi dan dibanggakan ahli keluarga. Apakah sifat dan amal anda yang dapat dicontohi oleh ahli keluarga ?
  • Jadikan diri anda pendorong dan motivator berkesan unutk keluarga. Sentiasa beri galakan dan belaian. Elak marah, kritik ataupun hina keluarga. Fikir positif dan bersangka baik terhadap keluarga.
  • Tingkatkan ilmu berkenaan agama. Lazimnya, suami yang mendidik keluarga berkenaan agama. Belajarlahilmu agama dengan niat mendidik diri dan keluarga.
  • Sentiasa menegakkan kebenaran. Tegas menyatakan apa yang buruk dan apa yang baik. Elak mengenepikan kebenaran semata-mata bagi menjaga hati ahli keluarga. Tegakkan kebenaran dengan hikmah.
  • Bertindak tegas dan lemah lembut mengikut situasi. Tegas dalam menyeru ke arah kebaikan. Lemah lembut dalam menegur dan memberi nasihat. Tegas sangat orang memberontak, lembut sangat orang pijak.
  • Latih diri memuji dan menghargai isteri. Ramai suami yang pandai kritik tetapi tidak tahu memuji. Belaian merawat emosi dan fizikal isteri dan membuat dia terasa disayangi. Cari peluang untuk sentiasa memuji.
  • Cari peluang untuk bertindak romantis terhadap isteri. Ini termasuk senyum, lemah lembut, sebut sayang tiga kali sehari, buat sebelum disuruh, sentuhan sayang, pujian dan memberi hadiah.
  • Fahami yang isteri ingin selalu di sisi suami. Suami pula berjauhan dengan isteri sekali sekala. Apabila berjauhan, telefon, SMS ataupun e-mel untuk bertanya khabar, berikan maklumat dan mengubat rindu.
  • Bentuk kerjasama yang mantap dengan isteri. Pamer kesatuan hati dan pendapat kepada anak-anak dan orang lain. Wujudkan kerjasama melaui mesyuarat, berbual, tolak ansur, bermaaf-maafan dan banyak berdoa.
  • Nilai diri daripada kaca mata isteri. Buang sifat dan  amalan yang isteri benci. Berusaha keras melakukan perkara yang isteri suka. Apabila  isteri bahagia, suami akan bertambah bahagia.
  • Apabila suami melayan isteri seperti mana dia melayan kawan, pasti isteri bahagia. Bayangkan cara anda melayan isteri sebelum kahwin. Ulangi  layanan itu sekarang. Pasti hebat kesannya.
  • Suami wajar belajar jadi mengikut setia. Patuhi cadangan, pandangan dan pandapat isteri yang betul. Jangan bangkang perkara yang baik. Kawal macho dengan saksama.
  • Buat undang-undang dalam rumah tangga. Apabila suami marah, isteri mesti senyap. Apabila isteri marah,suami mesti senyap. Ini mengelakkan daripada bergaduh. Orang tidak boleh bergaduh sendirian.
  • Latih gerak batin anda supaya serasi dengan gerak batin  isteri. Serasikan gerak batin dengan berdoa, patuh perintah Tuhan, maafkan isteri, bersangka baik dan lakukan perkara baik untuk isteri mengikut sebarang lintasan dalam hati.
  • Pimpin isteri dengan nasihat dan kasih sayang. Pesan selalu dan nasihat sekali-sekala. Waktu terbaik nasihat adalah semasa rehat, minum petang, waktu bersiar-siar dan semasa hendak tidur.
  • Seimbangkan hidup dengan sempurna. Rajin di tempat kerja,  rajin juga di rumah. Peramah dengan kawan, peramah juga dengan isteri. Disiplin di pejabat, disiplin juga di rumah. Sabar dengan orang, sabar juga dengan isteri. Di luar dan di dalam rumah serupa.
  • Urus stres dengan sempurna supaya keluarga tidak terjejas. lakukan riadah, berdiet, hentikan merokok,bercampur dengan orang positif, bermain dengan bayi, tengok ikan di akuarium, menyanyi, sembahyang taubat dan maafkan semua orang.

kredit

  • Comments Off

Laman Blog ini:

Perkongsian bahan PENGALAMAN , MOTIVASI DAN CARA HIDUP dari sumber-sumber web lain.

  • zacky: call me [...]
  • Rico: My site is all about budget travel: tips, news and articles. I hope you like it as much as I liked [...]
  • GenjikOndUrO: CeLaka ZeOnis !! Hmm . . X berhati perUt lngsng ! [...]
  • tufail b mohd nasir: Hantaran tok owng negeri sembilan berape ek lau adew kwn2 ley bg thu ktew nk minx tlg nie [...]
  • sumathy: i rasa takut cabut gigi,i have masalah gigi rosak.i rasa macam fobia if nak cabut gigi [...]

Mesti lihat (tekan je gambar) !

.
.
.

.
.


Gambar caicng babi macam muka babi
.

Rumah berbentuk mangkuk tandas
.

Sawah padi sangat unik
.

Kereta dan motorsikal dalam 1
.

Jepun obses seks
.

Lama tapi moden
.

Sebab lelaki berbohong adalah?
.

Pages


.
.
.

like ?



Tekan gambar !


..

.

<