Wah! Kanan juga cerita BEST!!!

<

Hajar Aswad Dicuri

hajar aswad Sejarah Hajar Aswad Dicuri

Kota Mekah, dengan kemuliaan yang disandangnya, ia memiliki hukum-hukum yang telah ditetapkan syariat, sebagai bukti yang menunjukkan kemuliaannya. Siapapun dilarang melakukan perbuatan maksiat. Meski larangan ini telah jelas, ternyata dalam perjalanan sejarah kaum Muslimin, khususnya kota Mekah dan Ka’bah, pernah terjadi pelanggaran yang sangat memilukan dan menodai Ka’bah secara khusus, yaitu terjadinya penjarahan Hajar Aswad.

Hajar Aswad merupakan batu termulia. Dia berasal dari Jannah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

نَزَلَ الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنْ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنْ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ

Hajar Aswad turun dari surga, dalam kondisi berwarna lebih putih dari air susu. Kemudian, dosa-dosa anak Adam-lah yang membuatnya sampai berwarna hitam.” [Hadits shahih riwayat at Tirmidzi. Dishahihkan oleh al Albani. Lihat Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 877].

Tentang keutamaannya yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ِإنَّ لِهَذَا الْحَجَرِ لِساَناً وَ شَفَتَيْنِ يَشْهَدُ لِمَنْ اسْتَلَمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَقٍّ

Sesungguhnya batu ini akan punya lisan dan dua bibir akan bersaksi bagi orang yang menyentuhnya di hari Kiamat dengan cara yang benar.” [HR al Hakim dan Ibnu Hibban, dan dishahihkan al Albani. Lihat Shahihul-Jami', no. 2184.].

Dari Ibnu ‘Umar, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مَسْحَهُمَا يَحُطَّانِ الْخَطِيئَةَ

Sesungguhnya mengusap keduanya (Hajar Aswad dan Rukun Yamani) akan menghapus dosa.”[ Hadits shahih riwayat an Nasaa-i. Dishahihkan oleh al Albani. Lihat Shahih Sunan an Nasaa-i, no. 2919].

Hajar Aswad, dahulu berbentuk satu bongkahan. Namun setelah terjadinya penjarahan yang terjadi pada tahun 317H, pada masa pemerintahan al Qahir Billah Muhammad bin al Mu’tadhid dengan cara mencongkel dari tempatnya, Hajar Aswad kini menjadi delapan bongkahan kecil. Batu yang berwarna hitam ini berada di sisi selatan Ka’bah.

Adalah Abu Thahir, Sulaiman bin Abu Said al Husain al Janabi, tokoh golongan Qaramithah pada masanya, telah menggegerkan dunia Islam dengan melakukan kerusakan dan peperangan terhadap kaum Muslimin. Kota yang suci, Mekah dan Masjidil Haram tidak luput dari kejahatannya. Dia dan pengikutnya melakukan pembunuhan, perampokan dan merusak rumah-rumah. Bila terdengar namanya, orang-orang akan berusaha lari untuk menyelamatkan diri [Al Bidayah wan Nihayah, 11/187].

Kisahnya, pada musim haji tahun 317H tersebut, rombongan haji dari Irak pimpinan Manshur ad Dailami bertolak menuju Mekah dan sampai dalam keadaan selamat. Namun, tiba-tiba pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah), orang-orang Qaramithah (salah satu sekte Syiah Isma’iliyah) melakukan huru-hara di tanah Haram. Mereka merampok harta-harta jamaah haji dan menghalalkan untuk memeranginya. Banyak jamaah haji yang menjadi korban, bahkan, meskipun berada di dekat Ka’bah.

Sementara itu, pimpinan orang-orang Qaramithah ini, yaitu Abu Thahir –semoga mendapatkan balasan yang sepadan dari Allah– berdiri di pintu Ka’bah dengan pengawalan, menyaksikan pedang-pedang pengikutnya merajalela, menyudahi nyawa-nyawa manusia. Dengan congkaknya ia berkata : “Saya adalah Allah. Saya bersama Allah. Sayalah yang menciptakan makhluk-makhluk. Dan sayalah yang akan membinasakan mereka”.

Massa berlarian menyelamatkan diri. Sebagian berpegangan dengan kelambu Ka’bah. Namun, mereka tetap menjadi korban, pedang-pedang kaum Syi’ah Qaramithah ini menebasnya. Begitu juga, orang-orang yang sedang thawaf, tidak luput dari pedang-pedang mereka, termasuk di dalamnya sebagian ahli hadits.

Usai menuntaskan kejahatannya yang tidak terkira terhadap para jamaah haji, Abu Thahir memerintahkan pasukan untuk mengubur jasad-jasad korban keganasannya tersebut ke dalam sumur Zam Zam. Sebagian lainnya, di kubur di tanah Haram dan di lokasi Masjidil Haram.

Kubah sumur Zam Zam ia hancurkan. Dia juga memerintahkan agar pintu Ka’bah dicopot dan melepas kiswahnya. Selanjutnya, ia merobek-robeknya di hadapan para pengikutnya. Dia meminta kepada salah seorang pengikutnya untuk naik ke atas Ka’bah dan mencabut talang Ka’bah. Namun tiba-tiba, orang tersebut terjatuh dan mati seketika. Abu Thahir pun mengurungkan niatnya untuk mengambil talang Ka’bah. Kemudian, ia memerintahkan untuk mencongkel Hajar Aswad dari tempatnya. Seorang lelaki memukul dan mencongkelnya.

Dengan nada menantang, Abu Thahir sesumbar : “Mana burung-burung Ababil? Mana bebatuan dari Neraka Sijjil?”

Peristiwa penjarahan Hajar Aswad ini, membuat Amir Mekah dan keluarganya dengan didukung sejumlah pasukan mengejar mereka. Amir Mekah berusaha membujuk Abu Thahir agar mau mengembalikan Hajar aswad ke tempat semula. Seluruh harta yang dimiliki Sang Amir telah ia tawarkan untuk menebus Hajar Aswad itu. Namun Abu Thahir tidak bergeming. Bahkan Sang Amir, anggota keluarga dan pasukannya menjadi korban berikutnya. Abu Thahir pun melenggang menuju daerahnya dengan membawa Hajar Aswad dan harta-harta rampasan dari jamaah haji. Batu dari Jannah ini, ia bawa pulang ke daerahnya, yaitu Hajr (Ahsa), dan berada di sana selama 22 tahun.

Menurut Ibnu Katsir, golongan Qaramithah membabi buta semacam itu, karena mereka sebenarnya kuffar zanadiqah. Mereka berafiliasi kepada regim Fathimiyyun yang telah menancapkan hegemoninya pada tahun-tahun itu di wilayah Afrika. Pemimpin mereka bergelar al Mahdi, yaitu Abu Muhammad ‘Ubaidillah bin Maimun al Qadah. Sebelumnya ia seorang Yahudi, yang berprofesi sebagai tukang emas. Lantas, mengaku telah masuk Islam, dan mengklaim berasal dari kalangan syarif (keturunan Nabi Muhammad). Banyak orang dari suku Barbar yang mempercayainya. Hingga pada akhirnya, ia dapat memegang kekuasan sebagai kepala negara di wilayah tersebut. Orang-orang Qaramtihah menjalin hubungan baik dengannya. Mereka (Qaramithah) akhirnya menjadi semakin kuat dan terkenal.

Perbuatan Abu Thahir al Qurmuthi, orang yang memerintahkan penjarahan Hajar Aswad ini, oleh Ibnu Katsir dikatakan : “Dia telah melakukan ilhad (kekufuran) di Masjidil Haram, yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumnya dan orang sesudahnya”. [Al Bidayah wan Nihayah, 11/191. Ibnu Katsir mengisahkan peristiwa ini di halaman 190-192].

Setelah masa 22 tahun Hajar Aswad dalam penguasaan Abu Thahir, ia kemudian dikembalikan. Tetapnya pada tahun 339H.

Pada saat mengungkapkan kejadian tahun 339 H, Ibnu Katsir menyebutnya sebagai tahun berkah, lantaran pada bulan Dzul Hijjah tahun tersebut, Hajar Aswad dikembalikan ke tempat semula. Peristiwa kembalinya Hajar Aswad sangat menggembirakan segenap kaum Muslimin.

Pasalnya, berbagai usaha dan upaya untuk mengembalikannya sudah dilakukan. Amir Bajkam at Turki pernah menawarkan 50 ribu Dinar sebagai tebusan Hajar Aswad. Tetapi, tawaran ini tidak meluluhkan hati Abu Thahir, pimpinan Qaramithah saat itu.

Kaum Qaramithah ini berkilah: “Kami mengambil batu ini berdasarkan perintah, dan akan mengembalikannya berdasarkan perintah orang yang bersangkutan”.

Pada tahun 339 H, sebelum mengembalikan ke Mekah, orang-orang Qaramithah mengusung Hajar Aswad ke Kufah, dan menggantungkannya pada tujuh tiang Masjid Kufah. Agar, orang-orang dapat menyaksikannya. Lalu, saudara Abu Thahir menulis ketetapan : “Kami dahulu mengambilnya dengan sebuah perintah. Dan sekarang kami mengembalikannya dengan perintah juga, agar pelaksanaan manasik haji umat menjadi lancar”.

Akhirnya, Hajar Aswad dikirim ke Mekah di atas satu tunggangan tanpa ada halangan. Dan sampai di Mekah pada bulan Dzul Qa’dah tahun 339H [Al Bidayah wan Nihayah, 11/265].

Dikisahkan oleh sebagian orang, bahwa pada saat penjarahan Hajar Aswad, orang-orang Qaramithah terpaksa mengangkut Hajar Aswad di atas beberapa onta. Punuk-punuk onta sampai terluka dan mengeluarkan nanah. Tetapi, saat dikembalikan hanya membutuhkan satu tunggangan saja, tanpa terjadi hal-hal aneh dalam perjalanan. (Mas)

Sumber :

- Shahih Bukhari, al Imam al Bukhari, Darul Arqam, Beirut, tanpa tahun.

- Shahih Muslim, Syarhun-Nawawi, Darul Ma’rifah, Beirut, Cet. VI, Th. 1420 H.

- Ihkamil-Ahkam Syarhu ‘Umdatil-Ahkam, Ibnu Daqiqil ‘Id, tahqiq Hasan Ahmad Dar Ibni Hazm Cet. I, Th. 1423 H.

- Al Bidayah wan-Nihayah, al Imam Imaduddin Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir, Darul Ma’rifah, Cet. VI, Th. 1422 H.

- Wamdhul-‘Aqiq min Makkata wal-Baitil ‘Aqiq, Muhammad ‘Ali Barnawi, Mekah Mukaramah, Cet. I. Th. 1425 H.

- Shahih Sunan at-Tirmidzi, Muhammad Nashiruddin al Albani, Maktabah al Ma’arif.

- Shahih Sunan an-Nasai, Muhammad Nashiruddin al Albani Maktabah al Ma’arif.

- Shahihul-Jami’ wa Ziyadatuhu, Muhammad Nashiruddin al Albani, Maktab Islami, Cet. III, Th. 1408.

- Taisiril Karimir-Rahman, Abdur Rahman as Sa’di, Muassasah Risalah, Cet. I, Th. 1423H.

- Al Jami’ li Ahkamil-Qur`an, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al Qurthubi, tahqiq Abdur Razaq al Mahdi, Darul Kitabil-‘Arabi, Cet. II, Th. 1420 H.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun X/1427H/2006. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Artikel www.KisahMuslim.com

Kata Kunci Terkait: sejarah hajar aswad

Go to Source
Author: Admin

  • Comments Off

Sejarah Masjid Nabawi

In: Sejarah

31 Oct 2013

Pembangunan Masjid

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun Masjid Nabawi pada bulan Raibul Awal di awal-awal hijarahnya ke Madinah. Pada saat itu panjang masjid adalah 70 hasta dan lebarnya 60 hasta atau panjangnya 35 m dan lebar 30 m. Kala itu Masjid Nabawi sangat sederhana, kita akan sulit membayangkan keadaannya apabila melihat bangunannya yang megah saat ini. Lantai masjid adalah tanah yang berbatu, atapnya pelepah kurma, dan terdapat tiga pintu, sementara sekarang sangat besar dan megah.

Masjid Nabawi Kiblat Baitul Maqdis Sejarah Masjid Nabawi

Masjid Nabawi di awal pembangunan, Kiblat menghadap Masjid al-Aqsha. Sebelah Utara masjid adalah kamar Aisyah

Area yang hendak dibangun Masjid Nabawi saat itu terdapat bangunan yang dimiliki oleh Bani Najjar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bani Najjar, “Wahai Bani Najjar, berilah harga bangunan kalian ini?” Orang-orang Bani Najjar menjawab, “Tidak, demi Allah. Kami tidak akan meminta harga untuk bangunan ini kecuali hanya kepada Allah.” Bani Najjar dengan suka rela mewakafkan bangunan dan tanah mereka untuk pembangunan Masjid Nabawi dan mereka berharap pahala dari sisi Allah atas amalan mereka tersebut.

Anas bin Malik yang meriwayatkan hadis ini menuturkan, “Saat itu di area pembangunan terdapat kuburan orang-orang musyrik, puing-puing bangunan, dan pohon kurma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memindahkan mayat di makam tersebut, meratakan puing-puing, dan menebang pohon kurma.”

Pada tahun 7 H, jumlah umat Islam semakin banyak, dan masjid menjadi penuh, Nabi pun mengambil kebijakan memperluas Masjid Nabawi. Beliau tambahkan masing-masing 20 hasta untuk panjang dan lebar masjid. Utsman bin Affan adalah orang yang menanggung biaya pembebasan tanah untuk perluasan masjid saat itu. Peristiwa ini terjadi sepulangnya beliau dari Perang Khaibar.

Masjid Nabawi adalah masjid yang dibangun dengan landasan ketakwaan. Di antara keutamaan masjid ini adalah dilipatgandakannya pahala shalat di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku ini lebih utama dari 1000 kali shalat di masjid selainnya, kecuali Masjid al-Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mimbar Nabi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي

“Antara rumahku dan mimbarku ada taman dari taman-taman surga, dan mimbarku di atas telagaku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Awalnya Nabi berkhutbah di atas potongan pohon kurma kemudian para sahabat membuatkan beliau mimbar, sejak saat itu beliau selalu berkhutbah di atas mimbar. Dari Jabir radhiallahu ‘anhu bahwa dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat khutbah Jumat berdiri di atas potongan pohon kurma, lalu ada seorang perempuan atau laki-laki Anshar mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kami membuatkanmu mimbar?’  Nabi menjawab, ‘Jika kalian mau (silahkan)’. Maka para sahabat membuatkan beliau mimbar. Pada Jumat berikutnya, beliau pun naik ke atas mimbarnya, terdengarlah suara tangisan (merengek) pohon kurma seperti tangisan anak kecil, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekapnya. Pohon it uterus ‘merengek’ layaknya anak kecil. Rasulullah mengatakan, ‘Ia menagis karena kehilangan dzikir-dzikir yang dulunya disebut di atasnya’.” (HR. Bukhari)

Di antara keagungan dan keutamaan mimbar ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang bersumpah di dekatnya, barangsiapa bersumpah di dekat mimbar tersebut dia telah berdusta dan berdosa.

لَا يَحْلِفُ عِنْدَ هَذَا الْمِنْبَرِ عَبْدٌ وَلَا أَمَةٌ، عَلَى يَمِينٍ آثِمَةٍ، وَلَوْ عَلَى سِوَاكٍ رَطْبٍ، إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ

“Janganlah seorang budak laki-laki atau perempuan bersumpah di dekat mimbar tersebut. Bagi orang yang bersumpah, maka dia berdosa…” (HR. Ibnu Majah, Ahmad, dan Hakim)

Raudhah

Raudhah adalah suatu tempat di Masjid Nabawi yang terletak antara mimbar beliau dengan kamar (rumah) beliau. Rasulullah menerangkan tentang keutamaan raudhah,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي قال: “مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ، وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman-taman surga. Dan mimbarku di atas telagaku.” (HR. Bukhari).

Jarak antara mimbar dan rumah Nabi adalah 53 hasta atau sekitar 26,5 m.

Shufah Masjid Nabawi

Setelah kiblat berpindah (dari Masjid al-Aqsha mengarah ke Ka’baj di Masjid al-Haram). Rasulullah mengajak para

Masjid Nabawi Kiblat Mekah Sejarah Masjid Nabawi

Masjid Nabawi, Kiblat Mekah

sahabatnya membangun atap masjid sebagai pelindung bagi para sahabat yang tinggal di Masjid Nabawi. Mereka adalah orang-orang yang hijrah dari berbagai penjuru negeri menuju Madinah untuk memeluk Islam akan tetapi mereka tidak memiliki kerabat di Madinah untuk tinggal disana dan belum memiliki kemampuan finasial untuk membangun rumah sendiri. Mereka ini dikenal dengan ash-habu shufah.

Rumah Nabi

Mungkin kata rumah terlalu berlebihan untuk menggambarkan kediaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karenanya lebih tepat kalau kita sebut dengan istilah kamar. Kamar Nabi yang berdekatan dengan Masjid Nabawi adalah kamar beliau bersama ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha. Nabi Muhammad dimakamkan di sini, karena beliau wafat di kamar Aisyah, kemudian Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dimakamkan pula di tempat yang sama pada tahun 13 H, lalu Umar bin Khattab pada tahun 24 H.

Keadaan Makam Nabi

Makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kiblat kemudian di belakang beliau (dikatakan di belakang karena menghadap kiblat) terdapat makam Abu Bakar ash-Shiddiq dan posisi kepala Abu Bakar sejajar dengan bahu Nabi. Di belakang makam Abu Bakar terdapat makam Umar bin Khattab dan posisi kepala Umar sejajar dengan bahu Abu Bakar. Di zaman Nabi kamar beliau berdindingkan pelepah kurma yang dilapisi dengan bulu. Kemudian di zaman pemerintahan Umar bin Khattab dinding kamar ini diperbaiki dengan bangunan permanen.

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur Madinah ia kembali merenovasi kamar tersebut, lebih baik dari sebelumnya. Setelah dinding tersebut roboh dan menyebabkan kaki Umar bin Khattab terlihat (kemungkinan roboh karena faktor alam sehingga tanah makam tergerus dan kaki Umar menjadi terlihat), Umar bin Abdul Aziz kembali membenahinya dengan bangunan batu hitam. Setelah itu diperbaiki lagi pada tahun 881 H.

Subhanallahu, kejadian ini menunjukkan kebenaran sabda Nabi bahwa jasad seorang yang mati syahid itu tidak hancur. Umar bin Khattab syahid terbunuh ketika menunaikan shalat subuh.

Usaha Pencurian Jasad Nabi

Pertama, pencurian jasad Nabi di makamnya pertama kali dilakukan oleh seorang pimpinan Dinasti Ubaidiyah, al-hakim bi Amrillah (wafat 411 H). Ia memerintahkan seorang yang bernama Abu al-Futuh Hasan bin Ja’far. Al-Hakim memerintahkan Hasan bin Ja’far agar memindahkan jasad Nabi ke Mesir. Namun dalam perjalanan menuju Madinah angin yang kencang membinasakan kelompok Abu al-Futuh Hasan bin Ja’far.

Kedua, gagal pada upaya pertamanya, al-Hakim bi Amrillah belum bertaubat dari makar yang ia lakukan. Ia memerintahkan sejumlah orang untuk melakukan percobaan kedua. Al-Hakim bi Amrillah mengirim sekelompok orang penggali kubur menuju Madinah. Orang-orang ini diperintahkan untuk menetap beberapa saat di daerah dekat Masjid Nabawi. Beberapa saat mengamati keadaan, mereka mulai melaksanakan aksinya dengan cara membuat terowongan bawah tanah. Setelah dekat dengan makam, orang-orang menyadari adanya cahaya dari bawah tanah, mereka pun berteriak “Ada yang menggali makam Nabi kita!!” Lalu orang-orang memerangi sekelompok penggali kubur ini dan gagallah upaya kedua dari al-Hakim bi Amrillah. Kedua kisah ini selengkapnya bisa dirujuk ke buku Wafa al-Wafa, 2: 653 oleh as-Samhudi.

Ketiga, upaya pencurian jasad Nabi kali ini dilakukan atas perintah raja-raja Nasrani Maroko pada tahun 557 H. saat itu Nuruddin az-Zanki adalah penguasa kaum muslimin di bawah Khalifah Abbasiyah. Dalam mimpinya Nuruddin az-Zanki bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mengatakan “Selamatkan aku dari dua orang ini -Nabi menunjuk dua orang yang terlihat jelas wajah keduanya dalam mimpi tersebut-.” Nuruddin az-Zanki langsung berangkat menuju Madinah bersama dua puluh orang rombongannya dan membawa harta yang banyak. Setibanya di Madinah, orang-orang pun mendatanginya, setiap orang yang meminta kepadanya pasti akan dipenuhi kebuthannya.

Setelah 16 hari, hampir-hampir seluruh penduduk Madinah datang menemuinya, namun ia belum juga melihat dua orang yang ditunjuk oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpinya. Ia pun bertanya, “Adakah yang tersisa dari penduduk Madinah?” Masyarakat menjawab, “Ada, dua orang kaya yang sering berderma, mereka berasal dari Maroko.” Masyarakat menyebutkan tentang keshalehan keduanya, tentang shalatnya, dan apabila keduanya dipinta pasti memberi. Ternyata dua orang inilah yang dilihat az-Zanki dalam mimpinya dan keduanya sengaja tinggal sangat dekat dengan kamar Nabi. Az-Zanki menanyakan perihal kedatangan mereka ke Madinah. Keduanya menjawab mereka hendak menunaikan haji.

Az-Zanki menyelidiki dan mendatangi tempat tinggal mereka, ternyata rumah tersebut kosong. Saat ia mengelilingi tempat tinggal dua orang Maroko ini, ternyata ada sebuah tempat –semisal ruangan kecil- yang ada lubangnya dan berujung di kamar Nabi. Keduanya tertangkap ‘basah’ hendak mencuri jasad Nabi, keduanya pun dibunuh di ruang bawah kamar Nabi tersebut. Selengkapnya lihat Wafa al-Wafa 2: 648.

Keempat, upaya pencurian jasad Nabi oleh orang-orang Nasrani Syam. Orang-orang ini masuk ke wilayah Hijaz, lalu membunuh para peziarah kemudian membakar tempat-tempat ziarah. Setelah itu mereka mengatakan bahwa mereka ingin mengambil jasad Nabi di makamnya. Ketika jarak mereka denga kota Madinah tinggal menyisakan perjalanan satu hari, mereka bertemu dengan kaum muslimin yang mengejar mereka. Mereka pun dibunuh dan sebagiannya ditangkap oleh kaum muslimin (Rihlatu Ibnu Zubair, Hal: 31-32)

Amalan Bid’ah Terkait dengan Ziarah ke Masjid Nabawi

Sering dijumpai peziarah Masjid Nabawi mengusap-usap kamar Nabi ini, bahkan ada yang menciuminya dalam rangka mengharap berkah. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ulama telah sepakat, barangsiapa yang berziarah ke makam Nabi Muhammad atau ke makam nabi selain beliau atau makam orang-orang shaleh, makam sahabat, makam ahlul bait, atau selain mereka, tidak boleh mengusap-usap atau menciumnya, bahkan tidak ada satu pun benda mati di dunia ini yang disyariatkan makam nabi muhammad Sejarah Masjid Nabawiuntuk dicium kecuali hajar aswad.” (Majmu’ Fatawa, 27:29)

Tidak boleh juga untuk thawaf mengelilingi kamar Nabi, thawaf adalah salah satu bentuk ibadah, dan tidak diperkenankan beribadah kecuali hanya kepada Allah. Ada juga dijumpai sebagian peziarah Masjid Nabawi yang bersujud mengarah ke makam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini semua adalah ritual-ritual yang haram dilakukan ketika berziarah ke Masjid Nabawi.

Perluasan Masjid Nabawi

-          Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melebarkan Masjid Nabawi pada tahun ke-7 H, sepulangnya beliau dari Khaibar.

-          Pada zaman Umar bin Khattab, tahun 17 H, Masjid Nabawi kembali diperluas. Umar juga menambahkan sebuah tempat yang agak meninggi di luar masjid yang dinamakan batiha. Tempat ini digunakan oleh orang-orang yang hendak mengumumumkan suatu berita, membacakan syair, atau hal-hal lainnya yang tidak terkait syiar agama. Sengaja Umar membuatkan tempat ini untuk menjaga kemuliaan masjid.

-          Perluasan masjid di masa Utsman bin Affan tahun 29 H.

-          Perluasan masjid oleh Khalifah Umayyah, Walid bin Abdul Malik pada tahun 88-91 H.

-          Perluasan masjid oleh Khalifah Abbasiyah, al-Mahdi pada tahun 161-165 H.

-          Perluasan oleh al-Asyraf Qayitbay pada tahun 888 H.

-          Perluasan oleh Sultan Utsmani, Abdul Majid tahun 1265-1277 H.

-          Perluasan oleh Raja Arab Saudi, Abdul Aziz alu Su’ud tahun 1372-1375 H.

-          Perluasan oleh Khadimu al-Haramain asy-Syarifain, Fahd bin Abdul Aziz alu Su’ud tahun 1406-1414 H.

-          Perluasan masjid yang saat ini sedang berlangsung oleh Khadimu al-Haramain asy-Syarifain, Abdullah bin Abdul Aziz.

Masjid Nabawi Sejarah Masjid Nabawi
Mudah-mudahan sejarah singkat Masjid Nabawi ini semakin membangkitkan kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, dan Masjid Nabawi itu sendiri. Semoga Allah senantiasa menjaga masjid ini dari orang-orang yang hendak melakukan keburukan, amin.

Sumber: Islamstory.com

Ditulis oleh Nurfitri Hadi
Artikel KisahMuslim.com


Go to Source
Author: editor

Powered by WPeMatico

  • Comments Off

1
inShare

Oleh: Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din

Saya pernah tawaf di Baitullah seorang diri. Pelik tetapi benar. Waktu itu iaitu empat tahun sudah (2001) saya datang ke Mekah, Allah taala lah yang mengaturkannya, saya dapat peluang untuk masuk ke dalam Kaabah. Sebab saya datang atas tetamu tokey yang membuat dan membersihkan Masjidil Haram.

Pagi itu saya datang awal. Pengawal keselamatan baru memagar keliling Kaabah dan saya dapat masuk ke dalam pagar itu sebab saya ada Pass VIP. Ketika itu tetamu-tetamu lain tak sampai lagi. 

Ketika itu lah saya tawaf seorang diri di hadapan Kaabah. Lepas saya habis tawaf baru tetamu-tetamu lain sampai. Ketika itulah saya nampak Hajarul Aswad seterang-seterangnya, ia tidak lagi hitam tetapi sudah kemerah-kemerahan.



Bila pintu Kaabah di buka saya orang yang ke tiga masuk ke dalam. Pertama pembuka pintu Kaabah iaitu daripada Bani Syaibah.

Pembuka pintu itu sudah tua, dia melatih anaknya yang berumur lebih kurang empat tahun untuk membuka pintu Kaabah itu.

Sejarah pintu Kaabah itu, kalau orang yang lain tidak boleh buka. Dia hanya boleh di buka oleh pemegang kunci itu sahaja dari keturunan Bani Syaibah. Bila Nabi meninggalkan Mekah kerana berhijrah ke Madinah, Mekah di kuasai oleh Bani Syaibah. Bani Syaibah ini adalah keturunan yang di amanahkan untuk memegang kunci kaabah sejak turun temurun.

Bila nabi balik semula ke Mekah dalam tahun 7 hijiriah, berlaku peperangan pembukaan Mekah, nabi menang dan orang Islam berkuasa ke atas Mekah. Nabi menghantar Sayidina Ali untuk mengambil kunci pintu Kaabah daripada Bani Syaibah. 

Sayidina Ali pergi ke Bani Syaibah dan rampas kunci tersebut. Bani Syaibah serahkan kunci kepada Sayidina Ali tetapi bila pintu Kaabah nak di buka tak boleh. Sekejap sahaja datang Jibrail kepada Nabi membawa wahyu dari Allah. Al-Quran (An-Nisaa’:58)

Mahfumnya “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”

Nabi bagi balik kunci itu kepada Bani Syaibah, walaupun ketika itu Bani Syaibah belum Islam lagi. 

Rupa-rupanya bila bagi balik, Bani Syaibah kata mesti dia seorang nabi. Kalau dia bukan seorang nabi pasti dia gila kuasa kerana memegang kunci ini adalah satu penghormatan turun temurun. Bila kunci ini dipulangkan balik, ketua Bani Syaibah terbuka hatinya memeluk Islam kemudian semua pengikutnya memeluk Islam sehingga hari ini.

Budak kecil tadi dibawa tangannya untuk pegang kunci oleh bapanya kemudian di buka dan di tolak pintu itu. Saya lihat di depan saya. Berapa besar pintu itu? Berapa tebalnya? Pintu itu dibuat dari Solid Gold beratnya 8 tan. Dia tolak senang sahaja, kemudian kami masuk.

Mula-mula sekali saya pergi sembahyang di satu ruang belakang pintu Kaabah yang menghadap ke arah Hajaral Aswad (dari dalam) iaitu di bahagian Multazam. Selama sejam saya berada di dalam Kaabah itu.

Di dalam Kaabah itu masih ada lampu yang digunakan pada zaman nabi dahulu. Zaman Kerajaan Umaiyyah ditukar lampu lain seterusnya zaman Kerajaan Abasiyah juga tukar lampu. Apabila lampu di tukar, lampu yang lama di simpan di dalam Kaabah. Berpuluh-puluh atau mungkin beratus-ratus lampu lama ada disimpan di dalam itu.

Pengalaman kedua, saya membantu salah seorang yang terkaya di Saudi Arabia, multi-billionaire, semua projek di Saudi dia yang buat. Dia ada masalah keluarga mintak tolong saya ikhtiarkan. Allah nak tunjukkan bahawa masalah yang dihadapi itu telah terlalu lama, ada duit yang banyak pun tak boleh selesai.

Dia tunggu saya di airport Jeddah dengan jet peribadi. Saya tak pergi imigresen dia terus ambil saya dari tangga kapal terbang terus masuk ke jet dia. Sungguh kuat pengaruh dia, saya tanya passport saya bagaimana, tak ada masalah dia dah uruskan. 

 Naik jet dia pergi ke Madinah. Saya selesaikan masalah dia dengan izin Allah SWT. Lepas itu biasalah adat orang Arab nak bagi itu nak bagi ini sebagai balasan.

Dalam Kaabah

Saya kata kepada dia, “Kalau kamu nak masalah itu selesai selama-lamanya dan tak berulang semula, jangan bagi pada aku apa-apa, kalau kamu bagi, aku boleh terima tetapi masalah itu akan berulang balik.”

Dia mintak maaf tetapi dia kata “Aku nak buat sesuatu untuk kamu apa yang kamu nak?”. Saya kata “Ok kalau begitu apa yang aku nak tolong bawak aku masuk ke dalam Kaabah.” Dia kata “Itu mudah sangat, esok pun aku boleh arah buka”. Saya kata “Tak apalah kamu arahlah”. 

Dia kata “Tak apa itu perkara kecil, mintak yang lain.” Saya kata “Tidak, itu paling besar pada saya. Kalau kamu boleh bawa masuk aku ke dalam Kaabah, itu sudah lebih daripada cukup.”
Akhirnya saya dapat masuk. 

Saya masuk dengan dia ke dalam Kaabah, itulah kenangan yang tak boleh saya lupa sampai hari ini.

Go to Source
Author: atsixty

  • Comments Off

1
inShare

Oleh: Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din

Saya pernah tawaf di Baitullah seorang diri. Pelik tetapi benar. Waktu itu iaitu empat tahun sudah (2001) saya datang ke Mekah, Allah taala lah yang mengaturkannya, saya dapat peluang untuk masuk ke dalam Kaabah. Sebab saya datang atas tetamu tokey yang membuat dan membersihkan Masjidil Haram.

Pagi itu saya datang awal. Pengawal keselamatan baru memagar keliling Kaabah dan saya dapat masuk ke dalam pagar itu sebab saya ada Pass VIP. Ketika itu tetamu-tetamu lain tak sampai lagi. 

Ketika itu lah saya tawaf seorang diri di hadapan Kaabah. Lepas saya habis tawaf baru tetamu-tetamu lain sampai. Ketika itulah saya nampak Hajarul Aswad seterang-seterangnya, ia tidak lagi hitam tetapi sudah kemerah-kemerahan.



Bila pintu Kaabah di buka saya orang yang ke tiga masuk ke dalam. Pertama pembuka pintu Kaabah iaitu daripada Bani Syaibah.

Pembuka pintu itu sudah tua, dia melatih anaknya yang berumur lebih kurang empat tahun untuk membuka pintu Kaabah itu.

Sejarah pintu Kaabah itu, kalau orang yang lain tidak boleh buka. Dia hanya boleh di buka oleh pemegang kunci itu sahaja dari keturunan Bani Syaibah. Bila Nabi meninggalkan Mekah kerana berhijrah ke Madinah, Mekah di kuasai oleh Bani Syaibah. Bani Syaibah ini adalah keturunan yang di amanahkan untuk memegang kunci kaabah sejak turun temurun.

Bila nabi balik semula ke Mekah dalam tahun 7 hijiriah, berlaku peperangan pembukaan Mekah, nabi menang dan orang Islam berkuasa ke atas Mekah. Nabi menghantar Sayidina Ali untuk mengambil kunci pintu Kaabah daripada Bani Syaibah. 

Sayidina Ali pergi ke Bani Syaibah dan rampas kunci tersebut. Bani Syaibah serahkan kunci kepada Sayidina Ali tetapi bila pintu Kaabah nak di buka tak boleh. Sekejap sahaja datang Jibrail kepada Nabi membawa wahyu dari Allah. Al-Quran (An-Nisaa’:58)

Mahfumnya “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”

Nabi bagi balik kunci itu kepada Bani Syaibah, walaupun ketika itu Bani Syaibah belum Islam lagi. 

Rupa-rupanya bila bagi balik, Bani Syaibah kata mesti dia seorang nabi. Kalau dia bukan seorang nabi pasti dia gila kuasa kerana memegang kunci ini adalah satu penghormatan turun temurun. Bila kunci ini dipulangkan balik, ketua Bani Syaibah terbuka hatinya memeluk Islam kemudian semua pengikutnya memeluk Islam sehingga hari ini.

Budak kecil tadi dibawa tangannya untuk pegang kunci oleh bapanya kemudian di buka dan di tolak pintu itu. Saya lihat di depan saya. Berapa besar pintu itu? Berapa tebalnya? Pintu itu dibuat dari Solid Gold beratnya 8 tan. Dia tolak senang sahaja, kemudian kami masuk.

Mula-mula sekali saya pergi sembahyang di satu ruang belakang pintu Kaabah yang menghadap ke arah Hajaral Aswad (dari dalam) iaitu di bahagian Multazam. Selama sejam saya berada di dalam Kaabah itu.

Di dalam Kaabah itu masih ada lampu yang digunakan pada zaman nabi dahulu. Zaman Kerajaan Umaiyyah ditukar lampu lain seterusnya zaman Kerajaan Abasiyah juga tukar lampu. Apabila lampu di tukar, lampu yang lama di simpan di dalam Kaabah. Berpuluh-puluh atau mungkin beratus-ratus lampu lama ada disimpan di dalam itu.

Pengalaman kedua, saya membantu salah seorang yang terkaya di Saudi Arabia, multi-billionaire, semua projek di Saudi dia yang buat. Dia ada masalah keluarga mintak tolong saya ikhtiarkan. Allah nak tunjukkan bahawa masalah yang dihadapi itu telah terlalu lama, ada duit yang banyak pun tak boleh selesai.

Dia tunggu saya di airport Jeddah dengan jet peribadi. Saya tak pergi imigresen dia terus ambil saya dari tangga kapal terbang terus masuk ke jet dia. Sungguh kuat pengaruh dia, saya tanya passport saya bagaimana, tak ada masalah dia dah uruskan. 

 Naik jet dia pergi ke Madinah. Saya selesaikan masalah dia dengan izin Allah SWT. Lepas itu biasalah adat orang Arab nak bagi itu nak bagi ini sebagai balasan.

Dalam Kaabah

Saya kata kepada dia, “Kalau kamu nak masalah itu selesai selama-lamanya dan tak berulang semula, jangan bagi pada aku apa-apa, kalau kamu bagi, aku boleh terima tetapi masalah itu akan berulang balik.”

Dia mintak maaf tetapi dia kata “Aku nak buat sesuatu untuk kamu apa yang kamu nak?”. Saya kata “Ok kalau begitu apa yang aku nak tolong bawak aku masuk ke dalam Kaabah.” Dia kata “Itu mudah sangat, esok pun aku boleh arah buka”. Saya kata “Tak apalah kamu arahlah”. 

Dia kata “Tak apa itu perkara kecil, mintak yang lain.” Saya kata “Tidak, itu paling besar pada saya. Kalau kamu boleh bawa masuk aku ke dalam Kaabah, itu sudah lebih daripada cukup.”
Akhirnya saya dapat masuk. 

Saya masuk dengan dia ke dalam Kaabah, itulah kenangan yang tak boleh saya lupa sampai hari ini.

Go to Source
Author: atsixty

  • Comments Off
 

SEJARAH KITA PERLU TAHU (317-339 Hijrah) 929-952 Masihi. TENTERA SYIAH MENYERANG KAABAH

Hari Al Tarwiyah (hari kelapan dalam bulan Zulhijah), tentera Syiah Qurmuty (diketuai oleh Hamadan Ibn Al-Ashath Al-Qurmuti) menyerang konvoi haji pada tahun 317 Hijrah, membunuh semua jemaah haji, kemudian beliau menyerang Kaabah, menarik keluar batu hitam (Hajar Aswad) dan memecahkan kepada 8 bahagian kecil. Menarik keluar pintu Kaabah dan kemudian memecahkannya, menarik keluar kisa’a Al-Kabah dan memotongnya kepada banyak pecahan dan memberikannya kepada sahabat-sahabat beliau, kemudiannya beliau mengarahkan pengikut-pengikut beliau untuk memusnahkan Mizab Al-Kabah [saluran untuk menyalurkan air (sekiranya hujan) dari atas Kaabah]. 
Apabila pengikut beliau cuba untuk memusnahkan saluran ini, dia (pengikut yang diarahkan) terjatuh dari bumbung Kaabah dan mati. Beliau (Hamadan) kemudiannya menyuruh pengikutnya mencampakkan mayat-mayat jemaah haji yang telah mereka bunuh ke atas bumbung Kaabah, Mizab (saluran air) mengalirkan darah orang Muslim buat pertama kalinya dalam sejarah. Beliau kemudian mencampakkan mayat-mayat selebihnya kedalam telaga Zam-Zam sehingga penuh dan kemudian menutup telaga ini dengan batu yang besar.

Wanita Qurmuti (pengikut syiah) akan membawa air kononnya untuk menyiram mayat-mayat jemaah haji ini atau memberi minum kepada jemaah haji yang tercedera, akan tetapi apabila mereka berjumpa dengan jemaah haji yang masih hidup, mereka akan membunuhnya tanpa memberi air. Mereka (wanita Qurmuti) percaya bahawa mereka perlu membunuh sekurang-kurangnya 3 orang Sunni (Nasibi, gelaran yang mereka berikan pada orang Sunni) yang dahaga untuk mereka mendapat tempat di Jannah. Mayat-mayat yang lain pula ditanam di dalam Masjidil Haram dimana mereka (jemaah haji) dibunuh tanpa solat jenazah, ghosul mahupun dikafankan.

Kemudian beliau (Hamadan) berdiri di depan pintu Kaabah dan menjerit ke langit dan berkata: “ Akulah yang berani mencabar ALLAH, akulah yang berani mencabar Tuhan, DIA mencipta kamu dan aku membunuh kamu semua (jemaah haji)”.


Pengikutnya yang turut memusnahkan Hajar Aswad juga menjerit ke langit: “Dimana burung-burung Ababil ENGKAU? Dimana batu Sijjil (batu dari tanah yang terbakar) ENGKAU?” Merujuk kepada peristiwa serangan bergajah yang dipimpin oleh raja Abrahah sebelum kedatangan agama Islam.

Kemudian beliau membawa Hajar Aswad ke timur (Al-Qatif) dengan menggunakan 70 ekor unta, setiap unta yang membawa batu hitam (Hajar Aswad) jatuh sakit dan kemudian mati di tengah padang pasir. Kemudian mereka membina ‘AinulKuaibah’ dan meletakkan batu hitam itu (Hajar Aswad) di situ selama 22 tahun dan menyuruh orang ramai mengerjakan haji di situ (AinulKuaibah), tetapi tiada siapa yang pergi.

Selama 22 tahun orang Muslim tidak mengerjakan haji.

Kemudian, Khalifah (Al-Muktadir Billah) menyerang pengikut-pengikut Qurmutiah dan membunuh mereka dalam peperangan antara 80 ribu askar menentang 3 ribu askar Qurmutiah. Satu kumpulan kecil Qurmutiah, lebih kurang 10 buah keluarga dapat melarikan diri ke Syria (Bilad Al-Sham) kemudian ke Jabal Al-Arab, sebuah gunung di Arab dan menyembunyikan diri supaya tidak dibunuh, salah sebuah keluarga tersebut adalah ((Al-Assad)).


“kitab al- Bidayah Wa an- Nihayah oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir”

Imam Al-Ghazali berkata: “Syiah Qurmutiah adalah rofidah (keluar dari Islam) dari luar , kafir dari dalam”.

Imam Ibn-Taimyah berkata: Syiah adalah batiniyah (ajaran yang menyimpang dari agama Islam) dan musuh kepada Islam, dan yang lebih teruk kekafirannya adalah Qurmotiyah, mereka akan berlakon bahawa mereka adalah Muslim Shiah dan bila mereka mendapat peluang, mereka akan membuka pintu kepada musuh-musuh Islam untuk mengkhianati kita, mereka (Qurmotiyah) telah jauh tersasar dari Quran dan Hadis.”
 
Salah sebuah peninggalan Qurmotiyah ini adalah ‘Ainul Kuaibah”, di Al Ahsa (bangunan yang mereka dakwa untuk menggantikan Kaabah yang mana mereka meletak batu hitam (Hajar Aswad) dan menyuruh umat Islam menunaikan haji di situ.

 
Ainul Kubbah di Al Ahsa…di timur semenanjung tanah Arab, runtuh dan terbiar. Tempat yang mereka bangun sebagai pengganti Kaabah, dimana hajar aswad diletakkan. Masyarakat dipaksa berhaji di sana selama 22 tahun…

. Go to Source
Author: Roslan Alan

Powered by WPeMatico

  • Comments Off

Allah Menurunkan Ayat berkenaan dengan Al-Walid bin Al-Mughirah

-  Allah menurunkan firman-Nya berkenaan dengan Al-Walid

Dan mereka berkata, ‘Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Tha’if) ini?’” (QS. Az-Zukhruf: 31)

Dan firman-Nya:

Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.” (QS. Al-Muddatstsir: 11)

-  Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Allah Ta’ala menurunkan sebanyak 104 ayat berkenaan denagn Al-Walid bin al-Mughirah.”

-  Al-Walid termasuk orang-orang yang mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengganggu Beliau.

-  Dia termasuk orang yang divonis masuk Neraka dengan firman Allah

“Aku akan memasukkannya ke dalam (Neraka) Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 26)

Kemewahan dan Kedudukan

Sebelum terbitnya cahaya Islam, sebagian rumah dan keluarga Quraisy terkenal dengan kekayaannya, harta yang berlimpah dan kehidupan yang mewah. Di antara keluarga yang kaya ini adalah Bani Makhzum.

Di Bani Makhzum al-Walid Ibnul Mughirah bin Abdillah bin Amr al-Makhzumi al-Qurasyi tumbuh berkembang. Dia lahir di Mekah sekitar 95 tahun sebelum hijrah Nabawiyah. Sejak membuka kedua matanya dia mengetahui bahwa keluarganya tergolong paling mulia di keluarga Quraisy dan paling tinggi, terhormat dan paling kaya. Ayah atau saudaranya adalah pemimpin terhormat yang kedudukannya hampir menyamai kedudukan para pemimpin Quraisy.

Ayahnya adalah al-Mughirah bin Abdillah, sosok lelaki yang memberi kesan kepada setiap orang dari bani Makhzum untuk menasabkan diri kepadanya, hingga dikatakan Al-Mughiri, sebagai kehormatan menisbatkan diri kepadanya.

Saudaranya Hisyam Ibnul Mughirah pemimpin Bani Makhzum dalam Harbul Fijar. Tatkala Hisyam meninggal, suku Quraisy mencatat hari kematiannya seakan sejarah yang agung. Pasar diutup selama tiga hari karena kematiannya.

Saudaranya al-Faqih Ibnul Mughirah, salah seorang paling dermawan dari bangsa Arab di masanya. Dia memiliki rumah yang disediakan untuk para tamu, siapa saja yang bisa menempatinya tanpa meminta izin dan kapan saja.

Saudara yang lainnya adalah Abu Hudzaifah Ibnul Mughirah, salah seorang dari empat orang termulia yang ikut mengambil ujung kain guna memikul Hajar Aswad untuk dikembalikan ke tempatnya di Ka’bah yang mulia, sebagai petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum masa kenabian.

Adapun saudaranya Abu Umayyah Ibnul Mughirah yang dijuluki dengan ‘Pemberi bekal bagi Musafir’, dia salah seorang ahli hikmah di kalangan Quraisy. Dialah yang mengusulkan mereka, untuk menjatuhkan pilihan kepada orang yang memasuki pintu masjid pertama kali, untuk mengangkat Hajar Aswad ke tempatnya yang semula, mereka pun ridha dengan keputusan itu. Telah nampak kebenaran apa yang disyaratkannya dengan fakta, bahwa mereka semua rela pada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meletakkan Hajar Aswad.

Adapun julukannya ‘Pemberi bekal bagi Musafir’ telah disebutkan dalam referensi, bahwa dia mencukupi teman-temannya dalam perjalanan dengan apa yang mereka butuhkan, hingga mereka tidak bersiap dengan perbekalan.

Agar kita mengetahui kedudukan Bani Makhzum, mesti kita mengetahui bahwa mereka mempunyai 30 kuda dalam peperangan Badr, padahal suku Quraisy secara keseluruhan hanya 70 kuda. Mereka memiliki 200 unta dan emas dalam ribuan timbangan. Juga ditambah dengan bekal dan bantuan dan lainnya.

Dari kaca mata yang terbatas ini, kita ketahui betapa agungnya dia di sisi mereka. Jiwa Al-Walid Ibnul Mughirah –khususnya- tidak rela diungguli kemuliaan dan kewibawaannya oleh seorang pun, siapa pun dia.

Di Antara Kabar al-Walid di Masa Jahiliyyah

Agar pengamatan lebih luas dengan bentuk lebih jelas, marilah kita berkenalan dengan sebagian kabar al-Walid dalam kehormatannya. Kita masuk sedikit ke dalam jiwanya untuk mengenal bualannya.

Al-Walid Ibnul Mughirah merupakan salah seorang kaya dari Bani Makhzum yang menjadi rujukan. Kun-yahnya Abu Abdi Syams, Quraisy memberikannya julukan al-Idl sebagaimana dia dijuluki pula Al-Wahiid (satu-satuya) –satu-satunya orang Arab- karena dia seorang diri yang membuat kiswah Ka’bah pada suatu tahun, dan di tahun berikutnya dilakukan oleh seluruh kaum Quraisy.

Quraisy tidak mencukupkan (julukan) al-Idl atau al-Wahid, mereka menjulukinya dengan laqab lain yaitu Raihanah Quraisy, tatkala diketahui bahwa dia menggunakan pakaian yang berhias. Di masa Jahiliyah mereka mengatakan, “Tidak, demi baju Walid yang lama dan yang baru.” Dan dinyatakan bahwa Hajar Aswad dibawa dan diletakkan dengan pakaian al-Walid bin al-Mughirah.

Di bidang hukum, al-Walid merupakan salah seorang hakim Arab di masa Jahiliyah dan salah seorang pemimpin Quraisy di Daar an-Nadwah.

Al-Walid sebagai Pionir

Sejarah mencatat Al-Walid sebagai Pionir dalam ragam peristiwa di masa Jahiliyah, di antaranya:

Dia orang pertama yang menghapus sumpah di masa Jahiliyah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkannya dalam Islam.

Dia adalah orang pertama yang melepaskan sepatu dan sandal saat akan memasuki Ka’bah yang mulia di masa Jahiliyah, kemudian di masa Islam orang-orang melepaskan sandal-sandal mereka.

Dikatakan, bahwa dia orang pertama yang mengharamkan khamr terhadap dirinya di masa Jahiliyah dan memukul anaknya Hisyam karena meminumnya.

Al-Walid adalah orang pertama yang memotong tangan pencuri di masa Jahiliyah, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan hukum tersebut di masa Islam.

Barangkali tanda-tanda kemuliaan ini menanamkan dalam jiwa al-Walid benih-benih kibr (sombong) yang menjadikan dia melihat dirinya sebagai pemuka Quraisy. Karena itu tatkala Usaid bin Abil Aish bertepuk dada, al-Walid berkata, “Aku lebih baik darimu dari sisih ayah dan ibu, serta aku lebih kokoh daripadamu di mata Quraisy dalam hal nasab.”

Perannya Dalam Pembangunan Ka’bah

Referensi menunjukkan dan menetapkan bahwa al-Walid Ibnul Mughirah termasuk orang yang memiliki kecerdikan dan keberanian. Terbukti di saat Ka’bah yang mulia diperebutkan –sebelum masa kenabian- yakni tatkala kaum musyrikin hendak merobohkannya untuk dibangun kembali dengan bangunan baru, sebagai bentuk kehormatan yang dahulu mereka agungkan dengan khusyu.

Al-Walid punya andil yang menonjol tatkala Ka’bah dihancurkan dan dibangun kembali oleh Quraisy.

Sebelumnya kaum Quraisy berfikir panjang mengenai perkara Ka’bah, dahulu Ka’bah tidak beratap, bangunannya rendah. Suatu hal yang menjadikannya tidak aman dari para pencuri yang datang untuk mengambil sebagian harta simpanan orang-orang Quraisy yang dijaga dan disimpan dalam Ka’bah.

Dahulu ketinggian Ka’bah sekitar 7 meter dalam keadaan tidak beratap, sedangkan pintunya rendah bisa dimasuki siapa saja. Yang punya nadzar menunaikan nadzarnya dengan melempar emas, perhiasan dan wewangian ke dalam Ka’bah yang berfungsi sebagai kotak nadzar, yakni berupa sumur di dekat pintunya di sebelah kanan bagian dalam.

Dahulu tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berumur 35 tahun, datanglah banjir besar yang melahap dinding Ka’bah dan merapuhkan pondasinya. Sebelumnya Ka’bah pernah terbakar disebabkan seorang wanita membakar dupa. Hal ini menjadikan Quraisy terdesak untuk mengambil keputusan melangkah ke depan guna memperbaikinya. Situasi dan kondisi saat itu memungkinkan Quraisy melakukan perbaikan Ka’bah. Lautan telah menghempaskan perahu salah seorang pedagang ke Jeddah. Maka keluarlah utusan Quraisy yang dipimpin oleh al-Walid Ibnul Mughirah ke Jeddah untuk membeli perahu itu, mereka mengambil kayunya untuk dijadikan atap.

Quraisy ingin merobohkan Ka’bah, akan tetapi tujuan mereka terbendung dikarenakan kedudukan Ka’bah di hati mereka, sehingga mereka takut tertimpa bencana, kala itu al-Walid berkata pada mereka, “Apakah kalian menginginkan perombakan untuk perbaikan atau berniat jelek?”

Mereka berkata, “Kami menginginkan perbaikan wahai Abu Abdi Syamsy.”

Al-Walid menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencelakakan orang yang berbuat kebaikan.”

Mereka berkata, “Siapakah yang akan memanjatnya lantas menghancurkannya?”

Al-Walid berkata, “Aku yang akan memanjatnya, lalu menghancurkannya.”

Kemudian al-Walid mendaki ke atas Ka’bah dengan membawa palu seraya berkata, “Ya Allah, kami tidak menghendaki melainkan perbaikan.” Lalu dia mengambil palu dan mulai menghancurkannya. Tatkala orang-orang Quraisy melihat sebagian Ka’bah telah hancur dan tidak datang adzab yang mereka takutkan, mereka pun ikut menghancurkannya. Tatkala mereka mulai membangun, Al-Walid berkata pada mereka, “Janganlah kalian memasukkan ke dalam rumah Rabb kalian melainkan harta terbaik kalian. Janganlah kalian memasukkan ke dalam pembangunannya harta dari hasil riba, judi, upah lacur, dan hindarkanlah harta jelek kalian, sesungguhnya Allah tidak menerima kecuali yang baik.”

Kaum Quraisy meneruskan proyek pembangunan Ka’bah. Tatkala sampai pada peletakkan Hajar Aswad, mereka berselisih pendapat tentang siapa yang berhak untuk meletakkannya, hingga hampir saja terjadi peperangan di antara mereka.

Abu Umayyah Ibnul Mughirah –saudara al-Walid- berkata, “Marilah kita menetapkan hukum, bagi orang pertama muncul dari pintu masjid –sekarang Baab as-Salaam-.” Mereka pun sepakat atas hal itu. Leher-leher mereka mendongak ke arah pintu. Muncullah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas memutuskan perkara mereka.

Beliau meminta batu itu didatangkan, lantas diletakkan di atas kain kemudian berkata, “Hendaklah setiap suku mengambil bagian dari ujung kalin.”

Kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam naik dan meminta mereka mengangkat batu kepadanya, lantas Beliau meletakkan Hajar Aswad dengan tangannya yang mulia. Dengan begitu kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin tinggi dibanding semula di sisi mereka, penghormatan di atas penghormatan. Beliau telah menghindarkan Quraisy dari sejelek-jelek pertempuran yang hampir saja terjadi, kalau tidak karena karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keutamaan-Nya atas mereka dan keberkahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nampaknya jiwa Al-Walid Ibnul Mughirah terkesan dengan kejadian ini, terlukis dalam jiwanya bekas yang menyibak penutup yang menghalangi pandangan selama ini, sedikit demi sedikit. Khususnya, tatkala ada yang berkata di antara yang hadir bersama mereka karena kagum dengan kejadian yang dilihatnya dan penghargaan yang diberikan kepada orang yang lebih muda dari mereka, “Alangkah mengagumkan kaum yang menyandang kemuliaan dan kepemimpinan, orang tua maupun orang muda, menyerahkan pada orang yang lebih muda umurnya, paling sedikit hartanya, mereka menjadikannya pemimpin dan hakim! Adapun Laata dan Uzza akan tersisih, mereka akan berebut bagian dan pamor sesama mereka dan setelah hari ini akan terjadi perkara dan berita yang agung.”

Kabar agung itu menjadi nyata, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusnya setelah lima tahun usai pembangunan Ka’bah. Pada saat itu Al-Walid berdiri menghadang untuk memalingkan manusia dari jalan Allah dan apa yang diturunkan-Nya berupa kebenaran untuk menjadi penghuni nereka.

Apakah Alquran Diturunkan Kepada Muhammad?!

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan Islam kepada manusia. Alquran yang mulia turun dengan bahasa Arab. Al-Walid dan kaum musyrikin Quraisy mengetahui dengan rasa bahasa Arab yang mereka miliki, bahwa Alquran tidak mungkin datang dari manusia, karena itu mereka sendiri menghadang lagi memerangai Alquran dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka berkata, ‘Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah’.” (QS. Al-An’am: 124)

Karena itu, suatu hari al-Walid Ibnul Mughirah berdiri seraya berkata, “Akankah Alquran turun kepada Muhammad, sementara aku tidak mendapatkannya, padahal aku pembesar Quraisy dan pemimpinnya?! Mengenyampingkan Abu Mas’ud ats-Tsaqif, padahal kami dua orang pembesar negeri –Mekah dan Tha’if-.” Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan:

Dan mereka berkata, ‘Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?’ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka…” (QS. Az-Zukhruf: 31-32)

Ini menjadi bukti atas kecongkakan al-Walid dan kesombongannya, perbuatan dosanya, dan pelecehannya terhadap perkara risalah. Maka Alahlah yang Maha mengetahui dalam menjatuhakan risalah-Nya. Alangkah bagusnya apa yang dikatakan al-Bushiri dalam syairnya:

Apabila keterangan tidak memberikan manfaat sedikit pun, maka meraba petunjuk merupakan suatu kebodohan. Jika akal tersesat dalam mencapai ilmu, maka apakah yang bisa diucapkan oleh para penyair yang fasih?!

Sarana yang dijadikan senjata pamungkas oleh Al-Walid untuk menyumbat dakwah Islam, menyingkap tanda kebodohan dan buruk pemikirannya. Hal itu dimaksudkan untuk melaksanakan tujuan-tujuannya yang hina.

Di antaranya, sekumpulan kaum musyrikin Quraisy bergegas menemui Abu Thalib dengan arahan dari al-Walid. Ikut bersama mereka ‘Ammarah anaknya, mereka berkata padanya:

“Wahai Abu Thalib inilah ‘Ammarah Ibnul Walid, pemuda paling kuat di suku Quraisy dan paling tampan. Ambillah dia untukmu dengan kecerdasan dan pertolongannya, jadikanlah dia anakmu maka dia untukmu, dan serahkan kepada kami anak saudaramu yang menyelisihi agamamu dan agama nenek moyangmu, dia memecah belah kaummu juga membodohkan penalaran mereka. Kami akan membunuhnya, dengan demikian seimbang, satu lelaki ditukar satu lelaki.”

Abu Thalib berkata, “Demi Allah, alangkah buruk rayuan kalian! Akankah kalian memberikan anak kalian kepadaku untuk kuberi makan sedangkan kalian meminta anakku untuk kalian bunuh? Tidak, demi Allah hal ini tidak akan terjadi selamanya.”

Taktik picisan ini tidak bermanfaat bagi al-Walid, untuk meredupkan dakwah dan menghancurkannya. Dia beralih ke cara lain lebih ampuh guna meloloskan diri dari apa yang dianggap aib dalam pandangan umum. Karena itu dia berfikir dalam kejahatan, untuk memalingkan para delegasi Arab yang datang ke Mekah untuk menunaikan haji. Berikut ini akan kita lihat sebagian dari pendapatnya dan tipu dayanya yang mengakibatkan kesengsaraan.

Bersambung insya Allah…

Artikel www.KisahMuslim.com

Kata Kunci Terkait: kisah orang durhaka

Go to Source
Author: Admin

  • Comments Off

Utbah bin Rabi’ah

-  Duta orang-orang kafir yang berbuat jahat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar membujuk Beliau meninggalkan dakwah yang benar.

-  Musuh bebuyutan Islam, terbunuh dalam perang Badr.

-  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknatnya dengan bersabda, “Ya Allah laknatilah ‘Utbah bin Rabi’ah.”

-  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya berdialog setelah dia dan para pembesar Quraisy dilempar ke sumur sesudah terbunuh, “Wahai Utbah bin Rabi’ah bukankah kalian telah mendapati apa yang dijanjikan oleh Rabb kalian benar adanya?”

Dia di antara orang-orang Jahiliyah yang pura-pura berakal, tempat bertumpunya syirik, penopang para penyembah patung, salah seorang pengibar bendera permusuhan terhadap dakwah Nabi yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi kebodohannya, tidak sampai ke derajat rendah, perbuatan dosa dan kedengkian Abu Jahal bin Hisyam. Dia tidak sampai ke derajat terpuruk, seperti si jahat Uqbah bin Abi Mu’ith dengan kepribadian yang sangat rendah, juga sifat dan perbuatan yang sangat tercela. Bahkan dia di tengah kaumnya –Quraisy- sebagai orang yang mulia, cerdik dalam menentang dakwah yang haq, petunjuk, dan cahaya.

Dia menampakkan perdamaian dan persetujuan, suatu hal yang menjadikannya sebagai duta Quraisy yang vokal dalam forum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk memalingkannya dari dakwah, mengajak orang lain ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan memberi motivasi membanggakan Quraisy di masa Jahiliyah, yang berkisar antara bisikan setan dan desah nafas orang-orang yang sesat.

Siapakah orang yang terfitnah dengan bualannya sendiri, yang merasa mulia dengan kesombongannya, dan lagak menampakkan intelektualitasnya?

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menyifatinya sebagai Syaikhul Jahiliyyah.

Al-Hafidz Ibnu Asakir dan yang lainnya menyebut nasab dia, sebagai berikut: Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab al-Qurasyi al-Absyami.

Utbah memiliki anak bernama Abu Hudzaifah bin Utbah yang merupakan salah seorang pasukan penunggang kuda Rasul yang suci, bergerak maju memeluk Islam di awal kemunculannya. Dia tidak takut kepada ayahnya, Syaikhul Jahiliyyah, orang yang mulia dan memiliki kedudukan di kalangan Quraisy. Memeluk Islam bukan karena dorongan dunia, yang mendorongnya hanyalah keimanan, kuatnya kemauan, sucinya aqidah, dan bersihnya hati.

Dia masuk Islam sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, masuk ke Darul Arqam menyembunyikan seruannya, mengkhawatirkan orang yang bersamanya, para pengikut petunjuk, untuk berjaga-jaga dari gangguan para penyembah syirik yang dipimpin Utbah bin Rabi’ah, ayah Abu Hudzaifah dan kelompok kecil keluarganya dari Bani Abdi Syams, termasuk orang yang tertutup fikirannya dengan kegelapan syirik dan kezhaliman, mereka berbuat congkak dan sombong, menentang kebenaran dan mencegah semua jalan untuknya, hingga mereka membendung lantas Allah menghinakan mereka. Menjadikan kalimat mereka rendah dan kalimat-Nya yang tinggi.

Adapun anak perempuannya adlaah Hindun binti Utbah, salah seorang Shahabiyyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan salah seorang wanita yang terkenal dalam dunia sejarah dan sejarah dunia.

Bekas Peninggalan Jahiliyah

Utbah bin Rabi’ah dikenal di kalangan Quraisy dengan kemuliaan turun-menurun, yang menjadikannya memperoleh kedudukan sosial yang tinggi di antara orang Quraisy. Di antaranya dia mengesampingkan hal-hal kecil, dan kesabarannya di masa muda yang umumnya terburu nafsu.

Diriwayatkan, dia melewati sekelompok pemuda dari Bani Mughirah. Mereka berkata, “Apa yang menjadikannya sebagai tuan? Padahal dia tidak memiliki harta, tidak pula ini atau itu?” Mereka mencelanya, sedangkan dia mendengarnya. Kemudian dia bergegas pergi, tidak menyahuti komentar itu, bahkan dia mengumpulkan baju dan pakaian, lantas dia memberikannya kepada mereka, dengan begitu bertambahlah kedudukan di hadapan kaum Quraisy.

Dinukil perkataan, tentang kepimpinan Utbah yang menunjukkan kedudukan dan kepemimpinannya:

Abu az-Zinad berkata, “Kami tidak mengetahui seorang pun yang memimpin di masa Jahiliyah tanpa memakai harta selain Utbah bin Rabi’ah.”

Abdurrahman bin Abdillah az-Zuhri berkata, “Tidak ada orang miskin dari Quraisy yang memimpin, selain Utbah bin Rabi’ah dan Abu Thalib bin Abdil Muththalib. Keduanya adalah pemimpin yang tidak memiliki harta.”

Karena itu kaum Quraisy mengajaknya ikut serta dalam perkara-perkara besar, misalnaya dalam pembangunan Ka’bah yang mulia. Putusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara kaum Quraisy untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya yang semula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar didatangkan kain, lalu Hajr Aswad diletakkan di tengahnya, kemudian Beliau bersabda, “Setiap kabilah hendaknya mengambil bagian dari ujung baju, kemudian angkatlah bersama-sama.” Maka mereka melakukannya, dikelompok Abdu Manaf terdapat Utbah bin Rabi’ah. Akhirnya kekompakkan menggantikan perpecahan.

Utbah mendapat bagian kehormatan mengangkat Hajar Aswad, hal itu terjadi beberapa tahun sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus menjadi Rasul.

Di antara kemuliaan turun menurun pada masa jahiliyah yang tercatat dalam sejarah Utbah, adalah mendamaikan manusia yang bertikai tatkala terjadi Harbul Fijar, Utbah menunggangi untanya seraya berteriak, “Wahi suku Mudhar, atas dasar apa kalian saling membunuh? Wahai suku Quraisy marilah kita sambung tali persaudaraan dan perdamaian.”

Mereka menjawab, “Bagaimana kami menghentikan?”

Dia berkata, “Hitunglah yang terbunuh dari kalian, kami akan menghadiahkan kepada kalian para tawanan kami dan kami akan memaafkan kalian atas orang-orang yang terbunuh.”

Mereka berkata, “Siapakah yang menjadi jaminan untuk kami?!”

Dia menjawab, “Saya.”

Lantas mereka rela dan terjadilah perdamaian.

Tatkala orang-orang Hawazin melihat para tawanan Quraisy sudah di tangan mereka, mereka mau memaafkan. Kemudian mereka membebaskan dan menghapus dendanya. Dengan Demikian usailah perang (Harbul Fijar). Karena inilah dikatakan, “Utbah menjadi pemimpin tanpa harta, bahkan keadaannya faqir.”

Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M

Artikel www.KisahMuslim.com

Kata Kunci Terkait: kisah islam, utbah, musyrikin, orang durhaka

Go to Source
Author: Admin

  • Comments Off

Sejarah Nabi Muhammad SAW | Pengalaman Penting Nabi Muhammad SAW
Ketika berumur 12 tahun, Nabi Muhammad SAW mengikuti pamannya Abu Thalib membawa barang dagangan ke Syam. Sebelum mencapai kota Syam, baru sampai ke Bushra, bertemulah kafilah Abu Thalib dengan seorang pendeta Nasrani yang alim, “Buhaira” namanya. Pendeta itu melihat ada tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad SAW Maka dinasihatilah Abu Thalib agar segera membawa keponakannya itu pulang ke Mekah, sebab dia khawatir kalau-kalau Muhammad SAW ditemukan oleh orang Yahudi yang pasti akan menganiayanya (dalam riwayat lain kaum Yahudi akan membunuhnya) Abu Thalib segera menyelesaikan dagangannya dan kembali ke Mekah…

­

Nabi Muhammad SAW sebagaimana biasanya pada masa kanak­kanak itu, dia kembali ke pekerjaannya menggembala kambing, kambing keluarga dan kambing penduduk Mekah yang lain yang dipercayakan kepadanya. Pekerjaan menggembala kambing ini membuahkan didikan yang amat baik pads diri Nabi, karena pekerjaan ini memerlukan keuletan, kesabaran dan ketenangan serta ketrampilan dalam tindakan.
Di waktu Nabi Muhammad SAW berumur ± 15 tahun terjadilah peristiwa yang bersejarah bagi penduduk Mekah, yaitu kejadian peperangan antara suku Quraisy dan Kinanah di satu pihak, dengan suku Qais `Allan di lain pihak. Nabi Muhammad SAW ikut aktif dalam peperangan ini memberikan bantuan kepada paman-pamannya dengan menyediakan keperluan peperangan.
Peperangan ini terjadi di daerah suci pada bulan-bulan suci pula yaitu pada bulan Zulqaedah. Menurut pandangan bangsa Arab peristiwa itu adalah pelanggaran terhadap kesucian, karena melanggar kesucian bulan Zulqaedah, sebenarnya dilarang berkelahi berperang menumpahkan darah. Oleh karena demikian, perang tersebut dinamakan Harbul Fijar yang artinya perang yang memecahkan kesucian.
Meningkat masa dewasa, Nabi Muhammad SAW mulai berusaha sendiri dalam penghidupannya. Karena beliau terkenal orang yang jujur, maka seorang janda kaya bernama Siti Khadijah mempercayai beliau untuk membawa barang dagangan ke Syam. Dalam perjalanan ke Syarn ini, beliau ditemani oleh seorang Pembantu Sitti Khadijah yang bernama Maisarah. Setelah selesai menjual belikan barang dagangan di Syam, dengan memperoleh laba yang tidak sedikit, merekapun kembali ke Mekah.
Sesudah Nabi Muhammad SAW pulang dari perjalanan ke Syam itu, datanglah lamaran dari pihak Sitti Khadijah kepada beliau, lalu beliau menyampaikan hal itu kepada pamannya. Setelah tercapai kata sepakat pernikahanpun dilangsungkan, pada waktu itu umur Nabi ± 25 tahun sedang Sitti Khadijah ±40 tahun.
Nama Nabi Muhammad SAW tambah populer di kalangan penduduk Mekah, sesudah beliau mendamaikan pemuka-pemuka Quraisy dalam sengketa mereka memperbaharui bentuk Ka’bah. Pada permulaannya mereka nampak bersatu dan bergotong-royong menger­jakan pembaharuan Ka’bah itu. Tetapi ketika sampai kepada peletakan Batu Hitam (Al Hajarul Aswad) ke tempat asalnya, terjadilah perselisihan sengit antara pemuka-pemuka Quraisy. Mereka masing­-masing merasa berhak untuk mengembalikan batu suci itu ke tempat asalnya semula. Akhirnya disepakati yang akan menjadi hakim adalah orang yang pertama datang dan pada saat yang kritis ini, datanglah Muhammad SAW yang disambut dan segera disetujui mereka, maka dimintanyalah sehelai kain, lalu dihamparkannya dan AI-Hajarul Aswad diletakkannya di tengah-tengah kain itu. Kemudian disuruhnya tiap-tiap pemuka golongan Quraisy bersama-sama mengangkat tepi kain ke tempat asal Hajarul Aswad itu. Ketika sampai ke tempatnya, maka batu suci itu diletakkan dengan tangannya sendiri ke tempatnya. Dengan demikian selesailah persengketaan itu dengan membawa kepuasan pada masing-masing golongan. Pada waktu kejadian ini usia Nabi sudah 35 tahun dan dikenal dengan nama “Al – Amin” yang dapat dipercaya.
Tags : cerita kisah islamikisah islamsejarah nabi muhammadcerita cerita nyatacerita islamkisah islamikisah cerita islamcerita islamikisah mengharukan cintateladan islamkisah nyata islamikisah inspiratif islamikisah inspirasi islamikisah teladan islamkisah hikmah islamicerita nabikisah kisah islamikisah anak islamicerita cerita nabicerita kisah nabicerita sejarah nabiteladan islamkisah teladankisah islamkata kata mutiarakata mutiara mutiara

Go to Source
Author: Nardi

  • Comments Off

Laman Blog ini:

Perkongsian bahan PENGALAMAN , MOTIVASI DAN CARA HIDUP dari sumber-sumber web lain.

  • zacky: call me [...]
  • Rico: My site is all about budget travel: tips, news and articles. I hope you like it as much as I liked [...]
  • GenjikOndUrO: CeLaka ZeOnis !! Hmm . . X berhati perUt lngsng ! [...]
  • tufail b mohd nasir: Hantaran tok owng negeri sembilan berape ek lau adew kwn2 ley bg thu ktew nk minx tlg nie [...]
  • sumathy: i rasa takut cabut gigi,i have masalah gigi rosak.i rasa macam fobia if nak cabut gigi [...]

Mesti lihat (tekan je gambar) !

.
.
.

.
.


Gambar caicng babi macam muka babi
.

Rumah berbentuk mangkuk tandas
.

Sawah padi sangat unik
.

Kereta dan motorsikal dalam 1
.

Jepun obses seks
.

Lama tapi moden
.

Sebab lelaki berbohong adalah?
.

Pages


.
.
.

like ?



Tekan gambar !

Promosi

.

.

.
.
.
<


..

.

<