Wah! Kanan juga cerita BEST!!!

<

mawarTerbetik dalam hati seorang wanita muslimah, apakah benar dalam Islam tidak ada kewajiban mencuci baju suami dan memasakannya makanan? Bagaimana dengan pandangan konservatif soal kewajiban istri ini?

Sesungguhnya pertanyaan ini sangat menarik, karena tradisi yang berkembang di masyarakat kita di antara kewajiban seorang istri adalah mengurus rumah tangga dengan pekerjaan mencuci, memasak, dan lainnya. Sementara tradisi yang berkembang di Timur Tengah, yang biasa belanja ke pasar adalah para suami, dan pekerjaan rumah tangga menjadi tanggung jawab suami dengan menggaji pekerja rumah tangga.

Lalu benarkah dalam Islam tidak ada kewajiban melakukan itu semua bagi seorang istri? Para ulama berbeda pandangan dalam hal ini sebab tidak ada dalil secara eksplisit yang menyebutkan kewajiban memasak dan mencuci dibebankan kepada istri atau menjadi tanggung jawab suami.

Apakah istri wajib melakukan pekerjaan rumah? Abdul Majid Mahmud Mathlub dalam kitabnya Al-Wajiz Fi Ahkamil Usroh al-Islamiyah dan Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa sebagian fuqaha berpandangan seorang suami tidak boleh menuntut istrinya secara hukum untuk melakukan pekerjaan rumah. Karena akad nikah yang terlaksana antara mereka berdua hanya bermaksud menghalalkan bergaul antara suami istri untuk menjaga kehormatan diri dan menghasilkan keturunan.

Pekerjaan rumah seperti mencuci dan memasak termasuk dalam ruang lingkup kewajiban yang harus disediakan suami dalam kehidupan rumah tangga. Pandangan ini diwakili oleh mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan az-Zhahiriyah. Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa istri harus melayani suaminya hanya menunjukkan sifat kerelaan dan keluhuran budi.

Seperti kisah Asma’ binti Abu Bakar yang dinikahi oleh az-Zubair yang miskin tidak memiliki harta dan budak, sehingga Asma’ turut mengambil air, memberi makan kuda, membuat roti, bahkan membawa biji-biji kurma di atas kepalanya dari kebun Zubair yang diberi Rasulullah saw.

Imam Nawawi mengomentari kisah ini dalam Syarh an-Nawawi. “Semua ini termasuk kepatutan (apa yang telah dilakukan Asma’ binti Abu Bakar tersebut), bahwa wanita melayani suaminya dengan hal-hal yang telah disebutkan itu (seperti memasak, mencuci pakaian, dan lainnya), semua itu merupakan sumbangan dan kebaikan wanita kepada suaminya, pergaulan yang baik, perbuatan yang makruf, yang tidak wajib sama sekali atasnya, bahkan seandainya ia tidak mau melaksanakannya maka ia tidak berdosa.”

Dalam haditsnya, Rasulullah menjelaskan tentang tanggung jawab kepemimpinan. “Setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Imam itu pemimpin dalam keluarganya, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Laki-laki itu pemimpin, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Khadam itu pemimpin bagi harta majikannya, bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya,” (HR Bukhari).

Abdul Halim Abu Syuqqoh dalam Tahrirul Mar’ah mengomentari kalimat “Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya”. Menurutnya, bukan berarti wanita harus melaksanakan sendiri semua tugas rumah tangganya, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika hingga membersihkan rumah. Tapi yang dimaksud adalah, semua itu merupakan tanggung jawab (pengawasannya), namun bisa dilaksanakan orang lain seperti pekerja rumah tangga (pembantu), anak-anak, kerabat atau dibantu suaminya sendiri. Maka semua itu bergantung pada kemampuan nafkah dan finansial suami, juga kesempatan dan kemampuan istri untuk melaksanakannya dengan tidak mengabaikan tugas utama yang lainnya, yaitu merawat anak-anak dan mendidiknya dengan baik.

Sementara fuqaha yang lain berpendapat, melayani suami dan melakukan pekerjaan rumah merupakan kewajiban istri. Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Thabrani, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang perempuan telah mengerjakan shalat fardhu lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.”

Maka seorang istri, ketika diperintahkan suaminya untuk mencuci dan memasak, ia harus menaatinya. Karena melayani suami dengan memasakkan makanan dan mencuci pakaiannya merupakan bagian dari ketaatan pada suami. Nabi saw dan para sahabat Nabi menyuruh istri-istrinya membuatkan roti, memasak, membersihkan tempat tidur, menghidangkan makanan, dan sebagainya. Tidak seorang pun dari mereka yang menolak pekerjaan tersebut.

Terlepas dari dua pandangan yang berbeda tersebut, pada prinsipnya, hubungan suami istri dalam Islam dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang, saling percaya, saling tolong menolong dalam suka dan duka. Seluruh urusan dalam rumah tangga berlandaskan saling ridha dan musyawarah. Masing-masing pihak ikhlas menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya. Mereka harus saling menasihati, saling membantu untuk menunaikan tanggung jawab kehidupan suami istri serta pemeliharaan anak-anak dan pendidikan mereka dalam setiap situasi dan kondisi. Rumah tangga tidak akan harmonis jika hubungan yang dibangun atas penuntutan hak, bersifat hitam putih, kaku dan saklek.

Semoga Allah memberkahi istri-istri yang menghabiskan hari-harinya untuk mendidik anak dan memelihara rumah tangganya dengan mengharapkan ridha Allah semata. Dan semoga Allah memberkahi suami-suami yang menghabiskan masa hidupnya dalam berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, anak-anaknya, dan tulus membantu istrinya dalam mengerjakan tugas-tugas rumahnya. Semoga Allah meridhai rumah tangga yang dibangun atas azas wata’awanu ‘alal birri wat taqwa, saling menolong dalam perbuatan kebaikan dan ketakwaan. Wallahu a’lam.

sumber: ummi-online.com

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

mawarTerbetik dalam hati seorang wanita muslimah, apakah benar dalam Islam tidak ada kewajiban mencuci baju suami dan memasakannya makanan? Bagaimana dengan pandangan konservatif soal kewajiban istri ini?

Sesungguhnya pertanyaan ini sangat menarik, karena tradisi yang berkembang di masyarakat kita di antara kewajiban seorang istri adalah mengurus rumah tangga dengan pekerjaan mencuci, memasak, dan lainnya. Sementara tradisi yang berkembang di Timur Tengah, yang biasa belanja ke pasar adalah para suami, dan pekerjaan rumah tangga menjadi tanggung jawab suami dengan menggaji pekerja rumah tangga.

Lalu benarkah dalam Islam tidak ada kewajiban melakukan itu semua bagi seorang istri? Para ulama berbeda pandangan dalam hal ini sebab tidak ada dalil secara eksplisit yang menyebutkan kewajiban memasak dan mencuci dibebankan kepada istri atau menjadi tanggung jawab suami.

Apakah istri wajib melakukan pekerjaan rumah? Abdul Majid Mahmud Mathlub dalam kitabnya Al-Wajiz Fi Ahkamil Usroh al-Islamiyah dan Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa sebagian fuqaha berpandangan seorang suami tidak boleh menuntut istrinya secara hukum untuk melakukan pekerjaan rumah. Karena akad nikah yang terlaksana antara mereka berdua hanya bermaksud menghalalkan bergaul antara suami istri untuk menjaga kehormatan diri dan menghasilkan keturunan.

Pekerjaan rumah seperti mencuci dan memasak termasuk dalam ruang lingkup kewajiban yang harus disediakan suami dalam kehidupan rumah tangga. Pandangan ini diwakili oleh mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan az-Zhahiriyah. Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa istri harus melayani suaminya hanya menunjukkan sifat kerelaan dan keluhuran budi.

Seperti kisah Asma’ binti Abu Bakar yang dinikahi oleh az-Zubair yang miskin tidak memiliki harta dan budak, sehingga Asma’ turut mengambil air, memberi makan kuda, membuat roti, bahkan membawa biji-biji kurma di atas kepalanya dari kebun Zubair yang diberi Rasulullah saw.

Imam Nawawi mengomentari kisah ini dalam Syarh an-Nawawi. “Semua ini termasuk kepatutan (apa yang telah dilakukan Asma’ binti Abu Bakar tersebut), bahwa wanita melayani suaminya dengan hal-hal yang telah disebutkan itu (seperti memasak, mencuci pakaian, dan lainnya), semua itu merupakan sumbangan dan kebaikan wanita kepada suaminya, pergaulan yang baik, perbuatan yang makruf, yang tidak wajib sama sekali atasnya, bahkan seandainya ia tidak mau melaksanakannya maka ia tidak berdosa.”

Dalam haditsnya, Rasulullah menjelaskan tentang tanggung jawab kepemimpinan. “Setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Imam itu pemimpin dalam keluarganya, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Laki-laki itu pemimpin, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Khadam itu pemimpin bagi harta majikannya, bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya,” (HR Bukhari).

Abdul Halim Abu Syuqqoh dalam Tahrirul Mar’ah mengomentari kalimat “Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya”. Menurutnya, bukan berarti wanita harus melaksanakan sendiri semua tugas rumah tangganya, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika hingga membersihkan rumah. Tapi yang dimaksud adalah, semua itu merupakan tanggung jawab (pengawasannya), namun bisa dilaksanakan orang lain seperti pekerja rumah tangga (pembantu), anak-anak, kerabat atau dibantu suaminya sendiri. Maka semua itu bergantung pada kemampuan nafkah dan finansial suami, juga kesempatan dan kemampuan istri untuk melaksanakannya dengan tidak mengabaikan tugas utama yang lainnya, yaitu merawat anak-anak dan mendidiknya dengan baik.

Sementara fuqaha yang lain berpendapat, melayani suami dan melakukan pekerjaan rumah merupakan kewajiban istri. Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Thabrani, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang perempuan telah mengerjakan shalat fardhu lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.”

Maka seorang istri, ketika diperintahkan suaminya untuk mencuci dan memasak, ia harus menaatinya. Karena melayani suami dengan memasakkan makanan dan mencuci pakaiannya merupakan bagian dari ketaatan pada suami. Nabi saw dan para sahabat Nabi menyuruh istri-istrinya membuatkan roti, memasak, membersihkan tempat tidur, menghidangkan makanan, dan sebagainya. Tidak seorang pun dari mereka yang menolak pekerjaan tersebut.

Terlepas dari dua pandangan yang berbeda tersebut, pada prinsipnya, hubungan suami istri dalam Islam dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang, saling percaya, saling tolong menolong dalam suka dan duka. Seluruh urusan dalam rumah tangga berlandaskan saling ridha dan musyawarah. Masing-masing pihak ikhlas menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya. Mereka harus saling menasihati, saling membantu untuk menunaikan tanggung jawab kehidupan suami istri serta pemeliharaan anak-anak dan pendidikan mereka dalam setiap situasi dan kondisi. Rumah tangga tidak akan harmonis jika hubungan yang dibangun atas penuntutan hak, bersifat hitam putih, kaku dan saklek.

Semoga Allah memberkahi istri-istri yang menghabiskan hari-harinya untuk mendidik anak dan memelihara rumah tangganya dengan mengharapkan ridha Allah semata. Dan semoga Allah memberkahi suami-suami yang menghabiskan masa hidupnya dalam berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, anak-anaknya, dan tulus membantu istrinya dalam mengerjakan tugas-tugas rumahnya. Semoga Allah meridhai rumah tangga yang dibangun atas azas wata’awanu ‘alal birri wat taqwa, saling menolong dalam perbuatan kebaikan dan ketakwaan. Wallahu a’lam.

sumber: ummi-online.com

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

mawarTerbetik dalam hati seorang wanita muslimah, apakah benar dalam Islam tidak ada kewajiban mencuci baju suami dan memasakannya makanan? Bagaimana dengan pandangan konservatif soal kewajiban istri ini?

Sesungguhnya pertanyaan ini sangat menarik, karena tradisi yang berkembang di masyarakat kita di antara kewajiban seorang istri adalah mengurus rumah tangga dengan pekerjaan mencuci, memasak, dan lainnya. Sementara tradisi yang berkembang di Timur Tengah, yang biasa belanja ke pasar adalah para suami, dan pekerjaan rumah tangga menjadi tanggung jawab suami dengan menggaji pekerja rumah tangga.

Lalu benarkah dalam Islam tidak ada kewajiban melakukan itu semua bagi seorang istri? Para ulama berbeda pandangan dalam hal ini sebab tidak ada dalil secara eksplisit yang menyebutkan kewajiban memasak dan mencuci dibebankan kepada istri atau menjadi tanggung jawab suami.

Apakah istri wajib melakukan pekerjaan rumah? Abdul Majid Mahmud Mathlub dalam kitabnya Al-Wajiz Fi Ahkamil Usroh al-Islamiyah dan Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa sebagian fuqaha berpandangan seorang suami tidak boleh menuntut istrinya secara hukum untuk melakukan pekerjaan rumah. Karena akad nikah yang terlaksana antara mereka berdua hanya bermaksud menghalalkan bergaul antara suami istri untuk menjaga kehormatan diri dan menghasilkan keturunan.

Pekerjaan rumah seperti mencuci dan memasak termasuk dalam ruang lingkup kewajiban yang harus disediakan suami dalam kehidupan rumah tangga. Pandangan ini diwakili oleh mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan az-Zhahiriyah. Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa istri harus melayani suaminya hanya menunjukkan sifat kerelaan dan keluhuran budi.

Seperti kisah Asma’ binti Abu Bakar yang dinikahi oleh az-Zubair yang miskin tidak memiliki harta dan budak, sehingga Asma’ turut mengambil air, memberi makan kuda, membuat roti, bahkan membawa biji-biji kurma di atas kepalanya dari kebun Zubair yang diberi Rasulullah saw.

Imam Nawawi mengomentari kisah ini dalam Syarh an-Nawawi. “Semua ini termasuk kepatutan (apa yang telah dilakukan Asma’ binti Abu Bakar tersebut), bahwa wanita melayani suaminya dengan hal-hal yang telah disebutkan itu (seperti memasak, mencuci pakaian, dan lainnya), semua itu merupakan sumbangan dan kebaikan wanita kepada suaminya, pergaulan yang baik, perbuatan yang makruf, yang tidak wajib sama sekali atasnya, bahkan seandainya ia tidak mau melaksanakannya maka ia tidak berdosa.”

Dalam haditsnya, Rasulullah menjelaskan tentang tanggung jawab kepemimpinan. “Setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Imam itu pemimpin dalam keluarganya, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Laki-laki itu pemimpin, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Khadam itu pemimpin bagi harta majikannya, bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya,” (HR Bukhari).

Abdul Halim Abu Syuqqoh dalam Tahrirul Mar’ah mengomentari kalimat “Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya”. Menurutnya, bukan berarti wanita harus melaksanakan sendiri semua tugas rumah tangganya, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika hingga membersihkan rumah. Tapi yang dimaksud adalah, semua itu merupakan tanggung jawab (pengawasannya), namun bisa dilaksanakan orang lain seperti pekerja rumah tangga (pembantu), anak-anak, kerabat atau dibantu suaminya sendiri. Maka semua itu bergantung pada kemampuan nafkah dan finansial suami, juga kesempatan dan kemampuan istri untuk melaksanakannya dengan tidak mengabaikan tugas utama yang lainnya, yaitu merawat anak-anak dan mendidiknya dengan baik.

Sementara fuqaha yang lain berpendapat, melayani suami dan melakukan pekerjaan rumah merupakan kewajiban istri. Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Thabrani, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang perempuan telah mengerjakan shalat fardhu lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.”

Maka seorang istri, ketika diperintahkan suaminya untuk mencuci dan memasak, ia harus menaatinya. Karena melayani suami dengan memasakkan makanan dan mencuci pakaiannya merupakan bagian dari ketaatan pada suami. Nabi saw dan para sahabat Nabi menyuruh istri-istrinya membuatkan roti, memasak, membersihkan tempat tidur, menghidangkan makanan, dan sebagainya. Tidak seorang pun dari mereka yang menolak pekerjaan tersebut.

Terlepas dari dua pandangan yang berbeda tersebut, pada prinsipnya, hubungan suami istri dalam Islam dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang, saling percaya, saling tolong menolong dalam suka dan duka. Seluruh urusan dalam rumah tangga berlandaskan saling ridha dan musyawarah. Masing-masing pihak ikhlas menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya. Mereka harus saling menasihati, saling membantu untuk menunaikan tanggung jawab kehidupan suami istri serta pemeliharaan anak-anak dan pendidikan mereka dalam setiap situasi dan kondisi. Rumah tangga tidak akan harmonis jika hubungan yang dibangun atas penuntutan hak, bersifat hitam putih, kaku dan saklek.

Semoga Allah memberkahi istri-istri yang menghabiskan hari-harinya untuk mendidik anak dan memelihara rumah tangganya dengan mengharapkan ridha Allah semata. Dan semoga Allah memberkahi suami-suami yang menghabiskan masa hidupnya dalam berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, anak-anaknya, dan tulus membantu istrinya dalam mengerjakan tugas-tugas rumahnya. Semoga Allah meridhai rumah tangga yang dibangun atas azas wata’awanu ‘alal birri wat taqwa, saling menolong dalam perbuatan kebaikan dan ketakwaan. Wallahu a’lam.

sumber: ummi-online.com

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

uangBelakangan ini, makin menarik perbincangan seputar ekonomi Islam. Salah
satu pemicu utama, keberhasilan perbankan syariah menunjukkan ketegarannya
saat dihantam krisis ekonomi tahun 1997. Bahkan, prestasi ini membuat
persepsi yang agak salah kaprah, bahwa ekonomi Islam identik dengan bank
Islam.
Kita patut bersyukur dengan makin berkembangnya kajian tentang ekonomi
Islam, saat kita membutuhkan banyak terobosan untuk mengajarkan Islam
kepada masyarakat. Setidaknya, dengan ini dakwah tentang bagaimana Islam
mengatur ekonomi menjadi lebih mudah. Meski tentu saja tidak boleh
berhenti di situ, tapi dilanjutkan dengan mengenalkan tema-tema keislaman
yang lain.

Pengertian Ekonomi Islam
Islam adalah agama dan ideologi, mengatur seluruh hajat hidup manusia.
Sebagaimana Allah adalah Pencipta manusia, memenuhi seluruh hajat hidup
mereka. Sementara Rasulullah Shollaallahu Alaihi wa Sallam adalah manusia
yang dipilih untuk menjelaskan teori pengaturan itu dan memberikan contoh
nyata bagaimana mekanisme pelaksanaannya. Para khalifah dan ulama
sesudahnya memperkaya sistem mengikuti realitas yang terus berkembang.
Ekonomi Islam dibangun di atas landasan tersebut. Oleh karenanya tak
mungkin merumuskan sistem ekonomi Islam tanpa meletakkannya dalam kerangka
besar yang bernama dienul Islam dengan segenap elemennya. Jika ekonomi
Islam dicerabut dari kerangka yang membingkainya, ia menjadi makhluq asing
dan akan menjadi kuda tunggangan untuk mencari dunia belaka. Masih
membenci riba, mengingat halal haram dan sebagainya, tapi tak ambil peduli
dengan kemiskinan di lingkungannya, mencegah harta menumpuk di tangan
orang-orang kaya, amar makruf nahi munkar, jihad fi sabilillah dan
iqomatuddin.
Secara sederhana, ekonomi Islam adalah konsep tentang tata cara
mendapatkan harta/kekayaan dan membelanjakannya menurut hukum dan adab
yang terkandung dalam syariat Islam . Pengertian ini bisa dibawa pada
kasus individu maupun negara. Hal yang harus diingat, salah satu asas
pertimbangan dalam ekonomi Islam adalah aspek adab atau etika. Boleh jadi
secara hukum dibenarkan, tapi secara adab tidak. Berbeda dengan sistem non
Islam yang hanya bersandar pada konstitusi yang berlaku dan kepuasan
pemilik harta.
Ekonomi Islam bukan soal harta benda dan manfaatnya semata. Tapi soal
bagaimana maqashid syariah dapat diraih dengan hal-hal yang bersifat
kebendaan dan kekayaan itu. Oleh karenanya, Islam tidak memberi bobot
nilai kekayaan terhadap barang-barang yang tampak berharga tapi haram
seperti khamer dan babi, padahal dari sisi ekonomi bisa menguntungkan.
Demikian pula mengabaikan beberapa bentuk transaksi seperti saat ibadah
jumat, riba dan perjudian karena dapat merusak keimanan manusia, meski
bisa melahirkan keuntungan secara materi.

 

Filosofi Ekonomi Islam
Filosofi yang melandasi ekonomi Islam adalah aqidah dan akhlaq. Ia menjadi
landasan utama dalam melakukan aktifitas ekonomi, sebagaimana dalam
menjalankan ajaran Islam lain. Tak mungkin idealisme ekonomi bisa terwujud
tanpa landasan aqidah yang kokoh. Sejarah juga memperlihatkan bahwa
pengaturan ekonomi Islam turun belakangan setelah aspek aqidah, ibadah dan
politik tertata lebih kokoh.
1. Aqidah (keyakinan) yang melandasi aktifitas ekonomi adalah keyakinan
bahwa semua materi yang Allah berikan di dunia, hanya berupa pinjaman
untuk dipelihara dan dimanfaatkan dengan dasar amanat. Oleh karenanya,
kelak akan ditanyakan semuanya At-Takatsur/ 102:8] Sehingga hubungan
manusia dengan alam adalah hubungan kecintaan dan harmoni, bukan eksploitasi tanpa kendali.

2. Keyakinan bahwa Allah membagi rizki kepada manusia sesuai taqdirnya
masing-masing, maka tidak sama. Manusia tidak boleh iri kepada yang lain
soal besarnya rizki, tapi boleh bersaing dalam mencurahkan tenaga dan
kreatifitas dalam usaha. [An-Nahl/16: 71].
3. Keyakinan bahwa Allah mencukupi kebutuhan semua ciptaan-Nya, maka jika
ada yang kelaparan pasti penyebabnya bukan tidak adanya bahan makanan,
tapi ada orang yang memakan jatah temannya.[Al-Hijr/15: 21].
4. Akhlaq juga menjadi elemen yang sangat penting dalam aktifitas ekonomi
Islam, diantaranya larangan menimbun padahal komoditas yang ditimbun
miliknya sah dan halal. Rasulullah Shollaallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
( Siapa yang memainkan harga di tengah umat
Islam agar menjadi mahal, Allah berhak memberinya kursi api dari tulang di
akhirat kelak. HR. Ahmad.)

 

Tujuan Ekonomi Islam
Ekonomi Islam sebagai salah satu bagian dari syariat, memiliki tujuan
sebagaimana tujuan syaruat yang lain, yaitu:
1. Memelihara Dinul Islam
2. Memelihara Jiwa.
3. Memelihara Akal.
4. Memelihara Keturunan.
5. Memelihara Harta.
Kelima tujuan ini menjadi muara semua elemen syariat. Dalam hal memelihara
dinul Islam, ekonomi memegang peran penting. Bahkan, ada harta yang
diberikan kepada muallaf oleh Rasulullah Shollaallahu Alaihi wa Sallam
agar agamanya kuat dan tidak mengganggu Islam.
Dalam hal memelihara jiwa, harta penting. Bahkan harta yang haram
sekalipun bisa didispensasi untuk dimanfaatkan dalam rangka memelihara
jiwa.
Dalam hal akal, harta juga penting. Pendidikan merupakan salah satu cara
memelihara akal seorang muslim agar tetap dalam garis fitrahnya.
Dalam hal keturunan, menikah membutuhkan mahar, dan mahar harus bisa
diukur secara materi, kecuali dalam kondisi darurat.
Adapun dalam hal memelihara harta, sistem ekonomi Islam bahkan sangat
menghargainya. Larangan riba, mencuri dan menipu merupakan bagian dari
perhatian Islam terhadap pemeliharaan harta seorang muslim.
Maka ekonomi Islam harus bisa memberi peran untuk terpenuhinya lima tujuan
syariah di atas. Jika ekonomi Islam hanya berkutat sebagai alat mencari
kekayaan duniawi dengan melupakan tujuan syariat yang lain, ia telah
keluar dari relnya.
Harus diingat, tercapainya kelima tujuan di atas harus dibingkai dengan
paradigma keumatan, bukan kebangsaan. Ekonomi Islam akan kehilangan
relevansinya jika dibingkai dengan paradigma kebangsaan.

 

Ekonomi Islam Ideal
Segala sesuatu harus ada ukuran idealnya, atau indikator keberhasilan.
Pertanyaan menarik; apa indikator ideal perjuangan menegakkan sistem
ekonomi Islam?
Sistem ekonomi Islam hanya ideal jika lahir dari rahim daulah Islam dan
diasuh olehnya. Sistem ini pada masa lalu disebut dengan Baitul Mal.
Intinya tentang mekanisme pengelolaan keluar dan masuknya harta dengan
menggunakan paradigma keumatan. Masuk bisa berasal dari umat Islam atau
dari non Islam, dan distribusinya dilakukan dengan mekanisme yang diatur
syariat demi kemaslahatan umat Islam.
Bank Islam (sebutan yang lebih populer di dunia Internasional untuk Bank
Syariah di Indonesia) hanya salah satu elemen dari lembaga usaha
berdasarkan Islam. Bank Islam sejauh ini belum bisa mewakili konsep Baitul
Mal dalam peran dan fungsinya, sebab Bank Islam masih dimiliki swasta dan
mengemban misi mencari keuntungan bagi pemilik modal. Umat Islam yang
bertransaksi dengan Bank Islam, hampir sama dengan pembeli yang
bertransaksi dengan warung sembako. Bedanya, yang satu membawa nama Bank,
yang lain membawa nama warung. Bedanya lagi, jenis jasa yang diberikan
Bank lebih banyak dari jasa yang bisa diberikan warung sembako.
Bandingkan misalnya dalam hal transaksi murabahah. Pedagang di pasar
melakukannya. Transaksi mudharabah, bahkan menjadi tradisi kampung.
Transaksi musyarakah, beberapa orang juga bisa melakukannya. Toh intinya,
tak melanggar syariah dan sama-sama diuntungkan. Sehingga kehadiran bank
Islam di tengah komunitas muslim saat ini baru sebatas memberi alternatif
syariat untuk muamalah dengan perbankan, karena bagaimanapun bank Islam
adalah lembaga usaha seperti halnya lembaga usaha lain yang menghajatkan
profit.
Tapi bukan berarti kita hendak mengecilkan arti keberadaan Bank Islam.
Kemunculannya dan perkembangannya menjadi fenomena hingga kini, dan diakui
atau tidak, menjadi ancaman nyata bagi perbankan riba yang dikuasai Yahudi
dunia. Bahkan kritik dari beberapa kalangan terhadap praktek Bank Islam
tidak boleh membuat kita antipati terhadapnya. Wajar belaka, ia lahir
bukan dari rahim Daulah Islam dan tidak diasuh olehnya. Ia ibarat Musa as,
yang dibesarkan oleh sistem yang menjadi musuhnya sendiri. Maka jika ada
kekurangan dan kekeliruan sana sini, kita hanya boleh memberikan kritik
yang membangun dengan semangat husnu dhan kepada sesama muslim, bukan
kritik menjatuhkan. Tidak layak kita menjadi orang yang mengaku benar
hanya karena merasa bisa menemukan kekeliruan orang lain.
Sistem ekonomi Islam, atau Baitul Mal, memiliki peran yang sangat luas. Ia
laksana lumbung harta bagi umat Islam. Siapa yang mampu, berkewajiban
mengisi lumbung tersebut, dengan mekanisme yang telah diatur syariat dan
dijabarkan oleh para ulama. Sebaliknya yang butuh, dibantu dengan semangat
pemberdayaan dan pembelaan, bukan kezaliman. Baitul Mal agar memainkan
fungsi itu, harus menjadi lembaga milik pemerintah (Islam), bukan lembaga
individu atau swasta atau golongan tertentu yang masih dikendalikan oleh
kepentingan- kepentingan non keumatan.
Oleh karenanya, ekonomi Islam bukan hanya soal jual beli, murabahah,
mudharabah, musyarakah, salam, istishna, rahn, ijarah dan sebagainya yang
menjadi produk-produk Bank Islam, tapi juga mengelola zakat, wakaf,
shadaqah, kafarat, ghanimah, fai, kharaj, usyur, dharibah, infaq fi
sabilillah dan sebagainya dalam satu atap dengan bingkai keumatan. Juga
bagaimana mengatur pasar, timbangan, takaran, dan harga pada kasus
tertentu.
Pertanyaan yang layak direnungkan dengan seksama: bisakah sistem ekonomi
Islam dengan fungsi dan karakter demikian dimunculkan di tengah hegemoni
sistem politik yang bukan Islam? Mengingat mayoritas penduduk negeri ini
muslim?
Untuk muncul dalam sosok yang sempurna, dengan segera bisa kita jawab;
tidak. Sebab tak mungkin umat Islam mengelola pemasukan dari ghanimah,
fai dan usyur. Tapi masih bayak elemen lain yang masih bisa, misalnya
zakat, wakaf, sedekah, kafarat dan lain-lain. Pengguliran dana yang
terhimpun juga bisa beragam, sesuai dengan peruntukan masing-masing. Bila
dari sumber zakat, disalurkan dengan mekanisme yang diatur dalam zakat.
Bila wakaf, bisa disalurkan dengan mekanisme wakaf. Bila harta titipan
(tabungan) individu, bisa menggunakan berbagai variasi seperti dalam bank
Islam.
Seiring gema otonomi daerah, rasanya masih mungkin melahirkan embrio
ekonomi Islam di tengah komunitas muslim, tentu dengan dukungan pemerintah
daerah masing-masing, dan dengan ukuran sebesar daerah masing-masing.

 

Elemen Pendukung Ekonomi Islam
Istilah ekonomi Islam jangan langsung dihubungkan dengan uang. Ada
elemen-elemen pendukung yang menjadi bagian tak terpisahkan darinya.
Beberapa diantaranya:
1. Pengelolaan zakat.
Zakat hendaknya dikelola terpusat, bukan tiap orang menyerahkan sendiri
kepada orang yang dinilainya mustahiq. Pada zaman khilafah, dikelola oleh
Baitul Mal yang terpusat. Jika belum mungkin, bisa dikelola LSM atau
pemerintah daerah, agar asas pemerataan lebih terjamin.
Hikmah zakat dikelola oleh Baitul Mal, agar mustahiq tidak merasa
tangannya di bawah sebab yang memberi adalah negara sebagai bagian dari
tanggung-jawabnya terhadap rakyat. Berbeda jika zakat diberikan langsung
oleh muzakki kepada mustahiq, ia akan memiliki beban psikologis sebagai
tangan di bawah.
2. Pengelolaan wakaf
Wakaf adalah suatu harta yang dihilangkan status kepemilikannya dari
manusia menjadi milik Allah. Selain wakaf berupa tanah dan bangunan, kini
mulai dipopulerkan istilah wakaf tunai atau wakaf berupa uang untuk
digulirkan bagi kemaslahatan umat.
3. Pengelolaan harta non zakat dan wakaf
Harta non zakat dan wakaf banyak bentuknya seperti warisan yang tidak ada
ahli warisnya, sedekah, kifarat, infaq fi sabilillah, pinjaman murni dan
lain-lain.
4. Pengawasan pasar dan perdagangan.
Pasar merupakan pusat perputaran kekayaan, meski bentuk fisiknya
berkembang terus mengikuti perkembangan zaman. Pasar tempat orang
bertransaksi, dengan beragam bentuk. Sudah seharusnya bagi seorang muslim
memahami hukum yang berkaitan dengan perniagaan sebelum ia memulainya.
Selain itu, harus ada kontrol terus menerus terhadap aktivitas
perdagangan, misalnya kontrol terhadap takaran dan timbangan untuk
memastikan tak ada pihak yang dizalimi.
Salah satu yang perlu diperjuangkan adalah kembalinya emas dan perak
sebagai alat ukur nilai nominal suatu benda. Saat ini ukuran nominal suatu
benda sangat fluktuatif, karena alat ukurnya adalah rupiah yang bergerak
terus naik turun mengikuti situasi politik. Ketika seseorang meminjamkan
uang rupiah pada pada tahun 1996 sebelum krismon senilai 1 juta, lalu
tahun 2000 pasca krismon menerima pelunasan utangnya senilai 1 juta
juga, si pemberi pinjaman dalam posisi terzalimi karena 1 juta pada 2000
hanya seperlima nilai 1 juta pada 1996. Berbeda jika ia meminjamkan dalam
ukuran emas.
5. Pendidikan fiqh muamalat bagi umat
Cita-cita menegakkan sistem ekonomi Islam tak bisa dilepaskan dari
pendidikan masyarakat terhadap hukum-hukum fiqh seputar muamalat. Bahkan,
sebelum seseorang berdagang di pasar, ia harus memiliki sertifikat
kelulusan tes fiqh muamalat.
6. Memberantas semua praktek riba, gharar, maisir.
Memberantas riba diawali dengan penyadaran, lalu tawaran solusi, dan jika
tidak mempan, paksaan dengan kekuatan. Dominasi riba di negeri ini telah
merasuk hingga tingkat RT. Buktinya, kas RT jika dipinjamkan kepada
anggota, harus dikembalikan dengan bunga.
7. Menegakkan sistem peradilan Islam
Salah satu yang diperlukan dalam pelaksanaan sistem ekonomi Islam adalah
sistem peradilan Islam. Kasus-kasus dalam muamalat bisa diselesaikan
melalui peradilan ini, karena ia yang memahami karakter dan logikanya.
Adapun peradilan non syariat, logika yang mendasarinya tidak mendukung
konsep ekonomi Islam.

 

Melawan Riba
Melawan riba sudah pasti, karena larangannya muhkam dan menjadi ijma ulama
tak ada keraguan di dalamnya. Kalaupun ada masalah, bukan pada pengakuan
haramnya riba, tapi pada perbedaan pandangan apakah sesuatu itu riba atau
bukan. Satu pihak menyimpulkan hal itu riba, pihak lain mengatakan tidak.
Tapi sekiranya sesuatu itu disepakati sebagai riba, semuanya sepakat
haram.
Persoalannya, bisakah mengalahkannya? Mengingat riba hari ini dalam puncak
kedigdayaannya. Bukan lagi terjadi antar individu, tapi oleh negara bahkan
antar negara. Puncak hegemoni itu tentu dengan naiknya dolar sebagai
penguasa tunggal ekonomi dunia. Semua nilai harus tunduk pada dolar.
Hutang piutang harus diukur dengan dolar. Apapun komoditi harus dinilai
dengan dolar, bahkan emas dan perak sekalipun yang secara sejarah dan
sunnatullah sebagai alat ukur nilai nominal suatu benda.
Untuk kita, mengalahkan riba adalah karunia, tapi pekerjaan yang tidak
boleh berhenti adalah melawannya kapanpun dan di manapun. Allah telah
membekali kita dengan senjata mudharabah dan bentuk-bentuk lain yang
dijabarkan dalam fiqh, sebagaimana dalam politik Allah membekali kita
dengan konsep jihad fi sabilillah.
Setidaknya, kita bisa merumuskan beberapa strategi melawan riba, untuk
sekedar contoh bukan membatasi:
1. Diri kita sendiri harus mengerti apa itu riba, dan bertekad
meninggalkannya.
2. Keluarga kita harus dipastikan terhindar darinya.
3. Lingkungan RT, jika masih menggunakan mekanisme riba, kita harus ikut
mengingatkannya.
4. Mendidik masyarakat tentang hakekat riba, dan berupaya memberi solusi,
misalnya dengan mendirikan koperasi syariah atau BMT.
5. Menghindari urusan dengan bank yang beroperasi dengan sistem riba.
6. Mendukung penggunaan emas sebagai alat ukur nilai nominal dalam
utang-piutang.

 

Melawan Kemiskinan
Kemiskinan adalah keniscayaan kehidupan. Penyebabnya, bisa kultural, bisa
pula struktural. Tapi yang pasti, Allah telah memberi potensi rizki kepada
semua makhluq ciptaan-Nya, jika terbagi rata pasti tidak ada kemiskinan.
Dengan demikian, yang salah bukan Pencipta, tapi manusia karena ada yang
rakus saat ia menguasai pundi-pundi kekayaan.
Untuk yang bersifat struktural, konsep Baitul Mal bisa menjadi unsur
penting solusi. Tentu jalur politik tidak kalah penting, karena
kebijakan-kebijakan yang terkait ekonomi tunduk pada kalkulasi politik.
Sementara yang bersifat kultural, pendidikan dan pengajaran kuncinya. Nabi
Shollaallahu Alaihi wa Sallam pernah memberi seutas tali kepada seseorang
yang sebelumnya meminta-minta, dan diperintahkannya untuk mencari kayu.
Belakangan orang ini memiliki kepercayaan diri yang baik bahwa jika
berusaha ternyata ia juga bisa sebagaimana yang lain. Mental dan
kepercayaan diri menjadi unsur terpenting problema kultural.
Namun harus diingat, kebangkitan Islam bukan bertumpu pada kekayaan. Umat
Islam pada masa Nabi dan Khulafaur Rasyidin mampu mendirikan negara
berdaulat dan menaklukkan Romawi dan Parsi bukan karena terlebih dahulu
kaya lalu bisa menang. Tapi yang terjadi, kekayaan mengikuti kemanapun
pedang berjalan. Justru karena bermula dari kemiskinan dan kerasnya
kehidupan, jiwa mereka terasah laksana batu karang yang kokoh.
Tapi yang lebih tepat, kita berupaya mengurangi porsi kekayaan orang-orang
kafir dan orang-orang yang benci Islam seminimal mungkin sebab jika mereka
menguasai ekonomi mereka akan menggunakannya untuk mengganggu Islam dan
umat Islam. Simak firman Allah berikut: ( Sesungguhnya orang-orang kafir membelanjakan
hartanya untuk menghalangi jalan Allah, maka mereka akan membelanjakannya
(lagi), kemudian akan menjadi kerugian bagi mereka, kemudian akan
dikalahkan. Dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan di neraka Jahannam.
[Al-Anfal/8: 36])
Berkurangnya porsi penguasaan orang-orang kafir terhadap pundi-pundi
harta, tidak harus bermakna kekayaan itu dinikmati umat Islam. Sebab
sejarah juga mengajarkan kepada kita, godaan kekayaan dunia tidak lebih
mudah diredam dibanding malapetaka kemiskinan. Kekayaan hanya baik di
tangan pemerintah yang baik, masyarakat yang baik, pejabat yang baik,
keluarga yang baik, bahkan individu yang baik. Tentu baik di sini adalah
baik menurut Islam.
Allah mentaqdirkan Indonesia sulit beranjak dari kemiskinan barangkali
tersirat pesan hikmah di baliknya: menjadi peluang mendidik kader-kader
tangguh sebagaimana kemiskinan yang melilit jazirah Arab pada zaman Nabi.
Ingatlah orang bijak berpesan: peluang terbaikmu adalah saat ini, bukan
nanti. Tak ada rumusnya menunggu kaya baru berbuat.

Khatimah
Tak ada pencapaian besar tanpa berawal dari yang kecil. Menegakkan sistem
ekonomi Islam baru pada ayunan langkah pertama, masih jauh dari target
yang diharapkan. Melawan riba dan kemiskinan juga demikian.
Meruntuhkan bangunan riba, bukan semata terkait dengan aspek ekonomi.
Sebab sistem ekonomi riba menjadi satu paket dengan sistem politik
demokrasi dan kapitalisme. Keduanya menjadi urat nadi; riba menjadi urat
sistem ekonominya dan demokrasi menjadi urat politiknya. Melawan riba
dengan demikian bisa juga dilakukan dengan pendekatan futuhat islamiyah,
meski mata telanjang tak melihat adanya hubungan. Artinya, bagi yang
berjuang melalui jalur futuhat islamiyah, jangan dianggap ia tak ikut
menjadi pejuang ekonomi Islam.
Oleh karenanya, hendaknya masing-masing jalur saling menyamakan visi
dengan pola link and match (berjalin dan beriringan). Tidak produktif jika
saling sikut, toh idealisme yang dituju sama.
Tulisan ini kalaupun membawa manfaat semoga itupun sebatas penyadaran
secara wacana. Harus dilanjutkan dengan gagasan-gagasan riil yang langsung
menyentuh akar masalah. Allah memberi kita anugerah akal mengandung pesan
yang jelas: apapun problema yang dihadapi manusia, akan selalu ditemukan
jalan keluarnya.
Umat Islam tidak selayaknya selalu mengkambing- hitamkan sistem politik
yang menyebabkan mereka miskin. Bila sistem bisa dirubah agar lebih
berpihak kepada umat Islam, alhamdulillah. Jikapun tidak, kita tak boleh
berpangku tangan dan meratapi kemiskinan. Banyak orang yang mampu mentas
dengan izin Allah dari kemiskinan saat krisis ekonomi berkecamuk dan tak
adanya kebijakan politik yang pro wong cilik. Sekali lagi, inilah peluang
untuk mengasah ketangguhan dan kecerdikan.
Terakhir, mari kita aktualkan ArRum/30: 39 Dengan teriring harapan, semoga upaya
kita menegakkan sistem ekonomi Islam mendapat ridha dan pertolongan dari
Allah. Amien ya Mujibas Sailin.
Wallahu alam bis shawab.

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

uangBelakangan ini, makin menarik perbincangan seputar ekonomi Islam. Salah
satu pemicu utama, keberhasilan perbankan syariah menunjukkan ketegarannya
saat dihantam krisis ekonomi tahun 1997. Bahkan, prestasi ini membuat
persepsi yang agak salah kaprah, bahwa ekonomi Islam identik dengan bank
Islam.
Kita patut bersyukur dengan makin berkembangnya kajian tentang ekonomi
Islam, saat kita membutuhkan banyak terobosan untuk mengajarkan Islam
kepada masyarakat. Setidaknya, dengan ini dakwah tentang bagaimana Islam
mengatur ekonomi menjadi lebih mudah. Meski tentu saja tidak boleh
berhenti di situ, tapi dilanjutkan dengan mengenalkan tema-tema keislaman
yang lain.

Pengertian Ekonomi Islam
Islam adalah agama dan ideologi, mengatur seluruh hajat hidup manusia.
Sebagaimana Allah adalah Pencipta manusia, memenuhi seluruh hajat hidup
mereka. Sementara Rasulullah Shollaallahu Alaihi wa Sallam adalah manusia
yang dipilih untuk menjelaskan teori pengaturan itu dan memberikan contoh
nyata bagaimana mekanisme pelaksanaannya. Para khalifah dan ulama
sesudahnya memperkaya sistem mengikuti realitas yang terus berkembang.
Ekonomi Islam dibangun di atas landasan tersebut. Oleh karenanya tak
mungkin merumuskan sistem ekonomi Islam tanpa meletakkannya dalam kerangka
besar yang bernama dienul Islam dengan segenap elemennya. Jika ekonomi
Islam dicerabut dari kerangka yang membingkainya, ia menjadi makhluq asing
dan akan menjadi kuda tunggangan untuk mencari dunia belaka. Masih
membenci riba, mengingat halal haram dan sebagainya, tapi tak ambil peduli
dengan kemiskinan di lingkungannya, mencegah harta menumpuk di tangan
orang-orang kaya, amar makruf nahi munkar, jihad fi sabilillah dan
iqomatuddin.
Secara sederhana, ekonomi Islam adalah konsep tentang tata cara
mendapatkan harta/kekayaan dan membelanjakannya menurut hukum dan adab
yang terkandung dalam syariat Islam . Pengertian ini bisa dibawa pada
kasus individu maupun negara. Hal yang harus diingat, salah satu asas
pertimbangan dalam ekonomi Islam adalah aspek adab atau etika. Boleh jadi
secara hukum dibenarkan, tapi secara adab tidak. Berbeda dengan sistem non
Islam yang hanya bersandar pada konstitusi yang berlaku dan kepuasan
pemilik harta.
Ekonomi Islam bukan soal harta benda dan manfaatnya semata. Tapi soal
bagaimana maqashid syariah dapat diraih dengan hal-hal yang bersifat
kebendaan dan kekayaan itu. Oleh karenanya, Islam tidak memberi bobot
nilai kekayaan terhadap barang-barang yang tampak berharga tapi haram
seperti khamer dan babi, padahal dari sisi ekonomi bisa menguntungkan.
Demikian pula mengabaikan beberapa bentuk transaksi seperti saat ibadah
jumat, riba dan perjudian karena dapat merusak keimanan manusia, meski
bisa melahirkan keuntungan secara materi.

 

Filosofi Ekonomi Islam
Filosofi yang melandasi ekonomi Islam adalah aqidah dan akhlaq. Ia menjadi
landasan utama dalam melakukan aktifitas ekonomi, sebagaimana dalam
menjalankan ajaran Islam lain. Tak mungkin idealisme ekonomi bisa terwujud
tanpa landasan aqidah yang kokoh. Sejarah juga memperlihatkan bahwa
pengaturan ekonomi Islam turun belakangan setelah aspek aqidah, ibadah dan
politik tertata lebih kokoh.
1. Aqidah (keyakinan) yang melandasi aktifitas ekonomi adalah keyakinan
bahwa semua materi yang Allah berikan di dunia, hanya berupa pinjaman
untuk dipelihara dan dimanfaatkan dengan dasar amanat. Oleh karenanya,
kelak akan ditanyakan semuanya At-Takatsur/ 102:8] Sehingga hubungan
manusia dengan alam adalah hubungan kecintaan dan harmoni, bukan eksploitasi tanpa kendali.

2. Keyakinan bahwa Allah membagi rizki kepada manusia sesuai taqdirnya
masing-masing, maka tidak sama. Manusia tidak boleh iri kepada yang lain
soal besarnya rizki, tapi boleh bersaing dalam mencurahkan tenaga dan
kreatifitas dalam usaha. [An-Nahl/16: 71].
3. Keyakinan bahwa Allah mencukupi kebutuhan semua ciptaan-Nya, maka jika
ada yang kelaparan pasti penyebabnya bukan tidak adanya bahan makanan,
tapi ada orang yang memakan jatah temannya.[Al-Hijr/15: 21].
4. Akhlaq juga menjadi elemen yang sangat penting dalam aktifitas ekonomi
Islam, diantaranya larangan menimbun padahal komoditas yang ditimbun
miliknya sah dan halal. Rasulullah Shollaallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
( Siapa yang memainkan harga di tengah umat
Islam agar menjadi mahal, Allah berhak memberinya kursi api dari tulang di
akhirat kelak. HR. Ahmad.)

 

Tujuan Ekonomi Islam
Ekonomi Islam sebagai salah satu bagian dari syariat, memiliki tujuan
sebagaimana tujuan syaruat yang lain, yaitu:
1. Memelihara Dinul Islam
2. Memelihara Jiwa.
3. Memelihara Akal.
4. Memelihara Keturunan.
5. Memelihara Harta.
Kelima tujuan ini menjadi muara semua elemen syariat. Dalam hal memelihara
dinul Islam, ekonomi memegang peran penting. Bahkan, ada harta yang
diberikan kepada muallaf oleh Rasulullah Shollaallahu Alaihi wa Sallam
agar agamanya kuat dan tidak mengganggu Islam.
Dalam hal memelihara jiwa, harta penting. Bahkan harta yang haram
sekalipun bisa didispensasi untuk dimanfaatkan dalam rangka memelihara
jiwa.
Dalam hal akal, harta juga penting. Pendidikan merupakan salah satu cara
memelihara akal seorang muslim agar tetap dalam garis fitrahnya.
Dalam hal keturunan, menikah membutuhkan mahar, dan mahar harus bisa
diukur secara materi, kecuali dalam kondisi darurat.
Adapun dalam hal memelihara harta, sistem ekonomi Islam bahkan sangat
menghargainya. Larangan riba, mencuri dan menipu merupakan bagian dari
perhatian Islam terhadap pemeliharaan harta seorang muslim.
Maka ekonomi Islam harus bisa memberi peran untuk terpenuhinya lima tujuan
syariah di atas. Jika ekonomi Islam hanya berkutat sebagai alat mencari
kekayaan duniawi dengan melupakan tujuan syariat yang lain, ia telah
keluar dari relnya.
Harus diingat, tercapainya kelima tujuan di atas harus dibingkai dengan
paradigma keumatan, bukan kebangsaan. Ekonomi Islam akan kehilangan
relevansinya jika dibingkai dengan paradigma kebangsaan.

 

Ekonomi Islam Ideal
Segala sesuatu harus ada ukuran idealnya, atau indikator keberhasilan.
Pertanyaan menarik; apa indikator ideal perjuangan menegakkan sistem
ekonomi Islam?
Sistem ekonomi Islam hanya ideal jika lahir dari rahim daulah Islam dan
diasuh olehnya. Sistem ini pada masa lalu disebut dengan Baitul Mal.
Intinya tentang mekanisme pengelolaan keluar dan masuknya harta dengan
menggunakan paradigma keumatan. Masuk bisa berasal dari umat Islam atau
dari non Islam, dan distribusinya dilakukan dengan mekanisme yang diatur
syariat demi kemaslahatan umat Islam.
Bank Islam (sebutan yang lebih populer di dunia Internasional untuk Bank
Syariah di Indonesia) hanya salah satu elemen dari lembaga usaha
berdasarkan Islam. Bank Islam sejauh ini belum bisa mewakili konsep Baitul
Mal dalam peran dan fungsinya, sebab Bank Islam masih dimiliki swasta dan
mengemban misi mencari keuntungan bagi pemilik modal. Umat Islam yang
bertransaksi dengan Bank Islam, hampir sama dengan pembeli yang
bertransaksi dengan warung sembako. Bedanya, yang satu membawa nama Bank,
yang lain membawa nama warung. Bedanya lagi, jenis jasa yang diberikan
Bank lebih banyak dari jasa yang bisa diberikan warung sembako.
Bandingkan misalnya dalam hal transaksi murabahah. Pedagang di pasar
melakukannya. Transaksi mudharabah, bahkan menjadi tradisi kampung.
Transaksi musyarakah, beberapa orang juga bisa melakukannya. Toh intinya,
tak melanggar syariah dan sama-sama diuntungkan. Sehingga kehadiran bank
Islam di tengah komunitas muslim saat ini baru sebatas memberi alternatif
syariat untuk muamalah dengan perbankan, karena bagaimanapun bank Islam
adalah lembaga usaha seperti halnya lembaga usaha lain yang menghajatkan
profit.
Tapi bukan berarti kita hendak mengecilkan arti keberadaan Bank Islam.
Kemunculannya dan perkembangannya menjadi fenomena hingga kini, dan diakui
atau tidak, menjadi ancaman nyata bagi perbankan riba yang dikuasai Yahudi
dunia. Bahkan kritik dari beberapa kalangan terhadap praktek Bank Islam
tidak boleh membuat kita antipati terhadapnya. Wajar belaka, ia lahir
bukan dari rahim Daulah Islam dan tidak diasuh olehnya. Ia ibarat Musa as,
yang dibesarkan oleh sistem yang menjadi musuhnya sendiri. Maka jika ada
kekurangan dan kekeliruan sana sini, kita hanya boleh memberikan kritik
yang membangun dengan semangat husnu dhan kepada sesama muslim, bukan
kritik menjatuhkan. Tidak layak kita menjadi orang yang mengaku benar
hanya karena merasa bisa menemukan kekeliruan orang lain.
Sistem ekonomi Islam, atau Baitul Mal, memiliki peran yang sangat luas. Ia
laksana lumbung harta bagi umat Islam. Siapa yang mampu, berkewajiban
mengisi lumbung tersebut, dengan mekanisme yang telah diatur syariat dan
dijabarkan oleh para ulama. Sebaliknya yang butuh, dibantu dengan semangat
pemberdayaan dan pembelaan, bukan kezaliman. Baitul Mal agar memainkan
fungsi itu, harus menjadi lembaga milik pemerintah (Islam), bukan lembaga
individu atau swasta atau golongan tertentu yang masih dikendalikan oleh
kepentingan- kepentingan non keumatan.
Oleh karenanya, ekonomi Islam bukan hanya soal jual beli, murabahah,
mudharabah, musyarakah, salam, istishna, rahn, ijarah dan sebagainya yang
menjadi produk-produk Bank Islam, tapi juga mengelola zakat, wakaf,
shadaqah, kafarat, ghanimah, fai, kharaj, usyur, dharibah, infaq fi
sabilillah dan sebagainya dalam satu atap dengan bingkai keumatan. Juga
bagaimana mengatur pasar, timbangan, takaran, dan harga pada kasus
tertentu.
Pertanyaan yang layak direnungkan dengan seksama: bisakah sistem ekonomi
Islam dengan fungsi dan karakter demikian dimunculkan di tengah hegemoni
sistem politik yang bukan Islam? Mengingat mayoritas penduduk negeri ini
muslim?
Untuk muncul dalam sosok yang sempurna, dengan segera bisa kita jawab;
tidak. Sebab tak mungkin umat Islam mengelola pemasukan dari ghanimah,
fai dan usyur. Tapi masih bayak elemen lain yang masih bisa, misalnya
zakat, wakaf, sedekah, kafarat dan lain-lain. Pengguliran dana yang
terhimpun juga bisa beragam, sesuai dengan peruntukan masing-masing. Bila
dari sumber zakat, disalurkan dengan mekanisme yang diatur dalam zakat.
Bila wakaf, bisa disalurkan dengan mekanisme wakaf. Bila harta titipan
(tabungan) individu, bisa menggunakan berbagai variasi seperti dalam bank
Islam.
Seiring gema otonomi daerah, rasanya masih mungkin melahirkan embrio
ekonomi Islam di tengah komunitas muslim, tentu dengan dukungan pemerintah
daerah masing-masing, dan dengan ukuran sebesar daerah masing-masing.

 

Elemen Pendukung Ekonomi Islam
Istilah ekonomi Islam jangan langsung dihubungkan dengan uang. Ada
elemen-elemen pendukung yang menjadi bagian tak terpisahkan darinya.
Beberapa diantaranya:
1. Pengelolaan zakat.
Zakat hendaknya dikelola terpusat, bukan tiap orang menyerahkan sendiri
kepada orang yang dinilainya mustahiq. Pada zaman khilafah, dikelola oleh
Baitul Mal yang terpusat. Jika belum mungkin, bisa dikelola LSM atau
pemerintah daerah, agar asas pemerataan lebih terjamin.
Hikmah zakat dikelola oleh Baitul Mal, agar mustahiq tidak merasa
tangannya di bawah sebab yang memberi adalah negara sebagai bagian dari
tanggung-jawabnya terhadap rakyat. Berbeda jika zakat diberikan langsung
oleh muzakki kepada mustahiq, ia akan memiliki beban psikologis sebagai
tangan di bawah.
2. Pengelolaan wakaf
Wakaf adalah suatu harta yang dihilangkan status kepemilikannya dari
manusia menjadi milik Allah. Selain wakaf berupa tanah dan bangunan, kini
mulai dipopulerkan istilah wakaf tunai atau wakaf berupa uang untuk
digulirkan bagi kemaslahatan umat.
3. Pengelolaan harta non zakat dan wakaf
Harta non zakat dan wakaf banyak bentuknya seperti warisan yang tidak ada
ahli warisnya, sedekah, kifarat, infaq fi sabilillah, pinjaman murni dan
lain-lain.
4. Pengawasan pasar dan perdagangan.
Pasar merupakan pusat perputaran kekayaan, meski bentuk fisiknya
berkembang terus mengikuti perkembangan zaman. Pasar tempat orang
bertransaksi, dengan beragam bentuk. Sudah seharusnya bagi seorang muslim
memahami hukum yang berkaitan dengan perniagaan sebelum ia memulainya.
Selain itu, harus ada kontrol terus menerus terhadap aktivitas
perdagangan, misalnya kontrol terhadap takaran dan timbangan untuk
memastikan tak ada pihak yang dizalimi.
Salah satu yang perlu diperjuangkan adalah kembalinya emas dan perak
sebagai alat ukur nilai nominal suatu benda. Saat ini ukuran nominal suatu
benda sangat fluktuatif, karena alat ukurnya adalah rupiah yang bergerak
terus naik turun mengikuti situasi politik. Ketika seseorang meminjamkan
uang rupiah pada pada tahun 1996 sebelum krismon senilai 1 juta, lalu
tahun 2000 pasca krismon menerima pelunasan utangnya senilai 1 juta
juga, si pemberi pinjaman dalam posisi terzalimi karena 1 juta pada 2000
hanya seperlima nilai 1 juta pada 1996. Berbeda jika ia meminjamkan dalam
ukuran emas.
5. Pendidikan fiqh muamalat bagi umat
Cita-cita menegakkan sistem ekonomi Islam tak bisa dilepaskan dari
pendidikan masyarakat terhadap hukum-hukum fiqh seputar muamalat. Bahkan,
sebelum seseorang berdagang di pasar, ia harus memiliki sertifikat
kelulusan tes fiqh muamalat.
6. Memberantas semua praktek riba, gharar, maisir.
Memberantas riba diawali dengan penyadaran, lalu tawaran solusi, dan jika
tidak mempan, paksaan dengan kekuatan. Dominasi riba di negeri ini telah
merasuk hingga tingkat RT. Buktinya, kas RT jika dipinjamkan kepada
anggota, harus dikembalikan dengan bunga.
7. Menegakkan sistem peradilan Islam
Salah satu yang diperlukan dalam pelaksanaan sistem ekonomi Islam adalah
sistem peradilan Islam. Kasus-kasus dalam muamalat bisa diselesaikan
melalui peradilan ini, karena ia yang memahami karakter dan logikanya.
Adapun peradilan non syariat, logika yang mendasarinya tidak mendukung
konsep ekonomi Islam.

 

Melawan Riba
Melawan riba sudah pasti, karena larangannya muhkam dan menjadi ijma ulama
tak ada keraguan di dalamnya. Kalaupun ada masalah, bukan pada pengakuan
haramnya riba, tapi pada perbedaan pandangan apakah sesuatu itu riba atau
bukan. Satu pihak menyimpulkan hal itu riba, pihak lain mengatakan tidak.
Tapi sekiranya sesuatu itu disepakati sebagai riba, semuanya sepakat
haram.
Persoalannya, bisakah mengalahkannya? Mengingat riba hari ini dalam puncak
kedigdayaannya. Bukan lagi terjadi antar individu, tapi oleh negara bahkan
antar negara. Puncak hegemoni itu tentu dengan naiknya dolar sebagai
penguasa tunggal ekonomi dunia. Semua nilai harus tunduk pada dolar.
Hutang piutang harus diukur dengan dolar. Apapun komoditi harus dinilai
dengan dolar, bahkan emas dan perak sekalipun yang secara sejarah dan
sunnatullah sebagai alat ukur nilai nominal suatu benda.
Untuk kita, mengalahkan riba adalah karunia, tapi pekerjaan yang tidak
boleh berhenti adalah melawannya kapanpun dan di manapun. Allah telah
membekali kita dengan senjata mudharabah dan bentuk-bentuk lain yang
dijabarkan dalam fiqh, sebagaimana dalam politik Allah membekali kita
dengan konsep jihad fi sabilillah.
Setidaknya, kita bisa merumuskan beberapa strategi melawan riba, untuk
sekedar contoh bukan membatasi:
1. Diri kita sendiri harus mengerti apa itu riba, dan bertekad
meninggalkannya.
2. Keluarga kita harus dipastikan terhindar darinya.
3. Lingkungan RT, jika masih menggunakan mekanisme riba, kita harus ikut
mengingatkannya.
4. Mendidik masyarakat tentang hakekat riba, dan berupaya memberi solusi,
misalnya dengan mendirikan koperasi syariah atau BMT.
5. Menghindari urusan dengan bank yang beroperasi dengan sistem riba.
6. Mendukung penggunaan emas sebagai alat ukur nilai nominal dalam
utang-piutang.

 

Melawan Kemiskinan
Kemiskinan adalah keniscayaan kehidupan. Penyebabnya, bisa kultural, bisa
pula struktural. Tapi yang pasti, Allah telah memberi potensi rizki kepada
semua makhluq ciptaan-Nya, jika terbagi rata pasti tidak ada kemiskinan.
Dengan demikian, yang salah bukan Pencipta, tapi manusia karena ada yang
rakus saat ia menguasai pundi-pundi kekayaan.
Untuk yang bersifat struktural, konsep Baitul Mal bisa menjadi unsur
penting solusi. Tentu jalur politik tidak kalah penting, karena
kebijakan-kebijakan yang terkait ekonomi tunduk pada kalkulasi politik.
Sementara yang bersifat kultural, pendidikan dan pengajaran kuncinya. Nabi
Shollaallahu Alaihi wa Sallam pernah memberi seutas tali kepada seseorang
yang sebelumnya meminta-minta, dan diperintahkannya untuk mencari kayu.
Belakangan orang ini memiliki kepercayaan diri yang baik bahwa jika
berusaha ternyata ia juga bisa sebagaimana yang lain. Mental dan
kepercayaan diri menjadi unsur terpenting problema kultural.
Namun harus diingat, kebangkitan Islam bukan bertumpu pada kekayaan. Umat
Islam pada masa Nabi dan Khulafaur Rasyidin mampu mendirikan negara
berdaulat dan menaklukkan Romawi dan Parsi bukan karena terlebih dahulu
kaya lalu bisa menang. Tapi yang terjadi, kekayaan mengikuti kemanapun
pedang berjalan. Justru karena bermula dari kemiskinan dan kerasnya
kehidupan, jiwa mereka terasah laksana batu karang yang kokoh.
Tapi yang lebih tepat, kita berupaya mengurangi porsi kekayaan orang-orang
kafir dan orang-orang yang benci Islam seminimal mungkin sebab jika mereka
menguasai ekonomi mereka akan menggunakannya untuk mengganggu Islam dan
umat Islam. Simak firman Allah berikut: ( Sesungguhnya orang-orang kafir membelanjakan
hartanya untuk menghalangi jalan Allah, maka mereka akan membelanjakannya
(lagi), kemudian akan menjadi kerugian bagi mereka, kemudian akan
dikalahkan. Dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan di neraka Jahannam.
[Al-Anfal/8: 36])
Berkurangnya porsi penguasaan orang-orang kafir terhadap pundi-pundi
harta, tidak harus bermakna kekayaan itu dinikmati umat Islam. Sebab
sejarah juga mengajarkan kepada kita, godaan kekayaan dunia tidak lebih
mudah diredam dibanding malapetaka kemiskinan. Kekayaan hanya baik di
tangan pemerintah yang baik, masyarakat yang baik, pejabat yang baik,
keluarga yang baik, bahkan individu yang baik. Tentu baik di sini adalah
baik menurut Islam.
Allah mentaqdirkan Indonesia sulit beranjak dari kemiskinan barangkali
tersirat pesan hikmah di baliknya: menjadi peluang mendidik kader-kader
tangguh sebagaimana kemiskinan yang melilit jazirah Arab pada zaman Nabi.
Ingatlah orang bijak berpesan: peluang terbaikmu adalah saat ini, bukan
nanti. Tak ada rumusnya menunggu kaya baru berbuat.

Khatimah
Tak ada pencapaian besar tanpa berawal dari yang kecil. Menegakkan sistem
ekonomi Islam baru pada ayunan langkah pertama, masih jauh dari target
yang diharapkan. Melawan riba dan kemiskinan juga demikian.
Meruntuhkan bangunan riba, bukan semata terkait dengan aspek ekonomi.
Sebab sistem ekonomi riba menjadi satu paket dengan sistem politik
demokrasi dan kapitalisme. Keduanya menjadi urat nadi; riba menjadi urat
sistem ekonominya dan demokrasi menjadi urat politiknya. Melawan riba
dengan demikian bisa juga dilakukan dengan pendekatan futuhat islamiyah,
meski mata telanjang tak melihat adanya hubungan. Artinya, bagi yang
berjuang melalui jalur futuhat islamiyah, jangan dianggap ia tak ikut
menjadi pejuang ekonomi Islam.
Oleh karenanya, hendaknya masing-masing jalur saling menyamakan visi
dengan pola link and match (berjalin dan beriringan). Tidak produktif jika
saling sikut, toh idealisme yang dituju sama.
Tulisan ini kalaupun membawa manfaat semoga itupun sebatas penyadaran
secara wacana. Harus dilanjutkan dengan gagasan-gagasan riil yang langsung
menyentuh akar masalah. Allah memberi kita anugerah akal mengandung pesan
yang jelas: apapun problema yang dihadapi manusia, akan selalu ditemukan
jalan keluarnya.
Umat Islam tidak selayaknya selalu mengkambing- hitamkan sistem politik
yang menyebabkan mereka miskin. Bila sistem bisa dirubah agar lebih
berpihak kepada umat Islam, alhamdulillah. Jikapun tidak, kita tak boleh
berpangku tangan dan meratapi kemiskinan. Banyak orang yang mampu mentas
dengan izin Allah dari kemiskinan saat krisis ekonomi berkecamuk dan tak
adanya kebijakan politik yang pro wong cilik. Sekali lagi, inilah peluang
untuk mengasah ketangguhan dan kecerdikan.
Terakhir, mari kita aktualkan ArRum/30: 39 Dengan teriring harapan, semoga upaya
kita menegakkan sistem ekonomi Islam mendapat ridha dan pertolongan dari
Allah. Amien ya Mujibas Sailin.
Wallahu alam bis shawab.

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

UlilPluralisme, inilah yang menjadi keyakinan pentolan liberal Ulil Abshar Abdalla. Sosok yang kini menjadi fungsionaris Partai berkuasa di negeri ini dan paling getol membela Ahmadiyah ini mempunyai pandangan yang sama sejalan dengan doktrin humanisme yang dijajakan oleh kelompok Freemason. Dalam pidato kebudayaan menyambut Ulang Tahun JIL di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta beberapa tahun lalu, Ulil menyampaikan pidato bertajuk, “Sejumlah Refleksi Tentang Kehidupan Sosial Keagamaan Kita Saat Ini.” Dalam pidato yang dihadiri oleh kelompok lintas agama, bahkan penganut Ahmadiyah, Ulil mengatakan,

”Apakah kita bisa menerapkan apa yang selama ini dianggap sebagai hukum Tuhan seraya mengabaikan konvensi-konvensi internasional yang disepakati oleh bangsa-bangsa, misalnya konvensi tentang kebebasan sipil? Apakah kita tetap bertahan dengan diktum dalam Quran bahwa seorang suami boleh memukul istri (QS.4:34), sementara kita sekarang memiliki hukum yang melarang kekerasan dalam rumah tangga?….Apakah kita masih harus mempertahankan diktum lama bahwa seorang laki-laki tidak diperbolehkan untuk menjabat tangan seorang perempuan non-muhrim hanya karena ada sebuah hadits yang melarang tindakan semacam itu? Kenapa hukum semacam itu harus dipertahankan? Apa ”rationale-nya”? Apakah alasan yang mendasarinya? Apakah alasan itu masih relevan sampai sekarang? Intinya: Apakah hukum-hukum agama yang memperlakukan perempuan secara diskriminatif masih tetap harus kita pertahankan semata-mata karena hukum itu berasal dari Tuhan?”

Kemudian dalam situs www.islamlib.com, Ulil yang mempunyai syahwat besar untuk membubarkan Front Pembela Islam (FPI) menulis artikel berjudul ”Doktrin-doktrin yang Kurang Perlu dalam Islam.” Ulil menyebut ada 11 doktrin dalam Islam yang kurang perlu dan bertentangan dengan rasio, nilai-nilai kemanusiaan, dan pluralisme. Diantara doktrin yang perlu dibuang jauh-jauh itu adalah,”Doktrin bahwa kesalehan ritual lebih unggul ketimbang kesalehan sosial. Orang yang beribadah lebih rajin kerap dipandang lebih ”Muslim” ketimbang mereka yang bekerja untuk kemanusiaan, hanya karena mereka beribadah tidak secara rutin. Agama bisa ditempuh dengan banyak cara, antara lain melalui pengabdiaan kepada kemanusiaan.”

Saat Perda Anti-Maksiat muncul di berbagai daerah di Indonesia, Ulil berkoar-koar di media menyebut munculnya perda-perda itu sebagai sikap ”keberagamaan yang sungsang”. Perilaku ”sungsang” itu menurut Ulil, karena perda yang dianggap kental dengan syariat Islam tersebut tidak memartabatkan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan kata lain, Ulil menganggap perda-perda itu sebagai bencana bagi kemanusiaan dan syariat Islam adalah belenggu bagi martabat kemanusiaan. Jika ada pelacur, yang ditangkap karena mengganggu kesusilaan, Ulil dkk mengganggap penangkapan itu sebagai bagian dari perbuatan jahat melanggar martabat kemanusiaan. Karena atas nama kemanusiaan, demi menghidupi keluarga, bagi Ulil dkk, pelacur berhak mencari makan dengan cara apa saja, termasuk dengan cara menjual tubuhnya. Karena, bagi Ulil dkk, pelacur juga manusia yang butuh makan.

Jika hari ini kita melihat Ulil sebagai sosok yang gencar menyerang pemahaman Islam yang mainstream, bahkan bersuara lantang untuk membubarkan ormas Islam yang berjuang menjaga akidah umat, maka kita tak perlu heran, karena memang bagi Ulil, nilai-nilai kemanusiaan lebih ”superior”, lebih tinggi, dibanding nilai-nilai agama. Munculnya beragam ormas Islam yang berupaya menjaga akidahnya, bagi Ulil adalah gejala kebangkitan fundamentalisme agama yang perlu diwaspadai, persis seperti ungkapannya saat pidato di TIM pada 2010 lalu yang menyatakan, ”Kita harus selalu awas akan dampak-dampak negatif dari fenomena kembalinya agama itu. Sebagaimana kita lihat selama ini, kebangkitan agama bukanlah peristiwa yang seluruhnya mengandung aspek positif.”

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

Laman Blog ini:

Perkongsian bahan PENGALAMAN , MOTIVASI DAN CARA HIDUP dari sumber-sumber web lain.

  • zacky: call me [...]
  • Rico: My site is all about budget travel: tips, news and articles. I hope you like it as much as I liked [...]
  • GenjikOndUrO: CeLaka ZeOnis !! Hmm . . X berhati perUt lngsng ! [...]
  • tufail b mohd nasir: Hantaran tok owng negeri sembilan berape ek lau adew kwn2 ley bg thu ktew nk minx tlg nie [...]
  • sumathy: i rasa takut cabut gigi,i have masalah gigi rosak.i rasa macam fobia if nak cabut gigi [...]

Mesti lihat (tekan je gambar) !

.
.
.

.
.


Gambar caicng babi macam muka babi
.

Rumah berbentuk mangkuk tandas
.

Sawah padi sangat unik
.

Kereta dan motorsikal dalam 1
.

Jepun obses seks
.

Lama tapi moden
.

Sebab lelaki berbohong adalah?
.

Pages


.
.
.

like ?



Tekan gambar !


..

.

<