Wah! Kanan juga cerita BEST!!!

<

https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRKS7DkGSZ6IS-0Fa_ZwNBSRkKx19DMBWuMQWbyY8gxeW-xJSAw

Belum Haji Sudah Mabrur

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah  tetangga  yang bersedia menampung anak  dan  emak  yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp5.000 atau Rp10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila
Senin?”

”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak buru-buru.”

”Mau ambil berapa?” tanya saya.

”Enam ratus ribu, Pak.”

”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. ”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

39
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata- katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”

”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”

”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang. Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.

Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kau belikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini  akan  saya  langgar.  Saya ingin  menikmati  daging kambingmu  yang sepertinya  sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Oleh : Ahmad Tohari

Shared By Kisah Penuh Hikmah

http://virouz007.wordpress.com/

***

Go to Source
Author: peribadirasulullah

  • Comments Off

https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRKS7DkGSZ6IS-0Fa_ZwNBSRkKx19DMBWuMQWbyY8gxeW-xJSAw

Belum Haji Sudah Mabrur

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah  tetangga  yang bersedia menampung anak  dan  emak  yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp5.000 atau Rp10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila
Senin?”

”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak buru-buru.”

”Mau ambil berapa?” tanya saya.

”Enam ratus ribu, Pak.”

”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. ”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

39
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata- katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”

”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”

”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang. Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.

Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kau belikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini  akan  saya  langgar.  Saya ingin  menikmati  daging kambingmu  yang sepertinya  sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Oleh : Ahmad Tohari

Shared By Kisah Penuh Hikmah

http://virouz007.wordpress.com/

***

Go to Source
Author: peribadirasulullah

  • Comments Off

http://peribadirasulullah.files.wordpress.com/2013/05/1b0a8-doa2.jpg?w=408&h=167

Petikan Artikel Qatrunnada :

DOA merupakan senjata bagi orang Islam. Ini sebenarnya adalah hadiah Allah untuk kita. Allah Maha Mendengar, Maha Pengasih, Maha Pemurah. Ada kalanya kita rasa kita telah berkali-kali berdoa tapi Allah belum memperkenankannya. Selain itu adalah ujian dari Allah ingin menguji keikhlasan dan keimanan kita; kita juga perlu mengkaji di mana silapnya kita. Sebenarnya banyak perkara yang boleh menjadi hijab atau penghalang kepada doa-doa kita itu. Biasanya terhijab doa adalah kerana dosa-dosa besar yang pernah kita lakukan dan salah satu cara untuk mengatasinya dengan bertaubat nasuha yakni taubat yang sungguh-sungguh.

Di sini dibentangkan lapan belas perkara yang menjadi hijab atau penghalang doa:

1. Orang yang membunuh orang lain tanpa tujuan.

2. Orang yang menaburkan cerita yang belum tentu sahih

3. Orang yang melakukan pekerjaan yang serupa binatang.

4. Orang yang mengekalkan minum arak atau benda-benda lain yang boleh memabukkan.

ALLAH telah berfirman: ”Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingati ALLAH dan sembahyang, maka berhentilah kamu dari mengerjakan pekerjaan itu. ” (AI Maidah: 91).

Keterangan di atas sesuai dengan Hadis Rasulullah SA W yang bermaksud ’Semua minuman yang memabukkan adalah arak dan semua arak adalah haram. ” Riwayat Muslim

5. Orang yang mengekalkan zina, iaitu dosa besar yang tidak akan diampunkan selama-lamanya.

6. Orang yang menderhakai ibubapanya atau salah seorang daripadanya. ALLAH telah berfirman; ”Dan Tuhanmu telah mnnerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dari-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibubapa. Jika seseorang di antara keduanya atau kedua-duanya telah tua jangan kamu keluarkan perkataan kasar terhadap keduanya dan hendaklah kamu ucapkan perkataan yang mulia (lemah-lembut). Rendahkanlah sayap kehinaan kerana cinta kepadanya dan hendaklah engkau katakan

”Wahai Tuhan kasihilah kedua ibubapa kami dan berilah Rahmat-Mu. Biasanya terhijab doa adalah kerana dosa-dosa besar…..Untuk mengatasinya bertaubatlah dengan taubat nasuha; taubat yang sungguh-sungguh kepada keduanya, sebagaimana mereka mendidik kami di waktu kecil.”
Al Israk: 23-24

7. Orang yang mengerjakan suatu pekerjaan yang menyalahi syariat seperti bermain silap mata.

8. Ahli nujum yang mengkhabarkan nasib orang lain sedangkan kehidupan kita dari alam roh hingga ke akhir hayat telahpun ALLAH tetapkan sejak azali lagi.

9. Orang yang hasad dengki sesama umat Islam. Dia suka orang lain ALLAH timpakan bala malah mencemburui seandainya orang lain yang dikurniakan nikmat Tuhan.

10. Orang yang suka mengadu domba, memukul canang kepada orang lainsupaya timbul pecah-belah antara kedua belah pihak. Kadangkala mengakibatkan kedua-dua pihak itu tidak bertegur sapa selama lebih dari tiga hari tanpa keuzuran syarie.

11. Orang yang suka mengumpat hal orang lain terutama terhadap orang-orang alim yang cinta dengan ALLAH

12. Orang yang mengambil cukai dari harta manusia tanpa redha mereka. Inilah perkara yang paling ditakutikerana ketika di dalamkubur lagi akan ditimpakan azab yang pedih.

13. Orang yang menjual barang dengan cara yang haram, mengangkat jual beli dengan sumpah yang dusta, contohnya menaikkan harga barang-barang dua tiga kali gandanya dari harga asal. Menipu dalam sukatan dan timbangan dan memakan harta riba.

14. Orang yang membenci para sahabat Rasulullah SAW.

15. Orang yang menunjuk-nunjuk diri dengan gayanya yang lemah-longlai seperti mayang di depan orang lain supaya mereka merasa kagum dengan kecantikkannya.

16. Orang yang bermain catur dan judi.

17. Orang yang bermain gendang yang kecil di tengahnya, luas di kedua tepinya tetapi tepi yang ada kulit itu lebih luas daripada yang tiada berkulit. Kalau di zaman sekarang ini kompang dan gendang yang dibubuh lingkaran rotan di dalamnya supaya terdengar bunyi gentanya yang mengasyikkan.

18. Orang yang bermain rebab, biola dan seruling (serunai). Oleh itu sebagai nasihat kepada kita bersama, jika kedapatan perkara-perkara yang dibentangkan itu pada diri kita, bertaubatlah segera dengan taubat nasuha. Agar kita mendapat falah (kemenangan) di Akhirat sebelum datangnya maut. Tinggalkanlah perkara-perkara yang boleh melalaikan kita dari mengingati ALLAH juga perkara-perkara yang menjauhkan diri kita dari-Nya. Semuga ALLAH SWT menggantikan dengan sebesar-besar kurnia dan RahmatNya sebagai penutup segala perbuatan jahat yang lampau. Allah telah berfirman; ”Sesungguhnya segala amal yang baik menghapuskan akan segala perbuatan yang jahat. ”

“Siapalah aku di sisi MU ya Allah”

http://penjagakubur96.blogspot.com/2012/02/penghalang-doa.html

Go to Source
Author: peribadirasulullah

  • Comments Off

Umayyah bin Khalaf mengira bahwa Bilal radhiyallahu ‘anhu seorang budak yang dimiliki, badan, akal, serta jiwa dan seluruh anggota badannya. Akalnya tidak mampu meyakini apa yang dia kehendaki, ataupun memikirkan apa yang diinginkannya. Umayyah lupa dan tidak terlintas padanya bahwa akal Bilal dan keimanannya serta aqidahnya tidak berada di bawah kekuasaannya. Dia tidak bisa membendung celah-celah cahaya dalam hati yang bersinar, dengan cahaya Allah.

Mulailah penyiksaan menggiring Umayyah dengan sikap kefajiran dan kedengkiannya. Umayyah seorang yang kaku kepribadiannya, keras hatinya, tidak mengalir di hatinya setetes rasa kemanusiaan. Karena itu sifat jelek tersebut mendorongnya untuk melampiaskan bersama kedengkiannya terhadap Bilal radhiyallahu ‘anhu, di mana sikap Bilal menjadi lambang bagi kemanusiaan dan kebebasan hak.

Sekiranya seseorang menelusuri tingkatan penyiksaan yang begitu pedih dialami oleh Bilal, membayangkan atau menggambarkan keadaan lingkungan Mekah pada waktu itu, dan ia melihat Bilal mampu menanggung bebak siksaan paling pedih, niscaya orang itu mengetahui kedudukan pahlawan ini yang selalu kita ingat setiap hari lima kali, yakni tatkala muadzdzin mengumandangkan seruan untuk shalat. Kita akan mengingat kalimatnya yang kekal penuh barakah lagi indah di bawah siksaan, “Ahad… Ahad..” (Isyarat bahwa Allah Yang Maha esa). Hal ini yang menjadikan Umar ibnil Khaththab yang kuat lagi jenius menghormati Bilal, menghargai keimanan juga kesabarannya, dia memanggilnya, “Tuan kami.” Demi Allah ini merupakan keutamaan yang nyata dan kemuliaan yang agung.

Berbagai Kejadian Sebagai Gambaran Perbuatan Dosa Umayyah

Si kafir lagi pelaku dosa, Umayyah bin Khalaf menyiksa Bilal, menimpali siksa dalam berbagai bentuk dan gambaran dari kebejatannya, berupa kekerasan serta kengerian yang menjadikan kulit merinding, mengguncang pasak gunung karena keganasannya. Umayyah menyiksa Bilal radhiyallahu ‘anhu dengan penyiksaan yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun di dunia, ia betul-betul mendera Bilal dengan sekuat tenaga, sedangkan Bilal merasakan ketenangan hati dengan cahaya rohani keimanan, dia merasakan adzab seakan kenikmatan yang jarang didapatkan dalam agama dan keimanannya, dia menganggap manis pahitnya empedu di jalan Allah untuk menjaga iman. Berikut ini sebagai fakta dan gambaran dari penyiksaan yang pedih itu.

Umayyah memerintahkan para pembantunya untuk mengeluarkan Bilal di terik matahari, di mana padang pasir Mekah menjadi bara api yang membinasakan, mereka menyungkurkan Bilal di atas kepanasan yang membakar dalam keadaan telanjang, kemudian mereka mendatangkan batu panas ibarat bara api dan meletakkan di atas dadanya, lantas Umayyah berkata pada Bilal, “Demi Allah, kau akan tetap seperti ini hingga meninggalkan agama Muhammad.” Bilal berkata, “Ahad.. Ahad.”

Kalimat Ahad seakan petir yang menyambar Umayyah, kemudian kemarahan menguasainya dan menumpahkan pemukulan kepada Bilal juga cacian. Hal itu tidak menambah seruan Bilal melainkan kembali berkata, “Ahad, Ahad.”

Mereka, para saksi mata melihat sebagian pemandangan yang dialami Bilal radhiyallahu ‘anhu, mereka menukil gambar sidik jari Umayyah yang zhalim dalam kumpulan catatan kehinaannya.

Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan pemandangan yang dilihatnya di Mekah. Dia melihat Umayyah bin Khalaf hampir meledak karena menahan amarahnya keteguhan Bilal. Dia berkata:

“Aku melewati Bilal sedang disiksa di terik matahari, seandainya sepotong daging diletakkan, niscaya akan matang. Bilal berkata, ‘Aku kafir (mengingkari) Laata dan Uzza. Sedangkan Umayyah marah kepadanya dengan menambah siksaaan dan Bilal pun menerimanya. Umayyah pergi dengan alat pencukurnya sedangkan Bilal pingsan kemudian sadar.”

Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan kejadian lain yang menampakkan keteguhan Bilal dan kepahlawanannya, kebodohan Umayyah dan kekerasannya. Dia berkata, “Aku melakukan umrah, lalu aku melihat Bilal diikat dengan tali panjang yang dibentangkan anak-anak, ‘Amr bin Fuhairah bersamanya sementara Bilal radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Ahad… Ahad, aku kufur terhadap Laata dan Uzza, Hubal, Isaf, Nailah, serta Buwanah.’ Maka Umayyah menyeretnya ke padang pasir.”

Dari Mujahid rahimahullah dia berkata, “Mereka menjadikan tali di leher Bilal, dan memerintahkan anak-anak mereka agar menjepitnya di antara dua pohon gunungnya, lantas mereka pun melakukannya, hingga tali itu membekas di lehernya sedangkan Bilal berkat, ‘Ahad, Ahad..”

Dalam pembicaraan tentang kalangan orang-orang tertindas dari kaum muslimin, ‘Urwah bin Zubeir radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan

“Bilal termasuk orang yang teraniaya dari kalangan kaum mukminin, dia disiksa saat memeluk Islam agar kembali pada keyakinannya. Bilal tidak mengucapkan kalimat yang mereka inginkan. Yang menyiksanya adalah Umayyah bin Khalaf al-Jumahiy.”

Apakah Bilal Memenuhi Kemauan Umayyah?

Demikianlah gambaran penyiksaan Bilal, lantas terlintas dalam benak pertanyaan berikut, “Apakah Bilal memenuhi kemauan Umayyah setealh itu? Dan apakah keyakinannya melemah –meski sedikit- karena menanggung siksaan?”

Berbagai referensi menyebutkan bahwa Bilal radhiyallahu ‘anhu tidak menyetujui Umayyah –meski dengan kekerasannya-, tidak satu huruf pun yang membuat cacat keislamannya. Jiwanya ringan dalam memeluk agama Allah, demikian pula dimudahkan untuk kaumnya. Saat siksaan makin berat, semboyannya tetap berkumandang yaitu, “Ahad, Ahad.”

Datanglah kepada Bilal, sekelompok orang-orang kafir membujuknya dengan kedustaan, menuntunnya untuk menirukan apa yang dikatakan orang-orang di belakangnya secara serempak, maka dia menjawab mereka dengan ejekan yang mengenai tempat mematikan dari mereka, “Sesungguhnya lidahku tidak bisa mengucapkan apa yang kalian katakan dan tidak sanggup membaguskannya.” Maka beterbanganlah mimpi-mimpi mereka yang hina, berantakanlah cita harapan mereka yang buruk di depan kalimat Bilal radhiyallahu ‘anhu, lalu mereka mencari jalan lain dalam memusuhinya.

Diriwayatkan bahwa Bilal radhiyallahu ‘anhu menceritakan tentang kejelekan orang-orang musyrik dan kerasnya hati mereka, “Mereka membuatku dahaga sehari semalam, kemudian mereka mengeluarkanku dan menyiksaku di padang pasir saat terik panas matahari!”

Bilal tetap tidak menghiraukan apa yang diperbuat oleh pemimpin durjana yang melampaui batas lagi berdosa, Si Umayyah bin Khalaf. Umayyah sang musuh Allah ini, tidak menghiraukan rintihan Bilal, karena sakitnya penyiksaan. Dia tidak bosan-bosannya menyiksa Bilal, bahkan motivasi kejelekan yang ada padanya semakn tambah berkobar setiap kali Bilal bersabar menahan penyiksaan itu.

Al-Qasthalani rahimahullah berkata mengomentari sikap mulia ini, “Maka lihatlah apa yang diperbuat terhadap Bilal saat dipaksa untuk kafir sedang ia berkata, ‘Ahad Ahad.’ Lantas berbuarlah pedihnya siksaan dengan lezatnya keimanan, hal ini sebagaimana terjadi juga saat kematiannya. Istrinya berkata, ‘Oh, alangkah sedihnya!’ Dan Bilal berkata, ‘Oh, alangkah senangnya.’ Dia mencampur antara pedihnya detik-detik kematian (sakaratul maut) dengan manisnya pertemuan.”

Alangkah indahnya apa yang diungkapkan Abu Muhammad asy-Syuqrathisi saat menggambarkan peristiwa ini dalam bentuk syair:

“Bilal menerima siksaan dari Umayyah, dia bersabar dengan keadaan paling mulia. Saat mereka menyiksanya dengan tekanan, sedang ia dalam keadaan terhimpit, tetap teguh. Mereka melemparkannya di padang pasir sedangkan mereka menindihnya dengan batu yang amat berat tersusun tinggi. Dan dia mentauhidkan Allah dengan keikhlasan yang tampak dari pengagungannya seperti bekas hujan gerimis di atas tanah. Jika telah tersayat punggung Wali Allah dari belaakng maka telah terbelah hati musuh Allah dari depan.”

Abu Bakar, Bilal, dan Umayyah

Suatu ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu melewati Bilal radhiyallahu ‘anhu yang sedang disiksa dengan penyiksaan yang pedih. Dahulunya, rumah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di Bani Jumah, maka beliau berkata kepada Umayyah bin Khalaf, “Wahai Abu Ali –kunyah (panggilan) Umayyah- tidakkah kau takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara lelaki miskin ini, sampai kapan.. sampai kapan?!”

Berkatalah kepala orang kafir dan orang terlaknat penyembah patung berhala, Umayyah kepada Abu Bakar, “Engkaulah yang merusaknya, maka selamatkanlah dia sebisamu, hingga dia terbebas dari keadaannya sekarang.”

Abu Bakar mengambil peluang terbuka yang datang lantas berkata, “Akan kulakukan, aku memiliki anak kecil hitam, lebih tangguh dan lebih kuat darinya, dia beragama sepertimu kita saling tukar menukar.”

Umayyah berkata, “Kuterima wahai Abu Bakar.”

Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dia untukmu.” Seraya memberikan anak kecil yang hitam itu dan beliau mengambil Bilal, lantas seketika itu juga beliau membebaskannya, kemudian Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu, menjadi muadzdzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebuah kebaikan di antara banyak kebaikan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, adapun yang terlaknat Umayyah bin Khalaf, telah menjadi salah seorang dari mereka yang berhak menerima siksaan dari Yang Maha Perkasa Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam hal Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Bilal radhiyallahu ‘anhu. Az-Zauzani rahimahullah berkata dalam bait-bait yang dimuat oleh Yaqut dalam Mu’jam al-Udaba:

“Abu Bakar menghibahkan untuk Allah hartanya. Sejak dahulu lisannya amat fasih berkata-kata. Telah menolong Nabi dengan segala kebaikan dan memberikan simpanannya untuk si Bilal. Sekiranya lautan berkeyakinan dapat menyaingi kebaikannya. Niscaya Allah tidak akan mengaruniayi bilal.”

Dalam Permusuhan

Umayyah bin Khalaf merasa bahwa dirinya gagal dalam usahanya yang keras lagi penuh dosa, untuk menganiaya pemimpin para pahlawan Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu, dia melihat jalan di depannya terbuka untuknya dalam melakukan penyiksaan. Adapun apa tindak kriminal terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhu, Umayyah melihat dirinya cenderung bergabung dengan orang-orang yang jahat Quraisy untuk meniti jalan bersama mereka, yang memalingkan manusia dari mengingat Allah dan kebenaran, menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dakwahnya, mengolok-oloknya dan menjatuhkan martabatnya.

Umayyah mulai merekayasa cara baru dalam keikutsertaannya bersama kelompok orang-orang yang berbuat dosa. Dalam suatu forum yang dikumpulkan oleh Al-Walid bin Mughirah dan Abu Jahal bin Hisyam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu di hadapan mereka, maka mereka mengumpat dan mengejeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun merasa sesak dengan perbuatan mereka.

Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat sebagai penghibur bagi Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menggertak mereka serta memberi peringatan terhadap kejelekan yang mereka lakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka.” (QS. Al-An’am: 10)

Umayyah dan kaum musyrikin yang lain mulai berfirkir mengenai cara untuk menjebak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mengakui apa yang mereka yakini, apakah mereka berhasil mewujudkan hal itu?

Tipu Daya yang Jahat Dalam Bentuk Tawaran

Umayyah dan kaum musyrikin memetakan taktik renanca di benak mereka, yang diperkirakan akan meraih kemenangan dalam dialog mereka bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka berdiri dan pergi menuju Ka’bah. Mereka mendapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang thawaf. Kemudian Umayyah dan beberapa orang yang bersamanhya menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata padanya, “Wahai Muhammad kemarilah kami akan menyembah apa yang kau sembah dan kau menyembah apa yang kami sembah, dengan demikian kita bekerja sama dalam perkara ini. Jika yang engkau sembah lebih baik dari yang kami sembah berarti kami telah mengambil sebagian faedah darinya. Dan jika yang kami sembah lebih baik dari yang kau sembah berarti engkau telah mengambil sebagian kebalikan darinya.”

Penawaran ini –sebagaimana anda lihat- jelek lagi penuh dengan tipu daya, menunjukkan tipu daya yang luas cakupannya, sekaligus menunjukkan kecerdasan dan ketajaman fikiran yang selama ini mereka nikmati. Akan tetapi keyakinan yang diwarisi dan angan-angan yang semua telah menutupi akal mereka untuk pasrah terhadap kebenaran dan tunduk kepadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan jalan tipuan yang berliku-liku ini, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari apa yang mereka katakan. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan:

Katakanlah: Hai orang-orang kafir Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” (QS. Al-Kafirun: 1-2)

Da n menandai mereka dengan berbagai ciri di antaranya kufur, tidak mengetahui kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan pula:

“Katakanlah: ‘Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?’ Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. ‘Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur’.” (QS. Az-Zumar: 64-66)

Muhammad bin Sa’ad rahimahullah berkata dalam Ath-Thabaqat, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat menampakkan Islam dan perkaranya tersebar di Mekah, orang-orang Quraisy marah karena itu. Tampak dari mereka kedengkian dari kejahatan, kaum lelaki dari mereka menampakkan permusuhan sedang yang lainnya menyembunyikan. Orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka, yang mengundang permusuhan dan perdebatan adalah: Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf dan lainnya.”

Para pembesar itu menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara fisik langsung, pada suatu hari si Bejat Uqbah bin Mu’ith –semoga dilaknat Allah- melempar kotoran di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Beliau sujud di Masjidil Haram. Maka Nabi mendoakan buruk kepada mereka seraya berkata, “Ya Allah datangkanlah siksa untuk kafir Quraisy.” Dan beliau menyebut, di antara mereka Umayyah bin Khalaf. Mereka semua menemui kebinasaan saat perang Badr.

Menyakiti Keluarga Dekatnya

Umayyah tidak hanya mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan gangguannya juga menimpa kerabatnya dari Bani Jum’ah yang mengumumkan keislamannya pada periode awal. Dia mengganggu anak pamannya Utsman bin Madz’un radhiyallahu ‘anhu karena keislamannya, sehingga hal itu menyebabkan Utsman hijrah ke Habasyah dan mendapat kehidupan yang tenang di sisi tetangga yang baik. Di Habasyah Utsman bin Madz’un radhiyallahu ‘anhu merasa terasing pada awalnya, maka dia berkata mencela Umayyah dan mengingatkan kejelekan yang dilakukannya dalam bait syair:

“Akankah engkau mengeluarkanku dari Mekah karena keislamanku. Dan menempatkanku dalam istana putih (Habasyah) yang kau benci. Engkau memerangi kaum yang mulia lagi perkasa dan mencelakakan kaum yang pernah dipinta bantuan olehmu. Engkau akan mengetahui suatu hari jika mendapat musibah dan rakyat jelata menyelamatkanmu tanpa mempeduikan apa yang pernah kau perbuat.”

Apakah kalimat-kalimat pengaduan mengetuk telinga Umayyah atau menyentuh hatinya?

Dia telah berpaling dari kekerabatan dan teman dekat, juga setiap jalan yang ditempuhnya untuk mengangkat Laata dan Uzza serta Manat. Maka dia tercatat seabgai golongan orang yang sengsara –semoga kita dijauhkan oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala darinya- dia pun termasuk orang yang disebut dalam firman Allah:

Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M

Artikel www.KisahMuslim.com

Kata Kunci Terkait: orang masuk neraka, orang durhaka, ummayaj bin khalaf

Go to Source
Author: Admin

  • Comments Off

mujahidGelombang Dahsyat Tar Tar
Bayangkanlah dahsyatnya kehancuran yang diakibatkan oleh gelombang Tsunami yang melanda Aceh dan Jepang beberapa tahun silam. Mayat-mayat bergelimpangan. Bangunan, pepohonan, kebun, binatang ternak, sarana umum, semuanya hancur berantakan. Kota yang tadinya ramai mendadak sepi, kelam dan berubah menjadi seperti kota hantu. Seperti itulah yg terjadi dengan negeri-negeri Islam yang terbentang dari Samarkhan hingga Baghdad ketika dilewati oleh Pasukan Mongol.

Bangsa Mongol atau Tartar telah diisyaratkan kemunculannya oleh Nabi saw. Baginda saw menyebut mereka sebagai Bani Qantura dengan ciri-ciri fisik bermuka lebar dan bermata kecil. Hanya dengan kekuatan 200.000 tentara dan berlangsung hanya dalam waktu 40 hari Kekhalifahan Abbasiyah lenyap dari muka bumi.
Kejatuhan Baghdad merupakan peristiwa sangat tragis dalam sejarah kemanusiaan. Selama 500 tahun bertahta dengan segala kebesarannya Kekhalifahan Abbasiyah Baghdad luluh lantak dihancurkan. Sebanyak 1,8 juta kaum muslimin yang berada di kota Baghdad disembelih dan kepalanya disusun menjadi gunung tengkorak sebagai peringatan bagi negara-negara yang melawan kekuatan Mongol. Khalifah Sultan Al-Mu’tasim dibantai beserta 50.000 tentara pengawalnya. Sejak pembantaian itu selama 3,5 tahun umat Islam hidup tanpa Khalifah.
Ada ahli sejarah menukilkan situasi saat itu bagaimana Hulagu Khan ini melakukan pembunuhan terhadap khalifah dengan cara memasukkannya ke dalam gulungan permadani sementara pasukan Mongol menginjak-injak dengan kuda-kuda mereka. Tidak cukup dengan itu, tentara Tartar yang biadab ini memusnahkan ribuan perpustakaan yang memuat jutaan kitab- kitab, manuskrif-manuskrif sebagai khazanah peradaban di Baghdad dengan mencampakkannya ke dalam laut sehingga air laut bertukar kehitaman akibat banyaknya kitab- kitab tersebut.

Ketika itu, seluruh negeri Islam yaitu Baghdad, Syria dan Asia Tengah sudah jatuh ke tangan tentara Mongol. Hanya tinggal tiga negeri Islam yang belum dimasuki yaitu Makkah, Madinah dan Mesir. Maka Hulagu Khan terus merangsek berupaya menaklukkan negeri yang lain.
Siapa yang menduga bangsa primitif yang jauh dari peradaban pernah mengusai 1/2 dari daratan bumi ini. Bangsa Mongol yang nomaden memutarbalikan semua fakta sejarah. Bagi dunia Islam, penaklukkan oleh Mongol ini mungkin dilihat sebagai suatu pendahuluan, sekaligus miniatur keluarnya Ya’juj Ma’juj pada akhir zaman.
Kengerian yang ditimbulkannya seolah belum hilang di tempat-tempat yang pernah diserbu oleh pasukan Jenghis Khan ini. Saat berkunjung ke Herat, Afghanistan, Mike Edwards mendengar komentar masyarakat tentang peristiwa yang terjadi tujuh setengah abad yang lalu itu, seolah baru saja terjadi sehari sebelumnya. “Hanya sembilan saja! Seluruh yang masih bertahan hidup di sini – sembilan orang!” seru seorang warga tua saat menggambarkan serangan Mongol ke kota itu (National Geographic, Desember 1996). Dan Herat bukan satu-satunya kota yang menerima nasib buruk dari pasukan Mongol.
Para ulama Islam ketika itu, hampir-hampir tidak mampu mencatat kronologis peristiwa serangan yang tidak berperikemanusiaan ini. Tidak pernah terjadi malapetaka sedasyat itu dalam sejarah bangsa manapun. Seperti yang terucap dari panglima perang Mongol saat pertama kali menjebol kota Baghdad, “Aku adalah malapetaka yang diturunkan Tuhan ke muka bumi untuk menghukum kalian…”

Quthuz Sang Penakluk Gelombang
Saifuddin Quthuz adalah satu di antara tokoh besar dalam sejarah muslimin. Nama aslinya adalah Mahmud bin Mamdud.. Ia berasal dari keluarga muslim berdarah biru. Quthuz adalah putra saudari Jalaluddin Al-Khawarizmi, Raja Khawarizmi yang masyhur pernah melawan pasukan Tartar dan mengalahkan mereka, namun kemudian ia kalah dan lari ke India. Ketika ia sedang lari ke India, Tartar berhasil menangkap keluarganya. Tartar membunuh sebagian mereka dan memperbudak sebagian yang lain.
Mahmud bin Mamdud adalah salah satu dari mereka yang dijadikan budak. Tartar menjuluki si Mahmud dengan nama Mongol, yaitu Quthuz, yang berarti “Singa Yang Menyalak”. Tampaknya sedari kecil Quthuz memiliki karakter orang yang kuat dan gagah. Kemudian Tartar jual si Mahmud kecil di pasar budak Damaskus. Salah seorang bani Ayyub membelinya. Dan ia dibawa ke Mesir. Di sini, ia pindah dari satu tuan ke tuan yang lain, sampai akhirnya ia dibeli oleh Raja Al-Mu’izz Izzuddin Aibak dan kelak menjadi panglima besarnya.
Dalam kisah Quthuz ini, kita bisa mencatat dengan jelas bagaimana skenario ajaib Allah SWT. Tartar telah memperdaya muslimin dan memperbudak salah satu anak-anak muslimin dan mereka jual langsung di pasar budak Damaskus. Untuk kemudian ia diperjualbelikan dari satu tangan ke tangan lainnya, yang akhirnya sampai ke suatu negeri yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Boleh jadi karena usianya yang masih kecil ia tidak melihat negeri jauh ini. Namun, pada akhirnya ia menjadi raja di negeri asing itu dan sepak terjang Tartar yang membawanya dari ujung dunia Islam ke Mesir pun harus berakhir di tangannya!

Subhanallah yang telah mengatur dengan Maha Lembut dan memperdaya dengan Maha Bijak. Tiada sesuatupun di bumi dan langit yang samar bagi-Nya.
“Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (An-Naml [27]: 50)
Quthuz –sebagaimana mamalik (budak yang dididik militer) lainnya–tumbuh dengan pendidikan agama yang benar. Semangat Islam yang kuat bergelora di dalam hatinya. Sejak kecil, ia dilatih dengan seni menunggang kuda, metode pertempuran, seluk-beluk manajemen dan leadership. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda gagah berani, mencintai dan menjunjung tinggi agamanya. Ia juga seorang yang kuat, penyabar, dan perkasa. Selain itu semua, ia juga dilahirkan dari keluarga raja.

Masa kanak-kanak Quthuz layaknya para pangeran yang lain. Hal ini membuat dirinya begitu percaya diri. Ia tidak asing dengan masalah kepemimpinan, manajemen negara dan kekuasaan. Di atas itu semua, keluarganya hancur oleh Tartar. Hal ini–tentu saja–membuat dirinya paham betul dengan bencana Tartar. Sebab orang yang menyaksikan tidaklah seperti yang mendengar.
Semua faktor ini berpadu menjadikan Quthuz seorang yang memiliki karakter sangat unik. Ia merasa ringan dengan penderitaan, tidak takut dengan para musuh bagaimanapun banyak jumlahnya atau unggul kekuatan mereka.
Pendidikan Islam dan militer, juga pendidikan untuk berpegang teguh kepada Allah, agama dan percaya diri, semua itu mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan Quthuz –rahimahullah-.
Nama Quthuz mulai muncul ke permukaan setelah terbunuhnya Raja Al-Muizz Izzuddin Aibak dan istrinya Syajarah Ad-Dur dihukum mati. Kemudian kekuasaan beralih kepada “Sultan Bocah” Al-Manshur Nuruddin Ali bin Izzuddin Aibak. Quthuz-lah yang memegang perwalian atas sultan kecil tersebut.

Quthuz meskipun ia secara real menyetir roda pemerintahan di Mesir, namun pada kenyataannya yang duduk di kursi kekuasaan adalah seorang sultan bocah. Tentu hal ini melemahkan wibawa pemerintah di Mesir dan merongrong kepercayaan rakyat kepada rajanya serta menguatkan niat musuh-musuhnya karena mereka melihat raja adalah seorang bocah.

Dengan mempertimbangkan ancaman Tartar yang menakutkan, problema internal yang mencekik, kekacauan dan pemberontakan dari mamalik bahriyyah dan ambisi para emir Bani Ayyub di Syam, maka Quthuz melihat tiada makna keberadaan “Sultan Bocah” Nuruddin Ali di kursi negara terpenting di kawasan, yaitu Mesir, di mana tiada lagi harapan untuk membendung Tartar kecuali di pundaknya.

Dari situ, Quthuz mengambil keputusan berani, yaitu menurunkan Nuruddin Ali dan ia mengambil alih kekuasaan di Mesir. Keputusan itu bukanlah hal yang aneh. Sebab sebenarnya Quthuz adalah penguasa real di Mesir. Semua orang –termasuk “sultan bocah” itu sendiri–mengetahui hal itu. Seolah-olah ada boneka lucu di mana Quthuz-lah yang menggerakan boneka tersebut. Boneka itu adalah sultan yang bocah. Apa yang dilakukan Quthuz tiada lain hanya mengangkat boneka itu, untuk memperlihatkan seorang singa gagah yang di tangannyalah peta geografi dunia akan berubah, begitu pula lembaran-lembaran sejarah lainnya.
Penggantian ini terjadi pada tanggal 24 Dzul Qaidah 657 H, yaitu beberapa hari sebelum kedatangan Hulagu di Aleppo.

Sejak Quthuz – naik ke kursi kekuasaan, ia terus mempersiapkan diri untuk menyongsong Tartar yang belum lama menghancurkan ibukota Khilafah Abbasiyah di Baghdad. Lalu bagaimana Sultan Al-Muzhaffar (gelar Quthuz setelah menjadi raja) menangani situasi yang sangat krusial itu? Apa saja langkah-langkah dan persiapan yang dilakukannya untuk menghadapi serangan Tartar yang dahsyat? Dalam kurun waktu sekitar setahun (658 H), Quthuz melakukan banyak pekerjaan besar. Secara ringkas terangkum dalam kronologi sebagai berikut:
Quthuz memulai reformasi dalam negeri di Mesir.

Pengampunan terhadap mamalik bahriyyah dan penyatuan dengan bekas rival mereka mamalik mu’izziyyah.
Azh-Zhahir Baibars yang sempat menjadi oposisi diundang pulang ke Mesir dari Damaskus.
Upaya Quthuz menyatukan Mesir dan Syam lewat surat-surat untuk para emir Bani Ayyub di Syam.
Aleppo jatuh pada bulan Shafar, juga Damaskus pada bulan Rabiul Awwal, di bawah kekuasaan Tartar.
Datangnya surat ancaman Tartar untuk menyerang Mesir.

Quthuz memutuskan untuk memerangi Tartar.
Keputusan Quthuz untuk memerangi Tartar akan dilangsungkan di Palestina dan bukan di Mesir.
Dimulainya persiapan tentara Mesir secara ekonomi dan juga militer.
Dimulainya persiapan mental rakyat Mesir dengan ulama sebagai pelopornya untuk menerima ide jihad melawan Tartar.
Sebagian tentara Syam datang bergabung dengan Quthuz di Mesir.
Tentara muslim berkumpul di daerah Shalihiyah.
Tentara muslim bergerak menuju Palestina pada bulan Sya’ban.
Kemenangan muslimin di bawah Baibars atas tentara Tartar yang menjaga Gazza.
Perundingan dengan kaum Salib di Akka.
Quthuz memilih Ain Jalut untuk menjadi ajang pertempuran dengan Tartar.
Kemenangan muslimin di Ain Jalut yang terjadi pada 25 Ramadhan.
Damaskus dibebaskan dari tangan Tartar oleh pasukan yang dipimpin Quthuz pada 30 Ramadhan.
Aleppo dibebaskan dari tangan Tartar di bawah Baibars pada awal bulan Syawwal.
Quthuz kembali ke Mesir pada 26 Syawal.
Quthuz meninggal dunia, syahid—insyaallah.

Saifuddin Al-Muzhaffar Quthuz Rahimahullah meninggal dunia hanya lima puluh hari setelah kemenangan Ain Jalut. Kekuasaannya hanya berusia 11 bulan dan 17 hari. Tidak genap satu tahun!
Berbagai peristiwa bersejarah yang agung, persiapan yang bagus, pendidikan yang tinggi, kemenangan gemilang, hasil yang luar biasa dan dampak yang besar. Ya, semua ini dicapai kurang dari satu tahun!
Meski ia memerintah dalam masa yang sangat pendek, namun ia termasuk tokoh terbesar dunia. Karena, nilai seorang tokoh dan keagungannya tidak diukur dengan umurnya yang panjang, harta yang banyak, atau kerajaannya yang megah, namun ia diukur dengan karya-karya bersejarahnya yang mampu merubah peta sejarah dan geografi dunia. Pada saat yang sama karya-karya itu juga bernilai besar menurut mizan (timbangan) Allah.
Ia adalah seorang pembaru (mujaddid) dan teladan (qudwah) yang baik. Sejumlah nilai ideal melekat pada dirinya; sisi keimanan dan kekhusyukannya, sisi zuhud dan menjaga kehormatan dirinya, sisi kemampuan dan kemahirannya, sisi kejujuran dan keikhlasannya, sisi jihad dan pengorbanannya, sisi kesabaran terhadap diri dan kesabaran terhadap orang lain, sisi kebijakan dan rendah hatinya..

Ia seperti yang disifati oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar Al-A’lam An-Nubala’, “Ia adalah seorang prajurit pemberani, politikus, beragama, dicintai rakyat, mengalahkan Tartar, membersihkan Syam dari Tartar pada perang Ain Jalut, ia juga orang yang baik jihadnya, insyaallah. Ia adalah seorang pemuda berambut pirang, berjenggot tebal, bentuknya sempurna, ia memiliki tangan yang putih (sesuai dengan syariah-Nya) dalam berjihad melawan Tartar, maka Allah gantikan masa mudanya dengan surga dan Dia meridhainya.”
Ia adalah sosok yang disifati oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah sebagai:“Seorang yang pemberani, pahlawan, banyak berbuat kebajikan, punya kesadaran tinggi terhadap Islam dan menyadarkan rakyat dengannya. Ia dicintai rakyatnya dan mereka banyak berdoa untuknya.”
Apa arti seorang Quthuz, jika ia tidak berpegang tegung dengan syariah Allah, tidak menang dalam perang Ain Jalut berkat keteguhannya dengan syariah, dan tidak komitmen dengan jalan Allah SWT? Apa arti seorang Quthuz tanpa jalan ini??

Syekh Al-Izz bin Abdussalam, setelah kehilangan Quthuz dengan begitu cepat, mulai mengkhawatirkan umat ini. Khawatir, kalau-kalau kemenangan besar itu akan sia-sia dan umat mengalami kehancuran kembali. Setelah kematian Quthuz, sambil menangis sedih ia berkata, “Semoga Allah merahmati masa mudanya. Seandainya ia hidup lama tentu ia akan memperbaharui para pemudanya ke arah Islam.”

Namun, Quthuz memang telah memperbaharui para pemuda ke arah Islam, meski ia tidak hidup lama!
Daulah Mamalik selama kurang lebih tiga abad kemudian terus mendorong semangat muslimin dan mengangkat panji Islam. Quthuz telah meletakkan pondasi yang kokoh. Di atas pondasi inilah orang-orang lain akan membangun bangunan yang kuat. Tanpa pondasi ini bangunan tidak akan mampu berdiri.
Terakhir, Syekh Al-Izz bin Abdussalam berkomentar, “Tiada orang yang memerintah perkara muslimin setelah Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah yang sebanding dengan Quthuz Rahimahullah dalam kesalehan dan keadilannya.” Bilakah muncul kembali Quthuz-Quthuz muda di zaman ini? Wallahu a’lam.

Ain Jalut, Titik Balik Gelombang Jihad
Dalam waktu yang tidak berapa lama, demi merasa telah menaklukkan Abbasiyah maka Hulagu mengirim 4 orang delegasi ke Mamluk Mesir. Delegasi ini datang dengan membawa surat dari Hulagu Khan kepada Al Muzhaffar Quthuz. Surat itu berbunyi :
“Dari Raja Raja Timur dan Barat, Khan Agung. Untuk Quthuz Mamluk, yang melarikan diri dari pedang kami. Anda harus berpikir tentang apa yang terjadi pada negara-negara lain dan tunduk kepada kami. Anda telah mendengar bagaimana kami telah menaklukkan kerajaan yang luas dan telah memurnikan bumi dari gangguan yang tercemar itu. Kami telah menaklukkan daerah luas, membantai semua orang. Anda tidak dapat melarikan diri dari teror tentara kami. kemana Anda lari? Jalan apa yang akan Anda gunakan untuk melarikan diri dari kami?
Kuda-kuda kami cepat, panah kami tajam, pedang kami seperti petir, hati kami sekeras gunung-gunung, tentara kami banyak seperti pasir. Benteng tidak akan mampu menahan kami, lengan Anda tidak dapat menghentikan laju kami. Doa-doa Anda kepada Allah tidak akan berguna untuk melawan kami. Kami tidak digerakkan oleh air mata atau disentuh oleh ratapan. Hanya orang-orang yang mohon perlindungan akan aman. Mempercepat balasan Anda sebelum perang api dinyalakan.

Menolak dan Anda akan menderita bencana yang paling mengerikan. Kami akan menghancurkan masjid Anda dan mengungkapkan kelemahan Tuhanmu, dan kemudian kami akan membunuh anak-anak dan orang tua Anda bersama-sama. Saat ini Andalah satu-satunya musuh yang mesti kami hadapi.”.
Setelah membaca surat tersebut yang isinya jelas-jelas melecehkan kedaulatan Islam karena hanya memberikan dua opsi, menyerah atau berperang. Saifuddin Qutuz tidak gentar sedikitpun, malah beliau dengan berani menempeleng delegasi Mongol itu dan membunuh mereka dan kepala mereka digantung di Bab Zuweila, salah satu pintu gerbang Kairo. Dengan segera ia menggerakkan pasukannya dan memancing Mongol untuk bertempur di Ain jalut.

Quthuz melakukan itu tidak melanggar kaidah Islam yang melindungi delegasi asing yang melakukan tugas negosiasi. Karena para ahli sejarah menyatakan bahwa kedatangan delegasi Mongol tersebut bukan sekadar mengantar surat Hulagu Khan an sich, tetapi tertangkap tangan melakukan tindakan sebagai mata mata tentera Tartar.

Sebagian dari pembesar istana merasa takut dan ingin menarik diri dari dukungan, karena merasa Mesir ketika itu masih belum siap untuk menghadapi tentara Mongol yang telah menguasai wilayah yang cukup luas (dari Korea hingga Polandia hari ini). Quthuz mengumpulkan para pembesar-pembesar dan para panglima lalu berkata kepada mereka, “Wahai pemimpin kaum Muslimin! Kamu diberi gaji dari Baitul Mal, sementara kamu tidak mau berperang. Siapa yang memilih untuk berjihad, mari bersamaku. Siapa yang tidak mau berjihad, pulanglah ke rumahnya masing-masing. Allah akan mengawasi kalian. Sungguh dosa kaum Muslimin yang dilecehkan kehormatannya akan ditanggung oleh orang yang tidak ikut berjihad.”
Kata-kata Quthuz ini menjadi tamparan dan akhirnya mereka memilih untuk berjihad bersama Quthuz.
Pembiayaan perang yang tidak sedikit menjadi masalah ketika itu, dibutuhkan biaya besar untuk perbaikan benteng, renovasi jembatan, penyediaan peralatan perang dan logistik. Quthuz mengumpulkan para menteri negara untuk bermusyawarah. Kas negara betul-betul tidak mencukupi maka pilihan yang ada adalah menarik dana dari rakyat dan harus dilakukan dengan segera.

Tetapi Qutuz memerlukan dukungan para ulama untuk mengeluarkan fatwa. Tanpa fatwa Qutuz tidak akan melakukannya. Umat Islam di Mesir saat itu tidak mengenal pungutan selain hanya zakat. Diantara yang dipanggil ketika itu adalah seorang ulama yang bernama Al-Izz bin Abdis Salam Al-Izz bin Abdis Salam telah sepuh berumur 81 tahun dan terkenal karena ketegasannya. Beliau mengeluarkan fatwa yang cukup tegas:
“Apabila negara diserang musuh, maka wajib atas dunia Islam untuk memerangi musuh itu. Harus diambil dari rakyatnya harta mereka untuk membantu peperangan dengan syarat bila tidak ada asset yang tersimpan di dalam Baitul Mal. Maka setiap kalian (penyelenggara pemerintahan) hendaklah menjual seluruh asset yang dimiliki dan tinggalkan untuk diri kalian hanya kuda dan senjata saja. Kalian dan seluruh rakyat adalah sama di dalam masalah ini. Adapun tentang mengambil harta rakyat sementara pimpinan tentara masih memiliki harta dan peralatan mewah, maka penarikan harta rakyat tidak menjadi keharusan.”

Fatwa yang cukup tegas ini disambut dengan ketegasan Qutuz pula. Beliau menginstruksikan agar semua pembesar dan pimpinan perang menyerahkan seluruh asset yang mereka miliki sesuai fatwa tersebut. Hasilnya, Mesir menjadi negara yang kaya. Penyerahan harta oleh para pembesar dan pimpinan diikuti pula secara serempak oleh seluruh rakyat. Mereka menyumbangkan harta untuk memenuhi tuntutan pembiayaan perang. Fatwa Al-Izz bin Abdis Salam sangat ampuh menyelesaikan masalah keuangan dengan segera.
Kemudian Al- Qutuz segera memobilisasi tentaranya maka terbentuklah pasukan berjumlah 20. 000 orang tentara. Mereka berunding dan akhirnya memutuskan untuk menyerang tentara Mongol di luar Mesir. Ini adalah strategi ofensif dalam menghadapi tentara Mongol.

Para tentara Allah ini berangkat ke luar wilayah Mesir dan terus bergerak ke arah Palestina. Dan bertemulah mereka dengan pasukan Tartar yang dikomandani oleh Kitbuqa di Ainun Jalut. Maka terjadilah pertempuran dahsyat antara kedua belah pihak.
Saat pertempuran sengit berlangsung, al- Qutuz membuka topeng besinya dan melaju dengan kudanya ke tengah arena pertempuran sambil memberi motivasi kepada seluruh tentaranya agar berjuang sampai titik darah penghabisan untuk memburu syurga Allah. Teriakan takbir bergema di sepanjang pertempuran dan al Qutuz terus merangsek di tengah- tengah musuh.

Pada pertempuran Ain Jalut ini, al- Qutuz didampingi isterinya Jullanar yang turut menyertai dalam rombongan pasukannya. Ketika Jullanar terluka parah, al- Qutuz memapahnya sambil berkata, ”Wahai Kekasihku.” Jullanar dalam keadaan terluka parah tetap memberikan semagat kepada suaminya. Dia pun membalas ucapan mesra suaminya dengan mengatakan, ”Wahai al-Qutuz lebih cintalah kamu kepada jihad ini.” Lalu isterinya menghembuskan nafas terakhir dan gugur sebagai syahidah.

Dalam kecamuk perang yang dahsyat, kuda yang ditunggangi al Quthuz terbunuh. Dengan sigap beliau langsung melompat dan berlari menghadang musuh. Saat itu ada seorang prajurit yang menyaksikan kuda al Quthuz terbunuh. Dengan tanpa dikomando sang prajurit menawarkan kuda tunggangannya kepada al Quthuz.
“Saya tidak ingin menghalangimu untuk memberikan manfaat kepada orang lain.” Al Quthuz menghargai tawaran prajuritnya sebagai sebuah kesetiaan. Semangat jihadnya yang tinggi menjadi api yang membakar semangat para tentaranya untuk memburu syahid yang selalu diidam-idamkannya.

Qutbuddin Al-Yunaini di dalam Al-Bidayah Wan Nihayah (658H) mengatakan bahwa al Qutuz sebelum menjadi seorang Sultan pernah bermimpi bertemu Rasulullah saw, dalam mimpinya Nabi saw mengatakan kepadanya bahwa dirinyalah yang akan menguasai Mesir dan akan menang dalam perang melawan Mongol.
Setelah itu al- Qutuz terus maju ke medan pertempuran hingga akhirnya pada hari Jumat, 25 Ramadhan 658H, bertepatan dengan 3 September 1260M tentara- tentara Allah ini berhasil merebut kemenangan atas tentara Tartar di Ain Jalut. Padahal selama ini tentera Tartar tidak pernah ada cerita dikalahkan dalam setiap pertempuran. Dan andaipun kalah di beberapa pertempuran, maka mereka akan mampu menebus kembali kekalahan mereka. Akhirnya hancurlah pasukan Tartar di ujung mata pedang kaum muslimin dan tidak pernah mampu lagi menebus kekalahan mereka di Ain Jalut.

Oleh Aidil Heryana (dakwatuna)

Go to Source
Author: aan

  • Comments Off

Oleh Mohd Fadly Samsudin

SIAPA sangka kita akan bertemu jodoh dengan seseorang yang sebelum ini tidak pernah dikenali.

Malah, dalam sekelip mata si dia sudah menjadi isteri kita.

Itulah dinamakan jodoh yang Allah s.w.t kurniakan kepada seseorang. Zaman datuk nenek moyang kita, kebanyakan menyerahkan kepada ibu bapa untuk memilih jodoh, tiada istilah bercinta atau mengurat.

Berbeza kini, zaman siber memberi pilihan kepada anak-anak memilih pasangan sendiri. Pasti setiap pasangan ada cerita menarik detik awal perkenalan sehingga diijab kabulkan.

Jika menuntut di menara gading, pastinya banyak kenangan manis bagi pasangan bertemu jodoh.

Ada yang bermula dengan meminjam nota pelajaran sehingga menerbitkan perasaan yang sukar untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Ada sebahagian yang ‘kuat’ jodohnya sejak zaman persekolahan, walaupun banyak pilihan di kampus, si dia tetap menjadi pasangan ke jenjang pelamin.

Begitulah hebat tarikan kasih sayang antara lelaki dan wanita. Setiap pertemuan itu pastinya dari ‘mukadimah’ cinta iaitu mengurat.

Tetapi, apakah Islam membenarkan umatnya melakukan perbuatan mengurat?
Cinta itu sebagai permulaan (mukadimah) kepada perkahwinan. Tidak menjadi kesalahan mengurat jika ia membawa kepada kebaikan.

Contohnya, seorang lelaki mahu menyampaikan hasrat hatinya terhadap wanita yang dirasakan layak menjadi teman hidupnya, seni mengurat perlu ada.

Tetapi, dari sudut berbeza, mengurat mungkin membawa keburukan jika berlaku perkara yang bertentangan dengan agama iaitu perzinaan.

Akibat berzina amat buruk kerana melanggar hukum Allah. Allah berfirman yang bermaksud: “Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu sangat keji dan jalan yang amat jahat”. (Surah al-Israak ayat 32)

Justeru, apabila keluar dari rumah, agama menyuruh kita menutup aurat selain memelihara diri daripada keghairahan seks yang boleh membawa kepada zina.

Islam tidak menyekat fitrah manusia untuk sayang menyayangi, cuma kita dilarang jika bibit-bibit kasih sayang itu membawa kepada kemaksiatan.

Islam tidak pernah menghalang memikat atau mengurat, tetapi perlu ada seninya dan tidak melanggar batas kesusilaan antara lelaki dan wanita.

Jika seorang lelaki itu berminat terhadap seorang wanita dan mahu menjadikan teman hidup, mereka perlu berjumpa dengan wali untuk meminang.

Menjadi satu kesilapan jika terus bertemu wanita pilihannya tanpa bertemu ibu bapanya.

Kita dianjurkan mendirikan solat istikharah untuk meminta Allah perteguhkan keputusan yang ada atau petunjuk membuat keputusan yang belum ada.

Mereka yang bersolat istikharah tidak akan kecewa kerana solatnya bukan saja mencari petunjuk Allah dalam membuat keputusan yang belum pasti, tetapi meminta diperteguhkan hati melaksanakan keputusan yang pasti.

Selepas keputusan dibuat, teguhkan azam dan terus bertawakal sebelum menguruskan lamaran dengan memilih wakil yang baik untuk meminang.

Jika bersedia, bawalah keluarga berjumpa dengan wali perempuan untuk mengenali calon menantu serta menyatakan hasrat dengan lebih jelas.

Selepas kedua-duanya bersetuju, barulah dijalankan upacara peminangan. Selepas bertunang, haram bagi seorang wanita itu dipinang lelaki lain.

Sepanjang masa pertunangan, mereka boleh mengenali di antara satu sama lain. Ketika itu barulah dapat dirasakan keserasian sebelum majlis perkahwinan.

Sentiasa beringat bahawa bertunang bukan ‘lesen’ melakukan perbuatan maksiat kerana mereka belum sah sebagai suami isteri.

Ini bagi memelihara zuriat yang bakal lahir nanti. Inilah indahnya Islam mengaturkan perjalanan hidup umatnya.

Percintaan dalam Islam ialah hubungan cinta yang disuburkan selepas perkahwinan sehingga ke akhirnya. Tanda sebuah perkahwinan itu dizahirkan melalui hubungan suami isteri diisi penuh tanggungjawab dan kasih sayang, membentuk anak yang soleh dan solehah serta taat kepada perintah Allah.

Jadi berdoalah untuk mendapatkan keredaan Allah semata-mata dan tidak sesekali berdasar godaan nafsu dan keduniaan.

Jika masih ‘berat’ bertemu jodoh, jangan bersangka buruk kepada Allah. Ini pastinya satu ujian yang mengandungi 1001 hikmah.

Barangkali Allah mahu selamatkan mereka daripada mendapat pasangan tidak sesuai. Tetapi, usaha perlu dipertingkatkan agar Allah permudahkan urusan kita.
Jangan membuat keputusan tidak berkahwin selama-lamanya kerana ia bertentangan dengan fitrah dan syariat agama.

Nabi Muhammad s.a.w memberi panduan melamar seorang wanita adalah dengan melihat calon mengikut aturan yang ditetapkan syarak.

Dari Anas bin Malik, beliau berkata, Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: “Pergilah untuk melihat perempuan itu kerana dengan melihat itu akan memberikan jalan untuk dapat lebih membina kerukunan antara kamu berdua”.

Lalu dia melihatnya, kemudian menikahi perempuan itu dan dia menceritakan kerukunannya dengan perempuan itu. (Hadis Riwayat Ibnu Majah)

Sebelum berkahwin pasangan diharuskan melihat dan berkenalan. Menurut riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahawa Nabi pernah bertanya kepada seseorang yang akan menikahi seorang wanita: “Apakah engkau telah melihatnya?” Ia menjawab: “Belum:. Baginda bersabda: “Pergi dan lihatlah dia”.

Meskipun sudah berkenalan, seseorang itu dilarang berpacaran berdasarkan ayat Quran yang menegah daripada berlakunya perzinaan.

Berpacaran bukanlah perkara yang tepat bagi mengenal pasangan. Mereka boleh mendapat maklumat daripada orang hampir dengannya seperti sahabat baiknya.

Minta penilaian daripada orang tua dan keluarga sebab mereka yang ‘jatuh cinta’ tidak melihat kekurangan pasangannya, bau busuk pun dikatakan wangi.

Jangan sesekali mengambil kesempatan terhadap pasangan walaupun mereka memberi isyarat berminat kepada kita.

Berikan pujian dengan ikhlas dan jujur terhadap sikap serta personaliti mereka. Jadikan mereka mempercayai kepada keikhlasan kita supaya mereka dapat berkongsi suka duka atau luahan emosi.
Faktor yang menyebabkan wanita terpikat dengan lelaki !
Janganlah bersikap keterlaluan sehingga menimbulkan pergaduhan atau rasa tidak senang kepada pasangan. Berusahalah untuk mencuci hati daripada perasaan negatif.

Untuk menjadikan semua orang di sekeliling kita berasa senang dan sayang kepada kita, bersihkan hati dengan menjaga ibadah seperti solat, membaca al-Quran, memaafkan orang lain, meminta maaf jika melakukan kesalahan, banyakkan bersedekah dan sentiasa memikirkan hal yang positif.

Dilahirkan sebagai lelaki, kita perlu banyak belajar mengenal kerenah wanita terutama menjaga perasaan, kehendak, pemikiran dan kesukaan mereka.

Cuba elakkan mencari kelemahan dan kesilapan kecil yang ada pada bakal pasangan. Apatah lagi bertindak mengutuk atau memalukan bakal mereka.

Pasangan pastinya akan tertarik kepada jika kita mengasihinya bukan kerana harta, wajah atau keturunannya.

Cari ruang untuk sentiasa mewujudkan suasana yang gembira yang dalamnya ada terselit kisah lucu.

Apa yang paling penting, carilah bakal bakal pasangan yang sekufu, setara dan sepadan dengan kita. Kehidupan yang lalui adalah ‘medan’ untuk terus memperbaiki diri dan belajar sesuatu perkara yang baru.
Artikel ini disiarkan pada : 2010/12/09

http://www.hmetro.com.my/articles/Larangandalamberpacaran/Article

 
Faktor yang menyebabkan wanita terpikat dengan lelaki !
  • Comments Off

Laman Blog ini:

Perkongsian bahan PENGALAMAN , MOTIVASI DAN CARA HIDUP dari sumber-sumber web lain.

  • zacky: call me [...]
  • Rico: My site is all about budget travel: tips, news and articles. I hope you like it as much as I liked [...]
  • GenjikOndUrO: CeLaka ZeOnis !! Hmm . . X berhati perUt lngsng ! [...]
  • tufail b mohd nasir: Hantaran tok owng negeri sembilan berape ek lau adew kwn2 ley bg thu ktew nk minx tlg nie [...]
  • sumathy: i rasa takut cabut gigi,i have masalah gigi rosak.i rasa macam fobia if nak cabut gigi [...]

Mesti lihat (tekan je gambar) !

.
.
.

.
.


Gambar caicng babi macam muka babi
.

Rumah berbentuk mangkuk tandas
.

Sawah padi sangat unik
.

Kereta dan motorsikal dalam 1
.

Jepun obses seks
.

Lama tapi moden
.

Sebab lelaki berbohong adalah?
.

Pages


.
.
.

like ?



Tekan gambar !


..

.

<