Archive for the ‘Kisah Kaum Durhaka’ Category

Kisah Kaum Durhaka: Sufyan bin Khalid

-  Termasuk aktor paling gencar dan menonjol melakukan perbuatan dosa, kejahatan, dan pengrusakan.
-  Penentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
-  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abdullah bin Unais kepadanya lantas ia membunuhnya.

Mereka tidak terikat melainkan dengan tali kefajiran, menumpahkan darah, merampas harta, merusak kehormatan, berperilaku jelek dan pemilik maksud dan tujuan-tujuan yang paling buruk.

Siapakah Mereka?

Agar semakin jelas gambaran kelompok yang jahat lagi buruk dari Hudzail, Lihyan, dan orang-orang perusak dari kalangan Arab ini, maka dengarkanlah perkataan penyair Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu yang menggambarkan mereka:

Seandainya keburukan diciptakan sebagai manusia yang mengajak mereka bicara niscaya ia datang menjadi orang terbaik di antara mereka. Terlihat tanda keburukan di mata mereka bagaikan tanda karena tapak keledai betina. Kuburan menangis apabila tidak ada yang mati dari mereka hingga ia berteriak pada orang yang ada di bumi saat kiamat. Sebagaimana landak malu apabila ia dikagetkan, ia sembunyi di siang hari dan tampak berjalan saat malam hari.

Adapun mengenai bejatnya kekufuran, kecintaan mereka kepada perkara yang jelek, dan kelancangan mereka melakukan kehinaan dan kekejian tanpa malu, tersebut bahwa Hudzail meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mereka akan memeluk Isam, agar dihalalkan bagi mereka berbuat zina, mereka tidak melihat perkara zina sebagai perkara yang keji, perbuatan jelek mereka menutupi amalan mereka. Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata dalam mencela dan mencerca mereka karena hal itu:

Hudzail meminta izin melakukan perbuatan keji kepada Rasulullah. Dia sesat dan menyimpang dengan permintaannya itu. Mereka meminta kepada Rasul apa yang tidak akan Beliau berikan. Hingga mati dan mereka adalah orang-orang Arab yang tercela. Selamanya tidak akan pernah engkau lihat Hudzail seorang penyeru yang menyeru kehormatan jauh dari hal negatif. Mereka mengharapkan kecelakaan dari kekejian itu, mereka meminta sesuatu yang diharamkan dalam Alquran.

Kejelekan serta berbagai kerendahan Sufyan bin Khalid aI-Hudzali, dijadikan umpan untuk menarik setiap orang kafir yang menentang, yang sangat enggan melakukan kebajikan, dan melanggar batas. Dia memilih orang-orang pinggiran dari Bani Lihyan dan yang lainnya. Alangkah bagusnya perkataan Hassan:

Celakalah bagi Lihyan di setiap keadaan Mereka disebutkan dalam Alquran sebagai penyebab kerusakan.

Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berencana untuk mendatangi orang yang kaku lagi kasar dan bejat ini dengan tiba-tiba, diluar perhitungan dan rencana mereka, agar Beliau menumpasnya lebih awal. Lalu apa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?!

Orang yang Mengorbankan Dirinya dengan Berani

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpikir mengenai sarana yang dapat membinasakan orang yang sombong itu, yakni Sufyan bin Khalid. Hal ini dilakukan sebelum bertambah kesombongannya, menyebar bahayanya, dan meluas anggotanya yang terdiri dari para setan yang berdosa di kalangan Arab dan yang terkucil dari mereka, maka Beliau mendapati bahwa pahlawan yang berani adalah Abdullah bin Unais al-Anshari al-Juhani, dialah orang yang mengemban pengorbanan amat besar dalam sejarah Anshar dan dialah yang menghabisi Sufyan bin Khalid al-Hudzali.

Abdullah bin Unais termasuk orang yang langka dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keberanian, kepahlawanan, dan ketangkasan. Dia tidak takut mati dalam menghadapi musuh.

Abdullah bin Unais tergolong orang yang dikenal oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan keberanian dan kepemimpinannya di garis depan, pahlawan juga Sang Pembela.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskannya tatkala Beliau melihat tidak seorang pun dari para pahlawan di kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhu yang bisa pantas mengembannya selainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia yang paling tahu tentang keadaan juga tingkat kepahlawanan para sahabatnya, demikian pula paling tahu akan keberanian mereka menghadapi maut di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu sebagai bukti dalam memenuhi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila Beliau menyeru mereka kepada kehidupan yang kekal selamanya.

Bagaimana Ciri-Cirinya Wahai Rasulullah?

Abdullah bin Unais tidak ragu dalam menjalankan tugas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi dia tidak mengetahui lelaki yang dimaksud, yaitu Sufyan bin Khalid al-Hudzali. Maka dia bertanya dengan penuh etika dan pengagungan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana ciri-cirinya Wahai Rasulullah?”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apabila melihatnya, engkau takut kepadanya dan berusaha untuk menghindarinya, kau dapati dia mengagetkan dan mengingatkanmu akan setan.”

Sifat apa ini?! Benar-benar sifat yang menakutkan dan menciutkan, mencabut jantung dari sela-sela tulang rusuk orang yang mendengarnya. Membuat takut pahlawan paling berani dan paling cekatan untuk maju menghadapi si Kafir yang menyerupai setan itu.
Tatkala sang pembela, Abdullah bin Unais bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ciri Sufyan bin Khalid, Beliau pun menggambarkannya dengan benar, selaksa setan yang amat jahat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensifati seseorang yang memusuhi Islam seperti Beliau mensifatinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abdullah bin Unais untuk membunuh Sufyan bin Khalid –semoga Allah menghinakannya- secara rahasia, sehingga berita itu tidak terdengar oleh Sufyan yang menjadikan dia bersiap-siap, akhirnya kesempatan kaum muslimin untuk membunuhnya menjadi lenyap.

Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu seorang pahlawan pemberani, hatinya lapang, tidak takut mati. Dia tidak takut bertemu musuh di medan pertempuran atau peperangan. Karena itulah pilihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dijatuhkan padanya, Beliau memberi tahu ciri Sufyan dengan rinci seraya memberi peringatan kepadanya:

“Apabila engkau melihatnya engkau takut kepadanya dan berusaha menghindarinya, engkau mendapatinya me-ngagetkan dan mengingatkanmu akan setan.”

Abdullah bin Unais berkata dengan penuh etika dan keberanian, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah kabur sekali pun.” Diriwayatkan pula, “Wahai Rasulullah, demi yang mengutusmu dengan hak, aku tidak takut pada sesuatu pun.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “ltulah tanda antara engkau dengannya.” Untuk menambah peringatan sang pahlawan pemberani Abdullah bin Unais terhadapnya, memompa kemauan kuatnya serta menanamkan dalam dirinya benih keberanian.

Gambaran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pribadi yang sombong dan berdosa ini menunjukkan bahwa dia telah sampai pada penampilan yang amat jelek dan buram, tidak enak dipandang, kepribadian yang ganas, sifat yang buruk, jiwa yang rendah hingga sejajar dengan pemimpin para setan yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai contoh yang paling jelek dan pemandangan paling buruk.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menempelkan dosa, kejelekan dan peman-dangan yang buruk pada Sufyan bin Khalid. Suatu hal yang menjadikan orang yang melihatnya takut, menggetarkan kaum lelaki yang paling berani dan paling agresif.
Maha Benar Allah dan Rasul-Nya

Setelah Abdullah bin Unais mengetahui tugasnya dan mempelajari keadaan musuh yang akan dihadapinya, dia keluar mencarinya sendirian. Tidak seorangpun bersamanya melainkan pedang. Dia tidak mengetahui ciri si Jahat Sufyan bin Khalid melainkan apa yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abdullah berjalan menuju sasarannya, dia bertanya pada orang yang ditemuinya di jalan tentang Sufyan bin Khalid agar dia bertemu dengannya. Tatkala Abdullah sampai di tempat tinggal Sufyan, yang mengumpulkan kaum jahat lagi fakir di daerah ‘Uranah. Abdullah berjumpa dengan sekumpulan perusak lagi jahat. Dia mendapati gerombolan orang berjalan di belakang Sufyan dan pengikutnya-pengikutnya dari para durjana.

Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu berkata tatkala pandangannya tertuju pada si Bejat Sufyan bin Khalid al-Hudzali:

Tatkala aku melihatnya diriku merasa ciut, aku teringat dengan ciri yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya, aku merasakan perasaan gemetar seperti dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keringat mengucur.

Aku bergumam, “Maha benar Allah dan RasuI-Nya.” Lantas aku menemuinya, aku takut terjadi pertarungan antara diriku dengan dirinya hingga melalaikanku dari shalat. Maka aku melakukan shalat seraya berjalan menuju ke tempatnya dengan isyarat kepala yang menandakan ruku’ dan sujud? Tatkala aku dekat darinya dia berkata, “Dari mana lelaki ini?”

Aku menjawab, “Dari Khuza’ah, aku mendengar engkau mengumpulkan orang untuk memusuhi Muhammad, aku mendatangimu untuk bergabung.’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan kepada Abdullah bin Unais, “Nisbatkanlah dirimu kepada Khuza’ah.”

Ibnu Nubaih berkata dengan sikap arogan dan sombong, “Benar, sesungguhnya dia sedang mengumpulkan orang untuknya.”

Abdullah bin Unais berkata, “Aku berjalan bersamanya, aku mengajaknya bicara dan dia terkesan dengan pembicaraanku serta aku membacakan syair untuknya.” Abdullah bin Unais terhitung salah seorang penyair di kalangan sahabat.

Perlu diingat bahwa Abdullah bin Unais telah meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkata dengan syair dan Taurat serta dialek pembicaraan yang diterima dan menenangkan si Fajir yang sombong Sufyan bin Khalid hingga dia tidak meragukan Abdullah, atau dia akan merasa ragu dan sangsi akan kedatangannya. Sehingga dia dapat menyakinkan lelaki jahat itu bahwa dia mendatanginya untuk bergabung dengan kelom-poknya yang ganas.

Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu berkata saat sedang memaparkan pembicaraannya kepada Sufyan agar pujiannya diterima,

“Sungguh aneh apa yang dilakukan Muhammad dengan agama baru ini, dia menyelisihi nenek moyang dan membodohkan pe-mikiran mereka.”

Sufyan berkata memuji kalimat Abdullah bin Unais dan dia telah tersanjung, “Sesungguhnya dia –maksudnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak bertemu dengan orang yang selevel denganku.”

Inilah hakekat yang menunjukkan mukjizat kenabian, kalimat ini diucapkan oleh orang yang sombong lagi hina, bahwa tidak ada yang menyerupainya, orang yang sangat rendah, hina dan penuh dengan dosa. Sungguh benar Rasulullah, dia menyifatinya persis dengan fakta.

Bagaimana Terbunuhnya Thaghut Ini

Bukan hal yang gampang bagi Abdullah bin Unais untuk membunuh si Jahat, melainkan dengan menghadirkan keberanian dan hikmah. Abdullah bin Unais menggambarkan Sufyan bin Khalid dengan mengatakan: Tatkala dia berjalan dengan tongkat seolah-olah dia mengguncang bumi.

Kalau begitu, hikmah disini menuntut ketenangan dan sandiwara unik. Abdullah berjalan bersama lelaki jahat yang kesetanan ini, langkahnya seakan mengguncang bumi dikarenakan berat pijakan, juga sifat sombongnya, Abdullah berjalan bersamanya sambil bercakap-cakap hingga sampai ke tempat persembunyian, kawan-kawannya berpencar ke rumah yang dekat disekelilingnya, mereka mengelilinginya. Saat itu dia bet-kata kepada Abdullah bin Unais, “Kemarilah wahai saudaraku dari Khuza’ah.”

Aku mendekatinya, dia menyodorkan padaku gelas agar aku meminum susu. Lantas aku meminumnya kemudian aku kembalikan kepadanya, maka dia mengisinya seperti mengisi unta. Kemudian dia berkata, “Duduklah.” Aku pun duduk bersamanya hingga malam tiba untuk menyelimuti kehidupan dengan kegelapan, sunyilah kebisingan orang-orang jahat disekitarnya dan mereka pun tidur. Aku pun menunggu hingga dia tertidur nyenyak, kemudian aku pun. mengambil kesempatan saat dia lalai dengan mengayunkan pedang, lantas aku membunuhnya dan kubawa kepalanya dan kutinggalkan para wanitanya menangis.

Kemudian aku menuju ke gunung dan mendakinya, lantas aku masuk ke sebuah gua. Orang-orang berkuda mencari sedang aku bersembunyi di gua, satang laba-laba menutupi gua. Seseorang datang di mulut goa dengan membawa kendi yang besar dia memegang kedua sandalnya –sedangkan aku tidak beralas kaki-, maka orang itu meletakkan sandal dan kendinya kemudian duduk di pintunya, lantas berkata pada teman-temannya, “Di gua tidak ada seorang pun, selanjutnya mereka bubar pulang.”

Aku merasa sangat kehausan, aku keluar dan meminum apa yang di kendi lalu mengambil kedua sandal dan memakainya, aku pun berjalan di malam hari dan bersembunyi di slang hari hingga sampai ke Madinah. Maka kudapati Rasulullah di Masjid, tatkala Beliau melihatku Beliau menyapa, “Alangkah beruntungnya wajahmu.”

Aku menimpali, “Sungguh beruntung wajahmu wahai Rasulullah, aku telah membunuhnya.”

Beliau menjawab, “Engkau benar.”

Kemudian kuletakkan kepala lelaki jelek itu di depan Rasulullah dan kuceritakan apa yang kualami. Beliau menjulurkan tongkat itu kepadaku seraya bersabda, “Pakailah tongkat ini di surga, sesungguhnya orang-orang yang memakai tongkat di surga amat sedikit.”
Tongkat barakah ini selalu dipegang Abdullah bin Unais hingga tatkala ia meninggal tahun 54 H, dia berwasiat agar tongkatnya disisipkan di kain kafannya, maka mereka pun melakukannya dan ia dikubur bersamanya.

Terbunuhnya Sufyan bin Khalid bin Nubaih di tahun keempat Hijriah. Musa bin ‘Uqbah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan para sahabatnya mengenai Abdullah bin Unais yang membunuh Sufyan bin Khalid, sebelum kedatangan Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu. Ini menunjukkan kenabiannya, berkenaan dengan hal ini Abdullah bin Unais telah mengarang syair berikut:
Aku tinggalkan anak sapi seperti anak unta, sedangkan di sekitarnya orang-orang berteriak sambil menyobek saku berkeping-keping. Aku menebasnya sedangkan kambing di belakangku dan di belakangnya, dengan pedang Muhammad yang lebih putih dari cairan besi. Dia menebas kepala seakan-akan kobaran api yang menyala dikarenakan ada yang menyulutnya. Aku berkata kepadanya, Bunuhlah ia dengan sabetan orang yang agung, bersih lurus di atas agama Nabi Muhammad. Kebiasaanku apabila mendapati Nabi mengeluh tentang orang kafir, aku bersegera mendahuluinya dengan peang dan tangan.

Demikianlah Abdullah bin Unais menghabisi pemimpin orang kafir, Sufyan bin Khalid aI-Hudzali. Dia menumpas kelompok Sufyan bin Khalid –semoga dilaknat Allah- yang berhak mendapat Neraka karena dosanya dan ia merupakan seburuk-buruk tempat, walhasil Allah telah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan dengan mereka.

Dia Masuk Neraka dan Kekal di Dalamnya

Sufyan bin Khalid bin Nabih aI-Hudzali sang lelaki yang penuh dosa termasuk salah seorang yang jahat hidup di masa kenabian, yang melarang, memusuhi, merintangi dan menyelisihi Allah dan Rasul-Nya. Mereka menyembunyikan depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bekerja untuk meruntuhkan dakwah Islam dengan berbagai cara, Allah menghinakan mereka, mencelakakan dan melaknat mereka serta menjadikan neraka tempat kembali mereka, kekal di dalamnya sebagai imbalan atas perbuatan tangan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan balasan bagi orang yang berusaha berbuat kerusakan di muka bumi atau menjadi penyebab kerusakan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan RasuI-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik [memotong tangan kanan dan kaki kiri, dan kalau melakukan lagi, maka dipotong tangan kiri dan kaki kahan. Atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka peroleh siksaan yang besar.” (QS. AI-Maa’idah: 33)

Sufyan bin Khalid aI-Hudzali termasuk salah seorang .ang memerangi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan permusuhannya terhadap Rasul-Nya yang mulia, tidak memeluk Islam dan tidak menerima agama yang benar. Akan tetapi dia mengumpulkan orang-orang fasiq disekitarnya, orang-orang murtad serta para penentang yang seakan dapat meruntuhkan gunung. Mereka berusaha merampas jiwa, darah dan harta kaum muslimin di Madinah sedapat mungkin jika ada jalan.
Sufyan merupakan pemimpin mereka dan pelopor per-buatan itu, maka dia berhak mendapat kehinaan di dunia, adapun di akhirat, tempat kembalinya adalah Neraka yang di dalamnya dia tidak hidup untuk bernafas lega dan tidak pula mati untuk beristirahat dari siksa.

Dalam Al-Qur’an aI-Karim terdapat berita tentang masuk-nya orang yang ingkar kepada Allah dan RasuI-Nya ke dalam Neraka seperti Sufyan bin Khalid yang melampaui batas dalam kemaksiatannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasuI-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api Neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. An-Nisaa’: 14)

Lelaki berdosa Sufyan bin Khalid ini telah menempuh jalan orang-orang yang berbuat kejahatan, kezhaliman, keku-furan dan kemaksiatan. Kesalahannya telah mengubumya. Dia tergolong penghuni Neraka yang kekal, didalamnya bersama orang-orang yang kekal, yaitu mereka patut berhak menerima kalimat Rabb-mu yang benar lagi adil.

Di dalam hadits Nabawi yang mulia juga terdapat keterangan mengenai adzab bagi orang yang dibunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau Nabi menyuruh orang untuk membunuhnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap orang yang dibunuh Nabi atau Nabi menyuruhnya untuk dibunuh dizamannya, dia akan diadzab sejak terbunuh, hingga ditiup sangkakala.”

Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M

Artikel www.KisahMuslim.com

Kata Kunci Terkait: masuk neraka, kisah kaum durhaka

Go to Source
Author: Admin

  • Comments Off

Iblis Mengaku Tuhan

Tersebutlah seorang ulama yang bernama Ahmad bin Nazzar. Kunyah beliau Abu Maisarah, Al-Qoiruwani. Salah seorang ulama bermadzhab Maliki. Beliau dikenal sebagai Faqihul Maghrib (ahli fikih daerah Maroko). Sosok yang dikenal doanya mustajab. Seorang ulama yang seimbang antara ilmu dan amal. Hampir setiap malam beliau mengkhatamkan Al-Quran dalam shalat tahajud di masjidnya.
Beliau pernah diminta oleh Gubernur Al-Manshur bin Ismail untuk menjabat sebagai qadhi untuk daerah Qoiruwan, namun beliau tidak bersedia menerimanya. Beliau wafat di tahun 338 H.

Ada satu kejadian menarik tentang beliau. Di sela beliau sedang tahajud, tiba-tiba muncul cahaya sangat terang dari tembok masjid. Cahaya itu mengatakan dengan lantang,

تملا من وجهي، فأنا ربك

“Engkau telah memenuhi wajahku, akulah tuhanmu.”

Apa yang bisa kita bayangkan ketika kita mengalami kejadian semacam ini? Ya, kita sepakat akan merasa sangat bangga. Kita akan merasa telah mencapai puncak beribadah. “Allah telah menampakkan dirinya, berarti saya sudah mencapai derajat hakekat.” Atau kita akan meminta banyak hal, mumpung ketemu langsung dengan Allah, “Ya Allah, berikan aku banyak harta, rumah mewah, mobil mewah.” “Ya Allah, aku minta karamah, agar bisa menolong hamba-Mu yang sakit.” “Ya, Allah jadikan dia pasangan hidupku.” “Ya Allah, luaskan rizkiku, mudahkan urusanku, mudahkan aku tuk meraih cita-citaku.” Dan seabreg permintaan lainnya, yang menunjukkan betapa tamaknya kita dengan dunia.

Hampir bisa dipastikan, orang yang mengalami kejadian semacam ini, esok harinya akan segera membuka praktek pengobatan alternatif, suwuk. Karena merasa punya karamah.

Tapi tidak demikian yang dilakukan sang imam. Ulama yang mulia ini memahami hal yang berbeda. Yang mendapat petunjuk Allah melalui ilmu agama yang beliau pahami. Apa yang beliau lakukan?

Ternyata Imam Ahmad bin Nazzar ini meludahi cahaya yang menampakkan wajah ini, dan mengatakan,

اذهب يا ملعون

“Pergilah wahai makhluk terlaknat.”

Tiba-tiba cahaya itu padam.

Beliau memahami ini tipuan setan. Agar orang menjadi ujub dalam beribadah. Selanjutnya dia mengaku telah mencapai puncak nirwana ibadah, derajat makrifat atau hakekat. Selanjutnya dia meninggalkan ibadah sama sekali.

(Siyar A’lam Nubala: 15/396)

Artikel www.KisahMuslim.com

Kata Kunci Terkait: kisah iblis, iblis

Go to Source
Author: Admin

  • Comments Off

Orang Fajir Paling Sengsara dari Kaum itu Adalah Uqbah

Lihat kisah sebelumya: Kisah Orang Durhaka: Uqbah bin Abi Mu’aith (bagian 1)

‘Uqbah bin Abi Mu’ith terekam secara lebar dalam catatan yang hina, sikap hina lagi jelek yang dimilikinya menunjukkan kerendahan pribadinya, kesewenang-wenangannya dan kehinaannya. Hampir tidak ada seorang pun yang menananginya, atau orang rendah yang mengunggulinya dalam perkara yang buruk.

Dia duduk bersama kaum Quraisy dalam majelis yang sangat merendahkannya, maka dia terpaksa mencari muka, dia bergegas mendekati mereka, sebagai upaya meraih keridhaan mereka.

Para pengemuka Quraisy yang jelek mengetahui.keburukan lelaki yang bodoh dalam tingkat yang sangat menghinakan, mereka memanfaatkannya dalam perkara yang amat sangat buruk.

Kehidupan Jahiliyah tidak mengenal sikap atau peran serta ‘Uqbah yang menunjukkan kemuliaannya, karena dia adalah seorang yang suka berpesta pora lagi berlagak berani.

Alkisah lelaki fajir lagi buruk ini mendengarkan para pembesar Quraisy, Abu Jahal dan kawan-kawannya berkata dalam majelis yang amat hina, “Siapa yang akan mengambil sampah di samping kita ini, kemudian meletakkannya di punggung Muhammad saat dia sujud?”

Maka bergegaslah orang yang paling buruk di antara mereka, dia bergegas menyambut gagasan itu mendahului yang lainnya, orang berdosa ini menyandarkan nasabnya pada Quraisy, dia cepat dalam menunaikan keinginan mereka yang penuh dosa dengan berkata, “Saya.”

Mereka berkata dengan pencibiran dan penghinaan, “Benar, engkaulah yang layak wahai Abul Walid.”

Lelaki fajir itu bergegas pergi ke sampah yang dimaksud, dimana binatang paling kotor dan paling jelek saja jijik mendekati sampah itu. Lantas ia membawanya, kemudian diletakkan di atas punggung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Beliau bersujud, khalayak menyaksikannya dengan tepuk tangan dan tertawa hingga badan mereka bergoncang miring ke badan temannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap dalam sujud dan munajat Beliau, hingga bergegaslah salah seorang yang melihat kejadian itu menuju Fathimah binti Rasulullah, wanita pemimpin dunia, putri makhluk Allah paling mulia dari sisi ayah maupun ibu. la menemui ayahnya seraya megangkat kotoran dari punggung ayahnya yang mulia, ia mencuci bekas-bekas yang menimpa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam karena perbuatan orang fa]ir tersebut. Kemudian Fathimah menemui sekelompok Quraisy yang menghinanya, lalu ia mencela dan mencaci mereka. Mereka pun menundukkan kepala dan tidak dapat membalas sepatah kata pun, mereka terpukul penghinaan tersebut serta memperoleh kemurkaaan Allah.

Kemudian Mereka Dihinakan

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam usai melakukan shalat dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Beliau memandang dengan pandangan yang menyeluruh, seakan laknat dari langit menimpa mereka, kemudian Beliau menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mendoakan kecelakaan atas mereka. Kebiasaan Beliau apabila berdoa se­banyak tiga kali, demikian pula apabila memohon sebanyak tiga kali. Kemudian Beliau berdoa, “Ya Allah, hukumlah Quraisy.”

Tatkala mendengar suara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menghentikan suara tawanya takut akan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Beliau melanjutkan, “Ya Allah, hukumlah Abu Jahal, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Al-Walid bin ‘Uqbah, Umayyah bin Khalaf dan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith.”

Orang fajir (berdosa) lagi tercela ‘Uqbah –semoga Allah melaknatnya- melihat situasi mencekam di hadapan para pembesar Quraisy hingga dia merasa hina, dia pun mundur pertanda merasa rendah, hina dan kalah, dia tidak mengira atau tidak membayangkan bahwa orang-orang kafir akan berada dalam situasi yang memalukan seperti itu.

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, yang telah mengutus Muhammad dengan haq, aku melihat orang­-orang yang disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tewas terkapar di peperangan Badar, kemudian mereka diseret ke sumur Badr.”

Tanyakan Padanya Tiga Perkara

Habislah inisiatif ‘Uqbah dalam merintangi dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berunding dengan Quraisy untuk mencari cara guna menutup celah dari jendela yang bisa dimasuki cahaya Nabawi. Usai pertemuan, para pembesar menghasilkan kesepakatan mengutus rombongan ke kaum Yahudi Madinah agar mengetahui hakikat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kebenaran dakwahnya.

Yang menjadi pilihan Quraisy adalah dua orang yang paling keras permusuhannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya setan Quraisy, an-Nadhr Ibnul Harits al-’Abdari dan yang lain paling, adalah ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, orang yang paling sengsara.

Keduanya pergi menuju Madinah, keduanya bertanya kepada para pendeta Yahudi tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keduanya menggambarkan perkara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagian perkataan Beliau pada mereka, dan keduanya berkata, “Sesungguhnya kallan Ahli Taurat, kami datang untuk mencari tahu tentang teman kami ini.”

Para pendeta Yahudi berkata pada keduanya, “Tanyakanlah padanya tiga perkara, jika dia menjawab berarti dia seorang Nabi yang diutus, jika tidak berarti dia pembual, silahkan kallan pertimbangkan.

Tanyakan padanya tentang para pemuda yang telah pergi di masa lalu, bagaimana ceritanya? Karena mereka memiliki kisah yang menakjubkan.

Tanyakanlah berita tentang seseorang yang mengelilingi bumi ke Barat dan Timur? Dan tanyakanlah kepadanya tentang roh?

Dan Mereka Bertanya Kepadamu Tentang…

Dua orang lelaki yang jelek dan sengsara ‘Uqbah dan An-Nadhr –semoga keduanya dilaknat Allah– datang menjumpai Quraisy, keduanya terpedaya, dan bergelimang dosa. Keduanya, juga orang-orang Quraisy, mengira akan menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti arang –alangkah mereka dari cita-cita itu-.

Tatkala mereka bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang para pemuda yang hidup di masa lalu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:

“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim [sebagian Ahli Tafsir mengartikan nama anjing dan sebagian yang lain mengartikan batu bersurat] itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo’a: ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).’” (QS. Al-Kahfir: 9-10)

Dan ayat-ayat berikutnya meriwayatkan kisah para pemuda secara lengkap.

Kemudian mereka bertanya mengenai lelaki yang selalu mengelilingi bumi, maka Allah menurunkan:

“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah, ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.’” (QS. Al-Kahfi: 83) Hingga akhir cerita, juga tentang penjelajahannya di dunia Timur dan Barat.

Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firmannya tentang roh:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.’” (QS. Al-Israa: 85)

Roh merupakan makhluk yang aneh di antara makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala, salah satu rahasia Allah, tidak ada yang mengetahui hakikatnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka cukuplah bagi kalian tentangnya dengan mengetahui pengaruhnya, dalam bentuk kehidupan, perasaan dan adanya kemampuan untuk membedakan, bagaimana pun ilmu kalian, maka sungguh ia hanyalah sedikit jika dibandingkan dengan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berakhirlah dialog antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan para pengemuka Quraisy dan orang yang paling busuk di antara mereka, yakni Uqbah. Merekalah orang-orang yang merugia lagi kecwa, utusan mereka kepada Yahudi membawa pukulan dan hujjah atas mereka, ganjalan dalam jiwa, juga mengeruhkan kehidupan mereka, khuusnya Uqbah dan An-Nadhr, dua orang yang bernasib kecewa dan gagal serta kembaliu dengan akhir yang buruk.

Ya Allah Sungkurkanlah dan Bantinglah Dia

Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah, Beliau menetap bersama kaum muhajirin di sisi kaum anshar dalam jaminan paling mulia, akan tetapi apakah Uqbah meninggalkan kejahatan dan kesesatan?!

Sebenarnya api kedenkian dalam jiwa lelaki jahat ini menyala lebih besar dari sebelumnya, dia mengancam dan berjanji dengan mengata-ngatai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin.

Si Uqbah di Mekah, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, ketika itu dia mengatakan ancaman dalam dua bait syair:

Wahai penunggang unta yang jauh meninggalkan kami, sebentar lagi engkau akan melihatku menunggang kuda menyusulmu. Aku akan menghunjamkan tombakku pada kalian kemudian menyiksa dengannya. Dan pedang ini akan membabat kalian setiap kali ada penghalan.

Tatkala ada yang menyampaikan perkataan Uqbah –semoga Allah menghinakannya- kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, Ya Allah, sungkurkanlah lubang hidungnya dan bantinglah Dia.”

Kaum Quraisy suatu hari dibangkitkan oleh teriakan yang menyerukan penyelamatan barang dagangan mereka, orang-orang bersiap siaga, yang terdepan adalah Uqbah dengan menunggang kudanya. Sebelum dia meninggalkan Mekah, orang-orang jahat sepertinya berkeliling memeriksa rekan-rekannya, dia bertemu Umayyah bin Khalaf –tokoh kekufuran dan orang kafir- telah mengumpulkan pasukan, dia terkenal sebagai orang tua yang berat lagi lambat, lantas datanglah ‘Uqbah dan mencelanya dengan sifat penakut dan pengecut, dia datang dengan tempat dupa yang didalamnya ada bahan-bahan yang dibuat untuk membakar dupa, dia berkata dengan nada mengejek:

“Wahai Abu ‘Ali berukuplah (memakai wangi-wangian), sesungguhnya engkau bagian dari kaum wanita.”

Umayyah berkata, “Semoga Allah memburukkanmu dan memburukkan apa yang kau bawa. Kemudian dia bersiap-siap dan pergi bersama mereka.”

Kaum musyrikin menuju Badr, sedangkan kaum muslimin telah mendahului mereka disana. Mereka mendapati dua orang lelaki, seseorang dari Quraisy dan budak ‘Uqbah bin Abi Mu’ith. Lelaki Quraisy Iolos lari, sedangkan budak ‘Uqbah tertangkap. Kaum muslimin bertanya padanya, “Berapa jumlah kaum musyrikin?” Dia menjawab dengan buruk dan penuh tipu daya sebagaimana dia belajar dari tuannya ‘Uqbah, “Demi Allah, jumlah mereka banyak dan kekuatannya besar.” Hanya itulah jawabnya, Lantas mereka membawanya ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dia enggan memberitahu jumlah yang sebenarnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Berapa banyak mereka menyem-belih unta?” Budak itu menjawab, “Sepuluh ekor setiap hari.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka berjumlah seribu, setiap ekor untuk kurang lebih 100 orang.”

Dia Habisi Saat Ditawan

Meletuslah peperangan Badr, kedua pasukan bertemu. Pedang-pedang kaum muslimin menebas leher orang-orang kafir hingga terpisah dari tubuh mereka.

Terdapat dua oase dan dataran lapang tempat persem-bunyian orang-orang yang kabur dan takut pada pedang. Maka tertangkaplah mereka sebagai tawanan dibelenggu rantai dalam keadaan hina. Diantara mereka benalu Quraisy yang jahat, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith -semoga Allah melaknatnya-, Allah telah menyungkurkannya ke tanah saat kudanya terpeleset, ‘lalu ditawan oleh ‘Abdullah bin Salamah al-’Ajlani, Allah telah mengabulkan doa Nabi-Nya tentang orang jahat ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama rombongan menuju Madinah, ketika perjalanannya tiba di ‘lrqazh Zhabyah Beliau menyuruh ‘Ashim bin Tsabit bin Abi aI-Aqlah aI-Anshari al-’Aqabiy al-Badri untuk membunuh orang paling jahat yang berjalan di tanah Mekah, juga yang berusaha membunuh kaum muslimin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith -semoga laknat Allah yang bertubi me­nimpanya-.

Tatkala si Penakut lagi pengecut ini mendengar periotah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dia dibunuh, dia pun berteriak seperti anak kecil dengan diliputi kehinaan dan memelas seraya berlagak lupa akan tindakan sewenang-wenangnya, “Wahai Muhammad siapakah yang akan mengurus anak-anakku?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Neraka.”

Az-Zarqani rahimahullah berkata dalam penjelasan AI-Mawaahib aI-Laduniyyah: Diriwayatkan bahwa ‘Uqbah berkata, “Wahai kaum Quraisy, bagaimana aku dibunuh diantara kalian dalam keadaan terikat seperti ini?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Karena kekufuran-mu dan kedustaanmu kepada Allah.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyatakan kepadanya, “Engkau bukan dari Quraisy, engkau hanyalah seorang Yahudi dari penduduk Shafuriyyah?!”

Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu mendengar tatkala ‘Uqbah berkata, “Bagaimana aku dibunuh diantara Quraisy dalam keadaan terikat seperti ini?!”

Maka Umar Ibnul Khaththab berkata, “Kayu palsu itu bersuara,”

Demikianlah kecerdasan Umar, dia memaparkan nasab ‘Uqbah. Hal itu karena kayu yang digunakan untuk mengocok undian dalam perjudian mungkin disisipi kayu pinjaman (palsu) yang telah diuji coba kemampuannya, lantas dipinjam untuk itu. Apabila digerakkan bersama wadah pengocok maka terdengarlah suaranya yang berbeda karena unsur bahan yang berbeda antara keduanya. Maka jadilah ungkapan tenar, “Kayu palsu itu bersuara.” Umar memberikan contoh dengan hal ini, beliau menginginkan agar ‘Uqbah tidak digolongkan sebagai Quraisy. Hal ini senada dengan apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Uqbah, “Sesungguhnya engkau orang Yahudi dari Shafuriyyah?”

Asy-Sya’bi rahimahullah berkata: Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar ‘Uqbah dibunuh, dia berkata, “Akankah engkau membunuhku wahai Muhammad, diantara kalangan Quraisy?!”

Nabi menjawab, “Ya, tahukah kallan apa yang telah dia akukan terhadapku? Dia datang saat aku sujud di belakang maqam, lantas dia menginjakkan kakinya ke leherku dan menekannya. Dia tidak mengangkatnya hingga aku mengira kedua mataku akan lepas keluar. Dan pada kesempatan lain dia datang dengan Salaa (wadah anak kambing berupa kulit tipis yang keluar bersama janin kambing) lantas melemparkannya ke atas kepalaku saat aku sujud, maka datanglah Fathimah -nembersihkannya dari kepalaku.”

‘Ashim bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu maju dan melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dia menyucikan bumi dari najis orang yang berdosa ini sebagai balasan yang setimpal atas kefajiran dan kesewenang-wenangannya.

Terbunuhnya Dia Merupakan Keadilan dan Hikmah yang Mengesankan

Imam AI-Khaththabi rahimahullah berdalil dalam Ma’aalim as-Sunan zengan kisah terbunuhnya ‘Uqbah bin Abi Mu’ith –semoga dilaknat Allah- atas bolehnya membunuh panglima perang yang ditawan apabila terlihat kemaslahatan dibaliknya.

Sesuatu yang sudah tidak diragukan lagi bahwa pembunuhan ‘Uqbah –yang terlaknat- terdapat maslahat yang besar, buahnya dapat dipetik dengan jangkauan tangan, yaitu mema-tahkan kekuatan orang yang keji, fasiq dan pelaku maksiat, juga pelopor permusuhan, apalagi pada saat itu, usai perang Badr. Kemudian untuk penyejuk hati kaum muslimin dan pembangkit semangat mereka, di mana mereka percaya dengan seyakin-yakinnya bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengawasi orang-orang yang menentang Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin.

Tidak diragukan lagi bahwa keberadaan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith dan membiarkannya tidak dibunuh kala itu, terhitung sebagai sumber bahaya besar bagi Islam. Kalau sekiranya dilepaskan bebas, niscaya dia tidak akan segan-segan menempuh berbagai jalan apapun yang membawa mashlahat bagi syirik dan kaum musyrikin, membuat tipu daya untuk Islam dan kaum muslimin. Maka membunuhnya dan memberi balasan yang sepadan merupakan hikmah yang luar biasa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (QS. An-Najm: 3-5)

Dan Ketika Orang yang Zhalim Menyesali Perbuatannya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan (Ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya (maksudnya menyesali perbuatannya), seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan (maksudnya syaithan atau orang yang telah menyesatkannya di dunia) itu teman akrab (ku). Sesungguhnya alia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika AI-Qur’an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah syaithan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 27-29)

Tersebutkan keterangan dari Ahli Tafsir diantara mere­ka: ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, Said Ibnul Musayyab rahimahullah bahwa orang yang berbuat zhalim dalam ayat ini maksudnya ‘Uqbah bin Abi Mu’ith –semoga dia dilaknat Allah-, ialah kawan dekat Umayyah atau Ubay bin Khalaf. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan tentang dua orang yang akan terbunuh diatas kekufuran, lantas keduanya terbunuh dalam kesempatan itu.

Cukuplah sebagai bukti kejelekan ‘Uqbah bahwasanya AIlah menamakannya seorang yang zhalim, dan dia akan menggigit kedua jarinya. Dia menyesali diri mengapa dia berlebihan melanggar hak Allah dan sebelumnya dia tergolong orang yang mengolok-olok, lantas dia menjadi orang-orang yang merugi. Allah mengabarkan bahwa ‘Uqbah kelak akan menyesal dan berkata, “Duhai binasanya diriku, celakalah aku dan alangkah meruginya diriku, sekiranya aku tidak berteman dengan fulan dan tidak menjadikannya sebagai kawanku.”

Lafazh (fulan) merupakan kiasan bagi orang yang menyesatkannya, yaitu Ubay bin Khalaf, dia telah menyesatkanku dan petunjuk dan keimanan sesudah aku beriman dan mendapat petunjuk –seperti dikisahkan sebelumnya-.

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Setiap orang yang memalingkan diri dari jalan Allah dan ditaati dalam melanggar ketentuan-Nya, maka dia adalah setan bagi manusia, ia terhina saat turunnya bencana dan siksa.

Alangkah bagusnya perkataan berikut:

Bertemanlah dengan manusia yang baik niscaya engkau selamat. Dan berteman dengan orang yang buruk akan mendatangkan sesal suatu hari.

Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyaksikan kekufuran ‘Uqbah terhadap Allah dan Rasul-Nya serta kitab-Nya –hal itu tatkala dia terbunuh- Beliau bersabda, “Demi Allah, engkau sejelek-jelek lelaki yang kukenal, mengingkari Allah dan Rasul-Nya serta kitab-Nya dan menyakiti Nabi-Nya. Maka aku bersyukur kepada Allah yang telah membunuhmu dan menjadikan mataku sejuk karenanya.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam Neraka bagi ‘Uqbah dan yang semisalnya karena penentangan dan gangguan mereka. Sebagaimana diketahui bahwa ‘Uqbah dahulu mengganggu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat orang yang mengganggu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan akhirat dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasuI-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)

Banyak nash AI-Qur’an yang mengancam orang yang membantu dalam mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bagaimana dengan si Pelaku?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka adzab yang pedih.” (QS. At-Taubah 61).

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan ‘Uqbah dan kuffar quraisy, mereka yang terbunuh dalam peperangan Badr akan dimasukkan ke Neraka dalam firman-Nya:

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah me-nukar nikmat Allah dengan kekafiran dan meniatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu Neraka Jahannam, mereka masuk kedalamnya, dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ibrahim: 28-29)

Cukuplah dalam hal ini sebagai kecaman dan ancaman bagi ‘Uqbah dan semisalnya dari para pemimpin orang-orang ,kafir dan sesat. Apakah sesudah kekufuran ada dosa yang lebih besar lagi?!

Selesai

Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M

Artikel www.KisahMuslim.com

Kata Kunci Terkait: kisah orang durhaka, orang fajir, uqbah

Go to Source
Author: Admin

  • Comments Off

Kisah Orang Durhaka: Uqbah bin Abi Mu’aith

- Orang yang dengki terhadap Islam dan kaum muslimin, pengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu aku berada di antara kejelakan dua tetangga, Abu Lahab dan Uqbah bin Abi Mu’aith.”

- Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Aku tidak akan menemuimu di luar Mekah melainkan aku memenggal kepalamu.”

- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuknya, “Ya Allah, balikkanlah lubang hidungnya dan bantinglah dia.”

Pendustaan dan Pelecahan

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan kepada manusia perkara-perkara Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit bergerak untuk melaksanakan dakwahnya, menyampaikan risalahnya dengan kuat, tidak menghiraukan cobaan dan kesulitan yang dihadapinya, kebodohan atau gangguan, tidak diam atau bosan sedikit pun dan tidak pula meninggalkannya walau sebentar.

Sikap menentang dan keras karena kebodohan yang dj-lakukan kaum Quraisy, merupakan salah satu penghalang dakwah, juga merupakan salah satu motivasi terkuat, salah satu penyebab kuat sehingga mereka bersikukuh, hal yang mendorong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membentangkan dakwahnya ke penjuru Ummul Qura’ -Mekah- dan sekitarnya, rumah mereka, perkumpulan mereka, pasar juga pada momen musiman.

Quraisy merasa terganggu dengan seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni ajakan keimanan terhadap ayat yang mulia, yang mengandung penyembuhan lagi rahmat, juga cahaya bagi pandangan dan hati. Apabila mereka mendengar Beliau menyeru kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka bersegera untuk mendustakan dan mengejeknya.

Di antara paling keras dari mereka, adalah paman Beliau yang celaka Abu Lahab, Dia berjalan di belakang Beliau dengan berkata pada orang-orang, “Orang ini memerintahkan kalian meninggalkan agama nenek moyang kalian, padahal ini merupakan aib bagi kalian.”

Apabila mereka bertanya tentangnya, “Siapakah orang di belakang itu yang mendustakannya?” “Pamannya.” Itulah jawabannya. Saat itulah terjadi kegaduhan diantara orang-orang kuno, perasaan yang mengikuti peninggalan Jahiliyah serta taqlid. Karena ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorangpun diganggu seperti yang aku rasakan.” Karena setiap gangguan yang menimpa Beliau yang mulia tidak dapat diletakkan sebagai alasan untuk menghentikan dakwah.

Kehinaan Orang-orang Yang Buruk dan Buruknya Kehinaan

Kepribadian yang jelek yang akan kita bahas saat ini, merupakan salah satu diantara kepribadian yang dibutakan oleh kedengkian dan berpaling dari mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdJri menghadang disetiap jalan dakwah, khususnya gangguan dan upaya memalingkan manusia dari agama baru. Lelaki ini merupakan tetangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dia bergandengan tangan dengan Abu Lahab menyajikan berbagai gangguan yang me-malingkan jiwa manusia.

Ibnu Ishaq rahimahullah menyebutkan nama-nama sekelompok orang yang menjadi tetangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka saling berpesan untuk mengganggu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata:

Orang-orang yang menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah Beliau, adalah Abu Lahab, Al-Hakam Ibnul ‘Ash bin Umayyah, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, ‘Addi bin Hamra’ ats-Tsaqafi, Ibnul Ashda’ al-Hudzali, semuanya merupakan tetangga Beliau.

Pembicaraan kita saat ini mengacu pada salah seorang diantara mereka, orang-orang jahat yang bervariasi dalam mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah dan dakwah Beliau, si Zindiq Quraisy itu, adalah ‘Uqbah bin Abi Mu’ith -nama Abi Mu’ith- Abban bin ‘Amr aI-Umawi al-Qurasy, kunyahnya adalah Abul Walid.

Si ‘Uqbah bergantian dengan Abu Lahab untuk mengganggu tetangganya. Abu Lahab melempar kotoran dan sampah busuk di depan pintu rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adapun ‘Uqbah, sengaja mendatangkan kotoran yang mereka lemparkan ke pintu rumahku, bahkan mereka mendatangkan sisa makanan yang dilemparkan ke rumahku.”

Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar seraya bersabda: “Wahai Bani Abdi Manaf, tetangga macam apa ini?!” Kemudian Beliau melemparkannya ke jalan.

Itulah hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memberikan kesabaran kepada Nabi dan para utusan-Nya ‘Alaihimus shalaatu wassalaam, jangan kau kira bahwa gangguan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini mengurangi kedudukan Beliau, justru hal ini merupakan satu kelebihan dan pengagungan, bukti akan besarnya kedudukan Beliau, tingginya martabat Beliau dan pengaruh imatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau bersabda, “Orang yang paling :esar mendapat ujian adalah para Nabi.” Itulah Sunnah diantara Sunnah para Nabi terdahulu ‘alaihimush-shalaatu was­alaam, alangkah indah dan manisnya perkataan AI-Bushiri rahimahullah tatkala menyatakan:

Jangan engkau lepaskan keramahan dalam mendampingi Nabi Tatkala Beliau menemui gangguan dari mereka. Setiap perkara yang dijalani Nabi akan menemui kesulitan di dalamnya terkandung hal yang terpuji dan kelapangan. Kalau sekiranya emas murni itu menjadi bagus dengan disentuh hinanya api. Niscaya tidak ada pilihan bagi emas murni itu melainkan diletakkan di dalam api.

Asal yang Jelek dan Rendahnya Keturunan

Uqbah bin Abi Mu’ith -semoga direndahkan oleh Allah- nasabnya tercemar di kalangan Quraisy, kepribadiannya rendah, tercela dan bodoh, jelek lagi kufur, jiwanya rendah. Majelis para pembesar Quraisy menghinakannya dan merendahkannya saat ia hadir di tengah mereka. Diantara wataknya adalah mengingkari janji, suatu hal yang mengingatkan asalnya, adalah darahnya yang bercampur dengan Yahudi.

Referensi terpercaya tidak meninggalkan kabar tentang lelaki jelek ini, bahkan memberikan fokus pada asalnya yang berakar busuk lagi mendorongnya berbuat hal yang jelek yang tercatat dalam lembaran sifat khianat, keburukan dan pengecut. Perbuatan jelek ini menandakan jelas asal ‘Uqbah bin Abi Mu’ith yang rendah -semoga Allah melaknatnya-.

Sejarah menceritakan kepada kita tentang kebejatan asalnya sebagai berikut:

Dahulu Umayyah bin ‘Abdi Syams –kakek dari ayahnya- keluar pergi ke Syam, dia tinggal disana 10 tahun. Lantas dia menyetubuhi seorang budak Yahudi dari penduduk Shafuriyah, wanita itu memiliki suami Yahudi dari penduduk Shafuriyah juga. Darinya lahir Dzakwan, maka anak itu diaku oleh Mu’awiyyah dan diberi kunyah Abu ‘Amt. Inilah ayah Abi Mu’ith di atas ranjang Yahudi. Kemudian dia datang ke Mekah, lalu dia dinisbatkan kepada ayahnya berdasarkan hukum Jahiliyah.

Dalam kepribadian yang rusak dan tercemar inilah, ‘Uqbah tumbuh di antara pembesar Quraisy yang menyembah patung. Di dalam nasabnya terdapat kotoran yang menyebabkannya berusaha menempel seperti benalu mendekati orang-orang kuffar Quraisy yang bernasab mulia dan berkedudukan tinggi, dia datang denganpenampilan kefajiran yang baik guna menutupi kekurangan yang dimilikinya dan kerendahan yang mengoyak nasabnya dan mencemari namanya.

Kepribadian yang Kotor

Si ‘Uqbah –semoga Allah melaknatnya- tidak butuh harta unntuk mengakrabkan diri dengan orang-orang bejat dari para :embesar Quraisy. Tabiatnya yang kotor membuatnya melakukan perbuatan dosa yang bercampur dengan kerendahan, ia punya harta yang banyak, yang diperoleh dari berdagang khamr, karena berjualan khamr di masa itu mendatangkan keuntungan menggiurkan yang melampaui khayalan.

Selain itu dia memiliki banyak kambing di Mekah yang digembalakan oleh dua orang yang digaji tetap, diantara keduanya adalah ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Dalam hal ini terdapat atsar yang menyokong perkataan kami, Ibnu ‘Asakir dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata:

Semasa kecil aku tumbuh menjadi penggembala kambing ‘Jqbah bin Abi Mu’ith, datanglah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bersamanya,

Nabi bertanya, “Nak.. Apakah kau punya susu?”

Aku menjawab, “Ya, akan tetapi aku diamanati.”

Nabi menyatakan, “Datangkanlah untukku seekor kambing betina yang belum dikawini.”

Maka aku mendatangkan untuknya anak kambing betina atau anak hewan ternak. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikatnya, kemudian Beliau mengelus dan berdoa hingga mengeluarkan susu. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mendatanginya dengan sempalan batu lantas memerahnya. Beliau berkata kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, “Minumlah.” Lantas Abu bakar radhiyallahu ‘anhu meminumnya, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminum sesudahnya. Lalu Beliau berkata kepada susu kambing itu, “Menyusutlah.” Lantas susu tadi menyusut dan kembali seperti semula.

Kemudian aku (Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu) mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah itu seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku perkataan ini atau Alquran.” Maka Beliau mengelus kepalaku dan bersabda, “Sesungguhnya engkau anak kecil yang patuh.” Aku belajar langsung dari beliau 70 surat yang tidak seorang pun menandingiku (membantahku) dalam surat-surat tersebut.

Gambaran Kejahatan dan Kezhalimannya

Islam menyebar di Mekah, gangguan Quraisy kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia semakin menjadi-jadi, jiwa kaum musyrikin dipenuhi dengan keputusasaan dan pudarnya cita-cita, hati mereka dipenuhi kedengkian, dendam dan hasad. Dan yang paling kuat hasadnya serta kebencian di antara mereka, adalah si Celaka Quraisy, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith –semoga Allah melaknatnya–. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya dan teman-temannya, hal itu sangat menyakitkannya.

Beliau dan sahabatnya menghadapi kedunguan dan kebodohan Quraisy dengan pemberian maaf dan ampunan paling tingginya, kesabaran paling indahnya, jauh dari hasrat membalas dendam, bahkan mencegah tangan dari kesalahan dengan berbuat balk dan sabar, meninggikan peribadahan untuk Allah. Kepribadian yang luhur dan tinggi ini meninggalkan bekas, menyalakan setiap kedengkian yang mungkin timbul dalam jiwanya, juga setiap kelancangan bercampur dengan dosa paganisme.

Ibnu Sayyid an-Naas rahimahullah dalam (Al-’Uyuun) dengan sanadnya hingga ‘Urwah Ibnu az-Zubair, dia berkata:

‘Amr bin Utsman bin ‘Affan meriwayatkan dari ayahnya Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

Hal paling lancang yang dilakukan oleh Quraisy kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu hari aku melihat -’Amr berkata-: Aku melihat kedua mata Utsman bin ‘Affan basah berlinang karena mengingat hal itu. Utsman bin ‘Affan berkata:

Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam thawaf di Ka’bah dan tangan Beliau memegang tangan Abu Bakar, sedang di Hijir terdapat tiga orang sedang duduk: ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, Abu Jahal bin Hisyam dan Umayyah bin Khalaf, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat. Tatkala Beliau di hadapan mereka, mereka memperdengarkan gunjingan dan sindiran, mereka ungkapkan itu di depan wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas aku mendekatinya hingga beliau berada di tengah antara aku dengan Abu Bakar. Dia memasukkan jari-jemarinya di jari jemariku hingga kami thawaf bersama.

Tatkala beliau lewat didepan mereka, Abu Jahal berkata, “Demi Allah, kami tidak akan berdamai denganmu selama hayat di kandung badan, jika engkau tetap mencegah kami menyembah apa yang disembah nenek moyang kami.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kenapa bisa demikian.”

Kemudian Beliau berlalu dari mereka. Pada putaran ketiga mereka berbuat seperti itu, hingga putaran ke empat mereka bangkit mendekati beliau. Abu Jahal melompat hendak memegang pangkal baju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Utsman berkata: Aku mendorong dadanya hingga dia terjatuh terduduk ke tanah, Abu Bakar mendorong Umayyah Ibnu Khalaf, Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong Uqbah bin Abi Mu’ith.

Kemudian mereka menjauh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang se­dang berdiri, Beliau berkata, “Demi Allah, kalian tidak berhenti sehingga siksa menimpa kallan dengan segera.”

Utsman berkata: Demi Allah tidak seorang pun dari mereka, kecuali semuanya telah disambar petir dalam keadaan ketakutan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sejelek-jelek kaum terhadap Nabinya adalah kallan.”

Kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang, dan kami mengikutinya, sesampainya di depan pintu, beliau berdiri seraya berkata:

“Bergembiralah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan agama-Nya, menyempurnakan kalimat-Nya, juga menolong Nabi-Nya, dan sungguh, mereka akan dibunuh oleh Allah dengan tangan-tangan kallan.”

Utsman berkata:

“Kemudian kami berpencar menuju rumah masing-masing, demi Allah, aku telah melihat mereka dibunuh oleh Allah dengan perantaraan tangan-tangan kami –hal itu terjadi pada perang Badr-.”

Gangguannya yang Kelewat Batas

‘Uqbah –semoga Allah melaknatnya- terus menerus mengganggu, dia jadi lebih buas dari sebelumnya, selalu mengintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Beliau keluar dari rumahnya atau saat Beliau shalat di dekat Ka’bah, barangkali dia mendapat kesempatan untuk melancarkan serangannya.

Di dalam Ash-Shahih, AI-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Urwah bin az-Zubeir, dia berkata:

Aku bertanya kepada ‘Abdullah bin ‘Amr bin al’Ash: Beritahukan kepadaku gangguan paling dahsyat yang dilakukan kaum musyrikin terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Dia berkata: Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di Hijir Ka’bah, tiba-tiba ‘Uqbah bin Abi Mu’ith berjalan menuju Nabi, lantas meletak-kan bajunya di leher Beliau dan mencekiknya dengan keras, lantas Abu Bakar muncul dan menarik bahunya dan menjauhkan dia dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata:

“Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Rabbku ialah Allah.’” (QS. Ghafir: 28)

Gambaran lain dari kelancangan dan penindasan yang dilakukan ‘Uqbah –semoga Allah menghinakannya-, adalah si Kafir datang ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di sisi Ka’bah, dia meletakkan kakinya di atas leher Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang sujud, sehingga hampir saja kedua mata Beliau copot keluar.

Engkau Telah Murtad Wahai Uqbah

Meskipun permusuhan dilakukan ‘Uqbah terhadap Nabi dan Islam, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia tidak berhenti dari zakwahnya, juga dakwah kepada orang-orang yang menyakiti Seliau.

Suatu saat nampaknya ‘Uqbah telah tersentuh oleh hembusan dakwah Muhammad, hampir saja dia masuk Islam, namun Ubay bin Khalaf mencegahnya, keduanya berteman akrab karena ‘Uqbah adalah teman minum Ubay –semoga Allah melaknatnya-, ‘Uqbah melaksanakan walimah dengan mengundang suku Quraisy, termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Beliau menolak hadir dengan bersabda, “Aku tidak akan memakan makananmu hingga engkau bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya aku utusan Allah.”

‘Uqbah tidak terima kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau salah seorang dari pembesar Quraisy tidak menghadiri jamuannya, maka dia memeluk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menghadiri undangannya dan memakan jamuannya, lantas teman akrabnya Ubay bin Khalaf menghardik ‘Uqbah –yang saat itu dia tidak hadir dalam acara- dengan mengatakan, “Engkau telah murtad wahai ‘Uqbah?!”

‘Uqbah berkata,”Aku merasa dilecehkan apabila jamuanku tidak dihadiri salah seorang pemuka Quraisy, dia menolak memakan jamuanku kecuali aku mengucapkan syahadat, maka aku merasa malu dan aku pun bersyahadat hingga dia makan.”

Ubay –semoga Allah menghinakannya- yang merupakan teman dekatnya berkata, “Aku tidak rela hingga engkau kembali dan meludahi wajahnya, menginjak lehernya dan mengejek-jelek padanya.”

‘Uqbah pun melakukan apa yang diperintahkan teman dekatnya, dia mengambil usus binatang lantas melemparkannya ke punggung Nabi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tidak akan menemuimu di luar Mekah, kecuali aku akan memenggal kepalamu.” Perbuatan ini mengakibatkan ‘Uqbah dan Ubay merugi lagi celaka.

Adh-Dhahhak berkata, “Tatkala ‘Uqbah bin Abi Mu’ith meludah ke wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ludahnya kembali mengenai wajahnya sendiri, membakar wajah dan kedua bibirnya hingga membekas dan membakar kedua pipinya. Bekas tersebut melekat padanya hingga dia terbunuh.”

Inilah teman yang jelek, tidak mengajak kepada kebaikan. Kejelekannya kembali menimpa pada keduanya, dan sungguh, berteman dengan orang baik mengantarkan seseorang pada kebaikan.

Alangkah indahnya perkataan Malik bin Dinar rahimahullah dalam hal ini, “Sesungguhnya jika engkau memindahkan batu bersama orang-orang baik, hal itu lebih berguna bagimu daripada makan At-Khabiish bersama orang-orang jahat.”

Bersambung insya Allah..

Artikel www.KisahMuslim.com

 

Go to Source
Author: Admin

  • Comments Off

Kapan Terjadi Kejadian Ini Pada Kalian

Utsman Ibnu Mazh’un radhiyallahu ‘anhu memakai pakaian keperkasaan dengan agama Allah, kemudian dia pergi ke majlis Quraisy lantas duduk bersama mereka. Labid bin Rabi’ah adalah seorang penyair ternama, dia membacakan sebagian syair-syairnya untuk mereka. Labid berkata:

“Ketahuilah, bahwa segala sesuatu selain Allah bathil adanya.”

Utsman berkata, “Engkau benar wahai Abu Aqil –Kunyah Labid-.”

Labid berkata,

“Dan setiap kenikmatan itu pasti akan sirna keberadaannya.”

Utsman berkata, “Engkau dusta, kenikmatan surga tidak akan berakhir.”

Labid berkata, “Wahai kaum Quraisy demi Allah, teman kalian ini tidak pernah diganggu, sejak kapan hal ini terjadi pada kalian?”

Berkatalah salah seorang dari kaum tersebut, Sesungguhnya ia seorang dari orang bodoh yang bersamanya (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), mareka telah meninggalkan agama kita, janganlah engkau hiraukan perkataannya.”

Maka Utsman bin Madz’un radhiyallahu ‘anhu membantah dan menjelaskan kepadanya, bahwa orang bodoh itu adalah yang menyembah patung. Lantas berdirilah lelaki itu menampar matanya hingga lebam berbekas hitam.

Saat itu Al-Walid Ibnul Mughirah dekat dari keduanya, dia melihat apa yang menimpa Utsman dan berkata, “Ketahuilah demi Allah, wahai putra saudaraku, sesungguhnya matamu amat berharga untuk dianiaya seperti itu! Engkau tadinya dalam tanggungan yang aman.”

Al-Walid mengira bahwa Utsman akan kembali ke pangkuannya, akan tetapi dia mendapati jawaban yang membakar api dalam hatinya, menambah kepedihan di atas kepedihannya. Utsman menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya mataku yang sehat (sebelah mata yang satunya) membutuhkan apa yang menimpa saudaranya yang seagama (mata yang terkena hantaman pukulan.”

Maka berkatalah Al-Walid dengan kelicikan yang dibuat-buat, “Kemarilah wahai putra saudaraku, kembalilah ke jaminanmu jika engkau mau.”

Utsman berkata, “Tidak, demi Penguasa Baitul Haram (Allah), aku di sisi Dzat yang lebih berwibawa darimu dan lebih kuasa wahai Abu Abdi Syams.”

Dengan perlakuan ini, semakin kerdillah kesombongan Al-Walid dan runtuhlah pagar kesombongan fana yang dibangun untuk dirinya, agar dikatakan dalam berbagai majlis dan dipuji-puji di kalangan pembesar, bahwa dialah seorang yang mulia dari Quraisy.

Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu telah menggambarkan dengan baik, kepribadian Al-Walid dalam Hija (sindiran pedas) syairnya:

Abdu Syams menyerupai orang-orang mulia. Padahal dia jahat dari keturunan yang jahat pula. Saat engkau mengkritik orang yang tinggi derajatnya perkataannya hanyalah ungkapan usang…

Di kesempatan lain dia berkata, kapan Quraisy menisbatkannya atau mendapatkannya. Kamu sama sekali tidak dianggap penting olehnya. Engkau ibnul Mughirah seorang hamba yang ringan. Telah membebani pundakmu dengan memikl wadah susu. Apabila dihitung orang-orang baik dari Quraisy. Banyak terkumpul tanpa memasukkan kalian para anjing.

Sesungguhnya Kami Memelihara Kamu dari (Kejahatan) Orang-orang yang Memperolok-olok

Al-Walid Ibnul Mughirah mencari-cari jlan, guna mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia mengganggu Beliau dan para sahabatnya. Dia membantah wahyu, mendustakannya dan mengganggu dakwahnya. Dia mengumpulkan delegasi Arab untuk menentang Beliau. Masalahnya semakin runyam, dia menempuh jalan orang zindiq. Dia belajar bersama salah seorang kaum musyrikin dari Nashara yang kebingungan.

Demikianlah dia, membawa bendera dusta dan ejekan serta cibiran terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia menjadi salah seorang pengejek yang mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah telah mencukpkan perkara mereka dan melenyapkan mereka sampai ke akar-akarnya.

Referensi meriwayatkan dengan sanad yang terpercaya mengenai kabar mereka dan cerita kesudahannya.

Para pembesar yang mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada lima orang: Al-Walid Ibnul Mughirah, Abu Zama’ah Ibnul Aswad Ibnul Muththalib bin Asad, Al-Usud bin Abdi Yaghuts az-Zuhri, Al-Ash bin Wa’il dan Al-Harits bin ath-Thulathulah as-Sahmi. Mereka mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencibir dan mengganggu Beliau, maka Jibril mendatangi Beliau, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengadukan mereka kepadanya. Ketika mereka sedang thawaf di Ka’bah, Muththalib bin Asad, AI-Usud bin ‘Abdi Yaghuts az-Zuhri, Al­’Ash bin Wa’il dan AI-Harits bin ath-Thulathulah as-Sahmi. Mer-eka mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencibir dan mengganggu Beliau, maka Jibril mendatangi Beliau, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengadukan mereka kepadanya. Ketika mereka sedang thawaf di Ka’bah, Dia berdiri dan Beliau pun berdiri di sekitar orang-orang yang mengejek, kemudian lewatlah Al-Aswad bin ‘Abdi Yaghuts, Jibril  memberi isyarat pada perutnya lantas perutnya haus minta air, matilah dia karena perutnya kembung dengan nanah.

Lewatlah Al-Walid bin Mughirah, lalu Jibril menunjuk ke talapak kakinya yang menderita penyakit menahun akan tetapi ia menutupinya dengan menjulurkan kain sampai menyapu ta-nab (isbal). Ceritanya, suatu ketika ia melewati seorang dari Bani Khuza’ah yang sedang mengasah anak panah, lalu ada bagian dari sayatan tadi yang hinggap di sarungnya kemudian tersapu oleh bagian bawah dari sarungnya, lalu diinjaknya dengan tidak sengaja, hingga masuk menancap di bawah mata kakinya. Kemudian kakinya tadi membengkak dan ia mati karenanya.

Lewatlah Al-’Ash bin Wa’il, dia mengisyaratkan kepada Dagian bawah kakinya, dia keluar menunggang keledai mefiuju Tha’if. Bagian kakinya terkena pohon berduri, duri itu masuk telapak kakinya yang bawah hingga membunuhnya.

Lewatlah Al-Harits bin Thulathulah, dia mengisyaratkan kepalanya, maka keluarlah cairan nanah dari kepalanya hingga dia mati.

Lewatlah AI-Aswad Ibnul Muththalib, kertas hijau dilemparkan ke wajahnya, lantas dia menjadi buta dan matanya sakit, dia pun membenturkan kepalanya ke tembok.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mengenai mereka:

Sesungguhnya kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS. AI-Hijr: 95)

Demikianlah Allah menjaga RasuI-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dad orang-orang yang mengejeknya, mereka mati sebelum perang Badar ditimpa penyakit yang ganas. Lima orang yang terkenal itulah yang dimaksud Allah dalam firmannya:

“Sesungguhnya kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS. AI-Hijr: 95)

AI-Bushiri Rahimahullah mengisyaratkan hal itu dengan balk dalam syairnya:

Cukuplah bagi orang-orang yang mengejek dan berapa banyak kaum yang menyakiti Nabinya dengan pelecehan. Mereka menuduhnya dengan tuduhan dari halaman rumah yang di dalamnya terdapat kelapangan bagi orang-orang zhalim. Ada lima orang yang mereka semua ditimpa penyakit. Dan kematian dengan salah satu bala tentaranya adalah penyakit. Al-Aswad bin Mutthalib terkena musibah berupa kebutaan yang mematikan. Dan Al-Aswad bin Yaghuts tertimpa gelas yang diminumnya telah menghantarkan pada kematiannya. Al walid terkoyak-koyak panah. Suatu hal yang tidak sanggup dilakukan oleh ular yang berbintik-bintik. Duri di atas jantung telah menghabisi Al-Ash. Maka bagi Allah kekuasaan menyiksa dengan pernatara itu. Dan Al-Harits yang jelek telah meleleh kepalanya, dan itulah wadah yang paling buruk. Dengan terbunuhnya mereka, bumi menjadi suci. Maka hilanglah penderitaan dengan tersingkirnya penghalang.

Yang patut disebutkan bahwa Al-Walid Ibnul Mughirah meninggal dalam usia 95 tahun, dan kematiannya sekitar tiga bulan setelah hijrah, ia dimakamkan di Al-Hujun Mekah.

AI-Walid adalah seorang dermawan yang menyimpan sifat sombong, atau sombong dalam kedermawan, dia mencegah seseorang menyalakan api di Mina untuk masak melainkan dengan apinya, makanan untuk diberikan kepada jama’ah haji, dia memberi infaq kepada setiap jama’ah haji dalam jumlah banyak karena ingin disebut-sebut:

Ketahuilah, jangan sampai ada orang menyalakan apl dibawah pintalan.

Ketahuilah, jangan ada orang yang yang menghisap asap dengan kuda.

Ketahuilah, bagi siapa yang menginginkan makanan Hais (dari kurma dan tepung) hendaklah mendatangi Al-Walid Ibnul Mughirah.”

Dia menginfakkan untuk sekali haji, dua puluh ribu lebih, dia tidak hanya memberi orang miskin satu dirham. Dan orang-orang Arab badui mengistimewakan kebaikannya yang dibuat-buat untuk disebut-sebut.

Al-Walid memiliki kebun-kebun yang banyak di Mekah dan Tha’if, diantara sekian banyak kebunnya terdapat kebun yang tidak terputus buahnya di musim hujan juga di musim kemarau.

Tentang banyak hartanya, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dahulu, hartanya melimpah sepanjang Mekah dan Tha’if, unta, kuda dan kambing serta kebun yang banyak di Tha’if dan sungai-sungai, juga uang yang menggunung.”

Kecongkakan Al-Walid bertambah -khususnya- tatkala Quraisy membuatkan untuknya mahkota kemuliaan, dia mengira bahwa dirinya adalah pemimpin Quraisy, dia berangan akan menjadi salah satu pemimpin Arab’dan penentu kalimat dalam perjalanan kaumnya, dan memenuhi kebutuhan mereka dalam banyak perkara.

Tatkala Islam datang berkuranglah wibawanya, beterbanganlah sisi-sisi kesombongan dalam dirinya, maka tumbuhlah, kedengkian dalam hatinya terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga ia termasuk orang-orang yang mengejek Beliau, maka gugurlah amalnya dan jadilah dia bagian dari orang-orang yang merugi di dunia dan akhirat.

Anak-anak yang Selalu Bersama Al-Walid

Allah Ta’ala berfirman menggambarkan Al-Walid dan kenikmatan yang dianugrahkan-Nya:

“Dan Aku iadikan baginya harta benda yang banyak, Dan anak-anak yang selalu bersama Dia.(QS. AI-Muddatsir: 12-13)

Para pembaca yang budiman, saya ingin menunjukkan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam menyimak dua ayat yang mulia diatas. Al-Walid Ibnul Mughirah tokoh thaghut sang pelaku dosa dalam , kekafiran. Sikap thaghut, kufur dan berbuat dosa tidak hanya tampak dalam kehidupannya yang nyata. Akan tetapi perbuatan dosa, dan sikap thaghutnya juga lahir dari fithrah buruknya yang dibawa sejak lahir, mengingkari nikmat dan kebaikan.

Al-Walid -sebagaimana kita amati dalam dua ayat tadi telah Allah Subhanahu wa Ta’ala gambarkan dengan gambaran yang baik, Allah telah mengaruniakan nikmat yang melimpah, Allah menjadikan bermacam-macam harta yang melimpah bagi Al-Walid, Allah mengaruniakan anak yang banyak, lagi mengelilinginya, dia menyayangi mereka, dia gembira dengan keberadaan mereka yang selalu di dekatnya, dia selalu tenang dengan melihat mereka. Mereka pun menjadi kaya dengan kekayaan ayahnya, mereka tidak butuh merantau untuk mendapatkan mata pencaharian.

Diriwayatkan bahwa jumlah anaknya sepuluh orang, ada juga yang meriwayatkan lebih banyak darinya.

Muqatil bin Sulaiman Rahimahullah berkata, “Jumlah mereka tujuh orang, semuanya laki-laki yaitu: AI-Walid Ibnul Walid, Khalid pejuang Islam yang dijuluki Saifullah-, ‘Ammarah, Hisyam, Al­’Ash, Qais dan ‘Abdu Syams.

Yang terpenting, bahwa tiga orang dari mereka masuk Islam, yaitu: Khalid, Hisyam dan AI-Walid.’”

Pengkhususan nikmat atas AI-Walid dengan banyak anak merupakan hujjah yang menyangkalnya. Kaumnya benci melahirkan anak wanita sebagaimana hal itu dikenal di antara mereka, mereka sangat suka melahirkan pria, maka seyogyanya dia menjadi orang yang bersyukur atas nikmat Allah padanya, berupa karunia harta dan anak. Karena -sebagaimana disebutkan oleh para Mufassir- tidak terkenal di suku Quraisy seorang pun yang memiliki harta dan anak yang banyak melebihi ketenaran Al-Walid, akan tetapi jeleknya batin AI-Walid merubah nikmat Allah menjadi kekufuran, dia menghalalkan dirinya menem-pati rumah kebinasaan, neraka jahannam yang menyala-nyala dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal, la berbuat congkak dan sombong, melampaui batas atas nikmat Allah dan berbuat dosa, memerangi kebenaran, menghalang-halangi dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal dia mengetahui kebenaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya saja dia mengingkarinya karena sombong. Hatinya membatu, kepribadiannya menjadi keras, lancang dengan melakukan se­tiap maksiat, maka dia berhak mendapat kehinaan di dunia dan adzab yang hina pula di akhirat.

Ancaman Neraka Saqar, Untuk Al-Walid

AI-Walid diungkapkan dalam Alquran secara berulang-ulang, lebih dari seratus kali, juga penjelasan tentang ancaman yang akan didapatkannya.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Allah menurunkan 104 ayat mengenai AI-Walid Ibnul Mughirah.”

Al-Walid –semoga dilaknat Allah– dalam banyak Alquran merupakan contoh yang jelek di masa kenabian, tabiatnya merupakan contoh kejelekan dan dosa paling buruk dalam kepribadian manusia, yaitu menentang kebenaran, melampaui batas dalam kekufuran, dan perbuatan dosa yang sewenang-wenang. Maka, Neraka Saqar menunggunya sebagai balasan yang adil, dan taukah engkau apakah Saqar itu?

Para Mufassir sepakat, banyak ayat turun yang memberitakan AI-Walid akan masuk Neraka, menyifatinya dengan sifat paling buruk, perkataan dusta dan berbohong terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan ayat-ayat yang disepakati para Mufassir mengenai Al-Walid, yang menyoroti si Thaghut keras kepala ini, dengan sifat yang menandakan lambang kejelekan yang bergelimang dosa dalam kepribadian orang zhalim, adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Muddattsir. Marilah kita baca bersama ayat-ayat yang penuh hikmah sekaligus menjadi hukum yang adil:

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku ]adikan baginya harta benda yang banyak, Dan anak-anak yang selalu bersama Dia, Dan Ku lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, Kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), Karena Sesungguhnya dia menentang ayat-ayat kami (Alquran). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, Lalu dia berkata, ‘(Alquran) Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’ Aku akan memasukkannya ke dalam (Neraka) Saqar. Tahukah kamu apakah (Neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan [maksudnya: Apa yang dilemparkan ke dalam Neraka itu diadzabnya sampai binasa Kemudian dikembalikannya seperti semula untuk diadzab kembali]. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Dan di atasnya ada sembilan belas (Malaikat penjaga).” (QS. Al-Muddatsir: 11-30)

Telaah serius ayat-ayat lalu, akan menggambarkan kepada kita metode yang memukau, pertempuran yang dahsyat dalam jiwa AI-Walid. Saat dia melihat, kemudian bermuka masam dan merengut, dan setelah merasa sakit lagi sempit, dia mencela dirinya sendiri dengan berkata:

“Lalu dia berkata, (Alquran) Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu).” (QS. AI-Muddatsir: 14)

Dengan demikian, dia berhak mendapat murka Allah Subhanahu wa Ta’ala pedih siksa-Nya, bahkan Allah menyifatinya dengan sifat yang tercela di banyak tempat dalam Alquran.

AI-Qurthubi Rahimahullah berkata tentang ayat-ayat yang diturunkan berkenaan dengan AI-Walid, “Semua ini diturunkan berkenaan, dengan AI-Walid Ibnul Mughirah, kami tidak mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan aib seseorang sedetail yang disebutkan bagi AI-Walid, Allah menampakkan aib yang menempel tak terpisahkan darinya di dunia dan akhirat. Demikianlah, apakah harta dan anak AI-Walid memberi manfaat baginya?

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Al-Muddatstsir: 88-89)

Al-Walid berhak menerima imbalan yang setimpal lagi adil dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni Neraka:

“Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Maha benar Allah lagi Maha agung.

Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M

Artikel www.KisahMuslim.com

Go to Source
Author: Admin

  • Comments Off

Kapan Terjadi Kejadian Ini Pada Kalian

Utsman Ibnu Mazh’un radhiyallahu ‘anhu memakai pakaian keperkasaan dengan agama Allah, kemudian dia pergi ke majlis Quraisy lantas duduk bersama mereka. Labid bin Rabi’ah adalah seorang penyair ternama, dia membacakan sebagian syair-syairnya untuk mereka. Labid berkata:

“Ketahuilah, bahwa segala sesuatu selain Allah bathil adanya.”

Utsman berkata, “Engkau benar wahai Abu Aqil –Kunyah Labid-.”

Labid berkata,

“Dan setiap kenikmatan itu pasti akan sirna keberadaannya.”

Utsman berkata, “Engkau dusta, kenikmatan surga tidak akan berakhir.”

Labid berkata, “Wahai kaum Quraisy demi Allah, teman kalian ini tidak pernah diganggu, sejak kapan hal ini terjadi pada kalian?”

Berkatalah salah seorang dari kaum tersebut, Sesungguhnya ia seorang dari orang bodoh yang bersamanya (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), mareka telah meninggalkan agama kita, janganlah engkau hiraukan perkataannya.”

Maka Utsman bin Madz’un radhiyallahu ‘anhu membantah dan menjelaskan kepadanya, bahwa orang bodoh itu adalah yang menyembah patung. Lantas berdirilah lelaki itu menampar matanya hingga lebam berbekas hitam.

Saat itu Al-Walid Ibnul Mughirah dekat dari keduanya, dia melihat apa yang menimpa Utsman dan berkata, “Ketahuilah demi Allah, wahai putra saudaraku, sesungguhnya matamu amat berharga untuk dianiaya seperti itu! Engkau tadinya dalam tanggungan yang aman.”

Al-Walid mengira bahwa Utsman akan kembali ke pangkuannya, akan tetapi dia mendapati jawaban yang membakar api dalam hatinya, menambah kepedihan di atas kepedihannya. Utsman menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya mataku yang sehat (sebelah mata yang satunya) membutuhkan apa yang menimpa saudaranya yang seagama (mata yang terkena hantaman pukulan.”

Maka berkatalah Al-Walid dengan kelicikan yang dibuat-buat, “Kemarilah wahai putra saudaraku, kembalilah ke jaminanmu jika engkau mau.”

Utsman berkata, “Tidak, demi Penguasa Baitul Haram (Allah), aku di sisi Dzat yang lebih berwibawa darimu dan lebih kuasa wahai Abu Abdi Syams.”

Dengan perlakuan ini, semakin kerdillah kesombongan Al-Walid dan runtuhlah pagar kesombongan fana yang dibangun untuk dirinya, agar dikatakan dalam berbagai majlis dan dipuji-puji di kalangan pembesar, bahwa dialah seorang yang mulia dari Quraisy.

Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu telah menggambarkan dengan baik, kepribadian Al-Walid dalam Hija (sindiran pedas) syairnya:

Abdu Syams menyerupai orang-orang mulia. Padahal dia jahat dari keturunan yang jahat pula. Saat engkau mengkritik orang yang tinggi derajatnya perkataannya hanyalah ungkapan usang…

Di kesempatan lain dia berkata, kapan Quraisy menisbatkannya atau mendapatkannya. Kamu sama sekali tidak dianggap penting olehnya. Engkau ibnul Mughirah seorang hamba yang ringan. Telah membebani pundakmu dengan memikl wadah susu. Apabila dihitung orang-orang baik dari Quraisy. Banyak terkumpul tanpa memasukkan kalian para anjing.

Sesungguhnya Kami Memelihara Kamu dari (Kejahatan) Orang-orang yang Memperolok-olok

Al-Walid Ibnul Mughirah mencari-cari jlan, guna mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia mengganggu Beliau dan para sahabatnya. Dia membantah wahyu, mendustakannya dan mengganggu dakwahnya. Dia mengumpulkan delegasi Arab untuk menentang Beliau. Masalahnya semakin runyam, dia menempuh jalan orang zindiq. Dia belajar bersama salah seorang kaum musyrikin dari Nashara yang kebingungan.

Demikianlah dia, membawa bendera dusta dan ejekan serta cibiran terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia menjadi salah seorang pengejek yang mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah telah mencukpkan perkara mereka dan melenyapkan mereka sampai ke akar-akarnya.

Referensi meriwayatkan dengan sanad yang terpercaya mengenai kabar mereka dan cerita kesudahannya.

Para pembesar yang mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada lima orang: Al-Walid Ibnul Mughirah, Abu Zama’ah Ibnul Aswad Ibnul Muththalib bin Asad, Al-Usud bin Abdi Yaghuts az-Zuhri, Al-Ash bin Wa’il dan Al-Harits bin ath-Thulathulah as-Sahmi. Mereka mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencibir dan mengganggu Beliau, maka Jibril mendatangi Beliau, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengadukan mereka kepadanya. Ketika mereka sedang thawaf di Ka’bah, Muththalib bin Asad, AI-Usud bin ‘Abdi Yaghuts az-Zuhri, Al­’Ash bin Wa’il dan AI-Harits bin ath-Thulathulah as-Sahmi. Mer-eka mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencibir dan mengganggu Beliau, maka Jibril mendatangi Beliau, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengadukan mereka kepadanya. Ketika mereka sedang thawaf di Ka’bah, Dia berdiri dan Beliau pun berdiri di sekitar orang-orang yang mengejek, kemudian lewatlah Al-Aswad bin ‘Abdi Yaghuts, Jibril  memberi isyarat pada perutnya lantas perutnya haus minta air, matilah dia karena perutnya kembung dengan nanah.

Lewatlah Al-Walid bin Mughirah, lalu Jibril menunjuk ke talapak kakinya yang menderita penyakit menahun akan tetapi ia menutupinya dengan menjulurkan kain sampai menyapu ta-nab (isbal). Ceritanya, suatu ketika ia melewati seorang dari Bani Khuza’ah yang sedang mengasah anak panah, lalu ada bagian dari sayatan tadi yang hinggap di sarungnya kemudian tersapu oleh bagian bawah dari sarungnya, lalu diinjaknya dengan tidak sengaja, hingga masuk menancap di bawah mata kakinya. Kemudian kakinya tadi membengkak dan ia mati karenanya.

Lewatlah Al-’Ash bin Wa’il, dia mengisyaratkan kepada Dagian bawah kakinya, dia keluar menunggang keledai mefiuju Tha’if. Bagian kakinya terkena pohon berduri, duri itu masuk telapak kakinya yang bawah hingga membunuhnya.

Lewatlah Al-Harits bin Thulathulah, dia mengisyaratkan kepalanya, maka keluarlah cairan nanah dari kepalanya hingga dia mati.

Lewatlah AI-Aswad Ibnul Muththalib, kertas hijau dilemparkan ke wajahnya, lantas dia menjadi buta dan matanya sakit, dia pun membenturkan kepalanya ke tembok.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mengenai mereka:

Sesungguhnya kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS. AI-Hijr: 95)

Demikianlah Allah menjaga RasuI-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dad orang-orang yang mengejeknya, mereka mati sebelum perang Badar ditimpa penyakit yang ganas. Lima orang yang terkenal itulah yang dimaksud Allah dalam firmannya:

“Sesungguhnya kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS. AI-Hijr: 95)

AI-Bushiri Rahimahullah mengisyaratkan hal itu dengan balk dalam syairnya:

Cukuplah bagi orang-orang yang mengejek dan berapa banyak kaum yang menyakiti Nabinya dengan pelecehan. Mereka menuduhnya dengan tuduhan dari halaman rumah yang di dalamnya terdapat kelapangan bagi orang-orang zhalim. Ada lima orang yang mereka semua ditimpa penyakit. Dan kematian dengan salah satu bala tentaranya adalah penyakit. Al-Aswad bin Mutthalib terkena musibah berupa kebutaan yang mematikan. Dan Al-Aswad bin Yaghuts tertimpa gelas yang diminumnya telah menghantarkan pada kematiannya. Al walid terkoyak-koyak panah. Suatu hal yang tidak sanggup dilakukan oleh ular yang berbintik-bintik. Duri di atas jantung telah menghabisi Al-Ash. Maka bagi Allah kekuasaan menyiksa dengan pernatara itu. Dan Al-Harits yang jelek telah meleleh kepalanya, dan itulah wadah yang paling buruk. Dengan terbunuhnya mereka, bumi menjadi suci. Maka hilanglah penderitaan dengan tersingkirnya penghalang.

Yang patut disebutkan bahwa Al-Walid Ibnul Mughirah meninggal dalam usia 95 tahun, dan kematiannya sekitar tiga bulan setelah hijrah, ia dimakamkan di Al-Hujun Mekah.

AI-Walid adalah seorang dermawan yang menyimpan sifat sombong, atau sombong dalam kedermawan, dia mencegah seseorang menyalakan api di Mina untuk masak melainkan dengan apinya, makanan untuk diberikan kepada jama’ah haji, dia memberi infaq kepada setiap jama’ah haji dalam jumlah banyak karena ingin disebut-sebut:

Ketahuilah, jangan sampai ada orang menyalakan apl dibawah pintalan.

Ketahuilah, jangan ada orang yang yang menghisap asap dengan kuda.

Ketahuilah, bagi siapa yang menginginkan makanan Hais (dari kurma dan tepung) hendaklah mendatangi Al-Walid Ibnul Mughirah.”

Dia menginfakkan untuk sekali haji, dua puluh ribu lebih, dia tidak hanya memberi orang miskin satu dirham. Dan orang-orang Arab badui mengistimewakan kebaikannya yang dibuat-buat untuk disebut-sebut.

Al-Walid memiliki kebun-kebun yang banyak di Mekah dan Tha’if, diantara sekian banyak kebunnya terdapat kebun yang tidak terputus buahnya di musim hujan juga di musim kemarau.

Tentang banyak hartanya, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dahulu, hartanya melimpah sepanjang Mekah dan Tha’if, unta, kuda dan kambing serta kebun yang banyak di Tha’if dan sungai-sungai, juga uang yang menggunung.”

Kecongkakan Al-Walid bertambah -khususnya- tatkala Quraisy membuatkan untuknya mahkota kemuliaan, dia mengira bahwa dirinya adalah pemimpin Quraisy, dia berangan akan menjadi salah satu pemimpin Arab’dan penentu kalimat dalam perjalanan kaumnya, dan memenuhi kebutuhan mereka dalam banyak perkara.

Tatkala Islam datang berkuranglah wibawanya, beterbanganlah sisi-sisi kesombongan dalam dirinya, maka tumbuhlah, kedengkian dalam hatinya terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga ia termasuk orang-orang yang mengejek Beliau, maka gugurlah amalnya dan jadilah dia bagian dari orang-orang yang merugi di dunia dan akhirat.

Anak-anak yang Selalu Bersama Al-Walid

Allah Ta’ala berfirman menggambarkan Al-Walid dan kenikmatan yang dianugrahkan-Nya:

“Dan Aku iadikan baginya harta benda yang banyak, Dan anak-anak yang selalu bersama Dia.(QS. AI-Muddatsir: 12-13)

Para pembaca yang budiman, saya ingin menunjukkan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam menyimak dua ayat yang mulia diatas. Al-Walid Ibnul Mughirah tokoh thaghut sang pelaku dosa dalam , kekafiran. Sikap thaghut, kufur dan berbuat dosa tidak hanya tampak dalam kehidupannya yang nyata. Akan tetapi perbuatan dosa, dan sikap thaghutnya juga lahir dari fithrah buruknya yang dibawa sejak lahir, mengingkari nikmat dan kebaikan.

Al-Walid -sebagaimana kita amati dalam dua ayat tadi telah Allah Subhanahu wa Ta’ala gambarkan dengan gambaran yang baik, Allah telah mengaruniakan nikmat yang melimpah, Allah menjadikan bermacam-macam harta yang melimpah bagi Al-Walid, Allah mengaruniakan anak yang banyak, lagi mengelilinginya, dia menyayangi mereka, dia gembira dengan keberadaan mereka yang selalu di dekatnya, dia selalu tenang dengan melihat mereka. Mereka pun menjadi kaya dengan kekayaan ayahnya, mereka tidak butuh merantau untuk mendapatkan mata pencaharian.

Diriwayatkan bahwa jumlah anaknya sepuluh orang, ada juga yang meriwayatkan lebih banyak darinya.

Muqatil bin Sulaiman Rahimahullah berkata, “Jumlah mereka tujuh orang, semuanya laki-laki yaitu: AI-Walid Ibnul Walid, Khalid pejuang Islam yang dijuluki Saifullah-, ‘Ammarah, Hisyam, Al­’Ash, Qais dan ‘Abdu Syams.

Yang terpenting, bahwa tiga orang dari mereka masuk Islam, yaitu: Khalid, Hisyam dan AI-Walid.’”

Pengkhususan nikmat atas AI-Walid dengan banyak anak merupakan hujjah yang menyangkalnya. Kaumnya benci melahirkan anak wanita sebagaimana hal itu dikenal di antara mereka, mereka sangat suka melahirkan pria, maka seyogyanya dia menjadi orang yang bersyukur atas nikmat Allah padanya, berupa karunia harta dan anak. Karena -sebagaimana disebutkan oleh para Mufassir- tidak terkenal di suku Quraisy seorang pun yang memiliki harta dan anak yang banyak melebihi ketenaran Al-Walid, akan tetapi jeleknya batin AI-Walid merubah nikmat Allah menjadi kekufuran, dia menghalalkan dirinya menem-pati rumah kebinasaan, neraka jahannam yang menyala-nyala dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal, la berbuat congkak dan sombong, melampaui batas atas nikmat Allah dan berbuat dosa, memerangi kebenaran, menghalang-halangi dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal dia mengetahui kebenaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya saja dia mengingkarinya karena sombong. Hatinya membatu, kepribadiannya menjadi keras, lancang dengan melakukan se­tiap maksiat, maka dia berhak mendapat kehinaan di dunia dan adzab yang hina pula di akhirat.

Ancaman Neraka Saqar, Untuk Al-Walid

AI-Walid diungkapkan dalam Alquran secara berulang-ulang, lebih dari seratus kali, juga penjelasan tentang ancaman yang akan didapatkannya.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Allah menurunkan 104 ayat mengenai AI-Walid Ibnul Mughirah.”

Al-Walid –semoga dilaknat Allah– dalam banyak Alquran merupakan contoh yang jelek di masa kenabian, tabiatnya merupakan contoh kejelekan dan dosa paling buruk dalam kepribadian manusia, yaitu menentang kebenaran, melampaui batas dalam kekufuran, dan perbuatan dosa yang sewenang-wenang. Maka, Neraka Saqar menunggunya sebagai balasan yang adil, dan taukah engkau apakah Saqar itu?

Para Mufassir sepakat, banyak ayat turun yang memberitakan AI-Walid akan masuk Neraka, menyifatinya dengan sifat paling buruk, perkataan dusta dan berbohong terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan ayat-ayat yang disepakati para Mufassir mengenai Al-Walid, yang menyoroti si Thaghut keras kepala ini, dengan sifat yang menandakan lambang kejelekan yang bergelimang dosa dalam kepribadian orang zhalim, adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Muddattsir. Marilah kita baca bersama ayat-ayat yang penuh hikmah sekaligus menjadi hukum yang adil:

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku ]adikan baginya harta benda yang banyak, Dan anak-anak yang selalu bersama Dia, Dan Ku lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, Kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), Karena Sesungguhnya dia menentang ayat-ayat kami (Alquran). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, Lalu dia berkata, ‘(Alquran) Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’ Aku akan memasukkannya ke dalam (Neraka) Saqar. Tahukah kamu apakah (Neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan [maksudnya: Apa yang dilemparkan ke dalam Neraka itu diadzabnya sampai binasa Kemudian dikembalikannya seperti semula untuk diadzab kembali]. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Dan di atasnya ada sembilan belas (Malaikat penjaga).” (QS. Al-Muddatsir: 11-30)

Telaah serius ayat-ayat lalu, akan menggambarkan kepada kita metode yang memukau, pertempuran yang dahsyat dalam jiwa AI-Walid. Saat dia melihat, kemudian bermuka masam dan merengut, dan setelah merasa sakit lagi sempit, dia mencela dirinya sendiri dengan berkata:

“Lalu dia berkata, (Alquran) Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu).” (QS. AI-Muddatsir: 14)

Dengan demikian, dia berhak mendapat murka Allah Subhanahu wa Ta’ala pedih siksa-Nya, bahkan Allah menyifatinya dengan sifat yang tercela di banyak tempat dalam Alquran.

AI-Qurthubi Rahimahullah berkata tentang ayat-ayat yang diturunkan berkenaan dengan AI-Walid, “Semua ini diturunkan berkenaan, dengan AI-Walid Ibnul Mughirah, kami tidak mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan aib seseorang sedetail yang disebutkan bagi AI-Walid, Allah menampakkan aib yang menempel tak terpisahkan darinya di dunia dan akhirat. Demikianlah, apakah harta dan anak AI-Walid memberi manfaat baginya?

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Al-Muddatstsir: 88-89)

Al-Walid berhak menerima imbalan yang setimpal lagi adil dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni Neraka:

“Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Maha benar Allah lagi Maha agung.

Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M

Artikel www.KisahMuslim.com

Go to Source
Author: Admin

  • Comments Off

Uji Coba yang Gagal

Al-Walid Ibnul mughirah tidak tenang, khususnya saat Quraisy berpaling darinya dan berubah arah mendukung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka beriman dengan apa yang Allah utus dengannya. Pemikiran setan mendektenya untuk melepaskan diri dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membunuhnya, hal itu dibantu oleh beberapa orang dari Bani Makhzum yang diselimuti kedengkian hingga membutakan mereka. Mereka menjadi tidak melihat jalan petunjuk. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggelapkan mereka sehingga tidak melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Mulia hingga mereka mengganggunya.

Diriwayatkan bahwa segerombolan Bani Makhzum, di antaranya Al-Walid Ibnul Mughirah dan Abu Jahal mengikuti jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saling berpesan untuk membunuhnya. Tatkala Nabi berdiri shalat, mereka mendengar bacaan Beliau, mereka mengutus Al-Walid untuk membunuhnya. Lelaki jahat itu bersegera mendatangi tempat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia mendengarkan bacaan Nabi tanpa diketahui Beliau. Al-Walid menemui mereka dan memberi tahu mereka tentang hal itu, lantas mereka mendatanginya dan tatkala sampai, mereka pun mendengar bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mendakati suara itu seakan-akan dari belakang mereka mendekatinya, akan tetapi suara itu ada di depan mereka, mereka tetap dalam keadaan demikian hingga membubarkan diri pertanda kekalahan.

Walhasil, mereka tidak mendapati jalan untuk membunuhnya. Hal itu sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan Kami dihadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat Melihat.” (QS. Yaasiin: 9)

Dialog yang Berbelit-belit

Al-Walid gagal dalam usahanya, hal ini menunjukkan sifat pengecut dan kedengkiannya, dia kembali dengan tipu dayanya yang jelek, mencari jalan lain yang dikiranya bisa mematikan Islam. Dia melakukan penawaran, dia berusaha –menurut pengakuannya- untuk mencari titik temu antara Islam dengan Jahiliyyah sehingga kedua belah pihak setuju, yakni mereka ingin jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan sebagian yang mereka tapaki.

“Maka, mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS. Al-Qalam: 9)

Terdapat satu riwayat yang dibawakan Ath-Thabari Rahimahullah yang memberitahukan bahwa kaum musyrikin menawarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Beliau menyembah tuhan mereka satu tahun, dan mereka menyembah Rabb Beliau radhiyallahu ‘anhu satu tahun.

Ada riwayat lain yang memberitahukan bahwa mereka berkata, “Sekiranya engkau menerima tuhan kami maka kami akan menyembah Rabbmu.”

Dan begitu banyak penawaran serta upaya yang dilakukan, salah satunya dipimpin oleh kepala kekufuran Al-Walid Ibnul Mughirah.

Ibnu Ishaq Rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang thawaf di Ka’bah, lalu dihadang oleh Al-Aswad Ibnul Mutthalib bin Asad bin Abdul Uzza, Al-Walid Ibnul Mughirah, Umayyah bin Khalaf, Al-Ash bin Wa’il as-Sahmi –mereka para pemuka kaumnya- lantas mereka berkata:

“Wahai Muhammad, kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan engkau menyembah apa yang kami sembah, kita berbagi dalam hal ini. Jika yang kami sembah lebih baik dari yang engkau sembah berarti engkau telah mendapat bagian darinya.” Maka Allah menurunkan firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku’.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Masjidil Haram yang di sana terdapat para pembesar Quraisy. Beliau membacakan kepada mereka, hingga selesai surat tersebut, mereka berputus asa ketika itu pula.

Allah memutuskan penawaran mereka yang lucu dan remeh dengan cara yang tegas dan tajam. Allah menghinakan Al-Walid dan sahabatnya, mereka memunculkan perkataan hina dan Allah meruntuhkan semua tipu daya mereka.

Tamparan yang Pedih untuk Al-Walid

Utsman bin Madz’un termasuk orang yang pertama kali beriman, dia memeluk Islam setelah 13 orang sebelumnya, dia ikut hijrah ke Habasyah pada hijrah yang pertama, dia merupakan sosok yang selalu berpuasa, menegakkan shalat dan taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sekembali dari hijrah, dia dilindungi oleh Al-Walid Ibnul Mughirah selama berhari-hari, kemudian dia mengembalikan kepada Al-Walid jaminan perlindungannya. Hal ini merupakan tamparan bagi kesombongan Al-Walid yang ditiupkan setan melalui kedua sisinya. Setena bermain di semua sisi hidupnya, terlebih Quraisy melihat Al-Walid dengan penghormatan dan pengagungan.

Referensi meriwayatkan bahwa Utsman bin Madz’un al-Jumahi radhiyallahu ‘anhu, kembali dari Habasyah bersama sekelompok kaum Muhajirin, dia dalam jaminan perlindungan dari Al-Walid Ibnul Mughirah al-Makhzumi untuk mencegah dan melindunginya dari gangguan Quraisy, tatkala Utsman melihat ujian dan kezhaliman yang dialami para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dia datang dan pergi dengan jaminan keamanan dari Al-Walid, dia merasa sakit dan menyayangkan, hatinya tidak merasa tenang dalam hidup dalam jaminan orang yang musyrik, sedangkan orang yang seagama dengannya menerima cobaan dan gangguan dalam menjalankan agama Allah, maka perasaannya menolak hal itu hingga mengungguli jiwanya, maka dia melangkahkan kaki menuju Al-Waid Ibnul Mughirah lantas berkata padanya:

“Wahai Abu Abdi Syams jaminanmu telah sempurna, aku kembalikan jaminan perlindunganmu.”

Dia menjawab, “Mengapa wahai putra saudaraku? Barangkali ada seseorang yang mengganggumu dari kalangan kaumkua?”

Utsman berkata, “Tidak, akan tetapi aku rela dengan jaminan Allah, dan aku tidak ingin meminta jaminan dari selain-Nya.”

Al-Walid berkata, “Pergilah ke masjid dan kembalikanlah jaminanku secara terang-terangan, sebagaimana aku memberikannya terang-terangan.”

Maka keduanya beranjak hingga sampai di Masjidil Haram, keduanya berdiri di hadapan khalayak ramai. Al-Walid Ibnul Mughirah berkata, “Inilah Utsman telah datang untuk mengembalikan jaminanku.”

Utsman berkata, “Dia benar, aku telah mendapatinya tepat janji dan menampakkan kemuliaan dalam perlindungan, akan tetapi aku tidak ingin meminta jaminan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan telah kukembalikan kepadanya jaminannya.” Kemudian keduanya beranjak bubar untuk mengurus urusannya masing-masing.

Bersambung insya Allah…

Artikel www.KisahMuslim.com

Go to Source
Author: Admin

  • Comments Off

Pendapat yang Jahat dari Pemimpin yang Jahat Pula

Al-Walid Ibnul Mughirah dengan para sahabatnya mengamati bahwa kebanyakan suku Arab, termasuk orang pandai di antara mereka dan ahli hikmah, pulang di musim-musim tertentu seperti haji dan pasar bersama. Yang hanya mereka bicarakan adalah perkara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dakwahnya serta kenabiannya, sifat-sifatnya yang mulia dan tingginya kepirbadian Beliau.

Hal ini merupakan salah satu perkara yang membuat gelisah menghinggapi hati kaum musyrikin dan ketakutan mencekam mereka, tatkala musim haji semakin dekat berkumpullah para pembesar yang beridiri dan orang-orang yang dengki di Daarun Nadwah di bawah kepemimpinan Bani Makhzum yang melampaui batas, Al-Walid Ibnul Mughirah. Dari segi umur dia sudah tua, kepalanya telah beruban, sementara hatinya terbakar oleh api kedengkian.

Tatkala anggota yang hadir dalam majlis memenuhi jiwanya yang tergambar dari raut wajahnya yang mendendam:

“Wahai bangsa Quraisy, sesungguhnya musim ini telah tiba, dan sebagaimana kalian ketahui, para utusan dari orang-orang Arab dari segala penjuru telah mendengar perkara teman kalian ini, maka bersatulah dalam satu pendapat dan jangan bercerai-berai hingga kalian saling mendustakan antar sesama, dan saling membantah antara sesama pula, akhirnya harapan kita menjadi hancur.”

Para pembesar Quraisy berkata, “Wahai Abu Abdi Syams, katakanlah pendapatmu dan tegaskanlah pendapatmu hingga kami mengambilnya.”

Al-Walid berkata, “Kemukakan dulu pendapat kalian!” Dia hendak memancing –melemahkan- pendapat mereka, agar dia menjadi penentu kalimat terakhir, inilah puncak kebusukkannya.

Mereka berkata, “Kita katakan dia seorang tukang ramal (dukun).”

Al-Walid berkata, “Demi Allah, dia bukan tukang ramal, kita tahu bagaimana tukang ramal itu.”

Orang-orang yang melampaui batas berkata, “Kita katakan dia itu gila.”

Si thaghut tua itu berkata, “Dia tidaklah gila, kita telah melihat bagaimana penyakit gila, dia tidak menderita was-was, emosi, juga kegilaan.”

Para pembesar kufur dan syirik berkata, “Kalau begitu kita katakan dia itu penyair.”

Pembesar yang sombong berkata, “Dia bukanlah penyair, kita mengetahui semua syiar, bait dan intonasinya, puisi dan koridor serta bentengannya, ia bukan penyair.”

Para pembesar berkata saat kehabisan ungkapan, “Kita katakan dia tukang sihir wahai Abu Abdi Syams.”

Setelah mengetahui ketidakmampuan mereka, Al-Walid berkata, “Wahai kaum Quraisy, demi Allah dia bukan tukang sihir, kita telah melihat para penyihir dan sihir mereka, dia bukanlah tiupan penyihir atau tali ikatan mereka.”

Tatkala hilang kesabaran dan habis kedengkian serta kebejatan mereka, hilang pula cara berbuat kejahatan di otak mereka yang kosong, mereka berkata, “Lantas apa yang akan kita katakan wahai Abu Abdi Syams?!”

Dia menjawab, “Demi Allah, pada perkataannya terdapat rasa manis, akar pokoknya kelapangan, cabangnya bunga yang tumbuh, dan tidaklah kalian mengarang sesuatu pun yang mirip, melainkan diketahui bahwasanya itu bathil.”

Nampaknya kebenaran ada pada si thaghut ini yang mengakui keindahan Alquran dan kehebatannya, menimbulkan benang-benang cahaya di langit kebenaran. Maka hal itu menyentuh hatinya, akan tetapi ia kembali pada kecongkakan dan kekufurannya serta tertipu lagi berbuat kejahatan. Dia berkata:

“Perkataan yang tepat untuk diucapkan bagi Muhammad, adalah penyihir yang berkata dengan sihir, yang memisahkan antara ayah dengan anaknya, atau seseorang dengan ayahnya, seseorang dengan saudaranya, seseorang dengan istrinya, dan seseorang dengan keluarganya.”

Mereka Tidak Mendapati Kebenaran

Para pembesar Quraisy berpencar, menurut petunjuk jelek lagi dengki pemimpin mereka. Mereka duduk di jalan yang dilalui orang-orang tatkala datang musim haji, tidaklah seorang pun yang lewat, melainkan mereka peringatkan dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka menyebarkan dusta dan membuat tipu daya yang amat besar tentang Beliau.

Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembalikan tipu daya tersebut pada diri mereka sendiri, hingga mereka tidak meraih sedikit pun kebaikan, bahkan tipu daya yang mereka rencanakan justru menjadi sebab tersebarnya dakwah ke penjuru negeri Arab. Makar dan rencana yang diusulkan oleh thaghut mereka yang dengki dan sengsara berbalik arah kepada mereka sendiri. Sedangkan kebaikan, keberkahan tercurah kepada junjungan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Neraka serta ancaman untuk Al-Walid. Allah menurunkan firman-Nya mengenai Al-Walid”

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.” (QS. Al-Muddatstsir: 11)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan untuk orang-orang yang bersamanya:

“(yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Alquran itu terbagi-bagi. Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua.” (QS. Al-Hijr: 91-92)

Alangkah indahnya perkataan Al-Bushiri:

Sungguh aneh orang-orang kafir yang semakin sesat padahal dengan otaknya orang bisa mengambil petunjuk. Orang yang bertanya tentang kisah yang diturunkan padanya yang mendatangi mereka dan meninggikannya.

Al-Walid dan Abu Jahal

Referensi menyebutkan kisah yang dapat dijadikan dasar, bahwa Al-Walid Ibnul Mughirah menyimak Alquran yang mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari satu kali. Hampir saja dia beriman sekiranya tidak didahului taqdir, kufur dan kesombongan Jahiliyyah.

Diriwayatkan bahwa Al-Walid datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang membacakan Alquran, seakan-akan dia simpati terhadap Beliau. Lantas berita tersebut sampai kepada keponakan Al-Walid –musuh Allah- Abu Jahal, lalu dia mendatanginya seraya berkata, “Wahai pamanku, sesungguhnya kaummu akan mengumpulkan harta agar diberikan kepadamu.”

Al-Walid merasa heran dan berkata, “Untuk apa wahai anak saudaraku?!”

Abu Jahal si Laknat berkata, “Untuk memberimu, engkau mendatangi Muhammad untuk memaparkan apa yang diperolehnya!”

Al-Walid berkata dengan kesal lagi menyombongkan diri, “Demi Allah, kaum Quraisy mengetahui bahwa akulah orang yang kaya di antara mereka.”

Di sini Abu Jahal berkata dengan logat orang yang membela, “Wahai paman, katakanlah mengenai Alquran kepada kaummu bahwa ia munkar dan engkau membencinya.”

Al-Walid berkata, “Apa yang akan kukatakan?! Demi Allah, tidak ada di antara kalian lelaki yang lebih mengetahui dan lebih luas wawasannya tentang syair dariapdaku, dan demi Allah dia tidak mirip dengan syair sama sekali.”

Demi Allah berkata, “Apa yang akan kukatakan?! Demi Allah, tidak ada di antara lelaki yang lebih mengetahui dan lebih luas wawasannya tentang syair daripadaku, dan demi Allah dia tidak mirip dengan syair sama sekali.”

Demi Allah, perkataan yang diucapkannya adalah sesuatu yang manis, dia memiliki keindahan, dan ada buah di atasnya, sementara di bawahnya lebat. Sungguh, ia amat tinggi dan tiada tara, dia pun akan menghancurkan apa yang di bawahnya.

Maka Abu Jahal berkata dengan logat yang buruk untuk membangkitkan dasar-dasar kekufuran di hati Al-Walid yang paling dalam, “Demi Allah, kaummu tidak rela terhadapmu sehingga engkau mengatakan komentar buruk tentangnya.”

Al-Walid berkata, “Biarkan aku berfikir.” Sesudah berfirkir keras, berperang melawan jiwa, berfikir dengan bantuan gerombolan setan dalam dirinya, dia berkata, “ini adalah sihir yang membekas.” Kemudian turun ayat:

“Biarkanlah aAku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.”

Hingga firman Allah:

“Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (QS. Al-Muddattsir: 11-25)

Dia Menyelisihi Watad dan Fithrah

Al-Walid Ibnul mughirah mengetahui dengan fithrahnya sebagai orang Arab dan wataknya yang benar, bahwa Alquran yang mulia tidak mungkin berasal dari manusia. Dia berkata sebatas perkataan yang terlontar sebagai wujud rasa yang mendalam dan sastra bahasanya, tanpa menjadikan suatu beban yang menguasa melainkan fithrah dan perasaannya, tanpa pembicaraan yang bertele-tele dan ungkapan yang berputar-putar, bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam orang paling jauh orang dari perdukunan, syair dan sihir serta bisikannya. Pada rangkaian perkataannya terdapat kelezatan yang dirasakan oleh para pemimpin sastra dan pemuka yang fasih berbahasa Arab serta khatib yang handa, ia adalah perkataan yang tetap dalam puncak kejelasan, cabangnya bertaburan di langit sastra, tiang-tiangnya menancap di lubuk kejujuran dan petunjuk.

Hanya saja kecongkakan Al-Walid, kelalaian dan kekufurannya juga kekufuran keponakannya fir’aun umat ini, taklid yang dominan, demikian pula kefanatikan yang terwarisi, menjadikan Al-Walid mengundurkan diri membalikkan kedua kakinya, jiwanya berkecamuk, dia takut akan ungkapan Abu Jahal terhadapnya di depan para pembesar yang buruk dari kalangan Quraisy, dia dikuasai kesesngsaraan hingga menempuh jalan yang menentang.

Menentang adalah jalan menuju dosa dan penipuan serta kejahatan paling besar. Dia mengira bahwa kemuliaan hanyalah memakai baju yang bagus, memakan makanan yang empuk. Sementara dia menjauhkn diri dari kemuliaan akhlak, dan akhlak itu sendiri berlepas diri darinya. Alangkah bagusnya orang itu berkata:

Sesungguhnya aku mendapati, kemuliaan hanyalah cukup dengan memakai pakaian sutera dan keadaan kenyang. Apabila kemuliaan itu menjadi cela dalam majlis kalian sekali saja, maka terimalah akibatnya.

Bersambung insya Allah…

Artikel www.KisahMuslim.com

Go to Source
Author: Admin

  • Comments Off

Laman Blog ini:

Perkongsian bahan PENGALAMAN , MOTIVASI DAN CARA HIDUP dari sumber-sumber web lain.

  • zacky: call me [...]
  • Rico: My site is all about budget travel: tips, news and articles. I hope you like it as much as I liked [...]
  • GenjikOndUrO: CeLaka ZeOnis !! Hmm . . X berhati perUt lngsng ! [...]
  • tufail b mohd nasir: Hantaran tok owng negeri sembilan berape ek lau adew kwn2 ley bg thu ktew nk minx tlg nie [...]
  • sumathy: i rasa takut cabut gigi,i have masalah gigi rosak.i rasa macam fobia if nak cabut gigi [...]

Mesti lihat (tekan je gambar) !

.
.
.

.
.


Gambar caicng babi macam muka babi
.

Rumah berbentuk mangkuk tandas
.

Sawah padi sangat unik
.

Kereta dan motorsikal dalam 1
.

Jepun obses seks
.

Lama tapi moden
.

Sebab lelaki berbohong adalah?
.

Pages


.
.
.

like ?



Tekan gambar !


..

.

<